Sekarang tali terakhir pertahanan ana, harapan terakhirnya untuk hidup telah musnah. Air mata tidak berhenti menetes mengapa hidupnya begini.
Perlahan tangan nya terlepas dan saat itu juga dia terjatuh lurus melihat Zarina yang masih tertawa terbahak bahak di sana.
Jika dia bisa menjadi hantu, ana berharap dia bisa membalas semua rasa sakitnya berkali kali lipat bahkan seribu kali lipat dari perbuatan mereka sekarang. Perlahan tubuh nya menghilang di telan kegelapan jurang. Zarina merasa ana pasti telah mati, dan dia berbalik dan pergi dengan senang.
Didalam gua yang remang - remang sesosok manusia terletak di batu tempat tidur yang dilapisi jerami dan kulit binatang.
Bulu mata lentik itu bergetar pelan dengan perlahan pupil hitam indah itu terbuka, matanya masih dipenuhi bayang bayang kabur.
Apakah aku sudah mati?
Perlahan mata yang tadinya kabur mulai jelas menampakkan area sekitar dengan jelas tetapi ketika penglihatan dan kesadarannya benar-benar kembali, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Dimana ini?
bukannya aku sudah mati?
Dia sangat yakin jika seorang manusia jatuh dengan ketinggian itu mungkin nyawanya tidak akan tertolong.
Ana menoleh dan melihat sekeliling.
Ini seperti gua atau mungkin ini gua, ada dinding batu di mana-mana, area gua cukup besar dan pencahayaannya remang-remang mungkin akibat tanaman merambat yang berakar di area pintu masuk gua.
Setelah ana duduk, dia mengerang kesakitan, sepertinya punggungnya terluka akibat jatuh dari tebing.
Dia berpikir dengan jarak antara tebing kebawah cukup jauh dan dengan jarak itu cukup untuk menghilangkan nyawanya. Mengapa hanya punggungnya yang sakit? apa dia jatuh dan menimpa kasur? dia mencubit dirinya lagi dengan keras.
Sakit!
Sepertinya dia belum mati, dan siapa yang menyelamatkan nya? dengan adanya dia di gua berarti ada seseorang yang menolong nya.
Ana bangkit perlahan sambil meringis kesakitan. melihat sekitar di mana orang yang menyelamatkan?
Sebelum mengambil langkah ada suara langkah kaki di luar gua sepertinya orang yang menyelamatkannya telah kembali, saat dia melihat ke pintu masuk gua, dia tercengang.
Itu sama sekali bukan manusia, dia melihat itu adalah seekor serigala putih besar yang mungkin tingginya sampai 5 meter.
Ana menahan napas mundur selangkah demi selangkah menyaksikan serigala besar itu perlahan melangkah mendekatinya.
Ana gemetar ketakutan menyaksikan serigala besar itu perlahan mendekatinya, dan yang menakutkan mata monster itu selalu tertuju padanya dan tidak menjauh sedikitpun.
Apa dia akan mati lagi? dia mungkin akan jadi santapan serigala besar ini sekarang. Ana menahan nafas, dan jika aku menahannya lebih lama lagi aku mungkin akan pingsan.
Melihat ana mundur gemetar ketakutan, pupil vertikal serigala itu berkedip sejenak dan memiringkan kepalanya bingung. Apakah manusia kecil ini takut padanya?
Ana berjongkok menyusut memeluk dirinya sendiri dan seluruh tubuhnya gemetar tidak terkendali, menangis tertahan, dia merintih seperti binatang kecil yang terluka.
Dia mungkin tidak akan pernah berpikir bahwa akhir hidupnya akan jadi makanan binatang monster menakutkan ini. Setelah memikirkannya, dia menangis lebih keras meratapi nasib nya yang sangat malang.
oh ana yang malang!
Melihat situasi ini, serigala besar itu semakin kebingungan, mengapa manusia kecil ini menangis semakin keras. Tanpa sadar ekor besar itu mengibas ke kiri dan ke kanan memikirkan apa yang harus dilakukan agar manusia kecil ini berhenti menangis.