Lapangan Garuda Muda tidak berubah. Bau yang sama menyambut Reno begitu ia membuka pintu kaca, campuran karet, keringat, dan kayu lantai yang dipoles. Bunyi-bunyi itu, "tok" raket, decit sepatu, teriakan pendek antar pemain, semuanya menghantamnya sekaligus seperti gelombang. Untuk sesaat ia ingin berbalik dan pergi.
Tapi ini bukan tempat asing. Inilah Garuda Muda, klub yang sama tempat ia dulu bersinar bersama Pelatih Surya, lapangan tempat ia mengukir setiap gelar yang sekarang berdebu di rak rumahnya. Hanya pelatihnya yang berganti; tembok, garis, dan baunya masih ingatannya sendiri. Reno tidak pindah ke mana-mana. Ia pulang.
Bu Wira sudah melihatnya dari ujung lapangan. Ia tidak melambai, tidak tersenyum lebar, hanya mengangguk seolah sudah memperkirakan Reno akan datang. "Lapangan tiga," katanya. "Pemanasan dulu. Lima belas menit. Jangan langsung pukul keras."
Anak-anak klub lainnya menoleh. Beberapa wajah yang Reno kenal, beberapa baru. Ada bisik-bisik. "Itu Reno?" "Reno yang dulu itu?" "Kirain udah berhenti." Reno menundukkan kepala dan berjalan ke lapangan tiga, mencoba tidak mendengar.
Pemanasan terasa asing dan akrab sekaligus. Tubuhnya ingat gerakannya, tapi ototnya sudah lupa kebiasaannya. Ia kaku. Bahu kanannya, ketika ia memutarnya pelan, mengeluarkan rasa nyeri tumpul yang sudah ia kenal, alarm tubuhnya yang berkata jangan. Tapi Bu Wira mengawasi dari pinggir, dan rasa malu lebih kuat dari rasa takut. Reno terus bergerak.
Latihan pertama hanya footwork. Tanpa raket. Bergerak ke depan, ke belakang, ke samping, mengikuti aba-aba peluit Bu Wira. Reno kira ini akan mudah. Ternyata setelah lima menit, paru-parunya terbakar dan kakinya gemetar. Setahun tidak berolahraga serius telah mengkhianati tubuhnya. Ia yang dulu bisa bermain tiga set penuh tanpa kehabisan napas, sekarang terengah-engah hanya karena footwork.
"Berhenti," kata Bu Wira setelah Reno hampir tersandung. Ia datang mendekat. "Tubuhmu manja sekarang. Setahun nganggur. Wajar. Kita bangun dari nol." Ia melempar sebuah raket. Reno menangkapnya dengan tangan kiri secara refleks, lalu memindahkannya ke kanan.
"Pukul ke dinding," kata Bu Wira sambil melempar shuttlecock. "Pelan. Saya cuma mau lihat ayunanmu."
Reno menelan ludah. Inilah momennya. Gerakan yang menghancurkan bahunya. Ia mengangkat raket, dan tangannya gemetar. Bukan karena lelah. Karena takut.
"Saya nggak bisa," bisiknya.
"Pelan aja," kata Bu Wira, suaranya tiba-tiba lembut. "Sepuluh persen tenaga. Saya di sini. Kalau sakit beneran, berhenti. Tapi jangan berhenti karena takut sakit."
Reno menarik napas. Ia mengayunkan raket, pelan, hanya menyentuh shuttlecock dengan lembut. Bola itu melayang ke dinding, memantul, jatuh. Tidak ada bunyi "krak". Tidak ada nyeri tajam. Cuma denyut tumpul yang sudah biasa.
Ia melakukannya lagi. Dan lagi. Setiap pukulan adalah negosiasi dengan ketakutannya sendiri. Bahunya berdenyut, mengeluh, tapi bertahan. Keringat menetes ke matanya. Dan di suatu titik, di antara puluhan pukulan pelan ke dinding itu, sesuatu yang sudah lama beku di dalam dada Reno mulai mencair, hanya sedikit.
Latihan itu berlangsung dua jam. Bu Wira tidak menyuruhnya smash, tidak menyuruhnya melompat. Hanya pukulan-pukulan dasar, footwork, peregangan khusus untuk bahu yang ia pelajari dari fisioterapis. Tapi ketika selesai, Reno merebahkan diri di pinggir lapangan dengan tubuh yang remuk dan paru-paru yang terbakar, dan untuk pertama kalinya dalam setahun, ia merasa... hidup. Lelah, sakit, tapi hidup.
"Besok lagi," kata Bu Wira, melempar handuk ke arahnya. "Jam empat."
Reno mau bilang ia cuma janji datang sekali. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Ia mengangguk.
Malam itu di rumah, bahunya nyeri hebat. Ia mengompresnya dengan es, persis seperti yang diajarkan dulu. Setiap gerakan terasa berat. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam kelelahan ini. Bukan kelelahan orang yang menyerah, tapi kelelahan orang yang baru saja melakukan sesuatu.
Ibunya melihat es di bahunya dan tas raket yang tergeletak terbuka di lantai kamar. Ia tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum kecil sambil menutup pintu. Tapi malam itu Reno mendengar ibunya menelepon seseorang di ruang tamu, suaranya bergetar, dan ia tahu ibunya menangis. Menangis bahagia.
Hari-hari berikutnya menjadi siklus baru. Sekolah, lalu lapangan, lalu es di bahu, lalu tidur seperti orang mati. Bu Wira menambah beban perlahan-lahan, sangat hati-hati. Lima persen tenaga jadi sepuluh, jadi dua puluh. Pukulan dinding jadi reli pelan dengan partner. Rasa takut tidak hilang, tapi mengecil setiap hari, ketika bahu yang ia kira akan patah lagi ternyata terus bertahan.
Tapi ada satu hal yang belum Reno coba. Smash. Lompatan. Gerakan yang dulu menghancurkannya. Setiap kali Bu Wira mendekati topik itu, Reno mengalihkan pembicaraan, dan Bu Wira, dengan kesabaran yang mengejutkan, tidak memaksa.
"Pelan-pelan," katanya. "Smash itu nanti. Tubuhmu dulu yang kuat. Hatimu dulu yang berani."
Reno tidak tahu kapan ia akan siap menghadapi smash itu lagi. Tapi untuk sekarang, ia datang ke lapangan setiap hari. Dan itu, kata Bu Wira, sudah merupakan kemenangan tersendiri.