Rania segera mencengkeram tepi mejanya sendiri, memaksa kesadarannya untuk kembali membumi. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengusir bayang-bayang Ragas dari kepalanya.
"Ingat posisimu, Rania. Jangan biarkan dirimu kembali terjebak dalam pusaran hidupnya. Dia bukan lagi Ragas-mu yang dulu. Kamu di sini hanya untuk bekerja dan mencari uang untuk Ibu dan Ryan."
Rania kembali duduk dan memaksakan jemarinya untuk menari di atas papan ketik. Selama sisa hari itu, ia menenggelamkan diri sepenuhnya dalam lautan angka dan grafik anggaran, mencoba mematikan seluruh fungsi perasaannya.
Waktu terus bergulir hingga malam mulai menjemput ibu kota. Jarum jam di dinding ruangan CEO telah menunjuk ke angka setengah tujuh malam ketika Ragas akhirnya kembali dari rapat komisaris yang berjalan alot.
Ruangan itu kini sudah temaram, hanya diterangi oleh lampu meja kerja mereka masing-masing. Rania masih setia duduk di tempatnya, meninjau kembali berkas cetak proposal pameran untuk memastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun sebelum diserahkan ke pihak vendor esok pagi.
Ragas melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak sangat lelah. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya, dan ia sempat memijat pelipisnya beberapa kali sebelum duduk di kursi kebesarannya.
"Rania, ini sudah malam. Kenapa kamu belum pulang?" tanya Ragas, suaranya terdengar serak namun tetap menyimpan kelembutan yang tulus.
Rania mendongak, merapikan lembaran kertas di tangannya menjadi satu tumpukan rapi. "Saya hanya memastikan berkas penawaran vendor dekorasi ini sudah siap sepenuhnya, Pak. Besok pagi-pagi sekali pihak vendor akan datang untuk melakukan penandatanganan kontrak awal, jadi saya tidak ingin ada kekeliruan data."
Ragas menatap Rania dalam-dalam. Dedikasi kerja wanita itu sama sekali tidak berubah sejak dulu; Rania selalu menjadi sosok yang bertanggung jawab dan mandiri. Namun, kemandirian Rania yang sekarang terasa begitu dingin dan berjarak, seolah sengaja dirancang untuk menegaskan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan atau belas kasihan dari Ragas.
"Bekerja keras itu bagus, Rania. Tapi jangan mengabaikan kesehatanmu sendiri," ujar Ragas pelan, matanya menatap cemas pada gurat kelelahan yang juga tercetak di wajah cantik Rania.
"Pulanglah sekarang. Saya akan memeriksa bagian akhirnya nanti."
Rania tidak membantah. Ia segera mematikan laptopnya, memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, dan berdiri. "Baik, Pak. Berkasnya saya tinggalkan di atas meja Anda. Saya permisi."
Rania melangkah keluar dari ruangan dengan ritme yang cepat, seolah ingin segera terbebas dari atmosfer menyesakkan yang tercipta di antara mereka semenjak insiden dokumen tadi siang.
Perjalanan pulang malam itu terasa jauh lebih melelahkan bagi Rania. Bus kota yang ditumpanginya terjebak kemacetan total akibat hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak sore hari. Di dalam bus yang pengap dan padat itu, Rania menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin, menatap pendar lampu merah kendaraan yang berderet panjang tak berujung.
Ponsel di dalam tasnya bergetar pendek, menandakan sebuah pesan masuk. Rania merogoh tasnya dan membuka layar ponsel. Sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan menampilkan saldo rekeningnya setelah dipotong otomatis untuk biaya administrasi bulanan. Angka yang tertera di sana membuat d**a Rania seketika terasa dihantam batu besar.
Saldo tabungannya sudah menyusut drastis. Besok adalah tanggal satu, hari di mana ia harus mentransfer biaya semester kuliah Ryan dan uang untuk menebus obat jantung ibunya yang harganya terus melambung naik setiap bulan.
Rania memejamkan mata, merasakan setitik air mata yang panas perlahan mengalir di pipinya. Beban sebagai tulang punggung keluarga terkadang terasa begitu mengimpit, hingga ia sering kali merasa kehabisan napas untuk melangkah. Dahulu, di saat-saat seperti inilah, Ragas akan selalu ada untuk merangkul pundaknya, membagi beban itu bersamanya tanpa pernah mengeluh.
“Jangan menangis, Rania. Selama ada aku, kamu nggak akan pernah sendirian menghadapi semua ini,” suara Ragas dari masa lalu seolah berbisik kembali di telinganya, begitu nyata hingga membuat hatinya semakin teriris perih.
Rania menyeka air matanya dengan kasar menggunakan ujung lengan kemejanya.
"Jangan cengeng, Rania. Kamu sudah bertahan selama bertahun-tahun sendirian. Kamu pasti bisa melewati bulan ini juga," bisiknya menguatkan diri sendiri di tengah bisingnya deru mesin bus.
Keesokan paginya, tanggal satu tiba dengan ketegangan yang berbeda bagi Rania Gayatri Isha. Begitu alarm ponselnya berdering pada pukul lima pagi, hal pertama yang ia lakukan bukanlah membasuh wajah, melainkan membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Notifikasi gaji masuk yang dinantinya telah tertera di sana.
Namun, Rania tidak memiliki waktu untuk merasa lega atau merayakan hari gajian seperti karyawan kebanyakan. Tanpa membuang waktu, jemarinya yang dingin bergerak lincah di atas layar, mengetikkan nomor rekening sang adik, Ryan, di Bandung.
Rania mengirimkan hampir seluruh isi gajinya pagi itu. Ia membagi nominalnya dengan sangat ketat: biaya semester kuliah Ryan yang sudah memasuki batas akhir pembayaran, uang untuk menebus obat jantung sang ibu yang harganya kian melambung, serta sejumlah uang tambahan yang sengaja ia lebihkan untuk kebutuhan sehari-hari mereka berdua di sana. Rania tahu betul, hidup di kota besar dengan kondisi ibu yang sakit tidaklah mudah, jadi ia tidak boleh egois.
Ketika tombol 'Kirim' ditekan dan transaksi dinyatakan berhasil, Rania menatap layar ponselnya yang kini menampilkan sisa saldo di rekening utamanya.
Nol. Habis tak bersisa.
Rania mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya pada dinding kamar kontrakannya yang sempit. Ada rasa lega yang luar biasa yang sempat menyusup di dadanya; setidaknya Ryan tidak akan dikeluarkan dari ruang ujian dan ibunya bisa terus meminum obatnya tanpa putus.
Mengenai kebutuhannya sendiri untuk bertahan hidup di Jakarta hingga akhir bulan depan, Rania melirik sebuah kotak kaleng kecil yang tersimpan rapat di balik tumpukan baju di dalam lemarinya. Di sana ada sisa tabungan uang tunai yang sengaja ia sisihkan sedikit demi sedikit sebagai dana darurat. Nanti saja aku membongkar kotak itu, di dompet masih ada beberapa lembar uanh untuk makan hari ini, batin Rania meyakinkan dirinya sendiri.
Karena terlalu fokus menghitung digit angka, membagi pos anggaran keluarga, dan bergegas mengejar bus agar tidak terlambat, Rania sama sekali tidak menyadari bahwa ia telah melewatkan hal krusial pagi itu. Ia melupakan sarapannya. Perutnya kosong, hanya terisi segelas air putih hangat sebelum ia melangkah keluar dari kontrakan.
Pukul sebelas siang, atmosfer di dalam ruangan CEO terasa semakin menekan bagi fisik Rania. Efek dari kurang tidur, tekanan batin sejak kedatangan Ragas, ditambah perut yang kosong sama sekali mulai menagih bayaran dari tubuh mungilnya.
Rania merasakan kepalanya mulai berdenyut samar. Pandangannya terhadap deretan angka di layar monitor sesekali mengabur. Ia mencoba meraih gelas oranye di sudut mejanya, meminum air putih di dalamnya hingga tandas, berharap rasa pening yang perlahan merayap di tengkuknya bisa berkurang. Namun, rasa pening itu justru berganti menjadi sensasi melayang yang tidak nyaman. Wajah Rania berangsur-angsur kehilangan rona alaminya. Ia terlihat sangat pucat, dengan bibir yang mulai memutih.
Di seberang mejanya, Ragas yang sejak tadi sebenarnya tidak pernah benar-benar melepaskan perhatian dari Rania, langsung menyadari perubahan tersebut. Pria itu meletakkan pena montblanc miliknya, lalu berdiri dari kursi kebesarannya.
Ragas melangkah mendekati meja kerja Rania. Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas gurat kelelahan ekstrem dan wajah pucat pasi wanita itu di bawah terpaan lampu ruangan. Jantung Ragas berdenyut cemas.
"Rania," panggil Ragas, suaranya sarat akan kekhawatiran yang mendalam, tidak lagi menyembunyikan posisinya sebagai atasan. "Wajahmu pucat sekali. Kamu lagi sakit?"
Rania tersentak pelan mendengar suara Ragas yang tiba-tiba terdengar begitu dekat. Ia memaksakan diri untuk menegakkan punggungnya, mencoba mengulas senyum formal yang biasa ia gunakan sebagai tameng. "Saya tidak apa-apa, Pak Ragas. Hanya sedikit mengantuk. Saya bisa menyelesaikan laporan ini tepat waktu."
"Tidak, Rania. Kamu tidak lagi baik-baik saja," potong Ragas tegas, matanya menatap lekat-lekat pada bibir Rania yang kering dan pucat. Ragas kemudian menunjuk ke arah pintu kayu terselubung di sudut ruangannya—sebuah kamar istirahat pribadi yang biasa dipakai ayahnya dulu saat lembur , dan sekarang dia yang memakainys.
"Masuklah ke dalam kamar pribadi saya dulu. istirhatkan tubuhmu di sana. Saya akan meminta sekretaris untuk membawakan makan siang dan obat untukmu. Ini perintah, Rania."
Mendengar tawaran yang begitu intim dari Ragas, ego Rania seketika meronta. Di dalam kepalanya, suara-suara peringatan untuk tidak menerima kebaikan pria ini kembali berdengung keras. Dinding es yang ia bangun mati-matian menolak untuk runtuh oleh rasa iba. Ia tidak ingin berutang budi, ia tidak ingin terlihat lemah di depan pria yang dulu pernah menghancurkan dunianya.
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Pak Ragas. Tapi saya menolak," ujar Rania, suaranya terdengar bergetar namun ada penekanan yang keras di sana. Ia mencengkeram tepi meja, mencoba berdiri untuk membuktikan bahwa ia masih kuat. "Saya masih bisa bekerja di meja saya. Tugas saya di sini bukan untuk—"
Kalimat Rania terputus di udara.
Saat tubuhnya berdiri sempurna, dunia di sekeliling Rania mendadak berputar hebat. Pendar lampu di langit-langit ruangan seolah menyatu menjadi satu lingkaran putih yang menyilaukan mata, sebelum akhirnya segalanya berubah menjadi kegelapan yang pekat. Kesadaran Rania hilang sepenuhnya. Tubuhnya lemas tak bertenaga, ambruk begitu saja ke arah depan.
"Rania!"
Pekikan panik lolos dari tenggorokan Ragas. Dengan refleks yang luar biasa cepat, Ragas menjatuhkan dirinya ke depan, menjulurkan kedua lengan tegapnya demi menyambut tubuh mungil yang kini kehilangan daya hidup tersebut.
Grep.
Untung saja, gerakan sigap Ragas berhasil. Kedua tangannya mencengkeram erat pinggang dan bahu Rania, menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya tepat beberapa senti sebelum kepala Rania membentur sudut meja kerja kayu yang tajam atau lantai karpet yang keras.
Suasana ruangan itu seketika menjadi mencekam. Ragas berlutut di lantai dengan napas yang memburu hebat akibat kepanikan yang mendadak menyerang dadanya. Ia mendekap tubuh Rania yang terasa begitu ringan dan dingin di dalam pelukannya.
"Rania... Rania, bangun," bisik Ragas, suaranya bergetar hebat penuh ketakutan. Jemari tangannya yang bebas dengan ragu menyentuh pipi Rania yang sedingin es, mencoba memanggil kembali kesadaran wanita yang selama bertahun-tahun ini selalu memenuhi ruang mimpinya. Namun, kelopak mata Rania tetap terpejam rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka berdua di lantai ruangan itu.