Ragas mencengkeram erat gagang pintu kamar istirahat pribadinya setelah berhasil membaringkan tubuh lemas Rania di atas ranjang. Jantungnya masih berdegup kencang akibat kepanikan yang belum reda. Namun, belum sempat ia mengambil napas untuk menenangkan diri, suara ketukan tegas dan berat di pintu utama ruang CEO seketika membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
Pintu ek tebal itu terdorong terbuka bahkan sebelum Ragas sempat menyahut.
Sosok pria paruh baya dengan setelan jas hitam mahal berkancing ganda melangkah masuk. Tatapan matanya dingin, tajam, dan sarat akan otoritas yang mutlak. Dharma Adhyasta. Pria yang sangat jarang menampakkan diri di lantai operasional itu, kini berdiri di ruangan Ragas dengan aura yang mengintimidasi.
Ragas tertegun, tangannya yang berada di gagang pintu kamar istirahat mendadak kaku. "Papa? Kenapa tiba-tiba ke sini?"
Dharma tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang menua namun tetap elang menyapu seluruh penjuru ruangan, hingga akhirnya pandangan pria itu terkunci pada sudut kanan ruangan. Alisnya bertaut dalam, memancarkan kebingungan sekaligus ketidaksukaan yang kentara melihat sebuah meja kerja minimalis kayu yang berdiri di sana.
"Papa ke sini untuk mengecek langsung draf laporan pameran tahunan yang kamu pimpin," ujar Dharma, suaranya berat dan berwibawa, menggema di ruangan yang sunyi. Ia melangkah mendekati meja baru tersebut, lalu mengetuk permukaannya dengan ujung jari. "Tapi... apa maksud dari meja di sudut ini, Ragas? Sejak kapan ruang CEO berubah menjadi kubikel staf biasa?"
Dada Ragas bergemuruh hebat. Di balik tembok kamar yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat ayahnya berdiri, Rania sedang terbaring tak sadarkan diri.
Kilasan memori kelam beberapa tahun lalu mendadak berputar di kepala Ragas. Ancaman dingin Dharma saat Ragas sedang sekarat kembali terngiang: “Tinggalkan gadis miskin itu, Ragas. Fokus pada pengobatanmu di Jerman. Jika kamu menolak, Papa pastikan hidup gadis itu dan keluarganya akan hancur dalam semalam.” Demi melindungi Rania, Ragas menelan ludah darah dan memilih dibenci sebagai pria yang pergi tanpa kata.
Dan sekarang, singa itu sedang berada di ruangan yang sama, mengendus sesuatu yang mencurigakan. Ragas tahu betul, ayahnya belum bisa menerima Rania. Jika Dharma tahu Rania ada di dalam perusahaan ini—bahkan berada di dalam kamar pribadinya—Dharma tidak akan segan-segan melaksanakan ancaman lamanya.
Ragas mengepalkan tangan di balik saku celananya, memaksa suaranya terdengar setenang mungkin. "Itu meja untuk PIC yang bertanggung jawab atas pameran tahunan, Pa. Skala proyek ini sangat besar dan melibatkan investasi masif. Aku butuh koordinasi instan tanpa jeda birokrasi antar-lantai demi efisiensi kerja."
Ragas sengaja menyembunyikan identitas asli Rania. Ia bersyukur, beberapa hari yang lalu setelah ia menceritakan pada mamanya bahwa ia bertemu dengan Rania, Mamanya—Widuri Adhyasta—diam-diam menghubunginya dan membongkar rahasia besar bahwa beliaulah yang menyusupkan Rania ke perusahaan ini melalui HRD karena rasa bersalah yang mendalam. Ragas harus menjaga rahasia mamanya, sekaligus melindungi mata pencaharian Rania.
Dharma menyipitkan mata, menatap anaknya dengan pandangan menyelidik yang tajam. "PIC? Siapa staf yang kamu tunjuk hingga mendapat hak istimewa bekerja di ruangan ini?"
"Staf senior dari divisi pemasaran, Pa. Rekam jejak kerjanya sangat bersih," jawab Ragas taktis, memotong detail nama agar ayahnya tidak curiga. "Saat ini dia sedang turun ke lantai bawah untuk mengonfirmasi draf final dengan pihak vendor. Jika Papa ingin meninjau berkasnya, semua sudah aman di mejaku."
Dharma diam sesaat, atmosfer di ruangan itu terasa begitu mencekam hingga oksigen seolah menipis. Ragas berdoa di dalam hati agar Rania di dalam kamar tidak tiba-tiba sadar dan membuat suara sekecil apa pun yang bisa memicu kecurigaan Dharma.
Setelah keheningan yang menyiksa, Dharma akhirnya memalingkan wajah dan berjalan menuju meja kerja utama Ragas. "Baik. Tunjukkan pada Papa bagian anggaran dekorasinya sekarang. Papa tidak ingin melihat ada pembengkakan biaya sekecil apa pun pada pameran tahun ini."
Ragas mengembuskan napas yang sempat tertahan di tenggorokan secara perlahan. Ia melangkah maju menuju mejanya, memunggungi pintu kamar istirahat tempat Rania berbaring. Langkah pertamanya untuk menjadi tameng pelindung Rania di bawah atap yang sama baru saja dimulai, dan Ragas bersumpah tidak akan membiarkan ayahnya menyentuh dunia Rania lagi.
Begitu pintu ek tebal itu tertutup rapat setelah dilewati oleh tubuh tegap Dharma, Ragas seolah baru saja lolos dari lubang jarum. Ia mengembuskan napas panjang, merenggangkan kerah kemejanya yang mendadak terasa mencekik.
Tak lama kemudian, pintu kembali diketuk pelan. Sandy, sekretaris pribadinya, masuk membawa kantong plastik berisi bubur hangat dan obat-obatan yang sempat Ragas pesan secara terburu-buru sesaat setelah membaringkan Rania tadi.
"Pak Ragas, ini pesanan yang Anda minta," ujar Sandy takzim, meletakkan kantong tersebut di atas meja.
Ragas menatap Sandy dengan pandangan waspada. "Sandy, saat kamu naik ke lantai ini tadi, apa kamu sempat berpapasan dengan Papa di depan lift?"
Sandy menggelengkan kepala dengan rapi. "Tidak, Pak. Saya menggunakan lift servis di sebelah timur, jadi saya tidak bertemu dengan Komisaris Utama."
Mendengar hal itu, Ragas baru bisa benar-benar bernapas lega. Ia menatap Sandy dengan raut wajah yang sangat serius. "Bagus. Mulai detik ini, saya minta kamu merahasiakan identitas dan keberadaan staf pemasaran yang bekerja di ruangan saya dari siapa pun, termasuk dari Papa. Jika ada yang bertanya, katakan saja ini murni kebutuhan proyek tahunan. Mengerti?"
"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Sandy patuh, sebelum akhirnya pamit undur diri.
Setelah Sandy pergi, Ragas meraih kantong makanan dan obat itu, lalu melangkah pelan menuju kamar istirahat pribadinya. Sembari berjalan, benaknya dipenuhi oleh pertanyaan yang terus berputar: Apa yang membuat Rania nekat melamar kerja di perusahaan ini?
Ragas tersenyum getir dalam hati. Ini mungkin kesalahannya juga di masa lalu. Dulu, ia sengaja tidak pernah memperkenalkan Rania kepada kedua orang tuanya karena ia tahu betul watak keras papanya yang pasti akan menolak Rania mentah-mentah. Ragas hanya berani bercerita dan menunjukkan foto Rania kepada mamanya, Widuri. Ditambah lagi, figur Dharma Adhyasta di media sangat tertutup dan jarang sekali menampakkan diri ke publik. Rania pasti murni tidak tahu bahwa perusahaan raksasa tempatnya melamar tiga tahun lalu adalah milik keluarga pria yang telah meninggalkannya.
Ragas mendorong pintu kamar perlahan. Di atas ranjang, ia melihat ada pergerakan kecil dari kelopak mata Rania yang perlahan terbuka. Menyadari Rania yang masih lemas mencoba bergerak untuk duduk, Ragas dengan refleks mendekat dan mengulurkan tangannya untuk membantu.
"Jangan sentuh saya!"
Suara Rania terdengar serak namun sarat akan penolakan yang tajam. Ia menepis pelan tangan Ragas, lalu memaksakan dirinya bersandar pada kepala ranjang dengan napas yang agak memburu. Sepasang matanya yang masih sayu menatap Ragas dengan dinding es yang kembali menebal.
Ragas menarik kembali tangannya dengan canggung, namun ekspresi wajahnya tetap melembut. Ia meletakkan mangkuk bubur hangat yang sudah dipindahkan ke atas nakas.
"Kamu baru saja pingsan, Rania. Wajahmu pucat sekali. Aku sudah meminta Sandy membelikan bubur dan obat. Makanlah sedikit, demi kesehatanmu."
"Saya tidak butuh belas kasihan Anda, Pak Ragas. Saya mau kembali bekerja ke meja saya," tolak Rania dingin, bahkan bersiap menurunkan kakinya dari ranjang.
Melihat keras kepalanya Rania, Ragas tidak bisa lagi menahan diri. Ia menahan pergerakan Rania dengan berdiri di depan ranjang, menatapnya dengan pandangan memohon yang teramat sangat. "Aku mohon Rania... kali ini saja, singkirkan egomu. Makanlah. Bagaimana kamu bisa bekerja kalau tubuhmu seperti ini?"
Ragas benar-benar cemas. Ia sama sekali tidak tahu-menahu bahwa saat ini Rania sedang mengalami kesulitan keuangan yang hebat hingga terpaksa melewatkan sarapannya demi menghemat uang.
Melihat binar ketulusan sekaligus frustrasi di mata Ragas, ditambah perutnya yang kembali terasa perih bergejolak, Rania akhirnya terpaksa mengalah. Ia menerima mangkuk bubur itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
Ragas mengulurkan tangan hendak mengambil sendok, berniat untuk menyuapinya. "Biar aku—"
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri," potong Rania cepat, merenggut sendok itu dari tangan Ragas.
Ragas akhirnya hanya bisa duduk di kursi kayu di samping ranjang, memperhatikan Rania yang mulai memakan buburnya dalam diam. Suasana kamar itu begitu sunyi, hanya diisi oleh denting sendok yang beradu dengan mangkuk. Ragas menatap lekat-lekat raut wajah Rania. Dari kerutan halus di dahi dan pandangan mata Rania yang kosong saat mengunyah, Ragas tahu wanita ini sedang menanggung banyak pikiran.
Ragas teringat masa lalu, saat Rania selalu mengeluh kebingungan mencari uang tambahan demi menebus obat jantung ibunya. Kamu pasti sedang butuh uang sekarang, kan, Rania? batin Ragas linu. Gurat cemas itu persis seperti gurat yang selalu ia lihat lima tahun lalu. Ragas yakin, tebakannya tidak salah.
Sore harinya, jam kantor akhirnya usai. Rania yang kondisinya sudah sedikit membaik bersikeras untuk langsung pulang. Ragas sempat menawarkan untuk mengantarnya menggunakan mobil pribadi, namun seperti yang sudah ia duga, Rania menolaknya mentah-mentah dengan alasan ingin naik bus seperti biasa. Ragas terpaksa mengalah demi menjaga kenyamanan wanita itu.
Setelah memastikan Rania telah aman meninggalkan lobi gedung, Ragas kembali ke balik meja kerjanya. Pandangannya beralih pada ipad-nya, lalu ia membuka data pribadi karyawan divisi pemasaran yang sempat ia minta dari HRD. Di sana, tertera nomor rekening bank milik Rania.
Jemari Ragas bergerak membuka aplikasi perbankan rahasia miliknya. Ia sengaja memilih sebuah nomor rekening bisnis alternatif yang nama pemiliknya tidak mencantumkan unsur keluarga "Adhyasta" sama sekali—sebuah rekening anonim yang biasa digunakan untuk dana taktis perusahaan.
Dengan gerakan mantap, Ragas mengetikkan sejumlah nominal uang yang cukup besar, yang ia perkirakan bisa menutupi biaya obat ibu Rania sekaligus kebutuhan daruratnya selama beberapa bulan ke depan.
Transfer Berhasil.
Ragas meletakkan ponselnya, lalu menatap keluar jendela kaca yang mulai diguyur rintik hujan. "Aku tahu kamu pasti akan marah jika tahu ini dariku, Rania. Jadi, biarkan seperti ini dulu. Setidaknya, malam ini kamu bisa tidur dengan tenang tanpa perlu memikirkan uang," bisiknya lirih pada ruangan yang sepi.