Ragas berdiri dari kursinya, berjalan mendekati meja baru tersebut, lalu menepuk pelan sandaran kursinya.
"Mulai siang ini, ini adalah meja kerjamu, Rania. Kamu akan bekerja dari ruangan ini selama proyek pameran tahunan berlangsung."
"Tapi, Pak, meja kerja saya ada di lantai empat bersama divisi saya," protes Rania, dadanya mulai berdegup kencang oleh rasa tidak nyaman yang mendesak. "Bekerja di sini akan memicu spekulasi buruk dan gosip yang tidak perlu di antara karyawan lain. Lagipula, koordinasi bisa dilakukan melalui surat elektronik atau telepon internal."
Ragas menatap Rania dalam-dalam. Di balik keputusan profesional ini, ada bagian dari dirinya yang egois—bagian yang sangat merindukan sosok Rania, yang ingin selalu melihat wanita itu berada di dalam jangkauan matanya, memastikan bahwa Rania baik-baik saja dan tidak akan menghilang lagi dari hidupnya. Namun, ia juga tahu ia membutuhkan alasan rasional agar Rania tidak bisa menolak.
"Proyek pameran tahunan ini adalah wajah dari PT Adhyasta Megatama untuk tahun depan, Rania. Nilai investasinya sangat besar, dan saya tidak punya waktu untuk menunggu laporanmu naik dari lantai empat melalui birokrasi berlapis," ujar Ragas, suaranya kembali berubah menjadi suara seorang CEO yang otoriter namun tetap terdengar lembut.
"Sebagai PIC, saya membutuhkan komunikasi yang instan dan tanpa jeda. Keberadaanmu di ruangan ini murni karena efisiensi kerja. Mengenai gosip karyawan, itu adalah urusan saya yang akan menertibkannya. Kamu tidak perlu cemas."
Rania mengepalkan kedua tangannya. Dinding pertahanan yang ia bangun sejak pagi terasa mulai diguncang oleh kedekatan jarak yang dipaksakan ini. Berada di satu ruangan yang sama dengan Ragas selama berjam-jam setiap hari adalah sebuah siksaan mental yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Pak, saya rasa ini berlebihan—"
"Ini keputusan final, Rania Gayatri," potong Ragas, kali ini tatapan matanya mengunci netra Rania dengan begitu intens, memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan namun sekaligus menyimpan secercah permohonan yang tersirat.
"Silakan bawa barang-barang keperluanmu yang mendesak dari lantai empat sekarang. Kita harus segera membedah revisi anggaran vendor sebelum jam empat sore."
Rania terdiam di tempatnya berdiri. Ia menatap meja kerja baru itu, lalu menatap Ragas yang kini sudah kembali duduk di balik mejanya, berpura-pura sibuk membolak-balik berkas, padahal dadanya sendiri bergemuruh hebat menanti reaksi Rania.
Rania tahu ia berada di posisi yang kalah. Ia tidak bisa melawan perintah pemilik perusahaan tempatnya mencari nafkah demi pengobatan ibunya. Dengan berat hati dan perasaan campur aduk yang berkecamuk di dalam dadanya, Rania membalikkan badan untuk mengambil barang-barangnya di lantai bawah.
Ia melangkah keluar dengan pikiran yang dipenuhi oleh ketakutan baru: bagaimana cara mempertahankan dinding es di hatinya jika setiap detik, setiap helaan napas, pria yang paling ingin ia hindari itu berada tepat di depannya, mengawasi setiap gerak-geriknya? Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Rania tidak tahu berapa lama lagi benteng pertahanannya akan mampu bertahan sebelum akhirnya runtuh tak bersisa.
Suasana kubikel divisi pemasaran yang biasanya dipenuhi suara klik tetikus dan gumam telepon mendadak hening begitu Rania melangkah masuk. Kehadirannya tidak membawa tangan kosong; ia langsung mengambil sebuah kotak kardus kecil dari bawah meja dan mulai memasukkan beberapa barang pribadinya. Tumbler minum, kalender meja, catatan-catatan kecil, hingga foto sang ibu yang biasa bersandar di dekat monitor komputer.
Citra, yang duduk tepat di sebelah kubikel Rania, langsung memutar kursi rodanya dengan mata membelalak heran. "Ran? Kamu mau ke mana? Kenapa barang-barangmu dikemas begitu? Kamu... nggak di-STK atau di-fase pengurangan karyawan, kan?"
Pertanyaan Citra yang cukup nyaring itu seketika memancing perhatian staf pemasaran lainnya. Kepal-kepala mulai melongok dari balik sekat kubikel. Kasak-kusuk langsung menjalar cepat seperti api menyiram bensin.
"Rania, serius kamu mau pindah divisi?" tanya Rio dari ujung meja seberang. "Atau kamu dapet panggilan di perusahaan lain?"
Rania menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang sebuah kotak pulpen. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat, merasakan kecemasan yang mendadak merayap naik ke tenggorokannya. Jemarinya dingin. Bagaimana mungkin ia harus menjelaskan kepada teman-teman satu timnya bahwa ia dipindahkan ke lantai paling atas—ke dalam ruangan pribadi sang CEO baru?
Jika ia jujur, mereka pasti akan berpikir yang tidak-tidak. Di dunia korporat, seorang staf biasa yang mendadak diberi meja di dalam ruangan CEO adalah bumbu gosip paling sedap yang bisa menghancurkan reputasi dalam semalam. Rania tahu posisinya. Dia hanya wanita dari keluarga miskin; ia tidak punya tameng untuk melindungi diri dari penilaian miring orang-orang jika spekulasi itu mulai liar.
"Aku... sebenarnya aku hanya perlu..." Kalimat Rania terbata, tenggorokannya mendadak kering.
"Rania dipindahkan sementara ke lantai atas atas perintah langsung dari jajaran direksi."
Sebuah suara bariton yang tegas memotong keraguan Rania. Dari arah koridor pintu masuk, Pak Baskoro, sang kepala divisi pemasaran yang baru saja kembali dari rapat luar, berjalan masuk dengan langkah tegap. Seluruh staf langsung membenarkan posisi duduk mereka, menghormati sang atasan.
Pak Baskoro berhenti tepat di dekat kubikel Rania, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan senyum bangga yang jarang sekali ia perlihatkan.
"Kalian tidak perlu menebak yang tidak-tidak," ujar Pak Baskoro, suaranya menggema mantap, mewakili jawaban yang sejak tadi menyangkut di tenggorokan Rania.
"Rania adalah satu-satunya karyawan dari semua divisi di perusahaan ini yang dipercaya langsung oleh Pak Ragas untuk memegang peranan paling penting dalam proyek pameran tahunan kita kali ini. Skala proyek ini sangat besar, dan Pak CEO membutuhkan PIC yang bisa bergerak cepat tanpa hambatan birokrasi antar-lantai. Jadi, dia akan bekerja di bawah pengawasan langsung Pak Ragas."
Hening sejenak, sebelum akhirnya ruangan itu dipenuhi oleh kasak-kusuk kekaguman. Citra langsung menepuk bahu Rania dengan heboh. "Wah, gila! Keren banget kamu, Ran! Langsung dipantau CEO baru!"
Rania hanya bisa memaksakan sebuah senyuman tipis, meski di dalam dadanya, hatinya justru semakin mencelos. Alasan profesional yang digaungkan Pak Baskoro terdengar sangat sempurna bagi semua orang, namun bagi Rania, itu adalah awal dari sebuah jerat yang perlahan mengencang di lehernya.
Sepuluh menit kemudian, dengan kotak kardus di pelukannya, Rania kembali berdiri di dalam lift yang membawanya naik menuju lantai teratas. Setiap angka digital yang menyala merah di atas pintu lift seolah menghitung mundur kebebasannya.
Ting.
Pintu lift terbuka. Lorong lantai tertinggi itu begitu sunyi dan berkarpet tebal, meredam setiap langkah kaki Rania yang gemetar. Ia melangkah melewati meja sekretaris yang memberikan senyum maklum, lalu mendorong pintu kayu ek ruang CEO yang berat.
Di dalam ruangan, Ragas sedang menerima telepon. Begitu melihat Rania masuk membawa kardus barang-barangnya, Ragas langsung mengakhiri percakapannya dengan cepat. Pria itu meletakkan gagang telepon dan berdiri, mengamati Rania yang mulai menata barang-barangnya di atas meja baru yang telah disiapkan khusus untuknya.
Rania bekerja dengan gerakan cepat, tetap mempertahankan wajah sedingin es. Ia meletakkan kalender meja, lalu dengan hati-hati mengeluarkan bingkai foto kecil ibunya dan meletakkannya di sudut meja.
Ragas melangkah mendekat perlahan, matanya terpaku pada foto wanita paruh baya di dalam bingkai tersebut. Hati Ragas berdenyut linu. Ia mengenal wanita di foto itu; wanita yang dulu sering ia bantu pengobatannya sebelum takdir memaksanya pergi ke Jerman untuk bertaruh nyawa dengan penyakitnya sendiri.
"Bagaimana kabar Ibu, Rania?" tanya Ragas, suaranya melembut, sarat akan perhatian yang tulus.
Gerakan tangan Rania yang sedang merapikan kertas langsung membeku. Pertanyaan itu seketika memicu kemarahan yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Rania mencengkeram tepi meja, lalu mendongak menatap Ragas dengan kilatan mata yang tajam dan terluka.
"Sangat baik, Pak Ragas. Terima kasih atas kepedulian formal Anda sebagai atasan," jawab Rania, menekan setiap kata dengan nada sarkasme yang kentara. "Ibu saya masih bertahan hidup, tanpa perlu merepotkan atau menjadi beban bagi siapa pun lagi."
Ragas tertegun, seolah baru saja ditampar telak oleh kenyataan. Kata "beban" yang diucapkan Rania membuktikan satu hal: wanita ini benar-benar berpikir bahwa Ragas meninggalkannya karena menganggap kemiskinan dan pengobatan ibunya sebagai sesuatu yang menyusahkan.
Ragas ingin sekali berteriak, ingin sekali menarik Rania ke dalam pelukannya dan menjelaskan bahwa ia pergi justru demi masa depan Rania, demi tidak membiarkan Rania menjadi perawat pria pesakitan seumur hidup. Namun, ia harus menahan diri. Ia tahu Rania pasti akan sangat khawatir dan hancur jika tahu tentang penyakit mematikan yang pernah dideritanya.
"Rania, aku tidak pernah berpikir kamu atau ibumu adalah—"
"Pak Ragas," potong Rania dingin, suaranya kembali datar seperti robot. "Jika tidak ada dokumen yang perlu saya tinjau, saya akan mulai merevisi anggaran dari vendor dekorasi sekarang."
Ragas menatap Rania lama, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat dan kembali ke kursinya. "Baiklah. Mulai kerjakan itu."
Waktu berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Selama tiga jam berikutnya, tidak ada percakapan pribadi di antara mereka. Ruangan itu hanya diisi oleh suara ketikan papan ketik dari meja Rania dan gemerisik kertas dari meja Ragas. Jarak mereka hanya beberapa meter, namun dinding tak kasatmata yang dibangun Rania membuat mereka terasa terpisah oleh benua yang jauh.
Pukul lima sore, rintik gerimis kembali membasahi kaca besar di ruangan itu. Ragas menghentikan aktivitasnya, berniat mengajak Rania pulang bersama atau setidaknya menawarkan tumpangan karena hari mulai gelap.
Namun, tepat saat Ragas hendak membuka suara, sebuah panggilan masuk di ponsel pribadinya yang tergeletak di atas meja. Layar ponsel itu menyala, menampilkan nama kontak sebuah laboratorium klinis internasional yang berbasis di Jakarta.
Ragas tertegun. Wajahnya mendadak berubah pias. Dengan gerakan sedikit terburu-buru, ia meraih ponselnya dan bangkit berdiri, berjalan agak menjauh ke sudut ruangan dekat jendela besar yang membelakangi Rania.
Rania, yang sejak tadi sebenarnya selalu waspada terhadap setiap gerak-gerik Ragas, melirik dari balik monitor komputernya. Ia mengernyitkan dahi melihat perubahan ekspresi Ragas yang tampak begitu tegang dan cemas.
"Halo... Iya, saya sendiri," suara Ragas terdengar berbisik, namun karena ruangan itu sangat sunyi, Rania masih bisa menangkap sayup-sayup getaran panik dari suara pria itu.
Ragas mendengarkan penjelasan di seberang telepon selama beberapa saat. Rania bisa melihat bahu tegap pria itu perlahan merosot, dan tangan kiri Ragas yang bebas mencengkeram ambang jendela dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apakah... apakah hasilnya sudah keluar?" tanya Ragas dengan suara yang tiba-tiba bergetar hebat, seolah ia sedang menanti vonis eksekusi. "Bagaimana dengan indikator selnya? Apakah ada tanda-tanda... kambuh kembali?"
Rania yang sedang memegang tetikus mendadak menghentikan gerakannya sepenuhnya. Jantungnya berdegup sekali dengan kencang. Kambuh kembali? Indikator sel? Apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh pria itu?