Seperti biasa, di setiap jam istirahat Risa akan duduk di salah satu bangku di kantin dengan memesan batagor dengan es jeruk kesukaannya. Tak hanya duduk sendiri, Risa di temani oleh Mia teman sebangkunya.
"Makan batagor tiap hari nggak bosen ya, Sa?" tanya Mia heran melihat Risa yang memakan batagor itu dengan nikmat.
"Enggak, batagor ini sangat enak" kata Risa menatap binar ke piring yang berisikan batagor.
"Cowok, Lo lagi makan sama Kak Sinta tuh. Lo, nggak cemburu?" tanya Mia, sambil menoleh ke arah Juan yang tengah duduk berdampingan dengan Sinta.
"Mereka cuma makan, apa salahnya. Lagi pula mereka nggak berdua saja. Ada teman teman lainnya" jawab Risa tak lupa dengan senyum manisnya.
Mia tersenyum getir menatap Risa. Bagi Mia, Risa adalah wanita yang sangat pintar menyembunyikan lukanya. Namun sepintar apapun Risa menyembunyikan isi hatinya, teman tetaplah teman. Mia tahu benar apa isi hati cewek di depannya itu. Risa mencoba menyirami hatinya yang sedang membara dengan memakan batagor yang merupakan makanan kesukaanya.
Untuk kesekian kalinya Risa mencoba bersabar dan tabah akan hatinya yang merasa sakit melihat pacarnya di dekati wanita lain. Sinta Kurnia, yang merupakan teman Juan dari SMP. Risa tahu jika Juan hanya menganggap Sinta sebagai teman. Namun lain hal nya dengan Sinta, Sinta justru menaruh hati kepada Juan. Bahkan Sinta dengan terang terangan memberi tahu Risa jika Ia mencintai pacarnya.
"Ngelamun terus"
Risa tersentak mendengar suara familiar yang berada di telinganya. Risa menoleh lalu tersenyum.
"Juan"
"Ngelamunin apa?" tanya Juan.
"Ngelamun? Aku nggak ngelamun. Aku cuma menikmati batagor ini dengan sepenuh hati" alibi Risa membohongi Juan. Juan menoel hidung Risa dengan cepat.
"Nggak perlu bohong untuk hal sepele. Sayang sama dosanya" kata Juan, dan hanya di balas dengan senyuman oleh Risa.
"Mau makan?" tanya Risa mengubah topik pembicaraan. Karena jujur saja Risa tak mau jika Juan menanyakan apa yang membuatnya melamun. Karena selama ini Risa tak pernah sekalipun mengeluhkan jika dirinya cemburu akan kedekatan Juan dengan Sinta.
"Boleh"
Risa senyum lalu menusuk batagor itu dengan garpu dan di menyuapkan nya ke mulut Juan. Seperti anak kecil yang sangat penurut, Juan membuka mulutnya lebar lebar untuk menerima suapan batagor yang di suapkan oleh Risa.
Aku nggak pernah takut sedikitpun meski kamu di kelilingi banyak wanita. Karena aku tahu, jika di hati kamu hanya ada namaku. Nerisa. Batin Risa.
Seusai makan di kantin. Risa ingin pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hajat alamia di dalam perutnya yang sedari tadi ia tahan.
"Beneran nggak mau di anterin aja?" tanya Mia memastikan.
"Iya beneran, aku bisa sendiri kok"
"Ya sudah kalau begitu aku langsung balik ke kelas ya?"
Risa menganggukkan kepalanya, setelah itu Mia langsung pergi. Dan Risa segera menuju toilet. Setibanya di toilet langkah kaki Risa memelan, karena di dalam toilet ternyata ada Sinta dan ketiga temannya. Mereka yang sebelumnya asyik mengobrol kini justru terdiam melihat kedatangan Risa. Risa menelan salifanya dengan susah payah, kala melihat pantulan Sinta di cermin yang sedang tersenyum manis kepadanya. Dengan langkah ragu, Risa melanjutkan langkahnya untuk menuju bilik toilet. Namun sebuah kaki tiba tiba mencekal kaki Risa, yang membuat Risa terjungkal kedepan. Risa menoleh melihat Farah yang tengah tersenyum sinis kepadanya.
"Farah! Jail banget sih." tegur Sinta. Sinta melangkah mendekati Risa. Tangan Sinta terulur untuk membantu Risa yang terjatuh. Dengan perasaan ragu ragu Risa menerima uluran tangan Sinta. Namun setelah menerima tangan Sinta, Sinta justru mendorong keras tangan Risa dan membuat Risa kembali terjatuh untuk ke dua kalinya. Risa mengaduh kesakitan kala pantatnya terbentur ubin yang keras.
"Nggak sudi Gue bantuin, Lo" sinis Sinta memandang rendah pada Risa, "Dasar kuman!" cibir Sinta sengit. Wajah Risa yang menunduk takut memberikan sedikit rasa puasan di hati Sinta. Juan adalah laki laki yang sejak lama sangat di sukai oleh Sinta. Tapi sejak Risa datang ke sekolahnya, dengan sangat mudah Risa merampas perhatian Juan.
"Cabut!" interupsi Sinta kepada teman temannya. Mereka pun meninggalkan Risa yang masih terduduk dengan posisi menundukkan kepala.
Dengan tertatih tatih Risa berusaha berdiri dan segera memasuki bilik toilet. Kelakuan buruk Sinta terjadi semenjak Risa di dekati oleh Juan. Dan semakin memburuk saat Risa dan Juan resmi berpacaran. Ingin sekali Risa melawan Sinta. Namun Risa tidak berdaya, Sinta memiliki kekuasaan besar di sekolah ini. Orang tua Sinta adalah pemegang yayasan terbesar di sekolah SMA Raja Wali ini. Siapapun murid yang berani menentang Sinta, mereka akan berakhir dengan di keluarkan dari sekolah. Sedangkan Risa tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya jika ia harus di keluarkan dari sekolah ini.
Risa berdiri di depan cermin besar yang ada di toiletnya. Ia membasuh wajahnya berulang kali untuk menyamarkan matanya yang sembab setelah mengeluarkan keluh hatinya. Risa juga merapikan rambutnya dengan jari jari tangannya.
"Tersenyum Risa... Tersenyum" gumam Risa menyemangatkan dirinya sendiri. Setelah berhasil menenangkan dirinya, Risa pun segera keluar dan pergi ke kelasnya.
"Dari mana?" tanya Juan yang berdiri di samping pintu kelas Risa.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Risa balik bertanya
"Nungguin kamu. Kamu dari mana?"
"Toilet" balas singkat Risa.
"Selama itu?" tanya Juan mengernyit heran. Risa hanya mengangguk dan tersenyum.
"Aku khawatir tadi. Sampai sampai aku menyuruh Raka, Rezza, sama Dio buat nyariin kamu"
"Kamu apaan sih lebay banget" cibir Risa dengan tertawa kecil.
"Aku serius"
"Iya iya, aku juga nggak bilang kamu lagi bercandakan" ujar Risa dengan meredakan tawanya, "Sudah ya... Aku masuk kelas" izin Risa yang lalu masuk ke dalam kelasnya.
●●●
Ketukan pintu terdengar, setelah itu barulah suara pintu terbuka yang terdengar. Seorang laki laki paruh baya masuk dengan pakaian formalnya. Arif yang tengah sibuk dengan berkas bekasnya menyempatkan kepalanya untuk mendoak menatap siapa yang masuk ke ruang kerjanya.
"Husen? Kamu di sini, kenapa?" tanya Arif terkejut melihat Husen temannya datang tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Arif bangkit dari duduknya untuk mendekati Husen.
"Pertanyaan macam apa itu? Apakah aku tidak boleh datang untuk menemui teman ku?" tanya Husen balik.
"Hei... Bukan itu maksudku teman," kata Arif, "Mari duduk di sini"
Arif meminta Husen untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Setelah itu Arif menekan bel komunikasi yang terhubung kepada sekretaris nya. Dia meminta sekretaris nya untuk membawakan dua cangkir kopi dengan camilan.
"Perusahaan ini semakin maju saja setelah kamu yang handle. Hanya dalam waktu beberapa tahun saham perusahaan ini berkembang pesat" puji Husen yang bangga kepada temannya.
"Kamu jangan berlebihan, Sen. Perusahaan ini memang sudah sangat maju, jauh sebelum aku yang jadi pemimpinnya" sergah Arif, "Kamu tahu sendirikan, sejak aku duduk di bangku SMP. Aku sudah bercita cita untuk menjadi seorang pembisnis. Dan suatu keberuntungan karena aku di lahirkan dari keluarga yang berprofesi sebagai pembisnis. Dan saat ini aku hanya meneruskan profesi turun temurun dari keluarku saja" penjelas Arif.
"Hm apapun itu, aku sebagai temanmu sangat bangga melihat keberhasilan mu!" kata Husen dengan menepuk pundak Arif.