Preggg..
Brukkk..
Prakkk...
Satu ruangan sederhana tanpa dekorasi apapun kini sudah porak poranda seperti kapal pecah. Seseorang mengamuk di dalam sana ketika tidak dapat menemukan empu dari ruangan tersebut.
“ Mas.. kamu tenang dulu coba! ” Rengek Eka dengan raut gunda.
“ Ini semua gara-gara kamu! anak itu jadi kabur!! ” Jari telunjuknya mengarah pada sang istri, mata Burhan memerah dan rahangnya menegras, terlihat sekali jika pria itu marah! Sangat marah.
“ Loh kok jadi salah aku sih mas.. ” protes Eka, dahinya mengerut dan tegang. Wanita ini tidak pernah mau di salahkan_bukan hanya dia tepatnya semua wanita.
“ Terus siapa lagi. Coba aja gak stiap waktu kamu buat masalah sama tu anak! pasti dia gak bakal kabur kaya gini.. ” ucap Burhan, dagunya terangkat dan tangannya bersangga pada dua sisi pinggang.
“ Mas.. kalo itu salah aku! Kenapa gak dari dulu dia kabur dari rumah? Kenapa baru sekarang? Kan bisa aja dia kabur karena gak mau nikah sama Tio, bukan karena aku!.. ”kesal Eka yang juga ikut berkecak pinngang dan tatapan menantang.
Tak terima melihat Eka yang menantang, Burhan mendekat pada wanita paruh baya itu sambil berucap. “ Terus ini salah siapa? ” aku hah!. " Suaranya menyeramkan dan raut wajah keriput itupun mendatar dan menjadi horor.
“ Bu-bukan gitu " gugup. Eka selalu tidak bisa berkutik saat suaminya sudah marah begini. Semoga tuhan mengirimkan bantuan padanya.
“ Kau tahu resikonya kalau anak itu belum ketemu kan?. Tio pasti bakal ngamuk. Tender kontrak pasti bakal batal semua!! ” Burhan mengusap kasar wajahnya sambil mengada melihat langit-langit atap kamar Layla. “ Aahhh kacau, kacau, kacau.. " Teriaknya frustasi.
“ Mas ki- ” ucapan Eka terpotong.
“ Apa lagi kita belum dapat semua harta warisan Lisa! ” Ucapannya memiliki jeda sesaat sebelum kembali berucap. “ Ini semua ulah anak s****n itu, sekarang dia malah ngilang. Harusnya dari dulu saja aku bunuh dia pakai tanganku sendiri kalau tahu ujungnya bakal jadi kaya gini!!.. Agggghhh..” Teriak Burhan lagi sambil menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
Eka menghela nafas melihat kemarahan suaminya." Kamu sabar dulu mas, kita cari dulu kemana Layla kabur.. gimana kalau kita- "
Tok..tok..tok..
Pak Malik langsung masuk kedalam kamar Layla, karena kamar tersebut tidak di tutup oleh sepasang suami istri di dalam sana hingga membuat beberapa orang yang berlalu-lalang di sana dapat mendengar perdebatan mereka.
“ Maaf saya mengganggu waktu tuan dan nyonya! ” ucap Malik sopan dengan tubuh sedikit membungkuk.
“ Kenapa? apa anak itu udah ketemu? " Tanya Burhan tak sabaran.
“ Maaf... tidak tuan, kami tidak menemukan jejak apapun di rekaman CCTV semalam.. " Pria paruh baya itu menunduk merasa tak nyaman mengucapkan hal tersebut.
“ Ba-bagaimana bisa?... bukannya di setiap sudut rumah sudah di pasang CCTV " Tanya Eka dengan wajah yang sangat serius menatap Malik. Raut wajahnya gunda, risau dengan pikiran negatifnya.
“ Maaf nyonya, tapi benar nyonya kami tidak menemukan apapun dari CCTV semalam, jika nyonya dan tuan belum merasa puas, saya akan tunjukkan rekamannya! " ucap Malik yang terlihat sangat tenang. Tentu saja lelaki paruh baya itu terlihat sangat tenang; karena semalam Malik sudah mengedit semua video rekaman CCTV hingga tidak memperlihatkan aksi kabur Layla bersamanya semalam.
Kedua suami istri itupun mengiyakan ajakan Malik untuk menyaksikan sendiri rekaman CCTV rumah mereka. Dan benar saja di semua rekaman penjuru ruangan rumah, tidak terlihat sedikitpun kepergian Layla. Tak lama kemudian dua orang suruhan Burhan datang menghampiri mereka dengan wajah yang sudah babak belur seperti terkena pukulan bogem.
Semua orang menoleh pada sekelompok itu dengan raut berbeda-beda.
“ kenapa kalian begitu? " tanya Eka, kedua tangannya terlipat di atas d**a.
" Maaf nyonya, kami memang sudah menemukan hp nona Layla, tapi... kami tidak menemukan keberadaan nona "
Alis Burhan mengerut. Apa anak itu kabur lagi?. batin Burhan.
Salah satu dari mereka mendekat dan menyodorkan ponsel bermerek mahal itu pada kedua bossnya.
“ Memangnya kalian nemuin hp ini dari mana? " Eka bangkit dan mengambil benda pipih itu sambil membolak-balik mengamati setiap sudut ponsel. Masih mulus dan bersih. Tidak ada goresan apapun di benda itu terutama pada layar depannya. Cukup mengherankan bagi Eka.
" Dari preman pasar nyonya.. " ucap seorang bertubuh paling besar di sana.
" Preman pasar, loh ko bisa? " ucap Eka yang terkaget. Bagaimana bisa sampai ke sana?. Pasar, Itu adalah tempat cukup jauh dari wilayah komplek mereka, lagipula kenapa Layla kabur ke sana, apa yang dia cari?. Di sana tempat yang berbahaya, bahkan orang-orang yang ia kirim tak ada yang sampai dengan kondisi cukup baik. Aneh.
“ CK.. anak itu.. dimana sih dia? ” Burhan memijat dahinya merasa kepalanya sedikit pusing.
“ Apa dia di culik mas? " ucap Eka yang langsung disambut keheningan.
Burhan menoleh pada istrinya. “ Enggak mungkin dia di culik, kalaupun dia di culik memangnya siapa yang mau culik dia " ucap Burhan serius.
“ Mungkin aja Tio atau rival bisnis kita "
“ Gak mungkin Tio, Eka.. gak mungkin, dan gak mungkin juga rival bisnis, kayaknya selama ini kita gak punya saingan bisnis " tolak Burhan, tangannya menyapu udara menolak halus asumsi Eka.
" Kalau enggak, terus gimana bisa anak itu kabur kaya gini, bahakan jejak CCTV-nya aja gak ada, berarti ada yang udah bantuin dia kabur mas " ucap Eka dengan sedikit kegelisahan dan rasa kesal.
Burhan berpikir sejenak, benar apa yang istrinya itu katakan jika anak tirinya itu tidak diculik kemungkinan besar ada yang membantu dan semua ini sudah direncanakan.
“ Bener juga.. pasti ada yang udah bantuin dia kabur " ucap Burhan, ia mengangguk- angguk dengan pandangan jauh entah kemana. “ Tapi.. siapa ?? " lanjutnya.
" Yang pasti orang terdekat ” ucap Eka dengan seringai liciknya. Wanita yang sering di panggil Layla dengan sebutan Tante itu sepertinya tahu siapa yang membantu keponakannya itu kabur.
“ Kayanya anak itu gak dekat sama siapa-siapa, kecuali .... " Burhan menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Malik yang masih setia berada di ruang kontrol CCTV bersama kedua majikannya, tentu ia mendengar semua percakapan kedua orang itu. Kini wajahnya sudah terlihat gusar hatinya juga mulai merasa ketakutan akan hal yang tidak di inginkan terjadi nanti, tapi sebisa mungkin ia tutupi wajah paniknya itu dengan wajah datar seperti biasanya.
Bukan tanpa sebab ia merasa takut, Karena bukan hanya keselamatannya saja yang terancam tapi keselamatan nyonya Linda juga ikut terancam, ia juga khawatir keberadaan nona mudanya diketahui oleh mereka berdua.
Jujur Malik tidak mau hal itu terjadi, cukup sudah ia melihat penderitaan nona muda Layla selama ini, biarkan saja sekarang ia sedikit berkorban untuk kesetiannya serta membalas semua Budi kebaikan yang telah diberikan keluarga ini kepada keluarganya dahulu.
…
Pukul sepuluh pagi, mobil Mecedes-Benz Star Expo hitap berhenti tepat di depan halaman depan kediaman keluarga Henna. Jas biru tua mewah menggantung pada kedua bahu Tio dan menampilkan rompi berwarna senada dengan jas nya, rompi itu menutup di bagian d**a dan perut serta menenggelamkan sebagian dari dasi panjang yang terikat rapi dileher.
Seseorang turun dari bangku kemudi lalu mengelilingi mobil untuk membantu membukakan pintu mobil. Tio keluar dari sana dengan begitu gagah dan menawan, usianya mungkin sudah mencapai empat puluhan, namun pesonanya tak pernah menua, atau lebih tepatnya menolak tua.
Kedua pasang suami istri sudah bertengger di depan pintu dengan raut terperangah. Ini pertama kalinya mereka bertemu dengan salah satu penguasa ekonomi Asia. Dari benak keduanya bertanya-tanya; apa ini benar orang yang mereka tunggu-tunggu? Tapi apa-apaan ini, kenapa tidak seperti yang mereka bayangkan; usia 45 tahun masih terlihat begitu segar dan mempesona! astaga.. tuhan tidak adil pada Burhan! Padahal usia mereka tak terlalu jauh walaupun Burhan memang jauh lebih tua dari Tio, tapi mereka hanya berbeda lima tahun dan seharusnya dengan segala perawatan dan hidup mewahnya sekarang, pria itu masih bisa memiliki pesona seperti Tio.
“ Mau sampai kapan mulut mu terbuka? ” tanya Tio dengan mata menjelit geli pada Burhan sehingga wanita yang di samping pria itu berdehem dan menyenggol lengan Burhan dengan perasaan tak nyaman.
“ Maaf.. ” Burhan ikut berdehem menghilangkan rasa malunya, kemudian mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Tio.
“ Ini bukan pertemuan bisnis! ” tolak Tio dengan begitu arogan sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana. “Dimana calon istriku? ”
Eka menarik tangan suaminya lalu tersenyum ramah pada Tio si tamu kurang ajar ini. “ Mungkin kita bisa berbincang sebentar di dalam, lagipula cuaca hari ini sedikit- ” Eka terdiam. Tangan kanan Tio terangkat menandakan pria itu tidak ingin mendengar basa-basi Eka yang berujung dengan sesi m******t.
“ Aku tidak suka buang-buang waktu ” tegasnya dengan mata menajam pada wajah Eka dan Burhan secara bergantian.
“ Emm begini.. kami _ sedikit terjadi masalah.. ” ucap Burhan sambil mengelus kedua tengkuknya yang basah dengan keringat dingin.
“ Masalah? Apa maksudmu? ” Mata elang itu beralih pada Eka meminta penjelasan. “Apa dia menolak lamaranku? ”
“ Ti-tidak, eh bukan.. em maksudnya, dia tidak menolak hanya saja.. semua ini diluar dugaan kami ”
“ Aku tidak mengerti! Tidak ada yang bisa ku mengerti dari ucapan mu!! ”
Eka menelan ludah sendiri dan merasakan tenggorokannya semakin menyempit. Bagaimana cara mengatakannya? Sebenarnya hal ini tidak terlalu rumit untuk disampaikan, hanya saja terasa begitu sulit bagi keduanya.
“ Tuan.. kami sudah berusaha menjaganya, kami sangat berusaha! lagi pula tidak mungkin kami menyengajai kejadian ini, ini-ini semua di luar dugaan! Tidak ada yang dapat menduga hal seperti ini bisa terjadi ” terang Burhan, suaranya bahkan terdengar bergetar dengan beberapa gerakan tangan yang ikut bergerak seolah meyakinkan ucapannya namun malah tampak adeh di mata Tio.
“ Sebenarnya kami tidak pernah memaksa Layla untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya, kami selalu memberikan yang terbaik untuknya, dia juga tidak pernah menuntut sesuatu yang berlebih karena didikan kami. Karena itu aku masih tidak mengerti.. kejadian ini sangat mengagetkanku, tidak! Tidak hanya aku tapi kami!.. ”
Eka melihat usaha suaminya, ia pun ikut menimpal. “ Biasanya Layla tidak pernah seperti ini, ini adalah pertama kalinya dia bertindak ceroboh. Selama ini kami merawatnya dengan penuh perhatian, tapi semakin dewasa sikap Layla semakin sulit dikontrol, dia belum cukup dewasa untuk memahami hidup dan kami mencoba memahami hal tersebut!, Aku selalu berada disisinya untuk memantau segala perkembangannya, semua terlihat normal dan baik-baik saja sampai hari.. ”
Tio memejamkan mata menenangkan otaknya. Tapi amarahnya semakin meluap kala Eka tak mau berhenti dan Tio kembali menimpal dengan pembicaraan yang entah mengarah kemana. “ Mex.. bisa kau bakar seluruh gedung HJ ” Teriak Tio pada asistennya Mex.
Sontak kedua suami istri itu terdiam, seperti orang bodoh. Keduanya saling bertatapan, melempar pertanyaan satu sama lain dari dalam keheningan.
Apa aku salah bicara? tanya Burhan pada Eka dari tatapannya, dan Eka menjawab, Entahlah.
“ Baik tuan ” Mex menganggap patuh, mulai mengeluarkan ponsel dari jas-nya tapi beberapa saat terhenti dengan teriakan Eka.
“ Tuan, tuan tidak-tidak. Maaf tuan maaf, kami mengaku! mungkin ini kesalahan kami.. tapi jangan hancurkan sumber kekayaan keluarga ini tuan ” rengek Eka.
Mex melirik pada tuannya, kemudian mengembalikan ponsel canggih itu ke dalam saku jas dalamnya, sembari mengikuti langkah tuannya yang memasuki kediaman keluarga Henna tanpa menunggu persetujuan dari tuan rumah.
“ Aku rasa kita harus lebih terbuka.. ” bisik Eka pada Burhan yang di balas anggukan.
“ Katakan saja secara langsung.. dia pasti akan memahami hal ini. Lagi pula dia tidak terlalu buruk untuk Indri ” Sedikit terkejut Burhan menatap tak percaya pada istrinya.
Bersambung..