SMA Harapan Bangsa adalah sekolah yang sibuk dengan suara. Bel, langkah kaki di koridor, tawa di kantin, pengumuman yang berderak dari pengeras suara tua. Di tengah semua suara itu, Reno bergerak seperti orang yang menurunkan volume dunianya sendiri. Ia duduk di bangku paling belakang kelas dua belas IPA dua, di pojok dekat jendela, tempat ia bisa memandang lapangan basket di bawah tanpa harus berpartisipasi pada apa pun.
Setahun lalu, Reno adalah nama yang dikenal seantero sekolah. Anak bulutangkis yang membawa nama Harapan Bangsa ke tingkat provinsi. Guru-guru memberinya dispensasi, teman-teman memintanya foto bersama, adik kelas memanggilnya "Kak Reno" dengan mata berbinar. Sekarang, ia hanya Reno. Anak yang nilainya biasa, yang jarang bicara, yang duduk di pojok.
Ia tidak benci keadaan ini. Justru sebaliknya, ada kenyamanan aneh dalam menjadi tak terlihat. Tidak ada ekspektasi. Tidak ada yang menatap dan bertanya, "kapan main lagi, Ren?" Pertanyaan itu dulu seperti jarum kecil yang ditusukkan terus-menerus. Sekarang orang-orang sudah berhenti bertanya, dan diam itu terasa seperti kelegaan yang pahit.
Sahabatnya cuma satu, namanya Galih, anak yang sama-sama suka duduk di belakang, beda alasannya. Galih malas, Reno menghindar. Tapi mereka cocok. Galih tidak pernah menyinggung soal bulutangkis, dan untuk itu Reno diam-diam berterima kasih.
"Lo udah ngerjain tugas Fisika belum?" tanya Galih siang itu, sambil mengunyah roti yang ia selundupkan ke kelas.
"Setengah," jawab Reno.
"Bagi dong setengahnya."
Reno mendorong bukunya tanpa banyak kata. Begitulah persahabatan mereka. Sederhana, tanpa beban, tanpa pertanyaan tentang masa lalu.
Pulang sekolah, Reno tidak pernah lewat depan gedung olahraga. Ia mengambil jalan memutar lewat parkiran belakang, walaupun lebih jauh tiga menit. Karena lewat depan gedung olahraga berarti melihat lapangan bulutangkis indoor lewat jendela kaca besar, mendengar bunyi "tok" raket memukul shuttlecock, melihat anak-anak klub berlatih dengan keringat dan tawa. Itu terlalu banyak untuk ditanggung.
Di rumah, hidupnya berjalan dalam pola yang aman dan datar. Pulang, mandi, makan, tugas, main ponsel, tidur. Ibunya, seorang guru SD yang lelah tapi penuh kasih, memperhatikan semuanya tanpa banyak menuntut. Kadang ia berdiri di pintu kamar Reno, ingin berkata sesuatu, lalu mengurungkannya. Reno tahu ibunya menahan banyak kata. Ia juga tahu, di rak ruang tamu, piala-piala lamanya masih dipajang. Ia sudah beberapa kali meminta ibunya menurunkannya. Ibunya selalu menjawab, "Nanti." Dan "nanti" itu tidak pernah datang.
Yang paling Reno hindari di rumah adalah lemari di sudut kamarnya. Di dalamnya, tergeletak tas raket hitam itu. Beberapa kali, biasanya larut malam ketika ia tidak bisa tidur, matanya tertuju ke tas itu. Tangannya gatal ingin membukanya, sekadar memegang raketnya lagi. Tapi setiap kali, bayangan bunyi "krak" itu datang, dan ia menarik selimut, memunggungi lemari.
Suatu sore, ibunya pulang membawa kabar. "Klub bulutangkismu ganti pelatih, Ren," katanya sambil menata belanjaan di dapur. "Garuda Muda sekarang dipegang orang baru. Pelatih Surya pindah ke luar kota. Penggantinya perempuan, katanya galak. Bu Wira namanya. Tante Lastri yang cerita, anaknya ikut klub itu."
Reno hanya mengangguk dari meja makan, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Tapi sesuatu di dalam dadanya bergerak sedikit. Garuda Muda. Klub tempat ia dulu bersinar. Pelatih Surya. Orang yang dulu memeluknya di lantai gedung olahraga. Orang yang menangis diam-diam waktu menjenguknya di rumah sakit. Pergi. Babak itu benar-benar ditutup sekarang.
"Bukan urusanku lagi, Bu," kata Reno akhirnya, lebih dingin dari yang ia maksudkan.
Ibunya berhenti menata belanjaan. Punggungnya menghadap Reno. "Kamu tahu," katanya pelan, "Ibu nggak pernah maksa kamu main lagi. Ibu cuma sedih lihat kamu kayak gini. Bukan karena kamu nggak main bulutangkis. Tapi karena kamu kayak... berhenti hidup."
Kalimat itu menggantung di udara dapur yang harum bawang. Reno tidak menjawab. Ia berdiri, masuk kamar, menutup pintu pelan-pelan.
Di kamar, ia berbaring memandang langit-langit, menghitung retakan kecil di plafon seperti dulu ia menghitung balok besi di gedung olahraga. Kata-kata ibunya berputar. "Berhenti hidup." Ia ingin marah karena tidak setuju, tapi marah butuh tenaga, dan ia bahkan tidak punya tenaga untuk itu.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Reno bangun dari tempat tidur, berjalan ke lemari, dan membuka pintunya. Tas raket hitam itu menatapnya kembali. Ia menyentuh ritsletingnya. Jemarinya gemetar. Lalu ia menariknya kembali, menutup lemari, dan kembali ke tempat tidur.
Belum. Belum saatnya. Mungkin tidak akan pernah ada saatnya.
Ia tidak tahu bahwa esok lusa, seseorang akan datang dan menolak menerima kata "tidak akan pernah" itu.