Suara deruman motor bersahut-sahutan membelah padatnya jalan raya di pagi hari. Memasuki sebuah gerbang tinggi yang tak lain adalah SMA Garuda. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian para siswa terutama kaum hawa pastinya.
Memarkirkan motor masing-masing di tempat yang mereka klaim sebagai tempat miliknya. Ya, mereka memang berkelakuan seenak jidatnya tanpa memikirkan perasaan orang lain dan tanpa ada yang berani protes dengan peratuaran yang mereka buat itu.
Rangga membuka helm full face-nya lalu menyugar rambutnya kebelakang, tentu saja untuk menebar pesona di pagi hari. "Gila, jadi artis tiap pagi kita," ucap Rangga dengan bangganya diikuti suara gelak tawa yang lainnya.
"Yoi, Bro," sahut Ares menaik turunkan kedua alisnya dan tentu saja dengan senyum khasnya.
Dirga turun dari atas motornya. "Bolos apa masuk nih?" tanyanya dengan atensi yang sudah menatap ke tujuh temannya secara bergantian.
Ardan menggeleng tak percaya, baru saja mereka sampai di lingkungan sekolah, rencana teman-temannya sudah ingin bolos saja.
"Masuk dulu lah masa bolos mulu, gimana menurut lo, Bran, Ron?" tanya Raka kepada dua orang yang belum juga mengeluarkan suara dan masih berada di atas motor sport berwarna merah itu.
"Terserah kalian lah," balas Gibran santai, mood lelaki itu cukup bagus beberapa hari ini jadi dia tak akan mudah marah seperti hari-hari sebelumnya.
"Hm," gumam Aaron dengan ekspresi datarnya, yah dia paling dingin diantara teman-temannya termasuk Gibran.
Baru saja Gibran akan turun dari atas motornya suara dering ponsel menghentikan pergerakkannya. Lelaki itu meraih benda pipih yang ada di saku jaket kebanggaan 'Serigala Hitam' di mana di punggungnya bergambar kabut di kelilingi api yang menyala.
"Kalian duluan aja, gue masih ada perlu," ucapnya yang di jawab anggukan oleh yang lainnya.
Setelah semuanya pergi, Gibran yang sudah turun dari atas motornya langsung mengangkat telpon dari nomor tak di kenal itu.
"Halo?"
"Lo jangan jadi pengecut karena lo nggak mau terima tantangan dari gue. Ingat! Lo itu ketua geng Serigala Hitam, lo nggak mau kan kehilangan muka di depan anak buah lo!" Maki seseorang dari seberang sana.
Gibran baru akan mengucapkan sepatah kata, telpon tersebut sudah di tutup oleh sang penelpon.
Tut.... tut... tut...
"Sial!" Umpat Gibran saat mengetahui telponnya telah terputus.
Hingga sebuah panggilan kembali mengalihkan atensinya. Nomor tak dikenal lagi.
"Halo."
"....."
"Silahkan kirimkan File-nya ke alamat sss yang saya kirimkan!" Perintah dari seberang sana.
Setelah memutuskan sambungan telpon, dia segera mengirimkan file ke alamat yang di kirim oleh sang penelpon.
Bruk!!!
Rahangnya kian mengeras kala seseorang menabrak tubuh kekarnya dan membuat seragamnya menjadi kusut. Mata elangnya menghunus kepada mata seorang gadis yang telah menabraknya itu hingga membuat gadis itu menundukkan kepalanya.
"Ma-maaf," ucap gadis itu dengan tangan mengarah ke seragamnya yang kusut, namun tangan Gibran lebih dulu menepis tangan gadis yang tak di kenalnya itu.
"Kalau jalan pakai mata!" Nada bicara Gibran terdengar ketus sekali. Setelah mengucapkan hal tersebut, lelaki itu berlalu lalang meninggalkan gadis itu di parkiran.
Sambil berjalan dia merapikan seragamnya yang sedikit kusut dan menyugar rambutnya ke belakang. Tanpa sadar perbuatannya itu membuat para kaum hawa yang di lewatinya kejang-kejang melihat style-nya.
"Gila Gibran ganteng banget."
"Mak, calon menantu mu lewat."
"Pagi-pagi gini udah lihat yang seger-seger."
"Gibran nikah yuk."
Bisikan dan ajakan terang-terangan dari teman sekolahnya tak di hiraukan begitu saja, mendapat celotehan seperti itu setiap hari sudah menjadi bagian dari aktifitasnya saat berada di lingkungan SMA Garuda.
"Gibran!!"
Lelaki itu memutar bola matanya dengan malas, ia tahu siapa pemilik suara itu dan hanya gadis itu yang berani kepadanya.
Bruk!!!
Tubuhnya sedikit terhuyung kala gadis yang bernama Kimberly menubruk tubuhnya dari belakang sembari menampilkan cengirannya yang menyebalkan.
"Lepasin Kim!" Seru Gibran sedikit geram dengan tindakan gadis tersebut. Kimberly melepaskan pelukannya, namun dia justru menggelayut manja di lengan sebelah kirinya.
"Tumben dateng pagi?" kata Kimberly bertanya.
"Pengen aja," balasnya singkat.
"Gue...."
"Gue anterin sampai kelas!" ujarnya memotong perkataan Kimberly lalu menarik tangan gadis itu menuju kelas XI IPA 3.
Setelah mengantar gadis manja itu, kini dia berjalan ke kelas yang tak jauh dari kelas Kimberly dan di sambut keributan di dalam kelas XI IPA 1, siapa lagi biangnya kalau bukan Ares dan Dirga.
Dia melemparkan ponselnya pada Aaron yang jaraknya tak jauh dari dirinya. "Ada tugas lagi," ujarnya yang di jawab anggukan oleh Aaron. Kemudian Gibran melemparkan tasnya kearah Ares.
Lelaki itu langsung duduk di sebelah Ardan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan memperlihatkan wajah kusutnya
"Anjir, muka lo kenapa? Bukannya abis dapet telpon?" Kata Dirga bertanya.
"Ayang beb ngambek ya?" Imbuh Ares seraya meletakkan tas ransel milik Gibran keatas meja.
Melirik kearah Dirga dan Ares secara bergantian. "Geng Radianz Glub ngajakin gue balapan lagi," balasnya yang tak mau basa-basi.
"Wih... Keren tuh!" Imbuh Ares.
"Terus lo terima tantangan mereka kaya kemarin lagi?" tanya Ardan memastikan.
"Entah lah, gue bingung," balas Gibran malas.
Saat ucapan mereka mulai serius dan tiba-tiba biar kerok pun datang dengan sedikit berteriak. "Gila-gila gue dapet hot news nih. Sekolah kita kedatangan siswa baru, katanya cantik banget." Heboh Rangga yang tahu segala gosip di sekolah.
Gibran menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan lengan sebagai penyanggah, lelaki itu kini mendengarkan segala celotehan dari teman-temannya.
"Giliran cewek gercep banget lo, Ngga." Sindir Ardan.
"Sumber kehidupan itu, tanpa mereka Rangga nggak akan bisa hidup," celetuk Dirga ngawur.
"Kalau dapet, yang ke berapa emang?" tanya Raka.
"Kalau gue dapet dia, bakalan jadi cewek gue yang ke 45." Bangga Rangga dengan menepuk dadanya.
"Bagi ke kita-kita kenapa, Ngga." Celetuk Dirga sok ngemis. "Ya nggak, Bran?" Dirga menaik turunkan alisnya, seraya melirik kearah Gibran, mencoba menggoda ketua gengnya yang nampak serius itu.
"Lo aja, gue ogah dapet pacar bekasnya, Rangga," jawabnya.
"Kimberly mau lo kemanain, Bro?" Ares menepuk pundak Dirga.
"Lo suka sama Kimberly, Ga?" Kaget Rangga yang baru tahu jika temannya itu menyukai sepupunya.
Jangankan Rangga, Gibran saja juga ikut kaget mendengar Dirga menyukai sahabat perempuannya itu.
Saat itu juga Dirga mendapat tatapan horor dari Aaron yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, sementara Raka hanya menepuk-nepuk bahu Dirga.
"Gue nggak bakalan larang, selama Kimberly juga mau." Ardan melirik Aaron. "Nggak tau kalau yang satunya itu? Menurut lo gimana, Ngga?"
"Yoi, gue juga nggak masalah." Sambung Rangga diiringi cengiran.
"Tancap gas, Ga, udah dapet restu dari abang-abangnya tuh!" Seru Ares.
"Bran gue.." Dirga mencoba menjelaskan kepada ketua gengnya, namun ucapnya terlebih dahulu di sela.
"Selama lo nggak nyakitin dia, gue juga dukung," ujarnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Pembicaraan mereka harus terhenti dengan kehadiran ibu Rita, guru matematika yang terkenal cantik dan pastinya masih single.
"Assalamualaikum anak-anak," sapa ibu Rita.
"Waalaikumsalam, Bu."
"Waalaikumsayang, Ibu cantik." Hanya salam Rangga yang berbeda dari teman-teman yang lainnya.
Ibu Rita menghembuskan napas panjang, mungkin sudah tidak asing lagi jika Rangga mengucapkan kata tersebut yang pastinya kelas akan menjadi riuh karena keributan yang di buat oleh bertujuh anak manusia tersebut, belum lagi gombalan Rangga yang selalu datang setiap kali ibu Rita sedang menjelaskan seperti saat ini conohnya.
"Lingkaran merupakan tempat kedudukan titik yang berjarak sama terhadap suatu titik tertentu dalam bidang datar," ucap ibu Rita seraya mengarahkan spidolnya pada papan tulis yang mengikuti bentuk lingkaran yang telah di gambarnya.
"Kalian sudah tau bentuk lingkaran 'kan? Kalau begitu, Ibu akan menjelaskan persamaan dan unsur lingkaran," imbuhnya dengan atensi mengarah kepada seorang siswa yang justru menatapnya dengan terang-terangannya.
"Rangga?" Tegur ibu Rita kala melihat Rangga bertopang dagu dan memandanginya dengan senyum mengembang.
"Apa Sayang?" jawab Rangga tanpa dosa.
"Huuuuu." Sorakan mulai terdengar dari teman-teman sekelasnya kala lelaki itu membuat ulah kembali.
"Apa pengertian lingkaran?" Kata Ibu Rita bertanya.
Semua mata tertuju pada Rangga kala lelaki itu berdiri dengan percaya dirinya. Merapikan seragamnya yang sedikit kusut karena duduk.
"Lingkaran sama seperti cinta saya ke Ibu, nggak ada ujungnya."
"Bhwahaha." Seluruh siswa kelas Xl IPA 1 kembali tertawa karena kekonyolan Rangga yang menurutnya lucu.
"Sikat, Ngga! Mumpung Bu Rita masih single!" Teriak Gibran bersama Dirga, Raka dan Ares. Aaron tentu saja dia berdiam diri di samping Ardan dan hanya memperlihatkan senyum, itu pun sangat tipis.
"DIAM!" Emosi Ibu Rita memuncak dengan ekspresi serius. "Kalian bertujuh, ikut saya kekantor!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut Ibu Rita keluar dari kelas Xl IPA 1.
Mereka saling melempar pandangan, sedetik kemudian, tawa mereka pecah. Sudah biasa bagi mereka jika mengunjungi ruang BK. Sekolah tanpa mengunjungi ruang BK, bagai taman tanpa bunga.
Ya, mereka adalah siswa yang sangat penurut, tidak pernah membantah jika di suruh mengunjungi ruang BK. Disinilah mereka berada, diruang BK yang terlihat seram dengan guru berkepala Ipin didepannya, yang tak lain adalah Pak Bagas. Mereka memberi sebutan Pak Ipin bukan tanpa alasan. Ya, tentu saja karena kepalanya botak dan membuat mereka menjadi asal memberi julukan bagi guru tersebut, guru yang paling di hindari para siswa di SMA Garuda.
"Masih pagi gini loh, Pak, masak udah kangen aja." Celetuk Ares.
"Iya nih, Pak, apa nggak burem itu mata ngeliat kita terus di hukum tiap hari," sambung Rangga.
"Silau loh ini, Pak. Embunnya baru netes belum juga hilang." Imbuh Dirga.
Pak Bagas tak mempedulikan ucapan ketiga siswa tersebut, dia justru melirik kerarah Ardan dan Raka secara bergantian. "Kalian juga buat masalah?" tanya Pak Bagas, pasalnya kedua orang itu selalu terhindar dari masalah, namun, kenapa kali ini mereka juga ikut terlibat.
"Sehati Pak, nggak Afdol kalau temen-temen saya ngunjungin ruang BK tiap pagi, tapi kita berdua malah enggak," ujar Ardan dengan gaya santainya.
"Tau apa hukuman yang akan saya berikan kepada kalian!" kata Pak Bagas dengan nada yang tak santai, lebih tepatnya ngegas.
"TAU PAK!!!" balas mereka kompak.
Selanjutnya mereka mendapat ceramah panjang lebar kali tinggi dari guru berkepala Ipin itu, setelah paham dengan konsekuensi yang harus mereka tanggung, mereka kemudian berjalan kearah lapangan untuk melaksanakan hukuman.