“Kenapa gadis itu?”
Damian bermonolog. Ia menatap punggung anak tirinya itu dengan nanar. Damian merasa ada yang tidak beres sejak beberapa hari yang lalu. Natalie sering menghindari interaksi dengannya. Gadis itu juga keliatan terus melamun di kelasnya.
Namun, Damian berniat mengabaikan hal itu. Ia memilih mengembalikan botol air minum dalam kulkas setelah puas meminumnya. Saat itu, tanpa sengaja ia melihat pesan yang tertulis di pintu lemari esnya. Elena rupanya meninggalkan pesan pada Natalie untuk memakan buah yang sudah ia siapkan. Jadi, tanpa berniat apa pun, Damian memilih membawakan mangkuk buah itu pada Natalie.
Langkah Damian pelan menuju ke kamar Natalie. Ia sempat berdiri sejenak di depan pintu kayu itu sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar anak tirinya perlahan.
“Nath, buka pintunya!”
Panggilan itu menyentak kesadaran Natalie yang baru saja membuang tubuhnya ke ranjang. Ia buru-buru bangkit dan mengatur napasnya dengan cepat.
“Ngapain Profesor Damian ke sini?” bisiknya.
Belum reda rasa terkejut Natalie, Damian kembali memanggilnya. Kali ini, dengan ketukan pintu yang lebih keras.
“I-iya, tunggu sebentar.”
Natalie melompat dari ranjangnya, lalu berjalan pelan menuju ke pintu. Dengan tangan gemetar, gadis itu menekan kenop dan menarik gagang pintu kamarnya pelan.
“A–ada apa Profesor?” tanyanya lirih.
Damian mengangkat mangkuk di tangannya, lalu mengangsurkannya ke depan d**a Natalie..
“Ibumu meninggalkan pesan di lemari es, katanya kamu harus memakan buah ini,” ucapnya.
Natalie tampak gugup. Ia masih menunduk menatap lantai karena merasa tidak ada kekuatan dalam dirinya yang bisa membuatnya tetap waras setelah menatap Damian. Namun, pertanyaan pria itu kembali terlontar hingga membuat gadis di hadapannya tak ada pilihan lain selain mendongak.
"Kenapa kamu lari tadi?" tanya Damian.
Suara bariton itu memecah keheningan yang sempat merayap di depan pintu kamar, intonasinya mengalun rendah dan menusuk tajam tanpa celah.
Natalie terperanjat di tempatnya berdiri, menelan ludah dengan susah payah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Dihantam oleh pemandangan menakjubkan d**a bidang pria di hadapannya membuat sekujur tubuhnya seolah terbakar oleh sengatan panas yang memalukan.
"A-aku tidak lari, Profesor," sahut Natalie terbata, gagal total menyembunyikan getaran gugup pada suaranya sendiri. "Aku hanya ... lelah dan ingin langsung istirahat."
Damian menatap lurus ke dalam manik mata gadis di hadapannya, mengamati setiap inci gestur salah tingkah yang ditunjukkan oleh anak tirinya itu. Alis pria tersebut terangkat tipis, menyiratkan ketidakpercayaan yang nyata atas alasan klise yang baru saja terlontar.
"Lelah?" ulang Damian dengan nada datar yang terkesan mengintimidasi. "Atau kamu sengaja menghindari saya karena suatu alasan yang tidak ingin aku ketahui?"
Natalie menggigit bibir bawahnya erat-erat, merasa terpojok oleh tatapan tajam di balik kacamata berbingkai tipis itu. "Bukan begitu, Profesor. Anda terlalu berlebihan."
"Saya hanya mengamati apa yang ada di depan mata saya, Natalie," balas Damian tenang.
Pria itu sedikit menggeser posisinya, mengangkat lagi mangkuk kaca kecil berisi potongan buah segar di tangan kanannya. "Sudahlah. Ambil ini, lalu makan."
Natalie menatap mangkuk di tangan Damian dengan perasaan campur aduk. Ia sama sekali tidak menyangka pria kaku itu akan repot-repot membawakan potongan buah ke kamarnya di malam hari seperti ini. Suasana di lorong lantai dua yang senyap mendadak terasa jauh lebih mencekam dan menyesakkan bagi paru-parunya.
"Terima kasih," bisik Natalie pelan seraya mengulurkan tangan untuk menerima mangkuk tersebut dari tangan Damian.
"Sama-sama," jawab Damian singkat.
Saat Natalie mengulurkan jemarinya untuk meraih mangkuk kaca itu, sebuah gerakan kecil membuat ujung kulit mereka bersentuhan tanpa sengaja. Sengatan panas yang begitu pekat menjalar seketika dari ujung jari, menghantam aliran darah Natalie bagai arus listrik statis yang mematikan. Sentuhan singkat itu terasa begitu membakar, membuat napas Natalie tercekat hebat di tenggorokan dan nyaris membuat mangkuk di tangan mereka terlepas ke lantai.
Melihat mangkuk itu nyaris meluncur jatuh, reaksi Damian bergerak cepat dengan insting yang presisi.
Tangan kiri pria itu terulur cekatan, menggenggam erat pergelangan tangan Natalie untuk mengamankan mangkuk kaca agar tidak pecah berantakan. Cengkraman pada pergelangan tangannya terasa hangat, kokoh, dan mutlak, menciptakan jarak fisik paling dekat yang belum pernah terjadi di antara mereka sebelumnya. Aroma khas kayu manis dan sabun mandi pria itu menguar kuat, merangsek masuk ke dalam indra penciuman Natalie dan merusak sisa-sisa kewarasannya.
Jantung Natalie berdegup liar menghantam tulang rusuk, menciptakan ritme liar yang pasti bisa didengar oleh pria di hadapannya.
"Hati-hati," kata Damian berbisik tepat di dekat telinganya. Begitu dekat hingga hembusan napas hangat pria itu membelai permukaan kulit lehernya.
Natalie terpaku dalam dekap tak kasat mata itu, matanya membelalak lebar menatap d**a bidang Damian yang kini berada hanya beberapa jengkal dari wajahnya. Seluruh pertahanan mental yang susah payah ia bangun sejak malam penemuan naskah itu runtuh tak bersisa dalam hitungan detik.
Menyadari situasi yang mulai aneh, Damian segera menarik tangannya kembali dengan sopan dan terukur. Pria itu memasang kembali topeng ayah tiri yang berjarak, menegakkan tubuhnya dan merapikan letak kacamata di pangkal hidungnya.
"Makan dan tidurlah. Mungkin ibumu akan pulang lebih larut hari ini,” ucap Damian.
Natalie menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menormalkan paru-parunya yang terengah-engah dalam diam di tempatnya berdiri. Ia memeluk mangkuk buah itu di depan d**a erat-erat, mencoba menyembunyikan tangan yang masih gemetar hebat akibat sengatan sentuhan tadi.
"Iya. Terima kasih, Profesor," jawab Natalie terbata, menundukkan pandangannya ke lantai ubin agar tidak terjebak lagi dalam manik mata tajam itu.
Damian mengangguk sekilas, berbalik perlahan untuk melangkah meninggalkan lorong kamar Natalie. Namun sebelum benar-benar memutar langkah menuju kamarnya sendiri, pria itu menghentikan gerakannya dan kembali bersuara tanpa menoleh.
"Jangan tidur terlalu larut malam ini, Natalie," pesan Damian dengan nada rendah yang menggema di keheningan lorong. "Dan pelajari kembali materi kuliah kita. Esai yang kamu kumpulkan tadi siang sama sekali tidak memiliki jawaban yang benar."
Kalimat bernada sindiran akademis itu meluncur begitu saja, meninggalkan getaran aneh yang membakar d**a sang mahasiswi sebelum akhirnya suara langkah kaki Damian perlahan menjauh di dalam sunyi malam. Sementara Natalie masih mematung dengan tubuh meremang hebat usai sentuhan tak sengaja itu.
“Astaga! Aku nggak boleh kayak gini,” bisiknya.