Dengan penuh semangat gadis itu memasuki gerbang setinggi dua setengah meter, gerbang yang setiap hari akan dia lewati setiap hari, kecuali hari libur. Berharap tempat yang akan dia masuki ini adalah tempat yang tepat untuk menuntut ilmu, semoga akan lebih menyenangkan dari sekolahnya yang terdahulu. Sembari membalas pesan dari sang Mama, dia berjalan melewati tempat parkir dan tidak sengaja menubruk tubuh tegap seorang laki-laki. Khaira mencoba untuk tersenyum dan meminta maaf kepada lelaki tesebut karena dia tahu yang salah di sini adalah dirinya.
"Sorry," ucapnya dengan kepala menunduk. Namun sayang yang di dapatkannya justru tatapan tajam nan sinis, membuatnya kembali menunduk takut. Ini hari pertamanya bersekolah di SMA Garuda, dia tidak mau mendapat masalah dengan sekolahnya yang baru karena kejadian pagi ini.
Khaira mencoba mengangkat tangannya untuk merapikan seragam lelaki tersebut, namun tangannya segera ditepis dengan sangat kasar.
"Kalau jalan pakai mata!" Herdik lelaki itu kemudian melangkah pergi.
Gadis itu hanya menggidikkan bahu, mencoba tersenyum dan mengikuti langkah lelaki itu memasuki lingkungan sekolah, namun dia berbelok kearah kanan menuju ruang guru. Jam pelajaran berbunyi sejak lima menit yang lalu dan hal itu pula yang membuat Khaira harus mengekori seorang guru untuk menuju kelas barunya, dimana didepan kelas tersebut tertulis XI IPA 3.
Khaira menebarkan senyuman kepada penghuni kelas XI IPA 3, mencoba membawa kesan yang baik sebagai murid baru. Memperkenlakan diri didepan teman sekelasnya setelah seorang guru mempersilahkannya.
"Hay, kenalin, nama gue Gladisa Maurich Khaira. Pindahan dari SMA Angkasa Bakti, semoga kedepannya kita bisa berteman," sapanya riang dan disambut tak kalah riang oleh seluruh teman sekelasnya.
"Kalian bisa manggil gue Khaira," lanjutnya.
"Hay, Khaira," sapa seorang cowok yang duduknya paling belakang dan dibalas dengan senyuman olehnya.
"Khaira udah punya pacar belum?" tanya lelaki yang duduknya paling depan, sebut saja Jho yang sedari tadi memandanginya sejak masuk ke kelas XI IPA 3.
'Oh, ayolah Khaira, jangan terlalu kege'eran jadi anak baru, itu cuma bosa-basi mereka doang,' batinnya menggerutuki diri sendiri.
"Khaira, kamu duduk di dekat Kimberly!" Perintah wali kelasnya yang bernama Ibu Irma.
Gadis itu mengikuti arah telunjuk Ibu Irma dan mendapati seorang gadis yang sedari tadi menunduk dan tidak menyambut kedatangannya. Entahlah, mungkin gadis itu tidak suka dengan kedatangannya. Well? Dia hidup bukan untuk menyenangkan hidup orang lain.
Khaira menghampiri gadis itu, menampilkan senyum seriang mungkin. "Boleh gue duduk disini?" tanyanya sebelum duduk disamping gadis tersebut. Gadis itu hanya mengangguk, lalu meraih tasnya dan mempersilahkannya duduk, tapi Kimberly masih tak menatap Khaira meskipun hanya sekilas.
"Nama gue Khaira, nama elo siapa?" Khaira mengulurkan tangannya dan berharap mendapat balasan.
Gadis itu mengangkat kepalanya, kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Lo ngomong sama gue?" tanya Kimberly yang kini mengangkat satu alisnya sembari melepas Headset Bluetooth yang terpasang di telinganya. Kini Khaira tersenyum, ternyata prasangkanya salah. Pantas saja gadis itu tidak merespon kedatangannya dari tadi, ternya karena dia memakai Headset.
Dia mengangguk dan kembali mengulurkan tangannya. Tapi entah mengapa, Khaira tiba-tiba mengerutkan keningnya dan seperti mengingat sesuatu. Sedangkan Kimberly menerima uluran tangan yang kini tepat berada didepannya itu dengan menampilkan senyumnya. "Nama gue Kimberly, nama panjang gue Kimberly......"
Belum sempat Kimberly melanjutkan ucapannya, Khaira terlebih dahulu memotongnya. "Kimberly Aurinsa," tembaknya.
"Lo tau nama panjang gue?" Seakan tak percaya Kimberly melebarkan matanya dan menatap Khaira dengan seksama.
"Dan elo sepertinya lupa kalau kita pernah sekelas, sewaktu SMP." Senyum tipis di berikan Khaira.
Kimberly mengucek matanya yang sedikit buram akibat dia terlalu lama menunduk. Dia kembali melebarkan matanya seraya menatap Khaira dengan seksama.
"Lo itu bukannya Gladisa Maurich Khaira, Temen deket Angel saingan berat gue buat deketin Tomi itu kan?" katanya bertanya, mulutnya sedikit terbuka karena dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tepatnya, gue ini sering banget jadi bahan bullyan elo semasa SMP. Lo nggak amnesia 'kan sama kelakuan lo dulu?" Jelasnya di iringi senyum puas.
Kini keduanya tertawa secara bersamaan, mengingat kejadian yang sudah menjadi masa lalu sekaligus kejadian memalukan bagi Kimberly. Khaira bersyukur karena bisa bertemu dengan gadis itu lagi, setelah beberapa tahun tak pernah berkomunikasi karena Khaira harus pindah sekolah semasa SMP akibat kejadian yang tak di inginkannya bersama sahabat yang entah kemana. Dia berpikir agar tak bertemu dengan orang itu lagi.
Khaira dan Kimberly mengikuti mata pelajaran yang dibawakan oleh Ibu Irma dengan seksama, sekali-kali Kimberly membantunya jika Khaira tidak mengerti. Suasana kelas yang tenang dan tak ada keributan di dalamnya, sungguh teman sekelasnya sangat patuh semua.Hingga jam pelajaran telah usai, Kimberly mengajaknya untuk ke kantin dan disambutnya dengan senang hati oleh gadis yang siap mengekor dibelakangnya itu, kebetulan juga perut Khaira sudah minta di isi ulang.
"Mau keliling dulu apa langsung ke kantin?" Tawar Kimberly.
"Kantin aja deh, perut gue udah protes nih," balas Khaira yang kini mengusap perutnya yang sudah keroncongan itu. Bahkan, gadis itu menghentikan langkah kakinya saat melihat segerombolan lelaki yang tengah hormat menghadap bendera merah putih ditengah lapangan.
"Kim, mereka kenapa?" Tunjuk Khaira dengan dagunya kearah lapangan.
Kimberly tertawa sembari memperhatikan sederet lelaki yang kini tengah berdiri ditengah lapangan itu.
"Udan biasa mereka berjemur kaya gitu." Hanya begitu saja jawaban yang di berikan oleh Kimberly dan hal itu membuat Khaira harus memutar otaknya karena bingung.
"Kok bisa?" tanyanya kembali dengan kening mengeryit.
"Biasalah, mereka itu biang onar di sekolahan ini, kalau nggak bolos, ya di hukum," jawab Kimberly santai.
"Kok nggak dikeluarin aja orang kaya mereka? Orang kaya mereka bisa merusak citra SMA Garuda."
Kimberly menggeleng. "Mereka emang biang onar, tapi mereka selalu mengharumkan nama sekolah dengan bakat yang mereka punya, jadi harus mikir ulang kalau mau ngeluarin mereka atau lebih tepatnya sayang, sih. Lagian nih ya." Kimberly menjeda kalimatnya.
"Kalau lo lihat cowok yang berdiri paling ujung kanan itu?" tunjuk Kimberly pada sosok lelaki bertubuh kekar dengan cukup tinggi dari lelaki disampingnya. "Bokap dia pemilik sekolahan ini."
"Pantesan berani gitu." Cibirnya.
Tapi yang kini mengusik pandangannya adalah ketika melihat keseluruhan kaum hawa yang tengah duduk diteras depan dan hanya untuk memandangi ke tujuh lelaki yang sekarang sedang berbaris ditengah lapangan. Khaira menjadi kepo, seberapa tampan laki-laki yang membelakanginya itu.
"Lo mau kenalan sama mereka nggak?" tawar Kimberly riang, yang dibalas dengan gelengan olehnya, dia tidak ingin berurusan dengan anak-anak nakal. Bahkan traumanya masih sering terniang dikepalanya saat mengingat sesuatu yang seharusnya tak ingin dia ingat lagi.
"Kantin aja yuk, gue lapar!" Ajaknya menarik tangan Kimberly.
Saat sampai di kantin dengan suasana yang sangat ramai atau lebih tepatnya karena sekarang jam istirahat, membuat mereka harus bertemu adek kelas dan juga kakak kelas. Banyak orang yang masih berdiri, mungkin menunggu bangku yang kosong, tapi yang menarik perhatian Khaira adalah saat melihat bangku yang tak seorang pun berani duduk disana padahal letaknya terbilang cukup nyaman, yaitu disudut ruangan paling pojok dan jika dilihat dari meja berukuran besar itu, bila di isi mungkin akan muat sekitar delapan sampai sepuluh orang.
Khaira tersentak, kala Kimberly manarik tangannya membelah keramaian menuju bangku yang mengusik pikirannya sejak tadi. Ya, mereka telah memesan makanan dan mendudukkan dirinya di sana. Saat ini Khaira sudah duduk disebelah Kimberly, setelahnya dia baru mengeluarkan pertanyaan yang mengusik pikirannya sedari tadi.
"Kenapa mereka malah berdiri Kim? Bangku ini masih kosong loh?" Gadis itu melirik kearah siswa lain yang masih berdiri dan nampak kebingungan saat mencari tempat duduk.
"Nggak bakalan ada yang berani duduk dibangku ini, Khaira."
Mengernyitkan keningnya. "Kok bisa?"
"Pemilik bangku ini, cowok-cowok yang lo liat dilapangan tadi." Jelas Kimberly seraya merapikan poninya.
"Seserem itu ya mereka sampai di takuti sama semua orang?" tanyanya yang semakin penasaran.
"Kata temen-temen yang lain sih gitu. Tapi menurut gue, mereka biasa aja kok, nggak kaya yang mereka bilang." Santai Kimberly.
Terlihat beberapa penghuni kantin menatap mereka dengan tatapan aneh. Oh bukan, mungkin tatapan itu hanya di tunjukan padanya, sebagai murid baru yang sangat berani mendekati kandang singa. Kira-kira begitulah yang ada dalam pikirannya penghuni kantin. Lamunannya buyar kala makanan yang mereka pesan tiba. Khaira makan dalam diam, begitu pula dengan Kimberly hingga isi didalam mangkuk pun tandas dan berpindah masuk kedalam perut masing-masing.
Saat sudah di kasir dan Khaira sudah membayar makananya, atensinya langsung mengarah kearah Kimberly yang sudah membeli tujuh botol air mineral sebelum keluar dari kantin.
"Lo mau apain itu air mineral, Kim? Banyak banget belinya?" Kata Kimberly bertanya karena heran.
"Mau jualan, yuk temenin gue." Kimberly menyerahkan tiga botol air mineral itu kearahnya.
"Beneran lo mau jualan di sekolahan?" Tanyanya tak percaya.
Aggukan di berikan Kimberly tanda dia tak bercanda dan setelahnya, Khaira tetep mengikuti kemana pun langkah kaki gadis itu pergi membawa air mineral itu. Benarkah Kimberly akan berjualan air mineral di sekolah ini? Sepertinya tidak.
Kimberly melangkahkan kakinya kearah lapangan, tentu saja dengan langkah cukup cepat. Sesekali Khaira menghela napasnya, merasa tak mampu mengikuti langkah gadis yang ada didepannya itu, hingga langkah kakinya harus terhenti tepat di belakang tujuh lelaki yang sejak tadi hormat kepada bendera.
'Ya ampun, kenapa gue harus melamun tadi, padahal gue nggak mau berurusan sama anak-anak nakal ini.' batin Khaira yang masih mematung.