Pernikahan itu dilaksanakan di rumah sakit, sesuai permintaan Zainal Abidin.
Segala keperluan pernikahan diurus sepenuhnya oleh pihak laki-laki. Bahkan Riana tidak diperbolehkan ikut campur. Ia hanya diminta tetap berada di sisi suaminya, menjaga dan menemani.
Tak banyak yang hadir. Hanya keluarga inti, beberapa kerabat dekat, serta beberapa dokter yang mengenal Zainal.
Di ruangan Zahirah yang disulap seadanya, Zara duduk diam di depan cermin. Wajahnya sedang dirias oleh MUA, tetapi rautnya tetap datar. Tidak ada air mata, tidak ada amarah, bahkan tidak ada tanda-tanda ingin memberontak.
Seolah semuanya… memang sudah ia terima.
Namun di balik wajah tenangnya, Zara tidak benar-benar menyerah.
Di dalam benaknya, ia mulai menyusun sesuatu, angka, syarat, dan batasan.
Jika pernikahan ini benar-benar terjadi, maka ia yang harus memegang kendali.
Mahesa boleh menjadi suaminya tapi hanya di atas kertas, tidak dalam hidupnya.
Ia tidak ingin dikekang oleh peran, tuntutan, atau siapa pun.
Ia tetap ingin menjadi Zara.
Tidak ada yang boleh mengubah itu.
Begitu yang ada di pikiran Zara saat ini.
Suasana ruangan sempat hening beberapa saat, hingga,
“Ka… Kak Zara mirip ondel-ondel ya…”
Zara menoleh pelan tapi sorot matanya tajam.
Zidan menahan tawa sambil menutup mulutnya. Di sampingnya, Zahirah sudah hampir tidak bisa menahan diri.
“Bukan, Dek,” sahut Zahirah pelan, pura-pura serius. “Mirip nini towok…”
Hening satu detik.
Lalu...
“Ahahaha…!”
Keduanya tertawa kompak.
Zara menyipitkan mata, menatap semakin tajam kedua saudaranya.
Riana yang mendengar langsung menoleh.
“Ssst! Diam kalian!”
Sontak Zidan dan Zahirah langsung menunduk, bibir mereka masih bergetar menahan tawa.
Zara mendengus pelan, lalu kembali menatap cermin. Namun kali ini, sudut bibirnya sempat terangkat tipis, entah kesal, entah geli.
Tak lama kemudian, Zara diminta berdiri.
“Sudah siap, Mbak,” ujar perias.
Zara mengangguk pelan.
Ia kemudian dituntun diarahkan menuju kursi akad yang telah dipersiapkan di ruangan Zainal.
Langkahnya terasa ringan… tapi juga kosong.
Seperti seseorang yang berjalan menuju sesuatu yang tidak ia inginkan.
Dan di sana,
seseorang sudah menunggunya.
Mahesa.
Laki-laki itu duduk tegap dengan jas putih yang senada dengan kebaya Zara. Wajahnya tampak datar, tapi rahangnya mengeras, menyimpan banyak hal yang tertahan.
Zara mendekat, lalu duduk di kursi yang telah disediakan di sampingnya.
Mahesa melirik sekilas.
Lalu membeku.
Zara pun menoleh.
Dan...
keduanya saling pandang.
Beberapa detik terasa begitu panjang.
“Lo?!”
“Lo?!”
Ucapan itu keluar bersamaan.
Nada yang sama.
Ekspresi yang sama.
Terkejut.
Mahesa langsung menoleh ke arah Bowo dan Aini secara bergantian.
Seolah meminta penjelasan tanpa kata.
Kedua orang tuanya hanya mengangguk pelan.
Ya. Itu. Istri kamu.
Zara juga melakukan hal yang sama. Ia menoleh ke arah ayah dan bundanya.
Namun yang ia temukan hanyalah senyum lemah dari Zainal.
Senyum yang seolah berkata, tolong ayah, ya, Nak.
Zara menarik napas pelan.
Bukan itu yang ingin ia dengar.
Akhirnya, baik Zara maupun Mahesa sama-sama menjatuhkan bahu mereka perlahan.
Ingatan Zara melayang ke hari kemarin.
Seorang mahasiswa dengan tangan terkilir. Wajah dingin. Sikap menyebalkan dan tidak tau berterimakasih.
Ia bahkan tidak sempat melihatnya dengan jelas.
Dan sekarang, laki-laki itu duduk di sampingnya sebagai calon suami.
Begitu juga dengan Mahesa.
Ia mengingat seorang gadis yang tanpa banyak bicara menyuruhnya melemaskan tangan, menggerakkan perlahan, dan menahan rasa sakit.
Tidak ada obrolan. Tidak ada basa-basi.
Hanya instruksi singkat dan dingin.
Dan ternyata, gadis itu adalah calon istrinya.
Takdir memang aneh.
Zahirah datang membawa hijab putih, lalu memakaikannya di kepala kedua mempelai sebagai penutup saat ijab kabul.
Di belakang Mahesa, Bowo dan Aini berdiri sambil memegang perlengkapan salat dan kotak kecil berisi cincin.
Sementara Riana berdiri tak jauh, membawa nampan berisi kalung bunga.
Prosesi dimulai.
Suara ijab kabul terdengar jelas, menggema di ruangan yang hening.
Mahesa mengucapkannya dengan sekali tarikan napas.
Lancar.
Tanpa jeda.
Tanpa ragu.
“SAH!”
Beberapa orang yang hadir mengucapkannya hampir bersamaan.
Doa dipanjatkan.
Semua berjalan… terlalu cepat.
Seolah hidup Zara dan Mahesa berubah hanya dalam hitungan menit.
Setelah itu, keduanya diminta melakukan simbol sederhana.
Zara diminta mencium punggung tangan Mahesa.
Ia melakukannya.
Singkat.
Dingin.
Tanpa perasaan.
Lalu giliran Mahesa.
Ia diminta mencium kening Zara.
Mahesa bergerak mendekat.
Namun sebelum bibirnya menyentuh, Zara mendongak sedikit.
Matanya melotot tajam.
Ia berbisik pelan, cukup untuk didengar Mahesa saja.
“Berani lo cium gue…”
Suasana seolah berhenti.
“…tangan lo bukan lagi keseleo, tapi patah.”
Mahesa langsung terdiam.
Gerakannya tertahan di udara.
Alisnya terangkat sedikit, antara kaget dan tidak percaya.
Ini cewek…
serius?
Beberapa orang yang melihat mulai saling melirik.
Ada yang mengernyit.
Ada yang berbisik pelan.
Ada pula yang menahan tawa, bingung harus bereaksi seperti apa.
“Kenapa?” bisik seseorang.
“Kok nggak jadi?”
Namun di tengah semua itu, Zara tetap menatap lurus ke depan.
Tenang.
Dingin.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara di sampingnya, Mahesa mulai menyadari satu hal.
Pernikahan ini…
tidak akan berjalan biasa-biasa saja.
***
Hari semakin malam.
Lampu-lampu di lorong rumah sakit mulai diredupkan. Suasana yang sejak siang ramai kini berangsur sepi. Beberapa dokter dan perawat yang tadi sempat hadir perlahan meninggalkan ruangan, kembali pada tugas masing-masing.
Di dalam kamar rawat itu kini hanya tersisa keluarga inti.
Bowo dan Aini berdiri tak jauh dari pintu. Zahirah masih mengenakan jas dokternya, sesekali mengecek kondisi ayahnya. Sementara Wisnu berdiri di dekat jendela, memperhatikan suasana luar yang mulai lengang.
Zidan sudah lebih dulu pulang. Besok pagi ia harus berangkat lebih awal.
Di sisi ranjang, Zara berdiri diam.
Matanya menatap ayahnya yang kini tampak jauh lebih segar dibandingkan kemarin. Wajah yang tadi pucat kini mulai berwarna. Bahkan senyumnya pun kembali muncul.
Di sisi lain, Mahesa berdiri di samping Bowo.
Tangannya iseng mencabuti kelopak-kelopak bunga dari kalung yang masih tergantung di lehernya. Satu per satu jatuh ke lantai, tanpa benar-benar ia pedulikan.
Entah apa yang sedang di pikirkan laki-laki itu.
Sementara itu, Zara mulai merasa lelah.
Sangat lelah.
Kelopak matanya terasa berat. Kepalanya sedikit pening. Seharian penuh ketegangan, emosi, dan kejadian yang datang bertubi-tubi membuat tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
Ia hanya ingin pulang.
Merebahkan tubuh di kasurnya.
Meluruskan kaki.
“Ra…”
Suara Riana memecah lamunannya.
Zara menoleh pelan. Gerakannya lambat, seolah semua energi dalam tubuhnya hampir habis.
“Capek, ya?” tanya Riana lembut.
Zara tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil.
Zainal tersenyum melihat putrinya.
“Biasanya jam segini masih sibuk di meja belajar,” ucapnya, suaranya kini terdengar lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Zara menarik napas pelan.
“Zara pulang ya, Yah… Bun…” pintanya.
Nada suaranya berubah.
Lembut.
Manja.
Seperti anak kecil yang kelelahan dan hanya ingin kembali ke tempat ternyaman.
Namun, tidak ada jawaban.
Ruangan itu tiba-tiba hening.
Zara mengerutkan dahi.
“Ayah… Bunda… kok diam sih?”
Ia menoleh bergantian, mencoba mencari jawaban dari wajah kedua orang tuanya.
“Ekhem…”
Zainal berdehem pelan.
Riana terlihat gugup. Tangannya saling menggenggam, matanya sempat melirik ke arah Bowo dan Aini.
“Eh… anu, Ra… eemm…”
“Kenapa sih, Bun?” tanya Zara, mulai curiga. “Kan sudah selesai. Apa masih ada janji Ayah yang lain?”
“Bukan, bukan,” Riana cepat-cepat menggeleng. “Nggak ada.”
Ia menarik napas dalam, lalu menatap putrinya dengan lembut.
“Kamu sudah menikah, sayang… sekarang kamu nggak bisa tinggal sama Ayah dan Bunda lagi.”
Zara terdiam.
Keningnya berkerut.
Seolah butuh beberapa detik untuk mencerna kalimat itu.
“Terus…” suaranya pelan, “Zara tinggal sama siapa?”
“Di rumah kamu,” jawab Riana.
“Hah?”
“Barang-barang kamu sudah dipindahkan ke sana.”
Zara semakin bingung.
Otaknya terasa lambat bekerja karena lelah.
Ia ingin protes.
Ingin bertanya.
Ingin menolak.
Tapi tubuhnya… terlalu lelah untuk itu.
Di sisi lain, Mahesa yang sejak tadi diam justru menyunggingkan senyum miring.
Tatapannya melirik ke arah Zara.
Seolah berkata tanpa suara, Rasain.
Enak kan diusir? Dasar cewek sombong.
Zara menangkap sekilas ekspresi itu.
Matanya langsung menyipit, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
“Mahes.”
Suara Bowo dan Aini terdengar bersamaan.
Mahesa menoleh cepat. Sedikit terkejut karena pikirannya barusan sibuk meledek Zara.
“Iya, Pi? Mi?”
“Papi sudah suruh orang pindahkan semua barang kamu,” ujar Bowo tegas. “Termasuk motor dan mobil.”
Mahesa terdiam.
Matanya langsung menatap Bowo.
Lalu beralih ke Aini.
Ibunya hanya mengangkat bahu santai, lalu memalingkan wajah, menyembunyikan senyum kecil yang nyaris lolos.
Mahesa menghela napas pelan.
Jadi ini serius…
Bukan cuma ancaman pagi tadi.
“Pulanglah,” lanjut Bowo. “Ajak Zara juga.”
Nada suaranya berubah lebih dalam.
“Pesan Papi, jalani rumah tangga yang baik. Jangan ribut. Apalagi sampai membuat Zara menangis.”
Mahesa nyaris mendengus.
Terlambat, Pi…
Ia bahkan belum satu jam menikah, tapi sudah diancam istrinya.
“Awas saja kalau Mahes macam-macam,” sambung Aini, kini menatap putranya tajam. “Zara, kamu dengarkan Mami ya. Kalau Mahes macam-macam, langsung bilang ke Mami.”
Zara mengangguk pelan, meski sebenarnya kepalanya masih terasa penuh.
“Mahes…”
Kali ini Zainal yang memanggil.
Mahesa refleks menoleh. Ada sesuatu dalam suara itu yang membuatnya tidak bisa bersikap santai seperti biasa. Ia berjalan menghampiri.
“Ayah percayakan Zara sama kamu,” ucap Zainal pelan. “Jaga dia baik-baik.”
Mahesa membeku.
Untuk pertama kalinya sejak hari itu dimulai, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Kalimat itu… terlalu berat.
Terlalu tulus.
Dan entah kenapa, sedikit menekan dadanya.
Ia menelan ludah.
“Iya… Om…” jawabnya akhirnya, meski terdengar canggung.
Zara melirik sekilas ke arahnya.
Ada sesuatu yang berbeda di wajah Mahesa.
Bukan sinis.
Bukan mengejek.
Tapi… ragu.
Gue bisa jaga diri sendiri kali...
Batin Zara.
Untuk sesaat, suasana kembali hening.
Di luar, suara langkah perawat terdengar samar.
Di dalam, dua orang yang baru saja menikah itu berdiri dalam satu ruangan
namun terasa seperti berada di dua dunia yang berbeda.
Zara menghela napas pelan.
Matanya kembali terasa berat.
Sementara Mahesa memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap lantai tanpa tujuan.
Malam itu…
bukan hanya tentang pernikahan.
Tapi tentang dua orang asing yang dipaksa hidup dalam satu atap.
Tanpa perasaan apalagi persiapan.