Langit Kota Suri bayu pada tanggal 9 Februari 3010 tampak begitu sempurna. Matahari bersinar terik tanpa sehelai awan kelabu pun yang berani melintas.
Bani menyandarkan tubuhnya di bangku kayu Taman Kota Suri bayu, mengawasi istri dan anak perempuannya yang sedang tertawa menikmati es krim. Udara pagi menjelang siang itu terasa hangat dan normal. Terlalu normal, hingga tak ada satu pun warga kota yang menyadari bahwa kewarasan dunia akan segera direnggut dalam hitungan menit.
Tetes.
Satu tetes air sedingin es jatuh tepat di dahi Bani. Ia mendongak, menyipitkan mata menantang matahari yang masih bersinar terang benderang.
Tetes.
Tetes.
Byuur!
Tanpa ada peringatan, tanpa ada awan mendung, hujan deras tumpah begitu saja dari langit yang biru bersih. Airnya turun bagai tirai raksasa yang dijatuhkan dari atas, menghantam aspal taman kota dengan suara memekakkan telinga.
Anehnya, hujan itu terasa tidak wajar. Ada aroma asing yang menguar di udara—seperti perpaduan samar antara logam dan bahan kimia yang terbakar, membuat bulu kuduk Bani seketika meremang.
"Bani! Ayo neduh!" jerit istrinya, setengah berlari sambil menutupi kepala putri mereka dengan tas.
Kepanikan kecil melanda taman. Orang-orang berlarian mencari tempat berlindung. Bani bergegas menarik keluarganya membelah hujan ganjil tersebut, berlari menuju Warung Makan Madi rasa yang terletak tepat di seberang jalan taman.
Warung itu sudah disesaki puluhan orang yang bernasib sama. Mereka mengibas-ngibaskan baju yang basah kuyup, saling melempar tatapan bingung ke arah luar. Di luar sana, hujan menggila, namun sinar matahari masih dengan angkuhnya menyinari setiap rintik air. Sebuah anomali alam yang menentang seluruh hukum sains.
"Cuaca gila," gerutu seorang pria berjaket kulit di sebelah Bani sambil menatap layar televisi tabung di sudut atas warung yang sedang menyiarkan acara musik pagi.
Namun, kegilaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Tepat pukul 08:45,
layar televisi di sudut warung mendadak berkedip hebat. Siaran musik itu terputus, digantikan oleh warna hitam pekat yang diiringi suara statis berfrekuensi tinggi.
Bukan hanya televisi.
Serentak, seluruh layar gawai milik puluhan orang di dalam warung itu menyala dengan sendirinya. LayaR mesin kasir, tablet milik pelayan, hingga ponsel di dalam saku celana Bani bergetar hebat. Sinyal operator mendadak hilang, digantikan oleh sebuah siaran langsung paksa yang meretas paksa setiap piksel layar di ruangan itu.
Bani merogoh sakunya, menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Televisi dan ratusan ponsel di warung itu kini menampilkan visual yang sama persis: sebuah sudut Taman Kota Suri bayu—taman yang baru saja mereka tinggalkan—yang sedang diguyur hujan lebat.
Di tengah-tengah taman, terguyur hujan aneh di bawah terik matahari, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan kemeja putih mahal yang sudah kotor oleh lumpur. Pria itu tampak kebingungan, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah pucat pasi, seolah ia baru saja terbangun dari tidur panjang dan tidak tahu berada di mana.
Lalu, sebuah suara bergema dari seluruh pengeras suara. Dari televisi. Dari ponsel Bani. Dari ponsel pria di sebelahnya. Bersahut-sahutan menciptakan paduan suara elektronik yang janggal.
"Setan berkata..."
Suara itu datar, mekanis, namun memiliki resonansi gelombang yang langsung menusuk masuk ke dasar tengkorak.
"Setan berkata..."
"Setan berkata..."
Suara itu terus mengulang dengan tempo yang konsisten. Sepuluh kali. Lima puluh kali. Seratus kali.
Bani memegangi kepalanya. Ada sesuatu yang salah dengan frekuensi audio itu. Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Rasa mual menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Ia melirik ke sekeliling warung; istrinya sedang memeluk putri mereka sambil menutup telinga rapat-rapat dengan wajah meringis kesakitan. Beberapa pengunjung warung mulai berlutut di lantai, tak sanggup menahan rasa pening yang luar biasa.
Bani menoleh ke arah jendela kaca warung. Matanya terbelalak ngeri. Di trotoar dan halte seberang jalan, puluhan orang dewasa yang gagal menemukan tempat berteduh mulai bertumbangan. Mereka jatuh tergeletak di atas genangan air hujan, pingsan begitu saja seolah-olah kewarasan dan kesadaran mereka baru saja diretas dari otak mereka.
Frekuensi gila itu terus berulang. Menggerus akal sehat.
"Setan berkata..."
Hingga tepat di pengulangan ke-999 kali, suara itu berhenti mendadak.
Hening yang menyusul terasa lebih mengerikan daripada suara itu sendiri. Telinga Bani masih berdenging. Napas pengunjung warung terengah-engah.
Tepat pukul 09:00,
seluruh layar ponsel berkedip lagi. Sebuah notifikasi darurat berwarna merah darah melintas di bagian atas layar:
[BREAKING NEWS: 999 ORANG DILAPORKAN HILANG SERENTAK DI SELURUH PENJURU KOTA SURI BAYU DALAM 15 MENIT TERAKHIR].
Kepanikan di dalam warung pecah. Suara gumaman ngeri dan umpatan terdengar dari setiap sudut. Apa maksudnya 999 orang hilang?
Perhatian Bani kembali tersedot ke layar. Pria kaya berbaju kotor di tengah taman itu kini tampak menyadari sesuatu yang mengerikan.
Pria itu jatuh berlutut, menangkupkan kedua tangan di depan d**a, sujud berkali-kali ke arah kamera yang tidak terlihat. Mulut pria itu terbuka lebar, raut wajahnya dipenuhi teror absolut, memohon-mohon dan menangis sejadi-jadinya.
Namun, tidak ada suara tangisan yang keluar dari layar.
Setiap kali pria itu membuka mulutnya untuk memohon ampun, audio yang keluar dari perangkat justru digantikan oleh suara mekanis yang sama:
"Setan berkata... Setan berkata... Setan berkata..."
Seolah-olah suara asli pria itu telah dibungkam dan diganti secara real-time. Bani menelan ludah. Siapa pria itu? Mengapa dia ada di luar sana? Dan teknologi gila macam apa yang bisa meretas seluruh perangkat di kota ini secara bersamaan?
Sebelum ada yang sempat memproses kegilaan tersebut, layar televisi dan ponsel kembali berubah. Wajah pria yang sedang sujud itu mengecil, tergeser ke bagian atas layar. Di bagian bawahnya, muncul sebuah antarmuka berlatar hitam pekat dengan dua tombol besar yang menyala terang.
[ Y ] dan [ N ]
Di bawah tombol tersebut, tertulis sebuah kalimat dengan tipografi elegan namun menebarkan aura kematian yang kental:
> Apa kalian ingin melihat karya seni termegah sepanjang sejarah umat manusia?
> Silakan tekan [ Y ]. Jika hati nurani kalian menolak, tekan [ N ].
> Pilihan ada di ujung jari kalian. Siaran penciptaan mahakarya ini akan berlangsung selama 12 jam.
> Ingin kebosanan ini cepat berakhir? Setiap ketukan pada tombol [ Y ] akan mempercepat proses pembuatan karya seni saya.
> PERINGATAN: Pukul 21:00 nanti, jauhkan anak-anak dari layar. Karena Setan tidak pernah bermain-main dengan karyanya.
Bani menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Di dalam warung Madi rasa, tidak ada satu pun orang yang berani bersuara. Hujan di luar masih menderu, tapi di dalam, teror baru saja mengetuk pintu kewarasan mereka. Dan kengerian terbesarnya adalah... sebuah jari di sudut warung tanpa sadar bergerak, menyentuh tombol [ Y ].