Sekarang aku sudah berada di dalam mobil bersama pak Ahmad, yaitu orang kepercayaannya Tante Linda yang akan menemaniku pergi dari negara ini.
Di dalam perjalanan menuju bandara, aku membuka buku catatan yang diberikan Tante Linda sebelum aku pergi. Di sana tertulis dua alamat rumah yang berbeda. Di halaman depan buku tertulis alamat rumah ibu Rati teman lama Tante Linda. Sedangkan di halaman paling belakang tertulis alamat rumah yang katanya itu adalah alamat rumah ayah kandungku.
Walaupun sebenarnya aku tidak menanyakan perihal keberadaan ayah kandungku, tapi Tante Linda tidak mau merahasiakan hal ini lagi dariku, beliau hanya ingin aku tahu bahwa aku masih memiliki seorang ayah dan mungkin saja ingin menemuinya suatu hari nanti.
* ya.. mungkin saja suatu hari nanti!!. Aku mengangkat bahu acuh tak acuh.
....
Tak lama kemudian, kami sudah tiba di bandara. Pak Ahmad langsung menuntun ku masuk kedalam bandara.
Beliau juga mengajakku untuk makan terlebih dahulu, lalu beliau memberiku sebuah kartu ATM yang sudah disiapkan oleh Tante Linda untukku selama di luar negri.
Tepat jam dua malam aku dan Pak Ahmad sudah berada didalam pesawat. Kami menaiki penerbangan larut malam yang sering di sebut red-eye flight atau penerbangan mata merah. Pesawat ini akan membawa kami ke salah satu negara impianku dan yang penting! aku akan hidup tenang jauh dari jangkauan ayah tiri-ku dan Tante Eka yang selama ini hanya mengincar harta warisan saja.
Kata Tante Linda disana adalah tempat yang paling baik untukku meraih gelar master seperti almarhum ibuku dulu. Aku tentu setuju-setuju saja.
...
Tujuh jam waktu tempuh perjalanan di atas udara, kini pesawat telah mendarat di Bandar Udara Internasional Washington Dulles pada pukul delapan malam waktu Washington, Distrik Columbia, Amerika Serikat.
“ Non tunggu disini sebentar ya.. Bapak mau ke toilet dulu ” Ucap Pak Ahmad sedikit tergesa-gesa dengan wajah memerah. Aku-pun langsung mengangguk iya padanya.
Setelah kepergian Pak Ahmad aku duduk di bangku tunggu sembari melihat-lihat sekeliling area bandara. Dan mataku tertuju pada satu taman di sana. Merasa pak Ahmad akan lama di toilet, aku memanfaatkan waktu ini untuk melihat-lihat sebentar pemandangan indah di area taman itu.
Di sini suasana taman sangat sepi dan sedikit menakutkan, tapi tidak mengurangi keindahannya. Mungkin para pengunjung sudah malas berada di taman karena hari sudah malam. Mungkin..
Ditaman ini aku hanya ditemani lampu kelap kelip yang berwarna-warni bersama angin malam sepoi-sepoi yang menerpa dedaunan dan tumbuh-tumbuhan yang tertata rapi di taman ini, bahkan angin pun tak segan-segan menabrak rambutku sehingga membuatnya berterbangan menerpa wajahku.
Brugg...
Tubuhku terayun seakan ingin roboh saat sesuatu yang berat menimpa bahu belakangku. Aku berusaha menahan gravitasi sehingga tidak roboh seketika, kemudian aku menoleh ke arah belakangku.
“ Agggghhh... sttt.. ” Ada seorang laki-laki tergeletak di tanah dengan berbaju serba hitam serta topi yang menutupi kepalanya. Laki-laki itu meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
“ Mr... Are you okay.. ” Aku mencondongkan tubuh dengan sedikit berjongkok agar sejajar dengannya.
Laki-laki tersebut mendongak melihatku. Aku seketika membeku menatap wajah lelaki ini. Bola matanya biru, alisnya tebal, serta rahang tegas yang ditumbuhi beberapa rambut-rambut halus di sana. Lalu aku beralih memperhatikan area perutnya yang sedari tadi ia sentuh dengan telapak tangannya, seolah menunjukan sesuatu yang sakit berada di sana. Seketika aku membelalakkan mataku saat melihat ada darah di sana. Oh astaga apa yang telah terjadi dengan laki-laki ini.
“ Sir.. do you need help? ” Tanyaku lagi. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada arah lain. Dari arah kejauhan aku mendengar ada suara gemuruh orang- orang di area taman. Dan tiba-tiba laki-laki itu seakan berusaha bangkit dengan kondisi tubuh yang tidak memungkinkan itu.
Karena tidak tahu harus berbuat apa, aku-pun membantunya berdiri. Pregg...
Aku menunduk ke bawah karena mendengar ada sesuatu yang terjatuh. Sekali lagi mataku terbelalak melihat benda apa yang jatuh ke tanah itu. Sebuah pistol kecil berwarna hitam di sana. Astaga siapa laki-laki ini?. Apa dia seorang penjahat?.
Seketika aku menatap wajah laki-laki yang kini berada di dalam rangkulan tanganku. Otakku tidak bisa berpikir positif saat ini. Jika seandainya benar pria ini seorang penjahat tentu saja aku akan meninggalkannya di sini, bahkan aku akan menghubungi polisi setelah meninggalkannya. Tapi... melihat kondisinya seperti ini, membuat hatiku terhenyak. Aku jadi tidak tega membiarkannya begitu saja.
Ahhh sudahlah.. Masa bodoh siapa pria ini, yang jelas sekarang aku sedang melakukan sesuatu kebaikan dan niatku hanya membantu orang kesulitan saja tidak lebih.
Aku membopongnya menuju ke sebuah tempat yang lumayan jauh dari area taman tadi. Di belakang gedung, eh di belakang? tidak-tidak aku tidak tahu ini dimana. Entah itu di belakang gedung bandara ataupun dimana, aku kurang tahu, yang jelas tempat ini sepi, aku juga melihat ada ruangan yang bertuliskan toilet dengan gambar alat-alat kebersihan. Ah mungkin saja ini toilet untuk para pekerja bersih-bersih. Karena tidak punya pilihan lain, aku pun membawa laki-laki itu masuk kedalam salah satu bilik toilet di sana.
Aku letakan laki-laki itu di atas kloset duduk yang tertutup sehingga memudahkannya duduk di sana. Aku segera membuka ranselku dan mengeluarkan beberapa obat p3k yang tadi disediakan tante Linda untukku berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nanti. Sungguh Tante Linda sangat perhatian padaku. Aku kan jadi semakin menyayanginya.
Aku mendongak melihat laki-laki itu sejenak. “ Sorry sir if I'm being rude. But I have to undress you a bit!! ” ( Maaf pak jika saya lancang. Tapi aku harus membuka baju anda sedikit!! ) Ucapku sembari menunjukan luka di area perutnya.
Laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya menatapku dengan tatapan... Tatapan? yang.. aneh, aku tidak tahu harus mengibaratkannya dengan kata-kata apa?. Yang pasti tatapannya padaku itu aneh. Ia seolah melihatku seperti sedang melihat alien.
Dengan sedikit ragu-ragu aku menyibak baju bagian perutnya. Oh Tuhan.. Aku menelan ludah kasar dengan mata mengerjap-ngerjap. Bukan karena terpanah dengan perutnya yang kotak-kotak tersebut, melainkan pada luka yang dimiliki lelaki ini. Terlihat mengerikan bekas tembakan parah di area perutnya. Sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya ingin menangis saja, perjuanganku membantu laki-laki ini sia-sia. Aku kira hanya luka tusukan saja tapi ternyata?, aku harus membedah perut lelaki ini juga. Dan masalahnya adalah.. Aku belum tahu bagaimana melakukan hal itu, karena apa yang kupelajari belum sampai ke tahap tersebut. Apalagi luka di perut laki-laki ini terlihat sangat dalam dan.. mengerikan.
Aku menatap wajah laki-laki itu kembali dengan mata mengerjap-ngerjap. “ I'm not a doctor.. I'm just a medical student. how about this.. ” Ucapku dengan wajah memelas padanya. Laki-laki itu menautkan alisnya. Apa dia kecewa padaku ya..
“ just do what you can ” ( Lakukan saja sebisamu ) Ucap laki-laki itu dengan mimik muka santai seolah tidak nampak kekhawatiran sama sekali pada kondisinya sendiri.
Aku menghela nafas lalu mencari alat yang dapat merobek kulit laki-laki itu sedikit. Tapi aku tidak menemukan apapun di tas. Tadi saat pengecekan, semua alat-alat bersenjata tajam di tahan di sana tidak diperbolehkan membawa benda itu saat penerbangan.
" Do you have a knife or something? ” ( apa anda punya pisau atau semacamnya? ) Tanyaku sedikit gugup padanya.
Ia mengangguk lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu pisau lipat di sana. Aku mengerjap-ngerjap menatap bercak darah di sela-sela gagang pisau lipat tersebut. Oh ya aku baru ingat, laki-laki yang ku tolong inikan seorang kriminal dan mungkin saja pisau itu sudah ia gunakan untuk berkelahi tadi.
Ah sudahlah, tujuanku sekarang hanya menolongnya, tidak lebih. Aku-pun mulai melakukan operasi dadakan untuk membantu mengeluarkan peluru dari dalam perut laki-laki itu. Entah dari mana aku mendapatkan keberanian untuk melakukan hal semacam ini. Padahal sebelumnya aku belum pernah sekalipun berurusan dengan luka dan darah. Hanya saja aku sering melihat adegan-adegan ini di film-film bertema dunia medis seperti film; The Good Doctor, dan Gifted Hands.
Dengan diarahkan laki-laki itu, aku akhirnya dapat mengeluarkan peluru dari dalam perutnya dan kemudian segera membungkus bekas luka itu dengan beberapa perlengkapan medis seperti alkohol, kapas dan kain kasa.
Aku menghela nafas sambil menyeka peluh di dahi. Kegiatan kami barusan benar-benar menegangkan. Ini adalah pengalaman pertamaku membedah perut orang demi mengeluarkan peluru dari dalam sana. Astaga.. sebenarnya untuk apa aku melakukan ini semua. Sungguh tidak ada alasan yang jelas untuk ini. huuh. Aku menghela nafas. Sudahlah semuanya sudah terjadi, niatku hanya untuk membantunya saja karena rasa iba. Lagipula tidak ada salahnya membantu orang dalam keadaan seperti ini bukan.
“ thanks ”
Aku menoleh sembari mengusap telapak tanganku dengan tisu untuk menghilangkan bercak darah.
“ hemm.. I hope you don't commit crimes like this again ( aku harap kamu tidak melakukan kejahatan lagi ) ” Ucapku dengan sungguh-sungguh menatap wajah lelaki asing ini.
“ oh yah wait.. ” Aku melepas kalung liontin peninggalan almarhum ibuku yang sudah bertahun-tahun melekat di leher.
“ I don't have any money in this country's currency since I'm a newcomer here, but I don't want to leave you with nothing. So take this ( aku tidak punya uang dengan mata uang negara ini, karena aku pendatang baru di sini, tapi aku tidak ingin meninggalkanmu dengan tanpa apa-apa. Jadi ambillah ini. ) ” Ucapku sambil menarik telapak tangannya yang dua kali lebih besar dari tanganku, lalu meletakan liontin-ku di sana.
“ live well.. and stop being a criminal ( hiduplah dengan baik.. dan berhentilah jadi kriminal ) ” Ucapku lagi seraya bangkit lalu menepuk bahunya dua kali sebelum pergi meninggalkan laki-laki itu di sana.
....
“ Astaga... non kemana aja, hampir saja bapak lapor ke bagian keamanan tadi! ” Wajah pak Ahmad terlihat begitu khawatir saat menemukanku. Beliau juga sempat meneriaki namaku tadi, sehingga membuat kami menjadi bahan tontonan di sini.
“ Maaf pak, tadi aku lagi jalan-jalan di taman itu ” Ucapku sembari menunjuk ke arah taman tadi “ Terus keasikan di sana deh.. hehe.. Maaf ya pak ” Bohong ku.
Aku melirik ke sekeliling bandara dengan perasaan was-was. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasiku dari kejauhan.
Bersambung..