Bu Wira datang ke kelas Reno tanpa diundang, pada Rabu siang yang panas, lima menit setelah bel istirahat berbunyi.
Reno baru saja menutup kotak bekalnya ketika seorang perempuan berperawakan tegap berdiri di depan pintu kelas. Rambutnya diikat ketat ke belakang, kaus olahraga berkerah dengan logo klub yang Reno kenal terlalu baik. Wajahnya tidak ramah, tidak juga galak, tapi tegas seperti garis lapangan. Matanya menyapu kelas, lalu berhenti tepat di pojok belakang, tepat di wajah Reno, seolah ia sudah tahu persis di mana harus mencari.
"Reno Aditya?" tanyanya.
Seluruh kelas menoleh. Galih, di sebelahnya, berhenti mengunyah.
Reno mengangkat dagu sedikit. "Ya?"
"Saya Wira. Pelatih baru klub bulutangkis Garuda Muda. Bisa ngobrol sebentar di luar?"
Itu bukan pertanyaan, lebih ke perintah yang dibungkus sopan. Reno ingin menolak, ingin bilang ia sibuk, tapi puluhan pasang mata teman sekelasnya membuatnya tidak punya pilihan selain berdiri dan mengikuti perempuan itu keluar.
Mereka berhenti di koridor, dekat jendela yang menghadap lapangan. Bu Wira bersandar ke dinding, melipat tangan.
"Saya udah baca arsip klub," katanya langsung, tanpa basa-basi. "Semua catatan pemain. Termasuk catatanmu. Reno Aditya. Juara satu tunggal putra junior tingkat kota dua kali. Runner-up provinsi. Pemain dengan smash tercepat yang pernah tercatat di klub ini." Ia berhenti. "Lalu cedera bahu. Lalu hilang."
Reno menatap lantai. "Itu masa lalu, Bu."
"Saya nggak peduli masa lalu," kata Bu Wira datar. "Saya peduli sama lapangan saya sekarang. Dan saya butuh pemain."
"Saya bukan pemain lagi."
Bu Wira mengamatinya cukup lama hingga Reno merasa tidak nyaman. "Kamu tahu," katanya, "saya sudah ngobrol sama dokter olahraga kenalan saya. Saya kirim riwayat cederamu. Tahu apa kata dia? Bahumu sudah pulih secara fungsional setahun lalu. Yang belum pulih itu bukan bahumu, Reno. Tapi yang di sini." Ia menunjuk dadanya sendiri, lalu kepalanya.
Reno merasa marah merayap naik, marah yang sudah lama tidak ia rasakan. "Ibu nggak tahu rasanya," katanya, suaranya lebih keras dari yang ia mau. "Ibu nggak tahu rasanya dengar bunyi tulang sendiri patah di tengah lapangan. Ibu nggak tahu rasanya dengerin orang bilang 'nggak ada jaminan kamu balik kayak dulu.' Gampang banget Ibu suruh saya main lagi."
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang melembut di mata Bu Wira. Tapi suaranya tetap tegas. "Kamu benar. Saya nggak tahu rasanya cedera kayak kamu." Ia menarik lengan kausnya ke atas, memperlihatkan bekas luka panjang memanjang di sepanjang lutut kirinya, garis operasi yang sudah pudar tapi jelas. "Tapi saya tahu rasanya dengar dokter bilang karier saya selesai. Saya pemain nasional, Reno. Lutut saya hancur di umur dua puluh tiga. Dan saya menghabiskan dua tahun benci sama diri sendiri, persis kayak kamu sekarang."
Reno terdiam. Ia tidak menyangka.
"Bedanya," lanjut Bu Wira, "saya nggak punya orang yang nyamperin saya dan ngajak balik. Saya harus nemuin jalan itu sendiri, dan itu jauh lebih lama dan lebih nyakitin. Saya nggak mau kamu buang setahun lagi, dua tahun lagi, cuma buat takut sama sesuatu yang udah selesai." Ia menurunkan lengan kausnya. "Saya nggak minta kamu juara. Saya nggak minta kamu jadi yang dulu. Saya cuma minta kamu datang ke lapangan. Sekali. Besok. Sore. Pegang raket. Itu aja. Setelah itu kalau kamu mau pergi, saya nggak akan ganggu kamu lagi seumur hidup."
Reno membuka mulut untuk menolak. Tapi mata perempuan itu menahannya. Bukan mata yang mengasihani, bukan mata yang menuntut. Mata yang pernah tahu rasanya kehilangan hal yang paling dicintai, dan menemukan jalan kembali.
"Cuma sekali," ulang Bu Wira. "Besok sore. Lapangan Garuda Muda. Kalau kamu nggak datang, ya sudah. Tapi kalau kamu datang..." ia berbalik, melangkah pergi, dan tanpa menoleh berkata, "...mungkin kamu nemu lagi sesuatu yang kamu kira udah hilang."
Lalu ia pergi, langkahnya tegap dan mantap, sedikit pincang yang nyaris tak terlihat di kaki kirinya.
Reno berdiri di koridor itu sendirian, jantungnya berdebar dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan. Di bawah, di lapangan basket, anak-anak berlarian dan tertawa. Tapi Reno tidak melihat mereka. Ia melihat bayangan dirinya yang dulu, melompat ke udara, raket berkilau di bawah lampu sorot.
Malam itu, ia tidak tidur. Kata-kata Bu Wira mengganggunya. "Yang belum pulih itu bukan bahumu. Tapi yang di sini."
Pukul dua dini hari, ia bangun, berjalan ke lemari, dan kali ini ia tidak berhenti. Ritsleting tas hitam terbuka dengan suara serak. Di dalam, dua raket lamanya berbaring seperti tertidur panjang. Reno mengeluarkan salah satunya. Grip-nya keras dan dingin. Ia menggenggamnya. Tangannya masih ingat. Tubuhnya masih ingat. Bahkan setelah setahun, jemarinya melingkari grip itu seperti pulang ke rumah.
Ia berdiri di tengah kamar, mengangkat raket itu perlahan. Bahunya berdenyut, sedikit, mengingatkan. Tapi tidak patah. Tidak hancur. Cuma berdenyut.
Esok sore, ia memutuskan, ia akan datang. Sekali saja.