Gadis bertubuh mungil dengan rambut di kucir kuda itu adalah Angel, gadis yang selalu menjadi korban bullying untuk geng Srigala Hitam, kali ini dia sengaja datang lebih pagi untuk mengulang kembali materi pelajaran yang tadi malam telah di pelajarinya. Tak berselang lama, Gibran dan teman-temannya memasuki ruang kelas dengan senyum sinis di kala melihat Angel yang tengah sibuk dengan buku di depannya.
Sesaat, mata Angel melihat kearah beberapa pemuda yang sudah duduk di meja meraka dengan helaan napas berat, pagi ini benar-benar hari sial untuknya.
'Astaga, kapan penderitaan ini akan berakhir? Berangkat pagi pun rasanya percuma kalau bareng mereka lagi,' pikir Angel yang mulai tak konsentrasi dengan niat sebelumnya.
Sebenarnya Angel tak memiliki masalah dengan mereka tapi sayangnya mereka selalu menjadiakan Angel bahan bullying, menundukan wajahnya kini tubuh Angel mulai bergetar, mulutnya terasa kelu saat dia satu ruangan dengan 'monster' yang paling di hindarinya itu.
"Ngapain lo ngajak kita berangkat sepagi ini, Ar? Apa ada tugas sampai kita harus dateng pagi?" Tanya salah seorang lelaki yang tak lain adalah Rangga si kompor bleduk.
"Tau nih, padahal gue masih pengen molor!" Sahut salah satu temannya yang lebih dikenal akrab Dirga.
"Apa jangan-jangan lo ngajakin kita berangkat sepagi ini cuma pengen nemenin si Cupu itu!" Seru Rangga. Lelaki itu menunjuk kearah Angel dengan dagunya, bahkan tatapanya terlihat begitu sinis dikala dia melihat Angel yang sudah ketakutan.
"Dia nggak ada hubungannya sama kita, nggak usah bawa-bawa nama dia," ujar Ardan yang memang tak pernah suka jika di antara gengnya ada yang membully orang lain.
Mendengar hal itu Angel menelan saliva-nya beberpa kali, pikirannya entah kemana karena dia merasa tak aman jika mereka sudah menyinggung namanya.
"Kayanya gue perlu main-main sebenatar sama dia sebelum bel masuk." Kata Rangga diiringi tawa kecil, lelaki itu langsung mendekati tempat duduk Angel.
Bibir Angel kembali bergetar hingga jantungnya berdetak tak karuan saat mendengar ucapan Rangga. 'Kenapa mereka terus jahat sama aku. Apa salah ku,' batinnya.
"Nggak asyik kalau lo main bully tanpa gue!" Teriak Gibran yang bangkit dari tempat duduknya.
"Pembahasan pagi ini bukan soal bully membully, Bran!" Tegas Ardan yang langsung mecekal lengan Gibran agar tak beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan Rangga sudah menarik kursi dan duduk di sebelah Angel.
Mengurungkan niatnya, Gibran memilih tinggal setelah mendengar ucapan Ardan tetapi atensinya masih lurus menatap kearah Angel. "Kenapa meetingnya nggak di markas aja, disini terlalu banyak mata-mata."
"Karena urusan kita di sekolahan ini, bukan tentang tugas atau yang lainnya."
Mengeryitkan keningnya dan beralih pandang menatap Ardan. "Maksud lo?"
"Semalam gue dapet surat kaleng dari musuh kita dan nggak mungkin malam-malam gue ajakin kalian meeting di markas, jadi gue pilih kalian kumpul sekarang disini."
Saat mereka sedang berbicara serius, tiba-tiba suara Rangga mengalihkan atensi Gibran dan yang lainnya.
"Eh, lo mau kemana! Kita belom main-main sama lo pagi ini, Cupu!" Rangga menarik pergelangan tangan Angel saat gadis itu akan melangkahkan kakinya.
"A-a-ku mau ketoilet, Ngga." Wuara Angel terbata dengan tubuh yang masih bergetar.
"Ya elah timbang gitu aja udah gemeteran, Pu." ledek Rangga diiringi tawa. "Apa kita semengerikan itu sampe lo ketakutan waktu liat kita!" Imbuhnya yang kembali melanjutkan tawanya.
Masih dengan wajah tertunduk Angel sama sekali tak berani mentap lelaki itu. "A-aku ada salah apa sama kamu." Tubuh Angel bergetar hebat karena dia sudah ketakutan dan memikirkan akan apa yang terjadi dengan dirinya.
Rangga tertawa hingga suaranya menggema bahkan dengan teganya dia menarik pergelanagn tangan Angel sampai gadis itu terhuyung dan nyaris terjatuh ke lantai.
"Awww!" Pekiknya saat sikutnya menggores sudut meja.
Melihat hal itu Ardan langsung membuka suaranya. "Udah lah, Ngga. Sampai kapan lo mau bully dia!" Teriak Ardan dengan suara lantang.
Mata elang Gibran langsung menatap tajam kearah Ardan "Ngapain lo bantuin dia terus! Nggak capek apa itu mulut kasih sarah ke kita!" Sentaknya sampai urat di lehernya terlihat.
"Gue cuma nggak suka aja di geng kita ada yang suka bully orang lain apalagi dia itu cewek!" Jelasnya.
Mendengar hal itu rahang Gibran mulai mengeras, bahkan dia tak mendengarkan ucapan Ardan dan justru melangkahkan kakinya untuk mendekat kearah Angel. Sedangkan Ardan menghela napas kasarnya, percuma saja dia menasehati lelaki itu jika tak sesuai dengan suasana hatinya. Bahkan, dia tak berani membela Angel lagi karena dia takut akan kemungkinan yang tak diinginkan.
Brak!
"Lo kasih racun apa si Ardan sampai dia selalu belain lo kaya gitu!" Sentak Gibran dengan suara lantangnya.
Mendapat bentakan seperti itu membuat jantung Angel seakan berhenti berdetak, matanya mulai memerah karena ketakutan bahkan dia menutup matanya dengan rapat dan seakan dia pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Gue nanya lo, Cupu! Lo belom budek kan!" Gibran kembali menggebrak meja. Emosi Gibran semakin meluap karena tak mendapat jawaban dari gadis itu. Duduk di atas meja dengan ekor mata terus menyorot kearah wajah Angel yang masih setia terpejam itu. "Nggak tau kenapa, gue muak setiap kali lihat ekspresi wajah melas lo yang kaya gini!" Wajah mengerikan Gibran kembali terlihat.
Angel memberanikan dirinya untuk membuka matanya secara perlahan, mata sayunnya kini bertemu dengan manik mata milik Gibran yang memang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dari gadis tersebut.
"A-a-aku, aku punya salah apa sama kamu, dari kelas satu sampai sekarang kamu selalu ganggu hidup aku, padahal aku nggak merasa punya masalah sama kamu dan temen-temen kamu." Air mata itu lolos dari pelupuk mata Angel, dia sudah sangat menahannya sejak tadi, bahkan untuk mengucapkan kata-kata tersebut pun Angel mengumpulkan segala keberaniannya.
Gibran terdiam sejenak karena dia memang tak memiliki alasan yang tepat kenapa dia bisa membenci gadis yang ada di depannya itu, menurutnya jika Rangga sudah membully Angel dia akan ikut serta karena itu mengasyikan.
''Karena lo jelek dan nggak layak ada di kelas ini!" Maki Rangga.
Memutar bola matanya untuk menatap lelaki yang masih setia di sampingnya itu. "Cuma alasan aku jelek aja kamu sampai tega nyakitin aku?"
"Bukan cuma itu, karena gue benci cewek lemah dan sok polos kaya lo! Kalau bisa, jangan pernah lo tunjukin muka itu di depan gue karena gue bener-bener muak!" Seru Gibran, entah itu jawaban jujur atau emosi sesaat saja.
Angel memaksakan senyumnya. "Makasih udah benci aku."
Mendengar hal itu, Rangga, Dirga dan yang lainnya kecuali Ardan tertawa tanpa dosa, mereka benar-benar puas dengan drama pagi ini. Angel menyeka air matanya hingga nyaris membuat kacamata non minusnya itu terlepas. Dia bangkit dari tempat duduknya dengan helaan napas berat.
"Jika aku terlahir kembali, aku berharap nggak pernah ketemu sama cowok kasar kaya kamu di dunia ini"
Ucapan gadis itu berhasil menusuk hati Gibran hingga lelaki itu menarik lengan Angel dengan paksa. "Bahkan gue sama sekali nggak mau liat muka lo lagi sekali pun lo terlahir kembali." Mata Gibran menggelap saat mengucapkan hal itu. Tangan sebelah kirinya berniat menarik kacamata yang masih melekat di mata Angel, hingga sebuah tangan kekar mencelnya dan menghempaskannya secara kasar.
"Lo!" pekik Gibran dengan mata melebar.