"Nggak bisa gitu dong, Kak! Gue nggak mau nikah muda. Gila aja! Lihat gue, masih kecil, masih unyu begini, disuruh nikah…”
Suara Zara menggema di lorong rumah sakit yang lengang. Beberapa perawat yang melintas sempat menoleh, tapi segera mempercepat langkah sambil menunduk, berpura-pura tidak mendengar.
“Lagian, gue baru masuk kuliah. Baru ngerasain bangku kampus, Kak. Lo tahu kan gue pengen banget masuk universitas itu? Gue lagi girang-girangnya. Masa mau dinikahin? Nggak bisa, Kak. Nggak mau gue!”
Zara mengusap wajahnya kasar, napasnya naik turun, emosinya benar-benar tidak bisa ditahan lagi.
Di depannya, Zahirah hanya berdiri diam. Tatapannya lurus ke arah adiknya, tetapi pikirannya sibuk mengingat bagaimana perjuangan Zara selama ini.
Ia tahu betul, sejak kelas dua SMA, Zara hampir tidak pernah benar-benar menikmati masa SMA nya. Belajar siang malam, ikut bimbingan, mengorbankan waktu main—semua demi satu tujuan: lolos ke kampus impiannya dengan beasiswa.
Dan sekarang… semua itu seperti akan direnggut begitu saja.
Zahirah mendekat ikut duduk di samping Zara.
“Ya… habis Kakak kasihan sama Ayah, Ra,” ucap Zahirah pelan, suaranya lebih lembut dibandingkan Zara. “Lo sudah dewasa. Pasti paham, kan? Janji itu utang.”
Zara menggeleng keras.
“Gue nggak pernah janji apa-apa, Kak!”
“Betul. Memang bukan lo,” sahut Zahirah, sedikit menahan emosi. “Tapi Ayah. Dan lo juga tahu gimana Ayah. Sekali nya beliau mengucapkan janji, pantang ingkar.”
Zahirah melirik ke arah pintu ruang rawat inap, seolah bayangan ayah mereka masih terbaring lemah di sana.
“Lo lihat sendiri tadi kondisi Ayah. Selang di mana-mana… hampir penuh di d**a. Emang lo nggak kasihan lihatnya?”
Kali ini suara Zahirah sedikit bergetar.
“Kalau Kakak sih… kasihan banget.”
Zara langsung terdiam.
Namun detik berikutnya, ia berdiri kemudian menjatuhkan diri lagi duduk ke kursi semula dengan kasar. Menghela napas pelan.
Kesal, kecewa, bingung.
Kenapa harus aku yang menanggung.
“Ya, tapi kenapa harus gue, Kak…” suaranya melemah, nyaris seperti anak kecil yang merengek. “Kenapa nggak Kakak aja? Atau Zidan gitu?”
Zahirah langsung mendekat dan menoyor dahi Zara pelan.
“MAU KAKAK KEMANAIN MAS WISNU?! Ngaco aja lo!”
Awalnya, mereka ingin menjodohkan Malik dan Zahirah. Namun takdir berkata lain.
Zara meringis sambil memegang dahinya.
“Terus Zidan juga! Dia laki-laki, Ra! Masa disuruh nikah sama laki-laki? Nggak masuk akal banget lo kalau ngomong!”
Zara cemberut, tapi tidak membalas. Matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat itu, Zahirah langsung menghela napas panjang. Emosinya mereda. Ia bergeser lebih dekat duduk di samping Zara. Merengkuh bahu adiknya, lalu mengusap sudut mata adiknya dengan lembut.
“Udah, jangan nangis. Cengeng banget, sih. Nikah ya, tinggal nikah aja,"
Zara mendengus pelan.
“Nikah tinggal nikah, katanya…” gumamnya kesal. “Ya kawinnya juga tinggal kawin gitu?”
Zahirah tertawa kecil.
“Ya kawin aja,” jawabnya santai, lalu terkekeh.
Zara langsung melotot.
“Ih! Nggak, nggak! Nggak bisa!”
Zahirah kembali berdiri, merapikan jas dokternya.
“Nanti kita bicarakan lagi. Kakak ada operasi setengah jam lagi, harus siap-siap.”
Ia menatap Zara serius.
“Tadi Ayah sama Bunda pesan, lo jangan ke mana-mana.”
Zara membuang muka.
“Hadeh… makin jadi aja sih ini. Bener-bener kejadian deh…”
***
Zara kembali ke ruang rawat inap ayahnya.
Tangannya mendorong pintu perlahan.
Deg.
Langkahnya terhenti sejenak.
Dua orang asing berdiri di samping ranjang ayahnya. Mereka tampak berbincang santai dengan Bunda dan seorang pria yang Zara kenal sebagai Pak Roy.
Zara menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Ia menutup pintu dengan pelan, lalu melangkah masuk.
Senyum tipis ia paksakan ketika melihat ayahnya menatap ke arahnya.
“Zara,” panggil Zainal lemah namun hangat. “Kenalkan, teman Ayah.”
Zara mengangguk sopan. Ia mendekat, lalu menyalami pasangan itu satu per satu.
Aini tersenyum lembut, tangannya mengusap rambut Zara penuh kasih.
“Sudah besar ya kamu… Cantik lagi.”
Zara hanya tersenyum kecil.
Bowo berdiri di samping istrinya, menatap Zara cukup lama. Ada tatapan menilai, sekaligus puas.
“Jadi, Mi… lusa,” bisiknya pelan pada Aini.
Zara tidak mendengar jelas, tapi entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak nyaman.
“Kamu pasti lupa sama Om dan Tante,” ujar Bowo kemudian.
“Iya,” sambung Aini, “terakhir ketemu sebelum kita pindah. Waktu itu kamu masih kecil, Zara.”
Zara mengangguk, meski sebenarnya ia tidak benar-benar ingat.
Suasana mendadak canggung.
Aini melirik ke arah Riana, lalu ke Zainal. Seolah memberi isyarat: siapa yang akan mulai membicarakan hal itu.
Namun belum ada yang sempat membuka suara—
Drrrt…
Drrrt…
Ponsel Zara bergetar.
Semua mata langsung tertuju padanya.
“Ra, HP kamu,” ujar Riana.
Zara mengangguk kecil.
Getaran itu datang lagi.
Drrrt…
Drrrt…
“Angkat saja dulu, Nak. Siapa tahu penting,” ucap Bowo.
Zara menoleh ke arah ayahnya, meminta izin tanpa kata.
Zainal mengangguk pelan.
“Zara keluar sebentar, ya,” pamitnya, lalu berjalan keluar sambil mengangkat panggilan.
“Assalamualaikum, Tar.”
“Waalaikumsalam, Ra! Ra, mending lo sekarang balik ke kampus deh! Ada yang tangannya keseleo waktu tanding basket tadi!”
Zara langsung berhenti melangkah.
“Hah?! Siapa?!”
“Nggak tahu, Ra. Kayaknya senior, anak FEB!”
Zara menghela napas panjang.
“Tapi gue males balik, Tar. Gue mau pulang aja.”
“Ya Allah, Ra! Lo tega banget sih. Kasihan itu orang! Masa cakep-cakep tangannya sengklek?”
Zara terkekeh pelan.
“Suruh bawa ke rumah sakit aja, Tar.”
Tari mendesah kesal, lalu suara berganti.
“Ra, lo ke sini deh sebentar,” ujar Meylan.
“Huft… Mey, gue udah bilang. Bawa aja ke rumah sakit.”
“Ra, di rumah sakit paling dikasih obat nyeri. Lo kan bisa…”
Zara memijat pelipisnya.
“Tapi gue lagi males, Mey. Nggak nyaman aja.”
“Kenapa sih? Bokap lo?” suara Meylan melembut.
“Kenapa bokapnya Zara?” terdengar suara Anggi di belakang.
“Bukan… ada hal lain.”
“Tapi lo penanggung jawab, Ra. Apa kata Pak Roy nanti?”
Zara mengerang pelan.
“Ya sudah, ya sudah! Gue ke sana! Tunggu sepuluh menit!”
“Eh, Ra! Jangan ngebut naik mot—”
Tut.
Zara menutup telepon.
Ia menghela napas panjang, lalu kembali masuk ke ruangan.
"Ada apa, Ra?"tanya Riana.
"Masalah sedikit di kampus."
"Masalah apa?"kali ini Roy yang bertanya.
"Salah satu anggota team basket keseleo saat pertandingan."Zara memberitahu.
“Siapa yang tangannya keseleo, Ra?” tanya Riana.
“Zara juga nggak tahu, Bun. Katanya kakak kelas dari fakultas lain.”
Riana mengangguk.
“Ya sudah, kamu ke sana. Tolong anak itu.”
Zara menyalami satu per satu, termasuk Bowo dan Aini.
Setelah itu, ia bergegas pergi.
Pintu tertutup.
Suasana di dalam ruangan kembali hening.
“Zara itu aktif ya di kampus, Rin?” tanya Aini.
Riana tersenyum.
“Iya, Mbak.”
“Bukan cuma aktif,” sambung Pak Roy sambil terkekeh. “Zara juga pintar. Hampir setiap hari dapat ‘hadiah’.”
“Hadiah?” ulang Bowo.
“Cokelat, bunga, surat cinta… bahkan sarapan.”
Aini membulatkan mata.
“Serius?”
“Serius,” jawab Zainal pelan.
“Dan semuanya dibawa ke ruangan saya.”sambung Roy.
Semua tertawa kecil.
Namun tidak dengan Bowo dan Aini.
Keduanya saling berpandangan.
Ada kekhawatiran yang sama.
Takut kehilangan gadis itu.
“Sudah saya putuskan,” ucap Bowo tiba-tiba, suaranya tegas. “Lusa kita nikahkan Mahesa dan Zara.”
Riana dan Zainal saling menatap.
“Malam ini juga kami akan datang lagi. Membawa Mahesa.”
Ruangan itu kembali hening.
Namun kali ini, heningnya terasa jauh lebih berat.
Seolah keputusan sudah dibuat, dan tidak ada lagi yang bisa menghentikannya.