Apakah rangkaian semula serigala besar itu dengan mangsanya hanya untuk membiarkannya makan. dan sejauh ini serigala besar tidak mencoba memakan dirinya yang merupakan harapannya yang pertanda baik.
Melihat serigala itu yang berperilaku baik dan memberinya makan kewaspadaan ana menurun sedikit.
Menurunkan pisau yang semula diarahkan ke serigala besar itu, ana melihat dengan sungguh - sungguh ke serigala putih besar itu.
Sejujurnya serigala besar itu sangat cantik dengan bulu seputih salju membuatnya terlihat sangat lembut, bulan sabit merah diantara alisnya dan garis - garis merah melengkung di kedua sisi ujung mata yang membuatnya semakin mempesona dan dengan pupil ungu tajam yang menyipit membuatnya semakin misterius.
Melihat manusia kecil ini akhirnya tenang, serigala besar itu mengeong pelan mengingatkan ana untuk makan sekarang.
Ana menatap daging mentah itu dengan ngeri menggelengkan kepalanya dan berkata.
" aku tidak bisa makan ini " Ana tidak tau apakah perkataannya membuat serigala besar itu mengerti.
Berpikir sejenak, ana mendorong daging itu dan menutup mulutnya dengan dua tangan dan menggelengkan kepalanya dengan keras berharap dengan ini serigala besar itu akan mengerti.
Ana tertawa pelan merasa dirinya mungkin gila karena mencoba berkomunikasi dengan binatang serigala berbahaya dihadapannya.
Serigala besar itu memiringkan kepalanya bingung, dia berdiri dan berbalik akan pergi, beberapa langkah serigala itu tiba tiba berhenti dan berbalik lagi kearah ana dan mengeong pelan.
Ana tidak mengerti apa yang dimaksud serigala besar ini. setelah melakukan ini, serigala itu berlari keluar lagi.
Apakah serigala besar itu menyuruh tetap disini, jangan pergi?
Beberapa menit kemudian serigala besar itu berlari kembali. Kali ini dengan ranting pohon dengan berapa buah yang masih bergantung di sana dan langsung meletakkan ranting itu di depan ana sambil mengibaskan ekornya dan merengek pelan seolah meminta pujian.
Ana tersenyum kaku tidak berharap serigala monster ini akan sangat imut saat mengibaskan ekornya.
" Luar biasa! " ana berucap terbata bata seakan akan dipaksa oleh kehidupan.
Ana menunduk dan memetik satu buah untuk dimakan, menatap sebentar sepertinya ini buah pir tapi warna nya agak merah muda.
Tidak pikir panjang ana menggigit sedikit dan melebarkan matanya, buah ini sangat manis lebih manis berkali kali lipat dari pada buah pir dan sangat berair. ana memakannya dengan senang.
Melihatnya makan dengan gembira serigala besar itu juga mengibaskan ekornya dengan senang sepertinya dia juga lapar.
Serigala besar itu mendekati daging dan memakan semuanya.
Setelah makan serigala besar itu menjilati cakarnya seakan membersihkan semua darah yang ada di tubuhnya.
Ana sudah kenyang hanya dengan memakan satu buah. Ukuran buah itu cukup besar sebesar dua kepalan tangan orang dewasa. Untuk sisanya ana akan menyimpannya jika sewaktu waktu dia lapar.
Melihat manusia kecil itu selesai makan, serigala besar itu mendekati ana dan melingkari tangan nya dengan ekor besarnya. Ana tidak mengerti dan ingin melepaskannya.
Serigala besar itu tidak membiarkannya dan membawa ana ke tempat tidur di kedalaman gua.
Ana seketika terdorong terlentang ditempat tidur dengan serigala besar itu menjilati wajah ana dengan antusias.
Ana sangat ketakutan dan ingin mendorong nya pergi tetapi serigala itu tidak membiarkannya pergi dan tetap menjilati wajah dan tangan dengan antusias.
Setelah sekian lama, serigala besar itu berbaring disampingnya dengan ana yang berada diperut lembut serigala besar itu.
Ana terjebak dan ingin keluar tapi setiap kali ana bergerak serigala itu akan menjilat wajahnya lagi seakan menenangkan ana untuk tidur.
Dalam keadaan normal ana mungkin akan ketakutan saat ini, tetapi ana merasakan serigala ini sangat lembut kepadanya seolah olah dia anaknya dan tidak akan menyakitinya.