Keesokan paginya, atmosfer di ruangan CEO kembali terasa kaku dan formal. Rania datang lebih awal, sudah duduk rapi di meja kerjanya dengan tumpukan berkas revisi yang ia kerjakan hingga larut malam di rumah kontrakannya.
Ragas masuk ke ruangan pukul delapan tepat. Pria itu menyapa Rania dengan senyuman hangat seperti biasa, yang hanya dibalas dengan anggukan sopan dan dingin oleh Rania.
Sekitar pukul sepuluh pagi, saat keheningan ruangan itu hanya diisi oleh ketukan jemari Rania di atas papan ketik, pintu ruangan tiba-tiba diketuk dengan tergesa-gesa. Sekretaris Ragas masuk dengan wajah yang sedikit panik, membawa sebuah kiriman paket dokumen berukuran besar dengan segel resmi berwarna merah dari kurir ekspedisi internasional.
"Maaf mengganggu, Pak Ragas. Ini ada dokumen mendesak dari Jerman yang baru saja tiba. Kurir mengatakan ini harus ditandatangani dan diterima langsung oleh Anda karena sifatnya yang sangat konfidensial," ujar sekretaris itu sembari meletakkan paket tersebut di atas meja kerja Ragas.
Ragas tertegun melihat logo agen medis internasional yang tertera di sudut amplop paket tersebut. Wajahnya seketika berubah serius. "Baik, terima kasih. Kamu bisa keluar."
Setelah sekretaris itu keluar, Ragas segera meraih pisau pemotong kertas untuk membuka segel dokumen tersebut. Namun, belum sempat mata pisau itu menyentuh kertas amplop, ponsel di saku jas Ragas mendadak berdering dengan nada dering khusus yang menandakan panggilan darurat dari jajaran komisaris utama—ayahnya sendiri.
Ragas mendesah pelan. Ia meletakkan kembali pisau pemotong kertas dan paket dokumen yang baru setengah terbuka itu di atas mejanya, tepat di sisi depan yang sangat dekat dengan jangkauan pandangan mata dari arah luar.
"Rania, saya harus ke ruang rapat komisaris di lantai sebelah sebentar. Tolong pastikan tidak ada siapa pun yang masuk ke ruangan ini selama saya pergi," ujar Ragas sembari merapikan jasnya dengan terburu-buru.
"Baik, Pak," jawab Rania tanpa menoleh.
Ragas melangkah cepat keluar dari ruangan, meninggalkan pintu yang tertutup rapat. Ruangan itu kembali hening.
Rania terus mengetik selama beberapa menit, hingga akhirnya gerakannya melambat. Matanya, entah mengapa, secara tidak sadar perlahan bergerak melirik ke arah meja kerja Ragas yang kosong. Lebih tepatnya, pandangan Rania terkunci pada paket dokumen dari Jerman yang diletakkan Ragas begitu saja di tepi meja dalam keadaan setengah terbuka.
Dari sudut posisinya duduk, Rania bisa melihat selembar kertas putih tebal mencuat keluar dari dalam amplop yang robek tersebut. Di bagian atas kertas itu, terdapat sebuah logo palang medis yang samar-samar ia kenali, disertai dengan baris tulisan berbahasa asing dan sebuah nama yang dicetak dengan huruf tebal.
Rania menahan napasnya. Rasa penasaran yang sempat ia kubur dalam-dalam semalam mendadak bangkit kembali dengan kekuatan penuh, mencengkeram seluruh akal sehatnya. Tangannya yang berada di atas meja perlahan mulai bergetar saat matanya terus menatap kertas yang mencuat tersebut, menggoda dirinya untuk berdiri dan melangkah mendekat.
Jantung Rania Gayatri Isha berdegup kencang, seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan tindak kriminal. Kakinya yang baru saja terangkat beberapa senti dari lantai mendadak kaku, terpaku di tempatnya berdiri.
Brak!
Pintu kayu ek tebal itu terbuka dengan sentakan yang cukup keras, memotong keheningan ruangan CEO. Ragas Adhyasta melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Wajah pria itu pias, matanya yang biasa menyorotkan ketenangan elang kini bergerak liar penuh kepanikan yang tidak bisa disembunyikan. Pandangan pertama Ragas langsung terkunci pada sosok Rania yang tengah berdiri di balik meja kerjanya.
Untuk satu detik yang terasa amat menyiksa, netra mereka bertubrukan.
Ragas melirik kilat ke arah meja kerjanya sendiri. Begitu melihat paket dokumen dari Jerman itu masih berada di posisi semula—dengan selembar kertas medis yang sedikit mencuat dari robekan amplop—Ragas langsung melangkah cepat. Gerakannya begitu terburu-buru, bahkan hampir menyenggol ujung kursi kerjanya sendiri. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyambar paket dokumen tersebut, memasukkannya ke dalam laci terdalam meja kerjanya, lalu memutar anak kunci dengan bunyi klik yang menggema tegas di dalam ruangan.
Setelah memastikan laci itu terkunci rapat, Ragas menegakkan punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya, dan dengan paksa menyapu bersih sisa-sisa kepanikan di wajahnya. Pria itu membenarkan letak jas abu-abunya, mencoba kembali menampilkan figur seorang pimpinan yang berwibawa dan tak tergoyahkan.
Sebenarnya, beberapa saat yang lalu, Ragas sudah hampir menginjakkan kaki di depan pintu ruang rapat komisaris di lantai bawah. Namun, langkahnya mendadak mati rasa ketika sebuah kesadaran mengerikan menghantam otaknya bak gada besi. Paket dari Jerman. Dokumen yang baru saja tiba itu bukanlah berkas bisnis, melainkan salinan rekam medis fisik terlengkap miliknya dari rumah sakit internasional di Frankfurt, tempat di mana ia bertaruh nyawa melawan kanker getah bening stadium lanjut selama beberapa tahun ini.
Ragas merutuki kecerobohan pihak klinis internasional itu di dalam hati. Padahal, saat di telepon kemarin sore, ia sudah menegaskan akan mengambil sendiri hasil cetak resminya di kantor cabang Jakarta besok lusa. Mengapa mereka justru mengirimkannya hari ini, langsung ke alamat utama PT Adhyasta Megatama, dan dalam amplop yang begitu mencolok? Jika rahasia ini terbongkar sekarang, jika Rania sampai tahu bahwa dia pergi ke luar negeri untuk berobat dan hampir mati, maka seluruh rencana Ragas untuk mendekati Rania secara perlahan akan hancur berantakan. Rania pasti akan dirundung rasa bersalah yang amat besar, dan Ragas tidak ingin wanita itu menerimanya kembali hanya karena rasa iba.
Ragas menatap Rania dengan pandangan menyelidik yang samar. Matanya menyipit kecil, mencoba membaca apakah ada perubahan ekspresi pada wajah wanita itu.
Mungkinkah Rania sudah melihat isi di dalamnya? Mungkinkah dia sempat membaca nama rumah sakit atau diagnosis yang tertera di sana?
Namun, Ragas mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri. Tidak. Jarak meja Rania dan mejaku cukup jauh. Amplop itu baru terbuka sedikit di bagian atasnya. Rania juga baru saja berdiri dan belum sempat melangkah mendekat. Dia tidak mungkin bisa membacanya dari jarak sejauh itu.
Sementara itu, Rania berdiri mematung dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya. Ia menatap Ragas dengan raut wajah yang dipenuhi keterkejutan sekaligus kebingungan yang teramat sangat. Sikap Ragas yang begitu protektif dan panik terhadap sebuah dokumen asing benar-benar di luar kewajaran. Seorang CEO tidak akan berlari kembali ke ruangannya hanya untuk mengunci sebuah berkas dengan wajah seketakutan itu, seolah-olah ia sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar yang haram diketahui oleh dunia.
"Pak Ragas..." Suara Rania memecah keheningan, terdengar agak ragu namun tetap mempertahankan nada formalnya. "Kenapa Anda kembali lagi? Apakah ada kendala dengan rapat komisaris di lantai sebelah?"
Ragas berdeham pelan, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangan kanan untuk mengulur waktu demi menyusun kebohongan yang masuk akal.
"Tidak, tidak ada kendala dengan rapat," jawab Ragas sekenanya. Suaranya kini sudah kembali stabil, meski tatapannya masih sedikit waspada.
"Saya hanya baru ingat... ada dokumen penting yang tertinggal di atas meja dan harus segera saya amankan sebelum rapat dimulai. Dokumen konfidensial mengenai akuisisi saham baru yang tidak boleh dilihat oleh sembarang orang."
Rania hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan tersebut. Namun, sepasang matanya yang cerdas tidak bisa membohongi rasa penasaran yang teramat dalam. Alasan tentang "akuisisi saham" terdengar sangat klise dan dibuat-buat di telinganya. Jika itu hanya dokumen bisnis biasa, mengapa logo yang tercetak di sudut kertas tadi tampak seperti sebuah lambang institusi medis atau palang merah internasional? Mengapa bukan logo firma hukum atau lembaga keuangan?
Ragas yang menyadari tatapan penuh selidik dari Rania segera membalikkan badan. Ia tahu, semakin lama ia berada di ruangan ini dan membahas dokumen tersebut, maka tameng kebohongannya akan semakin terancam runtuh.
"Saya harus segera kembali ke ruang rapat sekarang. Tolong lanjutkan pekerjaanmu, Rania," ujar Ragas sembari melangkah cepat menuju pintu.
"Baik, Pak," balas Rania pendek.
Begitu pintu ruangan tertutup untuk kedua kalinya, Ragas bersandar sejenak pada dinding lorong luar. Ia mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lega yang luar biasa. Dadanya yang semula sesak kini berangsur-angsur normal. Aman, batinnya menenangkan diri. Dia belum sempat melihatnya. Setidaknya, rahasia ini masih tersimpan rapat untuk sementara waktu. Dengan sisa energi yang ada, Ragas memantapkan langkahnya menuju ruang rapat komisaris.
Di dalam ruangan, Rania tidak langsung duduk kembali ke kursinya. Ia menatap laci meja kerja Ragas yang kini terkunci rapat. Rasa penasaran itu kini berubah menjadi sebuah teka-teki besar yang terus mengusik kedamaian hatinya. Sikap Ragas yang penuh misteri belakangan ini—mulai dari panggilan telepon yang mencurigakan kemarin sore tentang "indikator sel yang kambuh", hingga kepanikan luar biasa mengenai paket dari Jerman hari ini—membuat dinding pertahanan Rania yang semula kokoh kini mulai dirayapi oleh rasa ingin tahu yang berbahaya.
"Sebenarnya... apa yang kamu sembunyikan dariku, Ragas?" bisik Rania lirih pada ruangan yang sunyi.