"Baik, terima kasih. Saya akan mengambil hasil cetak resminya besok lusa," bisik Ragas Adhyasta ke arah pelantang ponselnya.
Dari tempatnya berdiri di dekat jendela besar, Ragas membalikkan badan secara perlahan. Gurat-gurat ketegangan yang beberapa menit lalu mencengkeram wajahnya kini berangsur-angsur mengendur, digantikan oleh seulas rona kelegaan yang samar. Bahunya yang sempat kaku kini tampak lebih rileks saat ia memasukkan ponsel ke dalam saku celana kainnya.
Ragas melangkah kembali menuju meja kerja kebesarannya, lalu melirik arloji Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam telah melewati angka lima sore. Ketika ia mendongak, netranya langsung tertuju pada meja kerja baru di sudut ruangan.
Di sana, Rania Gayatri Isha tampak sedang menatap layar monitor dengan dahi berkerut dalam, seolah-olah sedang memikirkan sebuah teka-teki pelik yang amat menyiksa otaknya. Namun, begitu menyadari Ragas berjalan mendekat dan menatap ke arahnya, Rania dengan gerakan kilat langsung mengalihkan pandangan. Jemarinya mendadak bergerak lincah di atas papan ketik, berpura-pura kembali sibuk memeriksa deretan angka laporan anggaran vendor yang sejak tadi sebenarnya sudah selesai ia sunting.
Ragas menghentikan langkahnya tepat di sisi mejanya sendiri. Ia menatap gerakan tangan Rania yang terlalu dipaksakan itu dengan senyum tipis yang sarat akan rasa maklum.
"Rania," panggil Ragas lembut.
Rania tidak langsung mendongak. Ia sengaja menyelesaikan satu ketikan baris terakhir sebelum akhirnya menatap Ragas dengan raut wajah seformal mungkin.
"Iya, Pak Ragas? Ada dokumen lain yang harus saya revisi sebelum pulang?"
"Tidak ada," jawab Ragas, suaranya terdengar hangat memenuhi ruangan yang mulai temaram oleh senja. "Ini sudah lewat jam lima sore. Jam kerja untuk hari ini sudah habis. Kamu boleh pulang sekarang."
Rania tertegun sejenak. Ia melirik jam digital di sudut bawah layar komputernya, lalu kembali menatap Ragas. Ada jeda canggung yang tercipta di antara mereka. Ragas sebenarnya merasakan dorongan yang begitu kuat di dalam dadanya untuk menawarkan tumpangan. Di luar sana gerimis masih turun, dan ia tahu betul betapa melelahkannya harus mengantre bus kota dalam kondisi basah dan berdesakan.
Namun, Ragas segera menahan lidah. Logikanya bergerak lebih cepat untuk meredam ego. Jika ia menawarkan tumpangan sekarang, Rania pasti akan menolaknya mentah-mentah. Penolakan itu hanya akan membuat Rania kembali mempertebal dinding es yang membentengi hatinya, atau bahkan membuat wanita itu merasa terancam dan memilih untuk menjaga jarak lebih jauh lagi esok hari. Bagi Ragas, pencapaian hari ini sudah lebih dari cukup. Bisa melihat Rania bekerja di ruangan yang sama dengannya, menghirup udara yang sama, dan mendengar suara formal wanita itu tanpa ada pertengkaran hebat, sudah merupakan sebuah kemajuan besar yang harus ia syukuri.
"Baik, Pak. Terima kasih. Saya akan merapikan meja kerja saya dulu," ujar Rania, memutus keheningan.
"Silakan. Jangan lupa matikan komputer dan lampu mejamu sebelum keluar," tambah Ragas, sembari melangkah mundur dan mendudukkan diri kembali di kursi kerjanya, berpura-pura membuka sebuah map dokumen agar Rania tidak merasa terintimidasi oleh tatapannya.
Rania bergerak dengan ritme yang konstan. Ia mematikan daya komputer jinjingnya, merapikan beberapa lembar kertas binder ke dalam laci, dan memasukkan ipad serta ponselnya ke dalam tas kerja. Selama proses itu, matanya sesekali melirik ke arah Ragas yang tampak tenang di balik mejanya.
Ada rasa penasaran yang teramat besar yang mendadak bercokol di benak Rania, menyengat setiap jengkal logikanya sejak mendengar potongan percakapan telepon Ragas beberapa menit lalu. Kambuh? Indikator sel? Apa maksudnya? Apakah pria sekaya dan seberkuasa Ragas memiliki rahasia yang disembunyikan dari dunia? Namun, Rania segera menggelengkan kepalanya kecil, menghalau rasa ingin tahu itu sebelum berkembang menjadi kepedulian yang berbahaya.
"Saya permisi pulang duluan, Pak Ragas. Selamat sore," pamit Rania seraya menyampirkan tasnya ke bahu.
"Selamat sore, Rania. Hati-hati di jalan. Di luar sedang gerimis," balas Ragas tanpa mendongak, tetap menjaga jarak aman yang diinginkan wanita itu.
Rania mengangguk tipis, lalu melangkah cepat menuju pintu kayu ek dan membukanya. Begitu tubuh Rania menghilang di balik pintu dan derit pintu yang tertutup rapat bergema di dalam ruangan, barulah Ragas meletakkan penanya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang empuk, mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega dari lubuk parunya.
Ragas meraih kembali ponsel pribadinya. Dengan jemari yang sedikit tidak sabar, ia membuka aplikasi pesan instan dan mengklik sebuah tautan dokumen PDF terenkripsi yang baru saja dikirimkan oleh laboratorium klinis internasional yang menghubunginya tadi.
Dokumen itu terbuka, menampilkan deretan hasil laboratorium medis lengkap dengan grafik-grafik indikator biologis yang rumit. Ragas membaca baris demi baris hasil pemeriksaan darah dan pemindaian terbarunya dengan saksama. Matanya terpaku pada kesimpulan akhir yang tertera di bagian bawah lembaran digital tersebut: Remission status: Stable. No current signs of cellular recurrence.
Napas lega kembali keluar dari mulut Ragas. Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, ia bisa bernapas dengan tenang. Tubuhnya yang sempat digerogoti penyakit mematikan beberapa tahun lalu di Jerman, kini dinyatakan bersih dan sehat.
Namun, kelegaan itu tidak serta-merta menghapus bayang-bayang ketakutan di benak Ragas. Kalimat dokter spesialisnya di Jerman dulu kembali terngiang-ngiang di telinganya: Penyakit ini bisa menyerang kembali kapan saja tanpa peringatan, Ragas. Kamu harus menjaga kondisimu tetap prima.
Ragas memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Aku tidak boleh lengah," bisiknya pada ruangan yang sepi. "Sebelum hari buruk itu mungkin datang lagi suatu saat nanti, aku harus memastikan dinding pertahanan Rania runtuh. Aku harus memastikan dia tahu bahwa aku tidak pernah membuangnya..."
Sementara itu, di dalam bus kota yang bergerak lambat membelah kemacetan jalur protokol Jakarta, Rania duduk menyendiri di dekat jendela. Rintik gerimis di luar tampak mengalir seperti air mata di atas kaca bening, merefleksikan wajah Rania yang tampak kusut dan penuh beban pikiran.
Pikiran Rania masih tertinggal di ruangan lantai teratas tadi. Kata-kata Ragas di telepon terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. “Apakah ada tanda-tanda... kambuh kembali?” Nada suara Ragas yang bergetar hebat saat mengucapkan kalimat itu terus terngiang, memicu sebuah firasat aneh yang membuat d**a Rania mendadak terasa sesak.
Sebenarnya apa yang barusan aku dengar tadi? batin Rania bertanya-tanya. Kenapa Ragas terdengar begitu ketakutan? Dan apa yang kambuh? Apakah itu urusan bisnis, atau... sesuatu yang lain?
Rania memejamkan matanya rapat-rapat, lalu menggelengkan kepalanya dengan agak keras, membuat beberapa helai rambutnya yang terurai sedikit berantakan. Ia mengembuskan napas kasar ke arah kaca jendela yang berembun.
"Cukup, Rania. Jangan bodoh," bisik Rania pada dirinya sendiri, mencoba menghentikan aliran pikirannya yang mulai melenceng jauh. "Urusan pribadinya bukan lagi urusanmu. Dia sudah bahagia, dia kaya, dia punya segalanya. Untuk apa kamu memikirkan orang yang sudah membuangmu seperti sampah?"
Rania membetulkan posisi duduknya, mencoba mengalihkan fokus pada kenyataan hidupnya yang jauh lebih membutuhkan perhatian mendesak. Ia membuka tas kerjanya, mengambil ponsel, dan membuka aplikasi m-banking untuk memeriksa saldo tabungannya. Angka yang tertera di sana membuat Rania menghela napas panjang.
Hari ini sudah memasuki akhir bulan, dan esok hari adalah awal bulan baru. Bagi orang lain, awal bulan mungkin berarti hari gajian dan waktu untuk bersenang-senang. Namun bagi Rania, awal bulan adalah waktu di mana ia harus memeras otak dan membagi setiap rupiah pendapatannya dengan sangat ketat untuk keluarganya yang berada di Bandung.
Rania teringat pada pesan singkat yang dikirimkan oleh adiknya, Ryan, dua hari yang lalu.
“Kak Rania, maaf ganggu kerja Kakak. Ryan cuma mau ngingetin, minggu depan sudah batas akhir pembayaran uang semesteran kuliah Ryan. Kalau belum bayar, Ryan nggak bisa ikut ujian tengah semester. Sama... obat jantung Ibu yang biasa sudah tinggal untuk tiga hari lagi, Kak. Kemarin Ibu sempat ngeluh dadanya agak sesak pas malam.”
Mengingat pesan itu, hati Rania rasanya seperti diremas kuat-kuat. Penyakit jantung yang diderita ibunya adalah momok terbesar dalam hidup Rania saat ini. Obat-obatan dosis tinggi yang harus dikonsumsi sang ibu setiap hari tidaklah murah, belum lagi biaya kontrol rutin ke dokter spesialis di rumah sakit Bandung yang selalu menghabiskan sebagian besar porsi gajinya sebagai staf pemasaran.
Rania menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi bus yang keras, menatap lampu-lampu jalanan kota yang tampak kabur karena air hujan di kaca. Rasa lelah yang teramat sangat mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya. Dahulu, saat menghadapi situasi sulit seperti ini, Ragas adalah tempatnya bersandar. Ragas adalah orang yang selalu memegang tangannya dengan hangat dan berkata, “Jangan menangis, Rania. Kita cari jalannya sama-sama, ya? Ibu pasti sembuh.”
Dan ingatan tentang kebaikan Ragas di masa lalu itu justru menjadi racun yang paling mematikan bagi Rania sekarang. Karena tepat setelah memori manis itu muncul, rasa sakit akibat ditinggalkan tanpa penjelasan kembali menghantamnya dengan telak. Rania memeluk tasnya lebih erat, membiarkan satu tetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya di tengah kegelapan bus yang melaju membelah malam.