Hiruk pikuk kaum hawa memenuhi indera pendengaran Gibran dan teman-temannya saat mereka masih setia berdiri didepan tiang bendera dengan tangan masih menghormat, bahkan trik matahari yang semakin menyengat tak menyurutkannya untuk langsung menyerah begitu saja.
"Gue mau jadi keringetnya Gibran, biar bisa nempel di tubuhnya terus."
"Omay good Raka senyum-in gue!"
"Gila-gila pesonanya nggak ada obatnya."
"Pengen deh jadi Kimberly yang kemana aja selalu ada dideket mereka."
"Ya ampun, kenapa mereka ganteng semua, sih. Rasanya pengen gue bungkus terus gue serahin ke nyokap sambil bilang mereka calon mantu mu, Mak."
"Kalau gue nggak perlu semuanya, Gibran aja udah cukup."
"Ya ampun Gibran, nikah aja yuk gue nggak rela lo sama yang lain!"
Gibran tak menghiraukan jeritan histeris dari para kaum hawa dan dia hanya fokus menghormat kepada bendera merah putih yang kini tertiup angin itu. Lain halnya dengan Rangga dan Dirga yang sepanjang hukumannya selalu berceloteh tak karuan.
"Ya elah, lama-lama kulit gue item nih," gerutu Ares.
"Santai kayak di pantai, Res," sahut Rangga yang tak lagi menghormati bendera dan justru asyik menebar pesona kepada kaum hawa yang sejak tadi mencuri padanganya itu.
"Lo enak putih, lah gue hitam manis gini diajak berjemur. Lama-lama manis gue hilang." Protes Dirga dengan bibir mengerucut.
"Pait dong!" Timpal Raka disertai kekehan kecil.
Sedangkan Rangga mencolek lengan Aaron yang sedari tadi fokus menghormati bendera. "Diam-diam Bae, Ron."
"Hm." Gumam Aaron masih dengan ekspresi yang sama.
"Nggak capek lo, Ron? Mending ikut duduk kita-kita ini.'' Tawar Ares yang sudah duduk diatara mereka.
"Hm," gumam Aaron kembali, lelaki itu mengikuti perintah Ares, dia ikut mendudukkan dirinya diantara mereka.
"Ha... hem... ha... hem... Nggak ikut sekalian nyanyi aja lo, Ron!" Cicit Dirga jengkel.
"Kayak Nika Samyang." sahut Rangga. "Yang liriknya gini nih kalau nggak salah. Hemmmmmmmm...... hmmmmmm...... hmmmmmm." imbuhnya.
Ares menoyor kepala Rangga. "Nisa Sabyan, bego!"
"Anjir, suara lo udah mirip orang yang kebelet BAB aja, Ngga," sahut Dirga diiringi kekehan.
Ardan buru-buru berdiri dan menepuk satu persatu pundak teman-temannya. "Woi... woi, Pak Bagas, noh! Buruan berdiri sebelum hukuman ditambah." Tunjuknya dengan dagu. Membuat Gibran dan teman-teman sontak berdiri dan kembali hormat menghadap bendera.
Lima menit kemudian setelah mereka kembali berdiri dan seorang gadis memanggil salah satu diantaranya. "Abang?" Panggil Kimberly setengah berlari.
Gibran sontak monoleh terlebih dahulu dan diikuti yang lainnya, mereka mendapati Kimberly dan seorang gadis berjalan kearahnya dengan membawa air mineral ditangannya.
Khaira tersentak saat mendengar panggilan Kimberly tadi bahkan dia baru menyadari jika dirinya berada ditengah lapangan bersama tujuh lelaki yang sejak tadi memenuhi otaknya itu. 'Ah sial! Kenapa gue harus melamun sih tadi,' batin Khairan kesal dengan dirinya sendiri. Bahkan lebih parahnya lagi, lelaki yang di tabraknya tadi pagi ada diantara mereka.
Kimberly langsung menyodorkan sebotol air mineral kearah lelaki yang tadi pagi ditabraknya dan juga yang lain, begitupun Khaira melakukan hal sama. Bahkan, yang lebih membuat Khaira terkejut adalah dia harus mendapati adanya Raka dan Ardan disana, kemungkin besar Angel juga bersekolah ditempat yang sama dengannya.
Deg!
Jantung Khaira seakan berhenti berdetak kala melihat kedua lelaki yang tengah berdiri tegap menatap kearahnya, lain halnya dengan Raka yang memang cukup mengenal Khaira sebagai taman Angel di waktu itu. Hening mulai tercipta sesaat, sampai celotehan dari mulut Rangga membuat suasana itu menjadi berbeda dan mulai mencair.
"Siapa, Kim?" Tanya Rangga penasaran. Biasa, gadis cantik dan mungkin akan jadi sasaran berikutnya.
"Oh iya gue lupa," kata Kimberly kegirangan, gadis itu langsung menarik tangan Khiara. "Kenalin temen gue, namanya K....." Belum sempat melanjutkan ucapannya, Raka lebih dahulu menarik pergelangan tangan Khaira dan membawanya agar sedikit menjauh dari teman-temannya. Lain halnya dengan Ardan yang memang mengetahui semuanya, lelaki yang memang irit berbicara itu memilih diam seperti biasanya.
Mereka yang melihat kejadian itu sempat bertanya-tanya akan tindakan yang dilakukan oleh Raka, namun itu tak berlansung lama karena mereka memilih mengamati pergerakan dari keduanya. Ya, Raka hanya mengajak Khaira agar menjauh dari tempat teman-temannya itu berdiri.
"Ra, lo balik? Gue pikir, gue nggak akan pernah liat lo lagi," ucapnya dengan kedua tangan memegangi lengan Khaira, gadis itu sedikit menundukkan wajahnya sesaat.
Menelan saliva-nya dan mencoba menetralkan jantungnya yang terasa sesak itu. "Gue belum balik ke rumah. Gue masih di rumah Oma, kalau mau gue ceritain lebih lanjutnya, lo dateng aja entar sore. Nggak enak sama mereka yang ngeliatin kita terus dari tadi," katanya. Sedangkan Raka menoleh kearah teman-temannya dan juga Kimberly, menghela napasnya dengan perlahan. "Anggap aja kita nggak saling kenal ya, Ka, gue takut kejadian kaya dulu terulang lagi," imbuhnya.
Raka yang sudah kembali menatap kearah Khaira hanya mengangguk pelan, setidaknya lelaki itu bisa bertemu dengan orang yang dekat dengan Angel dan mengubah hidup Angel kembali, kini dia mengajak Khaira beranjak dari tempatnya dan menghampiri teman-temannya lagi.
"Woi! Apaan sih lo, Ka, tumben ganjen banget biasanya juga cuek." Ketus Kimberly yang langsung menarik tangan Khaira agar berdiri disebelahnya.
"Sorry, gue cuma kagum aja makanya gue pengen kenalan sendiri tanpa perwakilan dari elo." Kilahnya.
"Giliran yang cantik aja lo langsung mau kenalan sendiri.'' Sindir Dirga.
"Kelamaan nungguin kalian debat, mending gue kenalan dulu sama dia," ucap Rangga yang kini mengeluarkan tangannya kearah Khaira. "Rangga, cowok paling ganteng di geng 'Serigala Hitam' kalau yang lainnya cuma numpang tampang dong, kalau nggak ada gue mereka mana kelihatan ganteng." Rangga memperkenalkan dirinya dengan ciri khasnya. Bahkan dia tak mempedulikan tangan Ares yang menoyor kepalanya karena kesal.
"Timbang p****t kuali aja belagu sampe bilang kita cuma numpang tampang karena lo!" Protes Dirga.
"Biasa p****t kuali 'kan kalau cari muka kaya gitu, kaya lo nggak hapal aja, Ga." Sambung Ares dengan tangan terlipat didada.
"Shutt! Kalian terlalu berisik." Ekor mata Rangga mentap kedua temannya dengan sinis.
Khaira yang melihat kelakuan absurd lelaki itu sedikit menggigit bibir bawahnya, sengaja menahan agar tawanya tak menguar. "Khaira."
"Lo pasti siswi baru itu 'kan?" tanya Ares memastikan dan di balas anggukan oleh Khaira.
"Lebih cantik aslinya, ya." Imbuh Dirga.
Khaira mengernyitkan keningnya merasa bingung dengan ucapan Ares, sedangkan dia mengucapkan terimakasih untuk pujian yang diberikan Dirga..
"Lo jadi trending topik selama di GC sekolah. Mereka pada bicarain elo, katanya anak pindahan cantik. Tapi emang bener cantik, sih." jelas Raka dengan atensi menatap lurus kearah Khaira.
Khaira yang juga mentap kearah Raka hanya manggut-manggut tanda dia mengerti. Sedangkan Gibran hanya melihat sekilas kearah Khaira, kemudian berkata pada teman-temannya. "Kantin yuk!" ucapnya kemudian melangkah pergi begitu saja.
Suasana kantin terlihat sunyi, mungkin karena jam istirahat akan berakhir beberapa menit lagi dan sebagian siswa siaga didalam kelas masing-masing. Tapi tidak bagi mereka, bukannya masuk kedalam kelas, Gibran malah santai di kantin menikmati makanan yang baru saja datang. Dia mendesah pelan kala mendapati seseorang sedari tadi menatapnya dan itu membuatnya risih.
"Ngapain lo ngeliatin gue!" Ketusnya.
Ucapan Gibran berhasil membuat Khaira tersentak, mungkin dia kaget karen lelaki itu menyadari tindakannya yang terus menatap lelaki itu sejak tadi. "Maaf," titahnya pelan.
"Maaf?" Gibran mengulangi ucapan Khaira dengan kening mengernyit tapi tak mengalihkan pandanganya.
"Maaf soal tadi pagi, gue nggak sengaja nabrak elo diparkiran," ujar Khaira.
'Oh, jadi yang nabrak gue tadi itu dia,' batinnya dengan atensi masih menatap tajam kearah Khaira.
"Hmmmm," gumamnya kemudian melanjutkan aktifitas makannya.
"Udah bel, Kim, masuk kelas sana," ujar Raka kala mendengar bel berbunyi.
"Tapi....." Kimberly sudah berdiri tapi seakan dia tak ingin beranjak pergi dari sana.
"Apa lagi Kim?" Sahut Ardan.
"Uang gue. Gimana?" Kimberly cengengesan.
"Uang apa?" Beo Rangga.
"Lo kira minuman yang gue kasih itu gratis? Ya kali, gue tekor lah."
Mendengar hal itu Gibran kembali mendesah, dia tak percaya jika ternyata sahabatnya itu tidak pernah berubah dan selalu perhitungan.
***
Jam pelajaran telah usia, semua siswa pulang ke rumah masing-masing, tapi tidak dengan tujuh inti Srigala Hitam, karena sang ketua memerintahkan mereka untuk pulang ke markas.
"Ada tugas," ujar Gibran.
Kini mereka tengah berkumpul disebuah ruangan yang terlihat sedikit gelap karena kurangnya pencahayaan. Tempat yang biasa dimasuki hanya mereka bertujuh. Sementara para anggota lainnya tengah berkumpul diruang tamu. Disebelah kanan sofa ada beberapa komputer dan peralatan canggih lainnya. Beberapa meter dibelakang sofa terdapat rak buku setinggi langit-langit ruangan tengah berjejer rapi, akan tetapi isinya bukanlah buku tentang pelajaran atau sejenisnya, melainkan buku tentang identitas seseorang yang berkaitan dengan geng lain dan dibelakang rak buku yang berjejer rapi ada sebuah tempat tidur king size untuk mereka beristirahat jika kelelahan, tak jauh dari sana ada sebuah mading yang terpampang jelas memenuhi dinding, berupa peta dan beberapa foto bekas coretan, disamping mading ada sebuah pintu untuk masuk keruang rahasia tempat penyimpanan barang bukti dan berbagai senjata pengeluaran terbaru.
"Rangga, suruh sebagian anak-anak membeli makanan, mereka semua pasti lapar sepulang sekolah," ujar Gibran meletakkan Black Card diatas meja.
"Siap Pak Bos!" Seru Rangga kemudian mengambil kartu tersebut.
Beberapa menit kemudian Rangga muncul. "Beres," ucapnya dengan jari membentuk 'Oke'.
Gibran dan Ardan melangkah mendekati Aaron dan Raka yang sedang berkutat dengan komputer dihadapannya. Gibran berdiri diantara Rangga dan Aaron, sementara Ardan berdiri disamping kiri Raka.
"Udah?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Raka.
"Target?" tanya Ardan.
"Melindungi File," jawab Raka. Sementara Rangga masih sibuk dengan komputer di depannya.
Raka menggeser laptop yang ada disamping komputer memperlihatkan apa saja yang dia dapatkan dari file yang dikirim sang penelpon pagi tadi.
"Target kita kali ini melindungi File yang akan di bawa pria ini." Raka menggeser kursor memperlihatkan wajah pria paruh baya itu.
"Bagaimana dengan pria ini? Kita habisi tanpa jejak atau biarkan dia hidup?" tanya Gibran dengan wajah seriusnya.
"Mereka membiarkan pria itu hidup dan pria itu sendiri yang akan mengantarkan File-nya, kita hanya memastikan File itu sampai ke tangan pemiliknya." balas Raka.
"Gue jadi penasaran apa isi File itu, sepertinya sangat penting bagi anggota DPR.'' ujar Rangga yang kini bersandar di sandaran kursi dengan wajah songongnya.
"Anggota DPR?" Beo Ares dan Dirga.
"Jangan kepo sama urusan mereka, kita ditugaskan hanya untuk melindungi, bukan merecoki," ujar Gibran.
"Benar." Mereka semua mengangguk setuju.
"Res, kumpulin informasi yang ada." Tindak Gibran.
"Kita harus menyusun strategi dari sekarang, menurut perkataan Rangga tadi, sepertinya banyak yang mengincar File itu. Mungkin geng 'Naga Hitam' salah satu lawan kita nantinya." Sahut Ardan.
'Naga Hitam' adalah salah satu musuh mereka dalam menyerang. Tapi, Naga Hitam tak pernah tahu bahwa yang sering mengalahkan mereka adalah anak SMA geng motor, sedangkan klien mereka menyebutnya 'Bayangan'. Mereka kini beralih duduk disofa sambil memperhatikan Aaron yang tengah berdiri didepan mading menyusun strategi penyerangan. Hanya di saat-saat seperti ini kalian akan melihat Aaron bicara panjang lebar. Sementara Ares tak ikut bersama mereka karena sibuk mengumpulkan informasi tentang lapangan dan apa saja yang mungkin mereka temui dilapangan saat penyerangan.