"A-aku–"
Natalie menelan ludah susah payah. Lidahnya mendadak kelu, gagal merangkai alasan logis untuk menjelaskan keberadaannya di tengah ruang privat milik dosen paling ditakuti di kampus.
Sementara Damian melangkah mendekat dengan gestur tenang tapi mengintimidasi. Sorot mata di balik kacamata berbingkai tipis itu menatap tajam tanpa celah, seolah menguliti setiap kebohongan yang coba Natalie susun di dalam kepala.
"Ini ruang kerja pribadi saya, Natalie," ucap Damian dengan suara bariton yang terdengar rendah, memecah keheningan malam dengan mutlak. "Tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke sini tanpa seizin saya."
Natalie meremas jemarinya sendiri, merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Ucapan Damian adalah mutlak sebuah aturan keras dan Natalie sudah melanggarnya tanpa sengaja. "Maaf, Profesor," bisiknya terbata. "Aku tadi cuma lewat ... dan tidak sengaja melihat rak-rak buku yang begitu banyak di sini."
Natalie menghentikan kalimatnya seketika. Ia tidak ingin memperpanjang masalah atau memberikan celah bagi pria itu untuk menghakiminya lebih jauh jika ia membeberkan alasan lebih panjang.
"Aku akan pergi sekarang," lanjut Natalie cepat. Ia memutar tubuh untuk segera melarikan diri dari sana.
Sebelum langkah kakinya benar-benar meninggalkan ruangan, ekor matanya sempat menangkap meja kerja kayu mahoni di dekat jendela. Di atas permukaan meja itu, tergeletak sebuah naskah cetak dengan tumpukan kertas putih bersih. Sekilas, deretan paragraf yang tercetak rapi di atas halaman kertas itu berhasil mencuri perhatiannya. Ada susunan diksi khas yang sangat familiar, merayap masuk ke dalam retinanya dalam hitungan detik.
Natalie mengabaikan debar aneh di dadanya, lalu melangkah keluar dan menutup pintu itu rapat-rapat. Gadis itu bergegas kembali ke kamarnya dengan berlari kecil.
Sesampainya di dalam kamar, Natalie langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Gadis itu mondar-mandir di atas karpet kamar dengan gelisah, menggigit kuku jempolnya sendiri sambil mendesis frustrasi.
“Bodoh banget, sih, kamu Nath,” katanya pada diri sendiri.
Kenapa dia harus selancang itu masuk ke ruang kerja pria kaku tersebut. Sebuah tindakan usil yang pada akhirnya ia sesali malam ini. Namun, bukan teguran dingin Damian yang merajai kepalanya saat ini.
Yang membuatnya benar-benar syok adalah apa yang sempat ia lihat di atas meja kerja tadi.
Hati kecilnya berteriak keras menolak percaya. Sebagai kolektor setia yang memiliki seluruh karya cetak Raven, Natalie sangat menghafal setiap sudut diksi dan gaya penulisan sang pengarang misterius. Pola kalimat yang dingin, sensual, dan penuh d******i itu melekat erat di kepalanya. Semakin ia mencoba melupakan, semakin kuat keyakinan bahwa apa yang ia baca di atas tumpukan kertas cetak itu sangat mirip dengan tulisan Raven.
Meskipun hanya melihat sekilas, nalurinya menolak untuk mengabaikan kemiripan tersebut.
"Nggak mungkin. Pasti cuma mirip aja. Atau … mungkin Profesor Damian ngefans juga sama Raven," gumam Natalie pada dirinya sendiri sambil mengusap wajahnya kasar.
Ia merebahkan diri di atas tempat tidur dengan mata menatap langit-langit kamar. Mana mungkin seorang Profesor Damian Sterling yang kaku, galak, dan terkesan tanpa emosi di kampus adalah sosok Raven. Pengarang fiksi erotis terlaris yang memuja hasrat dan keintiman liar dalam setiap babnya. Raven adalah pria misterius yang ramah. Sangat bertolak belakang dengan kepribadian Damian yang selalu pria itu tunjukkan.
Pikiran itu terdengar sangat tidak masuk akal. Namun rasa penasaran meracuni kepala Natalie setiap detik, membuatnya gelisah tanpa henti selama berhari-hari setelah kejadian itu.
Hari-hari berikutnya berjalan penuh rasa penasaran. Natalie tidak bisa menemukan ketenangannya walaupun ia sudah meyakinkan dirinya bahwa tulisan itu memang hanya mirip.
Hingga pada suatu sore menjelang akhir pekan, suasana rumah besar itu sedikit berbeda. Elena tampak mondar-mandir di dekat pintu depan dengan balutan gaun malam berwarna navy yang elegan. Di dekatnya, Damian berdiri gagah mengenakan setelan jas hitam formal, merapikan jam tangan di pergelangan tangannya.
"Nath, Ibu sama Damian mau berangkat dulu, ya," ucap Elena ramah sambil mengetuk pintu kamar Natalie yang tidak terkunci rapat.
Natalie yang sedang duduk di meja belajar berbalik menatap ibunya. "Mau ke mana, Bu?"
"Menghadiri acara jamuan makan malam amal universitas," sahut Elena lembut. "Ibu mungkin akan pulang agak malam. Jangan lupa kunci pintu kamar dan makan malam, ya."
"Iya, Bu," jawab Natalie singkat.
Tidak lama kemudian, suara deru mesin mobil sedan mewah milik Damian membelah halaman, meninggalkan rumah besar itu dalam keheningan yang sempurna.
Natalie menunggu selama satu jam penuh untuk memastikan situasi benar-benar aman. Kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Rasa penasaran yang membakar dadanya selama berhari-hari menuntut untuk segera dibuktikan. Dengan langkah tanpa suara, ia keluar kamar mengenakan kaus longgar dan celana tidur pendek.
Lorong lantai dua terasa begitu gelap dan mencekam.
Ia berhenti tepat di depan pintu ruang kerja Damian. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk, menciptakan ritme yang tidak beraturan. Tangannya terulur gemetar, memutar knop pintu perlahan tanpa suara. Pintu itu terbuka, menyambutnya dengan aroma khas kayu manis dan kertas tua yang menguar di dalam kegelapan.
Natalie menyalakan lampu meja kecil, cukup untuk menerangi area sekitar tanpa menarik perhatian dari luar. Langkahnya tergesa menuju meja kerja Damian yang tampak tertata rapi. Di atas meja tersebut, sebuah tumpukan naskah cetak tergeletak tenang di sebelah tempat pena.
Natalie mendekat, menahan napas saat jemarinya menyentuh halaman teratas dari tumpukan kertas tersebut.
Judul besar tercetak nyata di atas kertas putih itu. Sebuah naskah novel terbaru dari pengarang yang paling ia puja di dunia literatur. Halaman demi halaman ia balik dengan mata membelalak lebar, membaca baris demi baris diksi yang tidak mungkin tertukar dengan karya orang lain.
Napas Natalie tertahan di tenggorokan. Seluruh darahnya berdesir naik ke kepala, membuat dunianya seperti terbalik dengan cepat.
Bukti fisik itu terpampang nyata di hadapannya tanpa bisa disangkal lagi.
Pria kaku itu, dosen killer yang setiap hari memasang wajah sedingin es di kampus, adalah orang yang sama di balik penulis favoritnya.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin profesor Damian itu Raven," bisik Natalie tertahan, menatap kosong pada lembaran naskah cetak di tangannya dengan tubuh bergetar hebat.