Risa turun dari angkot saat tiba di Gapura besar yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Karena angkot umum tidak bisa masuk ke kawasan perumahan, jadi Risa dengan terpaksa harus jalan kaki setelah sampai di Gapura. Saat melewati pos Satpam Risa tersenyum menyapa Pak Satpam yang tengah bertugas.
"Sore, Pak..." sapa Risa saat memasuki rumahnya yang sepi. Risa berjalan ke arah dapur. Ia letakkan tas ransel berwarna pink miliknya di meja makan. Risa mengambil air dingin di dalam lemari pendingin lalu meminumnya. Sedari tadi ia merasa sangat haus. Pasalnya angkot yang akan ia naiki lama datang.
"Mama ke mana, Bi?" tanya Risa saat pembantunya menghampirinya.
"Nyonya sedang pergi ke acara arisan, Non" kata Bibi, dan Risa hanya mengangguk. Setelah puas minum Risa bergegas menuju kamarnya untuk segera mandi.
●●●
"Saya sangat suka dengan kinerja kamu. Kamu ulet dan sangat cekatan. Pelangan sangat suka jika di layani sama kamu. Ini uang minggu ini"
Juan menerima uang gajinya minggu ini dengan senang. Rasa lelahnya terasa hilang setelah mendapatkan uang ini.
"Terimakasih, Pak. Tapi pak, sepertinya Bapak salah menghitung. Karena uangnya kelebihan dua ratus ribu" ujar Juan setelah menghitung uangnya.
"Saya tidak salah hitung, uang dua ratus ribu itu adalah bonus karena kinerja kamu yang memuaskan" penjelas Pak Ramli kepada Juan. Juan mengucapkan terimakasih kembali kepada Pak Romli. Setelah itu Juan bergegas untuk pulang karena hari sudah mau malam.
Juan bekerja di bengkel Pak Romli sudah beberapa bulan ini. Juan merasa sangat betah kerja di bengkel Pak Romli. Selain Pak Romli baik dan royal terhadap karyawannya, Juan juga sangat mengerti akan mesin mesin mobil dan juga motor. Juan sangat suka mengotak atik motor. Contohnya adalah motornya sendiri yang suka ia otak atik karena ingin bereksperimen.
Seperti biasa, tanpa mengucapkan salam maupun sapaan. Juan langsung masuk ke rumahnya tanpa permisi. Narendra, Papa Juan. Yang kebetulan sedang membaca berkas kerjanya di ruang tengah mendongak menatap wajah lusuh Juan yang tak melihatnya sama sekali. Di lemparlah bantalan sofa di sampingnya ke arah Juan. Tak terasa sakit saat bantal sofa itu mengenai tubuh Juan, namun karena hal tersebut mampu membuat langkah Juan berhenti.
"Sampai kapan kamu mau jadi berandalan Juan!" bentak Narendra dengan melepaskan kaca matanya, "Dari sekolah bukannya langsung pulang malah keluyuran. Rumah ini punya aturan! Pintu rumah ini nggak selamanya akan terbuka saat ada kehadiran kamu!"
Juan tetap diam tak menyahut. Terserah orang tua itu mau bicara apapun, Juan sama sekali tak perduli.
"Papa bicara sama kamu! Lihat Papa!" sentak Narendra, "Ini rumah Saya, kalau kamu masih mau tinggal di sini... Kamu harus nurutin semua perintah Saya, ngerti!" emosi Narendra benar benar di uji oleh putra semata wayangnya ini. Sudah bertahun tahun Bapak sama Anak ini tak pernah berdamai. Berbagai cara sudah di lakukan untuk mempersatukan keduanya, namun tak ada yang pernah berhasil.
Juan tersenyum getir mendengar kalimat itu dari Narendra. Juan membalikkan tubuhnya dan menatap laki laki paruh baya yang tak jauh darinya itu. Umurnya sudah semakin menua tapi pola pikirnya tetap sama. Itulah yang ada di otak Juan.
"Kalimat pengusiran itu di tujuan sama, Saya?" tanya Juan dengan tersenyum bengis. Juan menegakkan tubuhnya dengan memasukkan tangannya ke kantong celananya. Mata elangnya menatap tajam kepada Narendra.
"Saya memaklumi, mungkin karena umur Anda semakin menua jadi Anda lupa siapa, Saya. Hari ini, Saya akan mengingatkan kembali kepada Anda siapa Saya hm... Saya, Juan Parvipa. Menyatakan jika Anda tidak memiliki HAK sedikitpun untuk mengusir Saya dari rumah Saya sendiri. Karena setelah Saya lulus SMA. Saya akan menjadi ahli waris yang SAH dari keturunan Parvipa. Saya berkuasa atas rumah, kebun, aset perusahaan, dan seluruh kekayaan dari keluarga Parvipa. Jadi, tutup rapat rapat mulut Anda itu jika masih mau merasakan semua kemewahan harta Saya ini!!" dengan sangat tegas Juan melontarkan kalimat itu kepada Narendra. Tanpa basa-basi lagi Juan segera menuju ke kamarnya.
Sedangakan Narendra membanting berkas yang sedari tadi ia genggam. Rahangnya mengatup kuat menahan emosi yang bergelora. Ucapan Juan bagaikan tamparan terkeras dalam hidupnya. Bisa bisanya anak kandungnya sendiri bisa melontarkan kalimat kalimat penuh peringatan itu kepada Bapaknya. Apalagi Juan mengatakan hal itu dengan sangat tegas tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Kurang ajar!" geram Narendra.
●●●
Risa mengolesi salep ke lututnya yang terluka akibat terjatuh karena tersandung kaki Farah. Sesekali Risa meniup niup lututnya agar sedikit mengurangi rasa perih karena salep yang ia oleskan mengenai lukanya.
"Kakak!" seru Barra memasuki kamar Risa tanpa permisi. Risa terkejut dengan seruan Barra yang datang tak di undang itu.
"Barra, sudah berapa kali Kakak bilang kalau mau masuk itu ketuk pintu terlebih dahulu" peringat Risa untuk kesekian kalinya.
"Ehehee... Aku lupa, Kak" jawab Barra dengan cengiran andalannya. Barra mendudukan dirinya di samping Risa. Ia menatap lutut Risa dengan dahi mengernyit.
"Jatuh di mana sampai dapat luka doble begitu?"
"Oh ini... Jatuh pas di toilet sekolah" jujur Risa, namun tak sepenuhnya jujur.
"Kakak ceroboh banget sih. Sudah besar tapi tetap aja ceroboh" celetuk Barra tak suka. Meskipun Barra suka menjaili Risa, tapi Barra tidak pernah suka melihat luka di tubuh kakaknya akibat kecerobohan kakaknya itu.
"Gak papa kok, nggak sakit juga. Oh ya, kamu ke sini mau apa?" tanya Risa, yang membuat Barra ingat akan tujuan awal ia pergi ke kamar kakaknya.
"Aku mau pinjam pulpen"
"Kenapa nggak beli aja? Kebiasaan deh kamu pinjam pulpen, mana nggak pernah di kembalikan" sebal Risa kepada Barra. Sudah sering kali Barra meminjam pulpen kepada Risa, namun satupun bulpen yang di pinjamkan tidak pernah kembali.
"Ayolah, Kak. Kali ini aja deh besok besok nggak akan pinjam lagi, please" mohon Barra dengan wajah memelas andalannya. Sedangkan Risa yang melihat wajah adiknya yang seperti itu tentu saja tidak tega. Risa berjalan mendekati meja belajarnya dan mengambil bulpen yang tergeletak di sana.
"Nih ambil, nggak usah ngomong pinjam kalau kamu nggak akan mengembalikan. Karena itu namanya ingkar" nasehat Risa.
"Iya iya kakakku yang cantik. Uhh, makin sayang deh!" rayu Barra dengan mencubit pipi Risa. Risa meringis pelan karena cubitan Barra yang bersemangat membuat kedua pipinya terasa sakit.
"Udah sana pergi" usir Risa, dengan sangat nurut Barra langsung pergi dari kamarnya. Risa melangkah menaiki ranjangnya dan mulai merebahkan tubuhnya dengan nyaman, di tariklah selimut tebal miliknya hingga sampai leher. Perlahan matannya mulai terpejam, kesadarannya pun mulai menghilang.