Berpikir sejenak, serigala besar itu berbalik dan berlari keluar. Ana yang terlarut meratapi nasib tidak menyadari bahwa serigala besar itu telah pergi.
Tidak lama kemudian, serigala besar itu muncul kembali dan kali ini dengan mangsa yang ada di mulutnya.
Dia berjalan perlahan mendekati ana yang masih meringkuk di sudut gua.
Setelah berada di depan ana, serigala besar itu meletakkan mangsanya tepat di hadapan ana dengan lembut. Binatang itu berwarna hitam dengan tanduk besar di kepalanya jika ana tidak salah, binatang ini sepertinya kerbau dengan ukuran lebih besar dari kerbau biasa yang pernah ana lihat.
Ana tidak tau apa yang ingin dilakukan serigala besar itu dengan binatang kerbau ini. mengapa meletakkannya dihadapannya? apakah dia ingin memakannya dengan binatang itu bersamaan?
Memikirkan dia akan dimakan dengan mengenaskan, ana mengangkat kepalanya menangis lebih keras dengan ingus dan air mata meratap.
Dia tidak pernah berpikir dalam hidupnya bahwa dia akan dijadikan cemilan suatu hari nanti oleh serigala.
Melihat manusia kecil ini menangis semakin keras, serigala itu gelisah. mengapa semakin menangis? apa tidak ingin makan ini?.
berpikir sejenak, serigala besar itu berbalik pergi dengan cepat.
Melihat serigala besar itu pergi, ana dengan cepat menghapus air matanya dan wajahnya, melihat kebawah ternyata tangan nya terluka. ana memejamkan mata sebentar dan menghembuskan nafas pelan, ayo ana harus berjuang untuk hidup! dendamku belum terbalas dan sebelum aku mati mereka harus menderita lebih dulu!
Memegang dinding bebatuan gua, ana perlahan berdiri melihat sekitar. ini waktu yang tepat untuk pergi saat serigala itu tidak disini. dengan meringis menahan sakit ana berjalan dengan cepat ke pintu masuk gua.
Sebelum mendekati pintu, serigala besar itu muncul kembali. Ana membatu ditempat tidak menyangka serigala besar itu akan kembali secepat ini. Ana ketakutan dan dengan gugup mengepalkan pisau tajam ditangannya mengarahkan ke arah serigala besar itu dengan waspada.
Melihat ana di dekat pintu masuk gua, serigala itu memiringkan kepalanya dengan heran. Kali ini serigala besar itu membawa binatang yang lebih kecil dengan bulu putih indah selembut kapas, dengan darah yang masih terus menetes sepertinya mati belum lama ini.
Mengibas ekornya pelan serigala besar itu meletakkan binatang itu dengan lembut di depan ana. Menatap ana sebentar dan memiringkan kepalanya, serigala besar itu mundur selangkah mendorong mangsa itu dengan cakarnya ke arah nya dan mengeong pelan seakan menyuruh ana untuk makan mangsa itu sekarang.
Ana mengernyit heran, apakah serigala besar ini menyuruhnya makan? mengapa seperti binatang yang menyuruh anaknya makan? Ana menggelengkan kepala sebentar seraya berpikir itu tidak mungkin.
Ana semakin waspada takut saat dia lengah serigala besar ini akan kehilangan kesabaran dan menerkamnya.
Reaksi ana membuat serigala besar itu terdiam seolah olah dia bingung, memiringkan kepalanya sebentar serigala besar ini berdiri perlahan mendekati mangsanya, mengulurkan cakarnya yang tajam dan memotong kulit binatang itu dengan perlahan.
Memotong bagian yang paling lembut dan mengeluarkan daging binatang itu, serigala besar itu menggigitnya dan meletakkannya dengan lembut didepan ana, kemudian dengan perlahan mundur kembali.
Bau darah yang kuat membuat lambung ana bergejolak ingin memuntahkan makanan yang dicerna pagi hari.
Apakah rangkaian semula serigala besar itu dengan mangsanya hanya untuk membiarkannya makan. dan sejauh ini serigala besar tidak mencoba memakan dirinya yang merupakan harapannya yang pertanda baik.