Pintu kamar tertutup rapat, mengunci Natalie bersama detak jantungnya yang menggila. Lembaran naskah cetak milik Raven masih membayang jelas di dalam kepala, mengubah cara ia memandang dunia secara permanen. Pria kaku yang setiap hari berdiri di depan kelas sastra dengan wajah dingin itu adalah sosok di balik pena erotis paling liar yang selalu Natalie khayalkan. Itu adalah hal paling gila yang pernah ia rasakan selama ini.
Gadis itu menghempaskan tubuh ke atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan napas memburu dan d**a bertalu keras.
"Nggak mungkin," gumam Natalie pelan pada dinding kamarnya yang sunyi. "Bagaimana bisa seorang dosen killer menulis kalimat-kalimat pemujaan tubuh yang begitu basah? Ini pasti salah."
Natalie masih tidak habis pikir dengan apa yang tadi ia temukan. Profesor Damian bahkan tidak menyentuh ibunya, lantas bagaimana bisa ia begitu lancar menulis diksi-diksi panas hingga membuat siapa pun yang membacanya ikut hanyut dalam pusaran gairah. Apakah itu yang namanya kepribadian ganda?
“Nggak-nggak. Aku masih nggak percaya ini. Gimana pun aku harus cari tahu kebenarannya,” ucap Natalie sebelum akhirnya malam membawanya tetap tenggelam dalam puncak rasa penasaran yang nyata.
Keesokan paginya, udara di dalam auditorium kampus terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Natalie duduk di bangku baris kedua dengan pandangan terpaku lurus ke depan. Di sana, Profesor Damian berdiri di dekat papan tulis putih dengan balutan kemeja abu-abu berkerah rapi. Pria itu tengah menjelaskan analisis struktur naratif dari sebuah naskah sastra klasik abad sembilan belas.
Suara bariton Damian mengalun tenang, membedah diksi demi diksi dengan nada monoton yang biasanya membosankan. Namun bagi Natalie, setiap suku kata yang keluar dari bibir dosen itu kini terdengar berbeda. Nada rendah itu menjelma bisikan-bisikan panas dari tokoh pria dalam novel Raven, membelai indra pendengaran dengan kuasa mutlak.
Tubuh gadis itu meremang. Natalie menelan ludah dengan susah payah saat melihat tangan Damian terangkat untuk merapikan kacamata berbingkai tipis di pangkal hidungnya. Jemari pria itu panjang, kokoh, dan terawat dengan sempurna. Penglihatan Natalie langsung menangkap bayangan mental tentang bagaimana jemari yang sama mengulurkan sentuhan dominan di atas kulit lembut para tokoh wanita dalam fiksi erotis tersebut. Ia bahkan selalu terhanyut dalam buai diksi pilihan Raven setiap waktu.
Tak berselang lama, Damian berbalik, mengambil spidol hitam, lalu mulai menuliskan poin-poin penting di atas papan tulis dengan gerakan tegas. Setiap goresan tangan itu membuat d**a Natalie berdesir aneh. Bayangan tentang d**a bidang dan rengkuhan pinggang tanpa sisa ruang tiba-tiba melompat begitu saja ke dalam kepalanya. Persis seperti yang ada di kepalanya, bedanya kali ini ia bisa melihat di depan matanya siapa si pembuat narasi liar yang selalu bisa membuatnya melayang.
"Nath," sebuah senggolan siku yang cukup kuat di lengan kirinya membuyarkan lamunan kotor itu seketika.
Chloe menatapnya dengan sebelah alis terangkat tinggi-tinggi. Wajah sahabatnya itu menyiratkan kebingungan yang nyata.
"Kamu kenapa dari tadi ngelamun terus?" bisik Chloe curiga. "Dosen killer di depan lagi ngeliatin kamu tuh dari tadi karena jawaban esai kamu kosong."
Natalie tersentak kaget. Pipinya langsung memanas hebat. Ia buru-buru menunduk, pura-pura mencatat sesuatu di buku tulisnya meski tangannya gemetar hebat.
"Nggak apa-apa, Chlo. Aku cuma kurang tidur semalam," jawab Natalie berbohong.
Gadis itu nerusaha menutupi fakta bahwa ia baru saja menghabiskan setengah hari untuk membayangkan adegan intim melibatkan dosen mereka sendiri.
Chloe mendengkus pelan, lalu kembali fokus ke depan.
Sementara Natalie terjebak dalam pusaran konflik batin yang semakin menyiksa. Rasa jijik itu masih ada di dalam dadanya. Mengingat bagaimana Damian memperlakukan ibunya sebagai pajangan rumah tangga tanpa cinta membuat Natalie ingin muntah. Pria itu egois, dingin, dan manipulatif. Namun, lapisan kebencian itu kini perlahan terkikis oleh gelombang ketertarikan terlarang yang jauh lebih mengerikan.
Tulisan adalah bahasa lain dari seseorang mengungkapkan perasaan. Lantas, bagaimana dengan Profesor Damian? Apakah ia juga melakukan hal yang sama seperti pada novel-novelnya atau … bagaimana? Semua itu benar-benar membuat Natalie frustrasi.
"Kenapa aku jadi memikirkan hal menjijikkan ini?" batin Natalie merutuki diri sendiri di sela-sela catatan kuliahnya.
Jam kuliah akhirnya selesai menjelang sore hari. Natalie berjalan pulang dengan kepala pusing dan sekujur tubuh lemas akibat kurang tidur serta beban pikiran yang menumpuk. Setibanya di rumah, suasana terasa sangat sunyi. Elena belum pulang karena ada urusan di luar kota bersama teman-temannya. Natalie melangkah pelan melewati ruang tamu, berniat langsung menuju kamar di lantai dua untuk merebahkan diri.
Namun, langkahnya terhenti begitu melewati area dapur terbuka di lantai dasar.
Cahaya lampu kuning temaram menerangi meja dapur marmer. Seorang pria berdiri di dekat kulkas, meneguk air mineral dari botol kaca dengan kepala sedikit mendongak. Damian hanya mengenakan celana panjang bahan hitam tanpa sehelai benang pun menutupi bagian atas tubuhnya.
Pemandangan itu membuat napas Natalie tercekat di tenggorokan. Otot punggung dan d**a bidang pria itu terekspos sempurna di bawah pantulan cahaya lampu dapur. Punggung yang kokoh, bahu yang lebar, serta garis otot yang terukir tegas di tubuh Damian adalah bentuk nyata dari deskripsi tokoh pria dalam novel Raven yang selama ini ia bayangkan.
Mendengar suara langkah kaki di lantai ubin, Damian perlahan menurunkan botol air di tangannya. Pria itu membalikkan tubuh, lalu mengangkat wajah dan menatap langsung ke arah Natalie.
Sorot mata di balik kacamata tipis itu tajam, menilai, dan menghujam tepat ke dalam manik mata Natalie tanpa celah. Tatapan itu menyimpan kuasa mutlak yang membuat lutut Natalie mendadak lemas seketika.
Natalie salah tingkah luar biasa. Darahnya berdesir panas, membakar sekujur wajah dan lehernya dalam hitungan detik. Tanpa membuang waktu atau mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik arah dan berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.
Begitu sampai di dalam kamar, Natalie membanting pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menguncinya dengan tangan bergetar hebat. Ia bersandar di balik daun pintu, memejamkan mata erat-erat sambil meremas dadanya sendiri yang bergemuruh liar.
"Ya Tuhan ... ini gila. Kenapa aku jadi deg-degan begini," bisik Natalie putus asa di dalam keheningan kamarnya.