Motor Zara melaju keluar dari gerbang kampus dengan kecepatan sedang. Angin pukul sepuluh pagi terasa sejuk bercampur hangat menerpa wajahnya, membuat beberapa helai rambutnya terbang keluar dari balik helm.
Motornya berbelok keluar gerbang. Ingin sekali menambah kecepatan, tapi Zara tau, saat ini jam rawan razia. Ia hanya ingin cepat sampai ke rumah sakit.
Di saat yang hampir bersamaan, sebuah motor ojek online berhenti tepat di depan gerbang kampus.
Mahesa turun dari boncengan sambil merogoh ponselnya.
“QRIS pak,” ucapnya singkat.
Pengemudi ojol itu mengangguk sambil melepas ponsel dari holder.
“Bisa, mas.”
Setelah transaksi selesai, Mahesa memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ia melangkah masuk ke area kampus dengan langkah cepat.
Langkahnya panjang-panjang, seolah sedang mengejar sesuatu.
Padahal sebenarnya tidak.
Ia hanya ingin segera masuk kelas dan menghindari pikirannya sendiri.
Sejak pagi tadi, kepalanya terasa penuh oleh ucapan ayahnya.
Menikah.
Kata itu terus terngiang.
Mahesa menghembuskan napas kesal.
Papi benar-benar gila kalau berpikir gue bakal nurut begitu saja…
Dari arah taman kampus tiba-tiba terdengar teriakan keras.
“WOI! MAHES!”
Mahesa menoleh cepat.
Ia menyipitkan mata, mencari sumber suara di antara mahasiswa yang lalu-lalang.
Di dekat bangku taman, dua orang laki-laki berdiri sambil melambai-lambaikan tangan tinggi-tinggi.
Ali dan Erwin.
Mahesa menghela napas kecil lalu berjalan mendekat.
Ali langsung menepuk pundaknya begitu Mahesa sampai.
“Bro, lo lihat nggak tadi?”
Mahesa mengerutkan dahi.
“Lihat apaan?”
Ali dan Erwin saling pandang sejenak.
“Tuh… motor cewek yang baru keluar gerbang tadi.”
Mahesa mendecih.
“Cih… mau siapa kek.”
Ia langsung berdiri tegak dan membenarkan posisi tas di bahunya. Dikira ada apa sampai bahu nya ditepuk begitu saja.
“Nggak penting.”
Ali melongo.
“Lah, lo mau ke mana?”
“Kelas,” jawab Mahesa singkat.
Tanpa menunggu tanggapan lagi, ia langsung berjalan meninggalkan mereka.
Erwin menyenggol lengan Ali.
“Kenapa tuh anak?”
Ali hanya mengangkat bahu.
“Mana gue tahu.”
Keduanya kemudian ikut berjalan menuju gedung fakultas.
Mahesa memang dikenal sebagai mahasiswa yang sangat cuek.
Di kelas pun ia jarang berbicara dengan siapa pun. Sekadar menyapa teman sebangku saja hampir tidak pernah.
Apalagi dengan mahasiswi.
Banyak yang mengira ia sombong.
Padahal sebenarnya bukan itu alasannya.
Mahesa hanya tidak tertarik membuang waktu untuk hal-hal yang menurutnya tidak penting.
Begitu masuk kelas, Mahesa langsung melirik ke arah depan.
Kursi dosen masih kosong.
Tidak ada Bu Susi yang seharusnya mengajar pagi ini.
Padahal tadi ia sampai naik ojek online supaya tidak terlambat.
“Percuma buru-buru,” gumamnya pelan.
Di dalam kelas suasana cukup ramai.
Beberapa mahasiswi sedang bergosip sambil tertawa-tawa.
Di sudut lain, beberapa mahasiswa terlihat serius bermain game di ponsel masing-masing.
Mahesa berjalan ke kursinya di baris tengah.
Ia meletakkan tas di meja lalu duduk.
Tangannya merogoh saku, mengambil ponsel, dan mulai menggulir layar tanpa tujuan jelas.
Tak lama kemudian terdengar percakapan dari bangku di belakangnya.
Tiga orang mahasiswa sedang berbicara dengan suara cukup keras.
“Iya, gimana kalau kita taruhan saja?”
Mahesa tidak terlalu peduli.
Namun kalimat berikutnya membuatnya sedikit tertarik.
“Siapa yang berhasil jadi pacarnya Zara, gitar kesayangan gue bakal gue kasih.”
Mahesa berhenti menggerakkan jempol.
Zara?
Nama itu terdengar familiar.
Seketika ia teringat pada ucapan ayahnya tadi pagi.
Zara. Anak Om Haji Abidin.
Mahesa mulai mendengarkan percakapan mereka tanpa menoleh.
“Serius lo?” tanya salah satu dari mereka.
“Serius. Siapa takut.”
Mahasiswa lain ikut menyahut dengan semangat.
“Kalau gue, barang taruhan gue jaket ini.”
Ia menunjuk jaket yang sedang dipakainya.
“Gue tahu lo berdua pada naksir jaket gue, kan?”
Dua temannya langsung terbelalak.
“Serius lo?!”
“Serius banget.”
Mereka langsung tertawa.
“Deal!”
Salah satu dari mereka kemudian bertanya lagi.
“Eh, tapi lo sendiri taruhannya apa?”
Mahasiswa itu berpikir sejenak.
“Gue nggak tahu barang apa… tapi gue janji bakal traktir kalian sesuai harga barang taruhan kalian.”
Ia mengangkat bahu santai.
“Sama saja, kan?”
“Boleh juga.”
Mahasiswa lain tertawa.
“Kebetulan gue mau modifikasi motor.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Kalau gue menang, lo bayarin semuanya.”
“Gila lo!”
"Bodo amat!"
Namun tak lama kemudian mereka malah tertawa bersama.
“Deal!”
Ketiganya langsung melakukan tos.
Sementara itu Mahesa masih diam di kursinya.
Pikirannya mulai dipenuhi rasa penasaran.
Zara yang mana?
Nama itu memang tidak jarang dipakai.
Namun entah kenapa, ia tiba-tiba memikirkan nama yang disebut ayahnya.
Mahesa mendecih pelan.
Ah… mana mungkin sama.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi.
Memangnya secantik apa sih sampai dijadikan taruhan begitu?
Ada sedikit nada meremehkan di dalam pikirannya.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka.
Ali dan Erwin masuk bersama seorang laki-laki lain.
Rendy.
Sahabat Mahesa sejak taman kanak-kanak.
“Bro!” panggil Rendy.
Mahesa hanya mengangkat tangan sedikit sebagai jawaban.
Tiga mahasiswa yang tadi membuat taruhan langsung memanggil Ali dan Erwin.
“Ali, Erwin, sini!”
Ali dan Erwin mendekat.
“Kenapa?”
“Kita lagi bikin taruhan nih.”
Ali langsung tertarik.
“Taruhan apa?”
Mahesa yang mendengar itu hanya menggeleng pelan.
Anak-anak ini benar-benar nggak ada kerjaan.
***
Sementara itu di rumah sakit.
Percakapan ringan tentang kondisi Zainal baru saja selesai.
Suasana ruangan terasa jauh lebih santai dibanding sebelumnya.
Zainal sudah terlihat lebih segar meskipun masih harus berbaring di ranjang rumah sakit.
Riana duduk di sampingnya, sementara Bowo dan Aini duduk di sofa dekat jendela.
Kini pembicaraan mulai beralih pada rencana pernikahan yang sempat dibicarakan sebelumnya.
“Berarti Zara satu kampus sama Mahesa, ya Rin?” tanya Aini.
Riana mengangguk.
“Sepertinya begitu, mba.”
Bowo ikut menimpali.
“Kalau begitu mungkin mereka sudah saling kenal.”
Riana menoleh ke arah putri sulungnya.
Zahirah sedang memeriksa selang infus ayahnya dengan teliti.
“Mahesa ambil jurusan apa, tante?” tanya Zahirah tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.
“Bisnis manajemen,” jawab Aini.
Ia tersenyum kecil.
“Meneruskan perusahaan papi-nya.”
Zahirah mengangguk pelan.
“Kalau begitu kemungkinan mereka tidak saling kenal.”
Semua menoleh padanya.
“Kenapa?”
“Zara fakultas kedokteran.”
“Oh…”
Bowo mengangguk pelan.
“Benar juga.”
Beberapa detik suasana menjadi hening.
Kemudian Bowo bertanya langsung.
“Kalau begitu bagaimana cara mengenalkan mereka?”
Semua terdiam lagi.
Tiba-tiba terdengar suara dehem pelan.
“Ekhem.”
Zainal membuka mata.
“Sudah ada kabar dari Roy?”
Riana menoleh cepat.
“Sudah, yah. Tadi Roy bilang Zara sudah berangkat.”
Zainal mengangguk pelan.
“Kalau begitu kita tunggu saja.”
Ia kembali memejamkan mata untuk beristirahat.
Tak lama kemudian Zahirah merapikan alat-alatnya.
“Kalau begitu Kakak pamit ke ruangan dulu, ya.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, Riana memanggil.
“Ka, sebentar.”
Zahirah menoleh.
“Iya, bun?”
Riana terlihat sedikit ragu.
“Bunda yakin Zara pasti menolak.”
Semua langsung menoleh memperhatikan Riana.
“Dia pasti datang ke kamu.”
Zahirah menghela napas kecil.
“Bunda minta tolong… yakinkan dia.”
Aini dan Bowo langsung mengangguk setuju.
Zahirah berpikir sejenak.
“Insya Allah, bun.”
Ia tersenyum lembut.
“Aku usahakan.”
Sebelum keluar, ia berkata lagi.
“Kakak sudah pesan kopi. Bunda tunggu saja.”
“Terima kasih, ka.”
Setelah Zahirah keluar, mereka bertiga kembali duduk di sofa.
Bowo tersenyum kecil.
“Anak kamu cantik dan pintar, Rin.”
Riana tertawa kecil.
“Bisa saja kamu.”
Sekitar setengah jam kemudian, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
“AYAH! AYAH!”
Zara masuk dengan tergesa-gesa.
Tasnya bahkan langsung ia lempar ke kursi terdekat.
Riana langsung berdiri.
“Sssttt!”
Ia menahan bahu putrinya.
“Ayah baru saja tidur, Ra. Jangan berisik.”
Zara langsung menurunkan suara.
“Bunda… gimana keadaan ayah?”
Wajahnya terlihat sangat cemas.
“Ayah sudah baik-baik saja, kan?”
Riana mencubit pelan bibir putrinya.
“Bawel banget sih,”
Zara menunduk sedikit.
“Maaf, bun…”
Ia menghela napas.
“Zara panik.”
Lalu dengan nada polos ia menambahkan,
“Zara juga lapar.”
Sementara itu di sofa, Bowo dan Aini menatap gadis itu tanpa berkedip.
Beberapa detik mereka saling pandang.
Kemudian keduanya tersenyum.
“Cantik ya, mi,” bisik Bowo.
Aini mengangguk pelan.
“Cantik.”
Ia kembali menatap Zara yang sedang berbicara dengan ibunya. Gadis itu belum menyadari keberadaan Bowo dan Aini.
“Ini mah Mahes nggak bakal nolak.”
Bowo mengangguk mantap.
“Kalau begitu kita percepat saja.”
Aini menoleh.
“Maksud papi?”
“Lusa.”
Bowo berkata dengan tenang.
“Kita nikahkan Mahesa dan Zara.”
Aini tersenyum lebar.
“Mami setuju banget. Lebih cepet, lebih baik."
Ia melirik ke arah Riana dan Zainal.
“Nanti kita bicarakan langsung dengan mereka.”
Dan tanpa disadari Zara…
Takdirnya sedang diputuskan oleh orang-orang di ruangan itu.