Aku menenggak minuman yang baru saja diberikan bartender padaku. Ya, aku sedang berada di salah satu bar yang memang sudah beberapa kali aku kunjungi. Kehadiranku di tempat ini, tentu saja untuk menenangkan pikiran. Tempat ini selalu ampuh menghiburku dari segala keterpurukan yang pernah kurasakan.
"Weh, pelan-pelan, Bro," seru seseorang yang suaranya sudah bisa ku kenali. "Nanti mabok, malah ngerepotin orang," lanjutnya.
Aku menatap kesal pada Arya, teman baikku. Lalu menyerahkan kembali gelas kosong di tanganku pada bartender di depanku. Memintanya untuk mengisi gelas itu lagi.
"Angin apa, sih, sampe berniat mabok?" tanya Arya lagi. Dia segera mengambil duduk di sebelahku. Tangannya pun memberikan sebuah isyarat pada si bartender bernama Jaka itu untuk membuatkannya sebuah minuman.
Aku menggelengkan kepala. Cukup cengeng rasanya jika aku memberitahukan padanya perihal cintaku yang sudah berakhir.
"Patah hati?" tebaknya dengan begitu tepat. Dia memang bisa mengetahui perasaan seseorang hanya dengan melihat kondisinya. Tebakannya selalu tepat.
Aku hanya menatapnya untuk sesaat. Kemudian menenggak kembali minuman yang baru saja diberikan Jaka.
Aku memang sedang patah hati. Sudah seminggu lamanya. Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya lagi. Bahkan, aku sudah berniat untuk berhenti. Ya, aku tidak ingin melakukan pencarian cinta lagi. Aku akan membahagiakan diriku sendiri dengan caraku. Bahagia, bukan berarti harus menikah, kan?
"Tapi, aku melihat sesuatu yang aneh pada saat perjalanan kemari," kata Arya lagi.
Aku tidak ingin bertanya. Entah apa yang Arya lihat, tidak ada rasa penasaran dalam diriku. Terkadang, Arya memang suka berlebihan.
"Rara terlihat menggandeng seorang pria, yang aku yakini memiliki kekayaan yang nggak akan habis tujuh turunan."
Seperti yang aku bilang sebelumnya, Arya sering berlebihan menilai sesuatu.
Aku menatap kesal padanya. "Udah, jangan ceritakan apapun tentang dia padaku. Aku udah memutuskan untuk move on. Dan nggak akan terlibat urusan cinta lagi. Aku cape," keluhku.
Arya malah terbahak. Sampai beberapa saat, tak bisa ditahannya. "Kamu yakin? Mau perjaka sampai mati? Nikah itu enak, loh," katanya dengan nada yang terdengar menjijikkan di telingaku. Dan lagi, ia masih tertawa di akhir kalimatnya.
Arya memang sudah menikah. Dan sudah memiliki seorang anak laki-laki yang masih berusia dua tahun.
"Enak apanya? Cuma di ranjang aja, kan, enaknya? Kalau dipikir-pikir, bukannya lebih enak sendiri? Mau ngapa-ngapain pun terserah. Nggak ada yang larang, nggak ada yang ngatur. Bebas," kataku mencoba menolak pendapatnya.
Arya menepuk pundak ku pelan. "Jangan salah. Justru menikah itu lebih enak. Kamu tau, di rumah semuanya beres. Tinggal terima bersih. Mau apa-apa, bisa dibikinin sama istri."
Aku malah menatapnya kasihan. "Itu artinya, kamu cuma jadiin istri kamu pembantu," balasku.
Arya terdiam, seolah apa yang aku katakan sangat tepat. Raut wajahnya bahkan berubah datar dan sedikit tidak suka dengan ucapan ku. Tangannya yang tadi berada di pundak ku pun ditarik kembali.
"Bukannya ingin sok menggurui yang udah pengalaman duluan. Tapi, bukankah menikah itu berarti dua orang saling membantu?"
"Betul tuh, Mas. Saya juga seperti itu di rumah. Setiap kali saya melihat istri sedang sibuk, nggak ada salahnya membantu. Toh, dia juga udah capek seharian. Saya akui, mengurus rumah itu bukan hal yang mudah. Apalagi ditambah mengurus anak yang masih kecil. Saya udah pernah mencobanya karena tidak percaya sama istri yang setiap hari mengeluh capek," timpal Jaka. Sepertinya ia memperhatikan pembicaraan kami sejak tadi.
"Nah, Jaka aja setuju."
Arya menarik minumannya dan menenggaknya hingga habis tanpa sisa. Jemarinya menggenggam erat gelas yang telah kosong. Hingga buku-buku jemarinya memutih. Kini giliran ku yang menepuk pundaknya.
Hanya berselang beberapa detik kemudian, Arya malah bangkit dan meninggalkan kami setelah menyelipkan selembar uang kertas berwarna biru di bawah gelasnya. Kami menyaksikannya hanya dengan gelengan kepala.
Kemudian, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling bar. Cahaya yang temaram membuat mata sulit mengenali siapa saja yang sedang berada di ruangan ini. Tapi tidak dengan sosok itu. Hanya melihat siluetnya saja, aku bisa mengenalinya. Dan aku tidak akan salah.
Itu adalah Rara, bersama seorang pria seperti yang dikatakan oleh Arya tadi. Keduanya terlihat cukup mesra.
"Jadi itu, mantannya Mas Adi?" Suara Jaka memenuhi pendengaran ku. Membuatku terkaget. Tidak sadar jika ia juga mengikuti arah pandang ku, meski kedua tangannya sibuk mengelap gelas.
Aku membalikkan badan lagi ke arah Jaka. Dan bisa kulihat kalau Arya juga memperhatikan ke arah dimana Rara dan pria itu berada.
"Cuma masa lalu yang harus segera dilupakan," kataku tenang. Meski dalam hati muncul rasa penasaran.
"Bukannya ingin ghibah ya, Mas. Tapi mereka sudah beberapa kali datang bersama kesini." Jaka melanjutkan.
Aku menatapnya. "Kamu yakin? Udah sejak kapan?"
Jaka tampak berpikir. "Kalau saya tidak salah ingat, Mas, pertama kali saya lihat mereka kemari itu sekitar dua bulan yang lalu."
"Dua bulan?"
Jaka mengangguk yakin. "Iya, Mas. Dua bulan lalu. Saat itu, saya yang melayani mereka. Dan entah kenapa, terjadi keributan kecil antara mereka dengan pasangan lain. Sepertinya ada di antara mereka yang selingkuh. Tapi saya tidak mengetahui pasti siapa. Cuma mereka saling menuduh selingkuh. Sampe dua prianya saling tonjok, Mas."
Dua bulan? Jadi Rara selingkuh dariku? Dan pria itu yang menjadi alasannya untuk meninggalkanku?
Sekali lagi, aku menoleh pada mereka. Namun hanya dalam waktu yang sangat singkat. Hanya untuk memastikan, seperti apa tampang pria yang sangat diinginkan oleh Rara. Ternyata biasa saja. Tidak lebih dariku. Mungkin apa yang dikatakan oleh Arya tadi ada benarnya. Tentang pria itu yang memiliki kekayaan melimpah.
"Kalau menurut saya sih, Mas, wanita seperti itu memang harus dilupakan." Suara Jaka terdengar lagi. Dan aku mengangguk setuju dengan ucapannya.
"Memangnya apa yang kamu punya? Berani sekali mengajak anak saya kencan?" Tante Ita bertanya dengan wajah yang angkuh.
"Mama apaan, sih?" Rara menepuk lengan ibunya.
"Saya hanya punya cafe, Tante. Tapi hasilnya udah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." Hanya itu jawaban yang aku berikan. Berharap ketulusan hati dan niat baik yang aku sampaikan bisa diterima olehnya.
"Cuma cafe? Jadi maksud kamu, anak saya makan apa nanti kalau menikah denganmu? Makan cinta?" Nada suara Tante Ita terdengar semakin tidak suka.
"Rezeki pasti ada aja jalannya, Tante. Yang penting, niat kami baik."
"Aku baik-baik aja, Ma. Aku juga nggak menuntut banyak kok dari Kak Adi. Harta nggak menjamin kehidupan kami akan bahagia, Ma."
Tante Ita malah melotot ke arah Rara. "Kamu ini gimana, sih, Ra? Mama capek membesarkan kamu sendiri. Masa cuma cari suami yang mapan aja nggak bisa? Kamu pikir hidup susah itu enak?"
"Maaf, Tante. Tapi saya akan berusaha untuk membahagiakan Rara. Asal Tante merestui hubungan kami."
Tante Ita menggeleng tegas. "Nggak. Tante nggak bisa. Rara hanya akan berhubungan dengan pria mapan. Jika dia tidak bisa menemukan sendiri, saya yang akan mencarikannya. Yang pasti, itu bukan kamu."
Kejadian beberapa waktu lalu teringat kembali olehku. Hari dimana aku dikenalkan oleh Rara pada ibunya. Tapi ibunya tidak merestui hubungan kami karena masalah harta. Ternyata ibunya materialistis juga.
Jadi, pria itu yang telah ibunya kenalkan pada Rara.
Sedikit tidak percaya juga, jika Rara bisa menerimanya dengan cepat. Padahal dia yang mengatakan sendiri kalau dia sangat mencintaiku. Ternyata bisa berubah secepat itu hanya karena harta.