Ada bunyi yang tidak akan pernah hilang dari kepala Reno. Bukan tepuk tangan, bukan teriakan pendukung, bukan dentum sepatu di lapangan kayu. Tapi bunyi kecil, hampir tak terdengar oleh orang lain, sebuah "krak" pelan dari dalam bahu kanannya. Bunyi itu datang di detik ke-empat puluh dua babak penentuan final junior tingkat provinsi, setahun lalu, ketika ia melompat untuk melepaskan smash terakhir yang seharusnya mengunci gelar juara.
Saat itu Reno tujuh belas kurang setahun. Tubuhnya ringan, percaya diri, dan terbiasa menang. Shuttlecock melayang tinggi setelah lawannya mengembalikan bola dengan lob putus asa. Reno mundur, menekuk lutut, dan meledak ke udara. Sikunya tertarik ke belakang, telapaknya menggenggam grip raket sampai buku-buku jari memutih. Inilah momen yang ia latih ribuan kali. Bahu, lengan, pergelangan, semuanya bekerja seperti mesin yang ia kenal sejak umur sembilan tahun.
Lalu mesin itu rusak.
Rasa sakit datang sebelum ia sempat mengerti apa yang terjadi. Seperti ada yang menusukkan kawat panas dari leher sampai ujung jari. Raket lepas. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan suara yang membuat satu lapangan terdiam. Shuttlecock yang ia pukul jatuh ke lantai tanpa daya, di luar garis, gagal. Wasit memanggil dokter. Lampu sorot yang tadi terasa seperti panggung kini terasa seperti lampu interogasi.
"Tahan, Ren. Tahan." Suara Pelatih Surya, pelatih lamanya, gemetar di telinganya. Reno ingat memandang langit-langit gedung olahraga, menghitung balok besinya, mencoba mengalihkan diri dari nyeri yang membuatnya ingin muntah. Ia ingat berpikir, dengan kebodohan seorang anak yang belum tahu apa-apa tentang tubuhnya sendiri, bahwa ini akan sembuh dalam seminggu. Bahwa minggu depan ia kembali latihan. Bahwa ini hanya kram besar.
Dokter di pinggir lapangan menggeleng. Di rumah sakit, kata-kata yang keluar lebih berat dari yang bisa ia tanggung. Robekan pada labrum dan tendon rotator cuff. Operasi. Lalu kata yang paling ia benci sampai hari ini: rehabilitasi panjang. Tidak ada jaminan kembali ke level yang sama.
Tidak ada jaminan.
Reno tidak menangis di rumah sakit. Ia menangis dua minggu kemudian, di kamarnya, ketika ibunya menurunkan piala-piala dari rak agar bisa dibersihkan, dan satu di antaranya, yang paling besar, terjatuh dan pegangannya patah. Patahan itu kecil dan bisa dilem. Tapi Reno menangis seperti ada sesuatu yang jauh lebih besar dari piala yang patah. Ibunya memeluknya tanpa berkata apa-apa, karena memang tidak ada yang bisa dikatakan.
Operasi berjalan lancar, kata dokter. Tapi "lancar" tidak berarti "sembuh". Tiga bulan pertama, tangan kanannya digantung. Ia belajar menulis dengan tangan kiri, makan dengan tangan kiri, dan membenci dirinya sendiri setiap kali nasi tumpah dari sendok. Fisioterapi dimulai dengan gerakan-gerakan yang memalukan kecilnya: mengangkat lengan beberapa sentimeter, memutar pergelangan, meremas bola karet. Untuk anak yang dulu bisa melepaskan smash 300 kilometer per jam, latihan meremas bola karet terasa seperti penghinaan.
Dan rasa sakit itu tidak pernah benar-benar pergi. Bukan sakit tajam seperti malam cedera, tapi nyeri tumpul yang muncul setiap kali ia mengangkat tangan terlalu tinggi, setiap kali cuaca dingin, setiap kali ia lupa dan refleks ingin menggapai sesuatu di rak atas. Tubuhnya seolah memasang alarm: jangan, jangan, jangan.
Kawan-kawan satu klub awalnya rajin menjenguk. Bawa makanan, bawa cerita, bawa janji "cepat balik ya, lapangan sepi tanpa lo." Lalu bulan demi bulan, jenguk berkurang. Bukan karena mereka jahat, tapi karena hidup terus berjalan. Turnamen tetap diadakan. Nama-nama baru muncul di papan peringkat. Dan satu nama yang dulu selalu berada satu tingkat di bawah Reno, mulai naik. Naik terus. Sampai ke puncak.
Damar.
Reno mematikan grup obrolan klub di malam ketika ia melihat foto Damar mengangkat trofi yang seharusnya jadi miliknya. Bukan karena benci pada Damar. Tapi karena melihat lapangan, melihat raket, melihat shuttlecock, semuanya terasa seperti menatap rumah yang dulu ia tinggali, kini dihuni orang lain.
Setahun berlalu. Bahu Reno secara medis dinyatakan "pulih fungsional". Artinya ia bisa hidup normal, mengangkat tas, mendorong pintu, menggendong adik sepupunya. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ia lakukan lagi sejak malam itu. Ia tidak pernah sekali pun mengangkat raket. Tidak menyentuhnya. Raketnya yang dulu, sepasang, masih ada di dalam tas hitam di sudut lemari, dengan grip yang sudah mengeras dan senar yang mungkin sudah kendur. Tas itu seperti peti mati kecil untuk sesuatu yang dulu hidup dalam dirinya.
Reno tahu, di suatu tempat di lubuk hatinya yang paling dalam, bahwa ia masih ingin bermain. Tapi keinginan itu terkubur di bawah lapisan tebal ketakutan. Takut bahunya patah lagi. Takut tidak sebagus dulu. Takut menjadi bahan kasihan. Takut mencoba lalu gagal, karena gagal setelah mencoba jauh lebih menyakitkan daripada tidak pernah mencoba sama sekali.
Maka ia memilih diam. Memilih aman. Memilih menjadi mantan.
Bunyi "krak" itu masih sesekali terdengar dalam mimpinya. Dan setiap kali ia terbangun, tangan kirinya secara refleks memegang bahu kanannya, seolah menjaga sesuatu yang sudah lama hancur.