Keesokan harinya, sinar matahari belum tampak, langit biru dengan kabut tipis menghiasi pegunungan dan langit semilir angin yang bertiup menggoyangkan dahan pepohonan yang menyebabkan embun menetes membasahi rerumputan yang basah. bunga-bunga bermekaran Dengan Indah kicauan burung- burung yang hinggap bertengger di dahan - dahan memecah kesunyian pagi hari.
Ana seketika terbangun dari tidur lelapnya. sinar matahari yang menembus jendela kamar bersama angin sejuk berhembus pelan membelai tirai yang bergoyang membuat nya tersibak lembut oleh hembusan angin segarnya.
Ana bangkit dari tempat tidur meregangkan tubuh dan melangkah ke depan jendela dan menyibak lembut tirai yang bergoyang dan melihat pemandangan pegunungan yang tidak bosan-bosannya dia lihat.
Setelah melihat pemandangan pagi, Ana melangkah ke kamar mandi untuk mandi dan gosok gigi. setelah mandi ana melangkah keluar dan berjalan ke dapur dan benar saja nenek sudah menyiapkan sarapan pagi. ana melangkah mendekati nenek dan memeluk nenek dari belakang sambil tersenyum senang.
" Pagi nenek " ana tersenyum senang saat memeluk manja sang nenek.
" Pagi sayang " Nenek balas memeluk ana. Saat sedang sarapan ana memberitahu nenek bahwa dia akan pergi melihat kebunnya yang sudah lama tidak dia lihat.
Itu adalah kebun buah buahan dan bunga yang ana tanam dengan sepenuh hati, diwaktu ana tidak ada kebun akan dirawat oleh pak Harto yang juga warga desa, kenapa tidak nenek? karena medan di sana agak sulit dan nenek juga sudah tua, nenek pernah membantah bahwa nenek masih bisa merawatnya tapi ana tidak mengijinkan.
Setelah sarapan ana mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman. Dengan celana jeans dan atasan kaos hitam longgar dan sepatu boots nya. ana berangkat dengan membawa pisau yang bersarung di pinggangnya.
Awalnya nenek ingin ikut tapi karena semalam hujan membuat jalanan licin dan medannya yang berada di kaki gunung ana tidak ingin nenek terjatuh jadilah ana pergi sendiri.
Ana berjalan dengan pelan sambil menyapa warga desa yang berlalu dan mungkin akan pergi bekerja. setelah sampai di kebun ana melihat buah buahan yang segar dan tumbuh dengan subur, sepertinya pak Harto menjaga nya dengan baik.
Saat sedang mengamati, ana dikejutkan dengan teriakan seseorang yang arahnya ada dari hutan. Tanpa pikir panjang ana berlari kesana dengan cepat dan melihat seorang wanita sedang bergelantungan di pinggir jurang sambil menangis.
" Tolong! tolong aku! " wanita itu terisak memohon meminta tolong saat melihat ana yang mendekat.
" Mbak tahan bentar, ayo pegang tangan ana mbak " ana berjongkok dan mengulurkan tangan kepada wanita itu, dan dengan gemetar wanita itu menangkap tangan ana.
" tolong! aku takut!! " Wanita itu melihat kebawah dan terus menerus gemetar ketakutan masih terus terisak dan ana dengan sekuat tenaga menarik wanita itu keatas.
" Mbak pegang yang kuat, jangan takut " ana masih menarik dengan kuat dengan tangan kanannya sedangkan tangan kiri memegang erat akar pohon di dekatnya menjaga agar tubuhnya tidak ikut terserat saat menarik wanita itu.
setelah perjuangan yang menguras tenaga akhirnya wanita itu selamat dan ikut terbaring di tanah dengan ana yang terengah engah. wanita itu masih memejamkan mata dan terus gemetar ketakutan.
" Mbak bangun mbak " ana bangkit dan memegang pelan bahu wanita itu, dan selanjutnya yang tidak ana sangka dan mungkin penyesalan terbesar ana dalam hidupnya adalah menyelamatkan wanita ini.