Hari yang baru telah dimulai. Aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Meski nasib percintaan tidak baik, setidaknya nasib keuangan harus menjadi lebih baik.
Aku memutuskan untuk pergi ke cafe hari ini. Sudah beberapa hari aku tidak ke sana. Semua urusan cafe aku serahkan pada Laras, karyawan kepercayaan ku.
Aroma khas kopi langsung menyambut ku begitu memasuki cafe. Aroma segar yang begitu memabukkan.
"Mas, ada yang nyariin Mas dari tadi. Aku pikir, Mas nggak datang lagi," kata Laras yang langsung menghampiriku begitu menyadari kehadiranku.
Aku mengernyitkan kening. Aku tidak merasa membuat janji dengan siapa-siapa. Jadi siapa yang datang mencari ku ke cafe?
"Di sebelah sana, Mas," kata Laras lagi, menunjuk sudut ruangan. Dimana terdapat meja panjang yang langsung menempel di dinding kayu yang hanya sebatas pinggang. Tempat yang memang ku desain khusus untuk memandang ke luar.
Pandanganku mengarah ke sana. Seseorang sedang duduk menghadap ke arah luar. Menikmati pemandangan lalu lintas ibukota yang sedang sibuk-sibuknya. Tapi aku tidak bisa mengenalinya.
Meski masih dilanda kebingungan, aku melangkahkan kaki untuk menemuinya. Berharap kalau orang ini akan memberikan kabar yang baik untukku.
"Permisi," kataku begitu tiba di sebelahnya. Dia mengangkat wajahnya dan pandangan kami bertemu saat itu juga.
"Adi!" serunya dengan suara lantang. Ia pun langsung berdiri dan memelukku. Meski kaget, aku tetap membalas pelukannya.
"Rehan? Ngapain kamu kesini? Nggak ngasih kabar dulu." Aku berkata setelah pelukan singkat itu terlepas.
"Kejutan, dong," katanya santai.
"Ayo, duduk."
"Aku nggak nyangka, usaha kamu ini sangat sukses," pujinya. Ia memutar badan sekedar memandangi seisi ruangan hasil desainku.
"Masih seperti ini aja, kok. Masih biasa-biasa aja."
Rehan menepuk lenganku. "Nggak usah merendah, deh. Aku tau kok kalau kamu udah buka beberapa cabang."
Aku melotot kaget. Kabar itu tidak ku bagikan pada siapa pun. Termasuk ibu. Hanya aku yang tau. Tapi dari mana Rehan tau semuanya?
"Sst." Aku menaruh jari telunjuk di bibir. Memintanya untuk tidak memberitahukan pada siapa pun. Termasuk untuk tidak membahasnya dengan suara yang keras. Takut kalau ada yang mendengarnya. "Dari mana kamu tau?" tanyaku dengan suara pelan.
Rehan terkekeh. "Meski kamu nggak ngasih tau kabar baik itu sama siapa pun, aku akan tetap tau."
Aku memicingkan mata terhadapnya. Sangat penasaran. Tapi ia memilih untuk membuang pandangan. Menghentikan pembicaraan itu karena tidak ingin ku tanyai lebih jauh. Atau lebih tepatnya ku selidiki.
"Jadi, kabar apa yang membawamu kemari?" tanyaku pada akhirnya. Menyerah akan jawaban pertanyaan ku sebelumnya.
"Nggak ada apa-apa. Aku cuma sedang senggang. Dan terlintas di pikiranku untuk berkunjung. Sekalian menikmati segelas kopi. Sayangnya, saat aku tiba, ahlinya nggak ada di tempat. Jadi aku memilih untuk menunggu."
Tanpa bertanya lagi, aku langsung berdiri dan menuju ke arah dapur. Membuatkan segelas kopi kesukaan Rehan. Espresso.
Tak butuh waktu lama hingga minuman itu jadi. Tentu saja dua gelas. Satu untuk Rehan dan satu untukku. Mengobrol sambil menikmati kopi adalah hal yang terbaik.
Rehan tertawa pelan saat minuman kesukaannya sudah berada di hadapannya. Ia langsung menyesapnya pelan.
"Ah, benar-benar nikmat," katanya sembari memejamkan mata. Sudah menjadi kebiasaannya seperti itu. Aku tidak perlu kaget.
Rehan adalah sahabatku. Kami sudah saling mengenal sejak masih di bangku sekolah. Kini, hampir dua puluh tahun lamanya kami bersahabat. Dan dia memang sering mengunjungi ku di tempat ini.
Masa lalu kami begitu panjang dan banyak cerita yang terukir. Kini semuanya tinggal kenangan, yang tetap membekas dalam hati.
Sejak kami masih di bangku sekolah, kami sudah memiliki hobi yang sama. Dunia otomotif. Hal itu membuat kami selalu bersama dan menjadi sangat akrab. Bahkan tidak jarang, kami kumpul bersama teman-teman lain yang tergabung dalam sebuah klub motor. Yang tidak jarang juga berakhir dengan sebuah balapan.
Saat Rehan masuk sekolah pilot, kami tetap sering berkomunikasi. Bahkan saat ia pulang ke Indonesia, pasti ia mengunjungi ku juga.
Nasibku memang sedikit berbeda darinya. Karena terhalang biaya, aku tidak melanjutkan perkuliahan. Memutuskan untuk mencari pekerjaan saja. Setidaknya, aku tidak membebani orang tua dalam memenuhi kebutuhanku.
Mulai dari pekerjaan kasar, hingga menjadi pelayan di sebuah cafe sudah ku lakoni. Meski begitu, Rehan tak enggan untuk berteman denganku. Ia bahkan pernah menawarkan pekerjaan padaku setelah tawarannya untuk membiayai ku kuliah ku tolak.
Hingga pada akhirnya, dia memberikan pinjaman modal untukku membuka usaha. Dan itulah cafe milikku yang sekarang ini. Yang pada akhirnya dapat mengangkat derajat kehidupanku. Bahkan sudah mulai mengembangkan cabang, seperti kata Rehan tadi.
Sedangkan klub motor, masih kami ikuti. Namun tidak begitu intens lagi seperti dulu. Hanya sekedar ikut saja. Terlebih setelah Rehan menikah, ia jadi membatasi diri untuk tidak begitu terlibat di klub lagi. Rasa sayangnya pada sang istri, membuatnya mampu menahan diri.
"Nggak ada jadwal terbang?" tanyaku, setelah kenangan masa lalu melintasi pikiranku.
Rehan menggeleng pelan. "Nggak. Aku mengambil cuti panjang. Berhubung ini sudah mendekati Natal dan tahun baru, aku ingin menikmati waktu bersama keluarga," jelasnya.
Aku mengerti. Dia memang sangat sayang keluarga. Membuatku iri saja.
"Ngomong-ngomong, belum ada rencana menikah juga?" Rehan menatapku singkat.
Aku mendesah pendek. Mengalihkan pandangan ke luar. Sementara tangan mengusap bibir gelas.
Pernikahan bukan lagi menjadi tujuan hidupku. Ingin aku berkata seperti itu pada Rehan, tapi tertahan hanya sampai tenggorokan. Aku hanya bisa berdehem pelan.
"Bukannya kamu punya pacar?" Rehan bertanya lagi. Sepertinya ia sudah menemukan jawaban atas pertanyaan sebelumnya.
"Kami udah berakhir. Ia lebih menginginkan harta." Kuangkat gelas ku untuk menyesap kopi.
Rehan malah melotot tidak percaya. "Harta? Memangnya kurang apa lagi yang kamu punya ini?"
Aku hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban.
"Atau kamu nggak ngasih tau tentang cabang cafe kamu yang mulai beranak-pinak?" Pertanyaan Rehan sepertinya belum habis. Tapi aku hanya terdiam. Aku rasa dia akan tau jawabannya.
"Pantas aja dia memilih yang lain," lanjutnya lagi setelah menyadari gelagat ku.
"Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah itu lebih baik? Itu berarti, dia memang tidak tulus mencintaiku. Dia hanya mencari harta." Aku memberikan pembelaan. "Lagi pula, ibunya juga tidak menyetujui hubungan kami."
Rehan menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran kursi.
Hanya sedetik kemudian ia menegakkan punggung lagi. Sebuah ide ia berikan dengan gamblangnya.
"Gimana kalau aku kenalkan sama pramugari aja? Kamu tau lah, standar pramugari seperti apa. Jadi kamu nggak perlu khawatir tentang tampilannya."
Aku terbahak. "Aku nggak apa-apa."
"Umur semakin tua, loh. Kamu nggak ingin merasakan keluarga yang bahagia bersama istri dan anak?"
"Aku yang sekarang hanya ingin menjalani kehidupan ini dengan baik aja. Berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik. Kalau masalah jodoh, aku angkat tangan. Biar Tuhan aja yang mempertemukan kami, jika memang seseorang diciptakan untukku."
"Nggak boleh nyerah gitu, dong."
"Aku nggak nyerah, Han. Aku hanya menjalani aja apa yang udah ditakdirkan untukku. Jika memang bertemu jodoh di usia tua, aku nggak apa-apa. Itu berarti jodohku memang datangnya lama."