Ruang berdekor Victoria clasik terasa begitu hangat dan nyaman. Enam orang berkumpul di satu meja makan bundar dengan riang seperti biasa. Mereka berbagi berbagai macam makanan dan menyajikannya dengan rapi di atas meja kayu bersama-sama. Seluruh sajian sangat mengundang bagi para penghuni untuk segera menyantap salah satu atau dua dari mereka. Canda tawa tak luput menyertai ke enam wanita di sana, mereka membahas berbagai macam hal, seperti film, kuliah , artis dan beberapa teman kencan dari masing-masing.
Rati, pemilik vila megah yang menjadikan tempat tinggalnya ini sebagai asrama untuk para gadis-gadis muda yang datang dari berbagai negara termasuk Layla. Bisa di bilang sebenarnya ia tidak terlalu mengenal seluruh gadis-gadis di sana, tapi keceriaan dan kerukunan dari mereka semua dapat membuatnya hidup nyaman tinggal berdampingan bersama ke lima gadis-gadis cantik ini.
“ Layla.. apa kau masih tidak mau buka-buka rahasia? ” pertanyaan berbalut humor dari Rati membuat beberapa gadis ikut menimpal.
“ Aku sama sekali tidak yakin kau belum terbiasa dengan tradisi kami.. Kita sudah satu bulun tinggal bersama!_ Aku tahu kau sangat tertutup, tapi setidaknya kau bisa lebih sedikit terbuka untuk masalah pria Lala.. ” ucap Lusy, gadis asal Inggris berkulit putih kemerahan dengan tubuh mungil dan bermata biru menyala membuatnya tampak terlihat lebih muda dari yang lain.
“ Kami tidak tebiasa mencuri sayang _ kau tak usah khawatir.. ” lanjut Lusy setelah meneguk perasan jeruk lemon nya.
“ Hei.. Aku sungguh- ”
“ No, no, no.. no stop Lala, aku sama sekali tidak percaya kau belum pernah berkencan?. Apa hidup mu memang sangat membosankan.. Atau kau yang tidak menyukai pria? ” timpal Ammy dengan logat sepanyolnya, ia adalah gadis manis berambut merah dan bergelombang seperti kobaran api.
“ Ammy... ” gerang Cloie, memperingatkan temannya tersebut dengan suara tertahan dan terdengar tercekik di tenggorokannya kemudian memberikan senggolan kecil pada siku Ammy. Yang satu ini adalah gadis asia yang berasal dari cina dan memiliki hati bak malaikat, ia juga adalah keponakan dari Rati. Mereka sudah hidup bersama sejak Cloie berusia dua tahun dikarenakan sebuah tragedi kebakaran yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
“ Bukan begitu, maksudku.. Emm ” Ammy menggosok tengguknya, memikirkan kata yang tepat. “ Okey, begini. Lala.. kau itu cantik!.. dan ini adalah kebenaran!, Look at Laura! ”
“ Aku? ” si playgirl sejati keturunan amerika dan Prancis ini awalnya tidak terlalu tertarik dengan kisah hidup Layla dan memilih fokus menikmati supnya tapi malah di seret ke dalam topik yang tidak di inginkan.
“ Ya, lihat dia! Walau penampilannya.. sedikit norak dan gila.. ” suara Ammy terdengar mengecil pada kalimat terkhir walau masih dapat menyelinap ke telinga seluruh penghuni.
“ Hei! kau kira aku tuli! ” Laura mendesah kesal menjelit tajam pada Ammy.
“ Maksudku, kau itu cantik_ ya bisa di bilang kau tidak jelek lebih tepatnya standar ke atas. Jika kau jelek mana mungkin kau mengencani lima pria dalam satu pekan bukan?.. ” ucap Ammy yang di akhir tawa hambarnya namun tak lama kemudian ia terdiam saat hanya kesunyian yang di dapat.
“ Okey, balik ke topik! ” Ammy kembali menatap Layla dan mengambil tempat yang lebih dekat. “ Dia bahkan bisa mengencani lima pria dalam seminggu la!. Itu- itu adalah hal yang waw bukan? and kau!.. harusnya kau bisa lebih gila darinya.. ”
“ Okey stop Ammy! ” Lusy melipat kedua tangan ke d**a, menarik nafas dalam sebelum berucap. “ Kau tidak perlu membuatnya jadi buas Ammy dia akan belajar dengan sendirinya nanti. " Lusy beralih menatap Layla. " Kami hanya ingin mendengr kisahmu saja Lala, dan tidak lebih. Kau itu seperti teka-teki, kami dekat denganmu tapi kau tidak seutuhnya berada disni. ”
“ Ya, kau benar Lusy..” ucap Cloie. " Tidak seharusnya kau menutup diri. Ini akan berpengaruh ke depannya sweeti, kita akan sulit terbuka, menjadi egois dan cendrung mementingkan urusan pribadi ketimbang mendengar dan menyelesaikan masalah bersama. "
“ Ehemm.. aku setuju. Kau selalu dapat di andalkan Cloie..” timpal Laura sembari menuang anggur pada gelasnya.
“ Well.. kalian memang harus saling mengingat dan terbuka satu sama lain, apapun dan siapapun yang membutuhkan kita harus menyelesaikannya bersama-sama ” jelas bu Rati atau yang lebih di kenal dengan Mrs Divit ataupun Ma'am Rati.
“ Yes ma'am.. ” Jawab mereka serempak.
“ Emm maaf, tapi aku tidak bermaksud untuk menutup diri. Hanya saja, kebiasaan dan aturan di keluargaku sangat membuatku tertekan, aku tidak biasa berbagi kisa dengan orang asing "
" Kita bukan orang asing, sayang. " timpal Rati dengan lembut yang disertai senyum khas keibuannya.
" Ya. I mean, pada siapapun itu. Aku merasa asing dengan perasaan ku sendiri. Kalian adalah keluarga baru untukku dan .. aku belum pernah merasakannya, ini yang pertama bagik .. hidup bersama keluarga, damai dan .. bernyawa. Ini yang pertama " Matanya memerah, Layla membuang pandang ke arah berlawanan, berusaha menghambat tangis yang akan pecah.
" Okey.. Mungkin kami tidak tahu apa yang sudah kau lewati, dan kami juga tidak tahu apa yang kau rasakan. Tapi satu hal yang kau perlu pahami! kakakku tidak pernah mengabaikanku dalam kondisi apapun, dia selalu meraih tanganku di saat aku hancur, walau aku tidak bercerita apapun dan sebaliknya dia tidak pernah bertanya apapun padaku, tapi dia selalu ada untukku. Aku pernah bertanya apa dia memahamiku, tapi dia malah bilang 'tidak'. Tapi aku mulai mengarti. Mungkin dia tidak pernah memahamiku, tapi dia selalu ada untuk. Kemudian kakakku menjawab lagi 'itulah yang dinamakan saudara'. Mereka mugkin tidak tahu apa yag kau alami dan tidak tahu apa yang kau rasakan tapi yakinlah mereka akan selalu ada untukmu." Lusy mengeret kursinya lebi dekat degan Layla. " Dan kami, ingin kau mengangapku, Cloie, Laura dan Ammy layaknya saudara, yang akan selalu ada untukmu walau kami tidak tahu apapun. Karena nyatanya, tidak semua orang perlu di mengerti kadang mereha haya butuh pendengar dan teman. "
Layla tertegun, ia menatap penuh kasih pada Lusy dan susana tiba-tiba terasa cangung. " Maaf, aku sedikit terbawa suasana. " ujar Layla sembari mengelap hidungnya yang basah dengan lengan baju.
" Astaga.. Aku baru tahu kau jorok " timpal Ammy yang berhasil mencairkan suasana membuat yang lain tertwa." Sekarang! apa kau mau sedikit bercerita prihal pria? "
" Untuk yang satu itu, aku rasa mungkin aku tidak cukup menarik di mata mereka, dan memang tidak ada yang menarik padaku. Dari dulu aku selalu menjadi orang asing di atara teman-teman sekolahku jadi .. Ya, jangankan pacar, temanpun aku tidak punya ”
“ Apa kau korban Bullying? ” Ammy menyerobot asal di sela ke heningan, tapi yang lain menganggap dengan serius dan malah menanti jawaban dari Layla.
“ Emm... Aku tidak tahu, sebenarnya ini .. memalukan... ” lirih Layla, ia menunduk memainkan kedua kakinya di bawah meja.
“ Oh God.. ” desah yang lain.
“ Aku tidak percaya ini! Apa negaramu memang seperti itu. Kau cantik, bagaimana bisa mereka membully orang cantik ” ujar Laura sedikit berapi-api.
“ Menurutku mereka hanya iri padamu ”
“ Ya benar-benar.. ”
Perbincangan mereka belum berakhir sampai bell rumah berbunyi diiringi dengan dering panggilan dari ponsel rumah.
“ Aku akan membuka pintu. ” ujar Lusy yang langsung beranjak dari dapur dan di iring dengan candaan kecil dari Ammy dan Laura yang ikut beranjak pergi dari sana menuju ruang tenga.
Layla ikut bangkit dan membatu Cloie membersihkan meja makan.
“ Layla.. Layla, apa kau sudah membaca pesannya ” tanya Rati yang berlari dari ruang tengah setelah mengangkat panggilan.
" Pesan? aku tidak mengerti Ma'am "
" Maksudku, apa kau sudah meneima message baru? "
“ Aku tidak tahu. Ponsel ku di kamar ” jawab Layla yang tampak tidak menangapi dengan serius pertanyaan dari Rati, dan malah melanjutkan membersi meja makan seperti yang seharusnya.
“ Berikan kain itu! cepat kemasi barang-barang mu! ” Rati merebut kain lap dari Layla dan mendorong Layla untuk segera beranjak.
“ Ma'am.. ” Layla kebingungan tapi tetap bergerak mengikuti arahan Rati.
“ Cepat Layla.. ”
“ Cepat. Cloie tolong bantu Layla berkemas, malam ini mungkin kami tidak akan pulang dan kutitip villa padamu..”
Cloie turut kebingungan. Bibinya itu memintanya membantu Layla berkemas di kamar? ada apa ini? apa yang sudah terjadi?. Walau kebingungan, Cloie tetap melakukan apa yang di minta.
Di depan villa, lima orang berseragam hitam yang di lengkapi beberapa alat komunikasih pendengar di telinga masing-masing kini berhadapan dengan Lusy.
“ Malam Miss. ”
“ Malam.. ”
“ Apa benar? ini kediaman keluarga Divit” tanya pria yang berdiri di barisan paling depan dari yang lain.
“ Ya, benar. Apa kalian mencari Ma'am Rati ”
“ Tidak. Bisa kami bertemu Miss Layla Henna ”
“ Layla? oh ya sebentar ” Lusy hendak menutup pintu namun tangan seseorang menahannya.
“ Aku akan memanggil- Apa yang kalian lakukan? hei kalian orang asing! tidak boleh masuk ”
“ Ma'aaam. " Teriak Lusy. " Tolong, bersikaplah yang sopan sir ” Lusy mendorong tubuh seseorang yang hendak masuk ke dalam.
Layla membeku setelah membaca pesan dari nomor asing di ponselnya. Jantungnya berdetak kencang, ia gemetaran namun Cloie memegang tangannya, menenangkan jiwa Layla yang hancur.
“ Ada apa La? kau terlihat syok! ”
“ Aku, aku harus pergi, aku harus pergi dari sini ” Layla berlari ke lemari berniat mengganti pakaian tapi Rati lebih dulu masuk ke dalam kamar dan menyeret Layla.
“ Kita tidak punya waktu. Pakai saja jaket mu.. ” Rati merebut jaket dari tangan Cloie dan mengenakan benda itu pada Layla. “ Ayo cepat ”
Keadaan menjadi sangat menegangkan. Laura dan Ammy mendengar teriakan Lusy. Saat keluar dari kamar, mereka berpapasan dengan Layla dan Rati yang hendak berlari ke belakang rumah.
“ Laura, Ammy. Bantu Cloie menjaga villa, tolong jangan katakan apapun tentang aku dan Layla. Aku akan segera kembali nanti ”
“ Ma'am? aa- ” kalimat Ammy menggantung, Rati dan Layla sudah meninggalkan mereka begitu saja. “ ada apa ini ” Ammy menatap penuh tanya pada Laura.
“ Sir. ini pelanggaran, kau tidak bisa masuk ke rumah orang dengan sembarangan!! ” teriakan Lusy semakin terdengar kala kelima pria asing muncul, berjalan cepat mengawasi setiap sudut villa.
“ Di mana mereka? ” salah satu dari mereka menghadap ke Ammy. Tatapan pria itu membuat suasana semakin terasa mencengkam.
“ Siapa? ” Ammy melirik pada tangnnya yang terasa di cengkram kemudian mendongak menatap Laura yang menggeleng kecil kepala.
“ Katakan di mana mereka! ” Bunyi gesekan dari pistol terdengar sampai benda tersebut mengarah pada dahi Ammy membuat semua gadis di sana membeku.
“ Aku tidak tahu.. siapa yang kau maksud ” Ammy kesulitan menelan ludahnya sendiri. Apa ini adalah akhir hidupnya?.
“ Miss Layla? ”
“ Di-dia ” Cengkraman di lengan Ammy semakin kencang. " Dia sudah pergi. "
" Kemana dia pergi? "
" Aku tidak tahu, hiks.. Aku sungguh tidak tahu. " Tangis Ammy semakin kencang saat pria tersebut membentak dan meinta mereka berkata jujur. Sura tembakan pistol menggelegar memenuhi seisi villa seiring dengan teriakan dari keempat gadis.
Bersambung..