Ana mendekat dan berjongkok menyentuh pelan bahu wanita itu, dan entah apa yang terjadi dan atau wanita itu gila seketika dia berdiri dan langsung mendorong ana ke tepi jurang.
Ana tersentak dan dengan sigap menangkap bebatuan yang ada di dekatnya dan karena terdorong tubuh nya jadi bergelantungan di tepi jurang.
Ana mendesis kesakitan dengan telapak tangan ana robek akibat benturan batu yang terlalu keras.
" Lo gila! " ana berteriak keras sambil mendesis kesakitan ke wanita itu.
" Gue memang gila, Lo mau apa? " ucap wanita itu menantang sambil menatap merendahkan ke wajah ana yang sedang berjuang di tepi jurang.
" Gue udah nolongin Lo, kenapa Lo dorong gue! " ana menatap tajam wanita itu yang masih terkekeh senang melihat ana yang sedang kesusahan.
" Hehehe Lo pikir gue butuh bantuan Lo ana? oh atau mungkin gue harus panggil Lo sepupu. Asal Lo tau ini rencana papa dan gue, dan tada! Lo terjebak hahaha " Ucap wanita tersenyum miring mengusap wajah ana dengan kuku nya yang panjang.
Ana tidak habis pikir ternyata wanita yang dia selamatkan adalah sepupu nya sendiri. Wanita ini adalah anak pamannya yang menguras habis harta warisan orang tuanya.
Sekarang ana baru mengenal saat melihat wajah wanita itu dengan jelas, saat dia masih bergelantung di jurang wajahnya kurang jelas terlihat akibat batu dan wanita itu yang agak tertunduk, sekarang barulah dia mengerti ini semua jebakan untuknya.
" Kenapa? belum puas Lo semua ambil harta orang tuaku, dan sekarang Lo mau bunuh gue?!!" Ana berteriak keras sambil menatap tajam wanita didepan nya.
" Hahaha, ana Lo itu bodoh ya, oh karena Lo bentar lagi mati jadi aku kasih tau kebenaran yang buat Lo mati lebih menyedihkan. Lo mau tau? " Zarina adalah nama dari wanita itu.
zarina terkekeh senang saat melihat penderita ana yang menyedihkan dan dia melanjutkan
" Lo mau tau siapa yang bunuh orang tua Lo? hehehe Lo pikir mereka kecelakaan doang? nah gua kasih tau yang bunuh mereka adalah pamanmu sendiri hahaha senang dong masa engga " Zarina tertawa terbahak bahak sambil menepuk tanah saking kepalang senang melihat ekspresi ana yang shock mendengar pengakuan Zarina yang tidak pernah dia sangka sangka.
" Mengapa?" ana gemetar kesakitan bahkan seribu lebih sakit mendengar orang tuanya ternyata dibunuh oleh pamannya atau adik ayahnya sendiri, dengan teganya dia membunuh kakaknya padahal mereka saudara kandung, padahal mereka begitu dekat, dan ayahnya sangat menyayangi adiknya sendiri.
Begitu banyak yang ingin dia tanyakan untuk Zarina tapi bibirnya seketika kelu hatinya terasa dihantam dengan beribu ribu ton sehingga sangat sulit bernapas. Hanya mengapa? mengapa? ana menangis sesak begitu sulit bernapas.
" Dan Lo bisa pergi sekarang " Zarina langsung menginjak keras tangan ana satu satunya penopang pertahanan ana, ana menatap tajam Zarina.
Ana tidak berdamai, kenapa dia harus mati saat orang yang membuatnya menderita harus hidup dengan senang di atas penderitaannya sekarang.
Dia masih harus menemui paman oh atau b*****h itu, dia hanya ingin menanyakan mengapa mereka melakukan ini?
" Oh, satu lagi nenek kesayangan Lo udah mati, dia kena serangan jantung saat tau yang sebenarnya hahaha" Zarina tertawa terbahak bahak seperti iblis saat melihat raut wajah ana sekarang.