Sebelum menuju ke kamar, Aini lebih dulu berjalan ke dapur. Langkahnya tidak terlalu cepat, namun wajahnya terlihat lelah setelah perdebatan panjang yang baru saja terjadi di ruang makan.
Dari ambang pintu dapur, ia melihat Mbok Yati berdiri di depan wastafel. Perempuan paruh baya itu sedang sibuk mencuci piring dan gelas yang menumpuk. Suara air yang mengalir bercampur dengan bunyi dentingan peralatan makan yang saling beradu.
“Mbok,” panggil Aini pelan.
Mbok Yati menoleh cepat. Tangannya masih basah oleh busa sabun.
“Iya, tuan mami?”
Aini melangkah mendekat, matanya sempat melirik ke arah meja makan yang masih terlihat berantakan.
“Nanti tolong sekalian bersihkan meja makan ya, mbok. Mahesa tadi menumpahkan susunya.”
Mbok Yati langsung mengerutkan dahi.
“Lho kok bisa tumpah, tuan mami? Tuan muda sudah besar begitu, tapi masih ceroboh kayak anak kecil saja.”
Mbok Yati memang sudah bekerja di rumah itu sejak usia remaja. Ia juga ikut membantu merawat Mahesa sejak kecil.
Aini menghela napas panjang. Wajahnya terlihat pasrah.
“Biasalah, mbok. Tadi debat sama tuan papi.”
Mbok Yati menggeleng pelan sambil melanjutkan mencuci piring.
“Hhh… si mbok ini juga bingung sama tuan muda. Kadang sih kelihatannya pintar, tapi kalau sudah berdebat sama tuan papi, kerasnya sama saja. Maunya apa sih sebenarnya?”
Aini terdiam sejenak. Dalam hatinya sendiri, ia juga sering memikirkan hal yang sama.
Mahesa memang anak yang baik, tetapi keras kepala, persis seperti suaminya. Ia punya cara sendiri dalam menjalani hidup, dan sering kali itu tidak sejalan dengan keinginan ayahnya.
“Mungkin kalau sudah menikah nanti Mahes akan berubah, mbok,” ujar Aini akhirnya.
Mbok Yati yang sedang menggosok piring tiba-tiba berhenti. Ia meyakinkan telinganya.
“Apa tuan mami?! Menikah?”
Ia menoleh cepat ke arah Aini.
“Tuan muda mau dikawinin?”
"Wek! seriusan?"
Aini mengangguk pelan.
“Iya, mbok. Serius pakai banget.”
Mbok Yati sampai terkekeh tidak percaya.
“Ya ampun… kalau benar begitu, dunia pasti sudah mau kiamat.”
Aini langsung menahan tawa.
“Mbok ini ada-ada saja.”
“Lha iya, tuan mami. Si mbok ini sudah lama kerja di rumah ini. Dari kecil kenal tuan muda bagaimana. Kalau dengar dia mau menikah, rasanya aneh di telinga.”
Aini hanya tersenyum tipis. Di balik senyumnya, ada rasa khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.
Apakah Mahesa benar-benar akan berubah setelah menikah?
Pertanyaan itu terus berputar dalam kepalanya.
“Ya sudah, mbok. Saya siap-siap dulu. Oh iya, sekalian suruh Pak Diman siapkan mobil.”
“Baik, tuan mami.”
Aini pun berbalik dan berjalan keluar dari dapur.
Beberapa menit kemudian, Aini sudah kembali turun dari kamar dengan tas di tangannya. Bowo sudah menunggu di ruang tamu.
Wajah pria itu masih terlihat tegang.
Tanpa banyak bicara, keduanya berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang sudah diparkir di halaman.
Pak Diman segera menyalakan mesin begitu mereka duduk.
“Ke rumah sakit dulu, Pak. Baru nanti ke kantor,” titah Bowo dari kursi belakang.
“Baik, tuan.”
Mobil perlahan melaju meninggalkan halaman rumah.
Beberapa saat suasana di dalam mobil terasa hening.
Bowo akhirnya menoleh ke arah istrinya.
“Mami yakin Mahes bakal nyusul?”
Aini mengangguk mantap.
“Mami tahu Mahes, pi. Dia anak penurut, kok.”
Bowo langsung mendengus pelan.
“Penurut?” gumamnya sinis.
“Sikap kayak berandalan begitu kamu bilang penurut?”
Aini menatap keluar jendela. Deretan pohon yang mereka lewati terlihat samar.
“Mahesa memang keras, pi. Tapi dia tidak pernah benar-benar membangkang.”
Bowo terdiam. Entah ia percaya atau tidak.
Di dalam hatinya, ia juga sebenarnya mengenal anaknya sendiri. Namun ego sering kali membuat mereka saling berhadap-hadapan.
Sementara itu di kampus.
Zara terlihat tergesa menyelesaikan tugas di hadapannya. Tangannya bergerak cepat menuliskan bahan presentasi yang akan diwakilkan teman sekelompok nya.
Di sampingnya, Meylan menoleh.
“Ra, habis ini lo jadi izin?” bisiknya.
Zara mengangguk cepat tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.
“Iya.”
Di bangku depan, Anggi dan Tari yang mendengar percakapan itu langsung menoleh ke belakang.
“Lo mau izin, Ra?” tanya Anggi penasaran.
Zara belum sempat menjawab.
Meylan lebih dulu menyahut dengan nada tegas.
“Nanti gue yang jelasin. Sekarang kerjakan dulu.”
Tari langsung cemberut.
“Ya sudah… gimana kalau kita izin bareng?”
Meylan langsung mendorong punggung Tari pelan.
“Itu sih maunya lo saja. Lo pengen cabut dari pelajaran Pak Ihsan, kan?”
Tari langsung nyengir.
“Hehehe… habis kalau dia yang jelasin matematika, bukannya ngerti malah bikin ngantuk.”
Anggi terkekeh kecil.
“Huuu… Zara mau izin karena bokapnya masuk rumah sakit. Kalian jangan ikut-ikutan deh.”
Tiba-tiba suara tegas terdengar dari depan kelas.
“Kalian! Kenapa ngobrol?!”
Pak Arif menatap tajam ke arah mereka.
“Kalau sudah selesai, silakan kumpulkan kedepan. Jangan berisik!”
Zara langsung berdiri.
“Sudah, pak!”
Meylan, Anggi, dan Tari ikut berdiri bersamaan.
“Sudah, pak!” jawab mereka kompak.
Pak Arif menunjuk ke arah pintu.
“Baik, silakan.”
“Terima kasih, pak,” ucap Zara sambil meletakkan kertas jawabannya di meja.
Saat ia hendak keluar, Pak Arif kembali memanggil.
“Oh ya, Zara.”
Zara menoleh.
“Iya, pak?”
“Ada pesan dari Pak Roy. Setelah selesai, kamu diminta langsung ke ruangannya.”
Zara mengangguk.
“Oh, baik pak. Terima kasih informasinya.”
“Sama-sama.”
Keempat gadis itu kemudian keluar dari kelas.
Namun saat mereka berjalan di koridor, terdengar suara celetukan dari salah satu mahasiswi.
“Enak banget ya jadi keponakan dekan. Bebas!”
Zara tidak menoleh sedikit pun.
Ia tahu persis pemilik sumber suara.
Anggi mendengus kesal.
“Cuekin saja, Ra. Orang iri begitu.”
“Yuk kita ke kantin,” tambahnya.
Namun di tengah lorong, Zara menghentikan langkah.
“Kalian saja deh ke kantin. Gue langsung ke ruang Pak Roy. Nggak apa-apa, kan?"
Meylan langsung mendekat.
“Ya nggak apa-apa dong. Gue doain semoga bokap lo nggak kenapa-kenapa.”
Ia lalu tersenyum usil.
“Salam buat bokap lo ya. Bilang semoga cepat sembuh dari gue, Meylan yang paling unyu.”
Zara terkekeh kecil.
“Salam dari gue juga ya,” kata Anggi.
“Gue juga,” tambah Tari.
“Pokoknya nanti kita jenguk om haji.”
“Harus dong,” jawab Zara.
Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari arah lapangan.
“ZARAA!”
Mereka semua menoleh bersamaan.
Seorang gadis berjalan cepat mendekat sambil membawa sesuatu.
“Uni?” gumam Anggi.
“Mau apa tuh anak manggil lo?”
Zara mengangkat bahu.
“Mana gue tahu.”
Gadis itu akhirnya sampai di depan mereka lalu menyodorkan sebuah totebag kecil berwarna pink dengan motif stroberi.
“Ada titipan.”
Zara mengerutkan kening.
“Apaan ini?”
“Mana gue tahu. Dari kakel.”
“Siapa?” tanya Tari.
“Kak Radit. Semester enam fakultas kedokteran.”
Semua langsung terdiam.
Nama itu memang terkenal di kampus.
Zara menoleh ke kanan dan kiri.
“Kenapa kalian melongo begitu?”
Uni tiba-tiba tersenyum sinis.
“Gue bingung sama lo, Ra. Lo itu biasa saja. Cantik banget juga nggak, pintar juga standar. Tapi kenapa banyak yang suka sama lo?”
Meylan langsung maju selangkah.
“Sirik aja lo.”
Ia mendorong d**a Uni pelan.
“Pergi sana!”
Uni mendengus.
“Iya, iya. Nggak disuruh juga gue mau pergi. Gue kira Kak Radit punya selera tinggi.”
Ia menatap Zara dari atas ke bawah.
“Eh ternyata segini doang.”
Tari langsung nyolot.
“Maksud lo apa?”
Zara cepat menengahi.
“Sudah, sudah.”
Ia lalu menatap Uni.
“Thanks ya titipannya.”
Uni mendengus.
“Bilang sendiri saja sama orangnya. Emang gue pesuruh?”
Ia kemudian pergi.
Tari langsung menggerutu.
“Aneh banget tuh anak.”
Zara hanya tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, ia berpisah dengan teman-temannya dan berjalan menuju ruangan Pak Roy.
Di dalam ruangan.
Roy sedang merapikan beberapa berkas di atas mejanya saat Zara masuk.
“Kamu mau bareng om ke rumah sakit, atau sendiri saja?” tanyanya.
Zara berpikir sejenak.
“Zara sendiri saja deh, om. Kayaknya om masih sibuk.”
Roy tersenyum tipis.
“Nggak juga. Ini sudah hampir selesai.”
Ia menutup map di tangannya.
“Cuma, om mau ketemu Pak Deni dulu.”
Zara menatap penasaran.
“Pak Deni dosen fakultas bisnis itu?”
Roy mengangguk.
“Ada satu mahasiswa yang bermasalah. Kemarin malam katanya terlibat tawuran.”
Zara langsung tertawa kecil.
“Tawuran? Sudah mahasiswa masih saja tawuran kayak anak SMA saja.”
Roy ikut tersenyum tipis.
“Om juga heran. Katanya anak itu sering membuat masalah.”
Zara berdiri, tidak penasaran apalagi peduli dengan mahasiswa tersebut.
“Ya sudah deh. Om selesaikan saja dulu urusannya.”
Ia mengangkat tasnya.
“Zara mau langsung ke rumah sakit. Sudah kangen ayah.”
Roy bangkit dari kursinya lalu mengacak rambut Zara dengan sayang.
“Dasar anak ayah.”
Zara tersenyum.
Setelah berpamitan, ia keluar dari ruangan itu.
Namun begitu pintu tertutup, ekspresi Roy berubah serius.
Ia mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
Begitu panggilan tersambung, Roy hanya mengatakan satu kata.
“Oke.”
Lalu panggilan itu langsung ditutup.
Di wajahnya muncul ekspresi yang sulit ditebak.
Seolah ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
Dan Zara sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di belakangnya.