Kekacauan tidak dimulai dengan ledakan, melainkan dengan keheningan yang mencekam.
Di dalam ruang kerjanya, Komisaris Besar Deni—Kepala Kepolisian Resor Kota Besar (Kapol restu) Suribayu—terpaku di kursi. Secangkir kopi hitam yang baru diseduh dibiarkan mendingin. Tatapan matanya lurus menghadap dinding. Tiga layar di depannya—layar laptop dinas, televisi LED 50 inci yang biasanya menayangkan berita kriminal, hingga layar ponsel pribadinya—mendadak berkedip sinkron.
Sistem keamanan siber kepolisian yang bernilai miliaran rupiah runtuh dalam sekejap.
Layar-layar itu kini memancarkan visual yang sama: sebuah sudut Taman Kota Suribayu. Di sana, di tengah terjangan hujan deras yang entah bagaimana bisa jatuh di bawah langit terik, berdiri seorang pria. Deni langsung mengenali wajah itu. Pria itu adalah salah satu anggota DPR pusat yang sedang melakukan kunjungan kerja di Suribayu. Mengenakan kemeja putih mahal yang kini lekat membalut tubuhnya akibat basah kuyup, sang pejabat tampak linglung, gemetar, dan ketakutan.
Lalu, tombol interaktif itu muncul di bagian bawah layar ponsel Deni. Dua kotak tegas bertuliskan [ Y ] dan [ N ].
Di bawahnya, kalimat dengan tipografi elegan namun dingin merayap pelan:
Apa kalian ingin melihat karya seni termegah sepanjang sejarah umat manusia?
Silakan tekan [ Y ]. Jika hati nurani kalian menolak, tekan [ N ].
Pilihan ada di ujung jari kalian. Siaran penciptaan mahakarya ini akan berlangsung selama 12 jam.
Ingin kebosanan ini cepat berakhir? Setiap ketukan pada tombol [ Y ] akan mempercepat proses pembuatan karya seni saya.
PERINGATAN: Pukul 21:00 nanti, jauhkan anak-anak dari layar. Karena Setan tidak pernah bermain-main dengan karyanya.
Deni menekan tombol power laptopnya berkali-kali. Mati total. Dia mencoba me-reboot ponselnya, namun sistem operasi perangkat itu telah dikunci sepenuhnya dari luar.
"juacok... siapa yang melakukan ini?!" umpat Deni, urat di pelipisnya menegang.
Baru saja dia hendak mengangkat telepon kabel untuk memanggil seluruh personel intelijen, matanya menangkap sesuatu yang mengerikan di sudut kanan bawah layar ponselnya. Ada sebuah indikator persentase voting. Angka itu bergerak seperti argometer gila.
15%...
42%...
78%...
Masyarakat Kota Suribayu yang sedang panik, bingung, dan penasaran di luar sana mulai menekan tombol di ponsel mereka masing-masing. Angka itu meroket tanpa bisa dibendung.
"Semua personel, bersiap! Pakai rompi taktis, kita bergerak ke Taman Kota sekarang juga!" teriak Deni lantang begitu melangkah keluar dari ruangannya, memecah kepanikan yang juga sedang melanda seisi markas komando.
Perjalanan menuju Taman Kota Suribayu adalah definisi dari neraka dunia. Jalanan protokol macet total. Mobil-mobil ditinggalkan begitu saja di tengah jalan karena pengemudinya mendadak pingsan akibat frekuensi suara "Setan Berkata" beberapa menit lalu. Sirine mobil patroli Deni meraung-raung, membelah kerumunan warga yang berdiri di trotoar, semuanya menunduk menatap layar ponsel mereka dengan wajah pucat pasi. Satu kota telah tersihir oleh satu aplikasi peretas yang sama.
Begitu mobil berdecit berhenti di gerbang Taman Kota, Deni langsung turun.
Pemandangan di depannya benar-benar menentang logika sains. Batas antara area kering dan basah terlihat sangat kontras, seolah-olah ada dinding kaca tak kasat mata yang membatasi awan badai. Di luar taman, matahari pagi membakar kulit dengan suhu 35 derajat Celsius. Namun, tepat satu jengkal di dalam area taman, hujan turun begitu lebatnya hingga menciptakan kabut air yang pekat.
Deni melangkah masuk, disusul oleh belasan anggota Brimap yang menodongkan senjata laras panjang. Air hujan yang sangat dingin langsung membasahi seragam dinasnya.
Di tengah-tengah plaza taman, sang pejabat DPR sudah tidak lagi berdiri. Pria paruh baya itu kini bersujud di atas lantai paving yang digenangi air. Dia menangis histeris. Tubuhnya yang tambun berguncang hebat.
Deni menyipitkan mata, mencoba membaca gerakan bibir sang pejabat dari kejauhan. Lewat sela-sela rintik hujan, bibir pria itu bergerak cepat, berulang-ulang: “Saya minta maaf… saya salah… tolong maafkan saya… jangan bunuh saya…”
Namun, kengerian yang sesungguhnya terjadi saat Deni melirik ponsel di tangan kirinya. Suara asli sang pejabat yang memohon ampun sama sekali tidak terdengar di siaran langsung. Audio yang keluar dari speaker ponsel justru suara mekanis yang monoton, dingin, dan konstan:
"Setan berkata... Setan berkata... Setan berkata..."
"Pak..." Sebuah suara bergetar dari kanan Deni. Itu adalah Rita, salah satu personel detektif muda terbaiknya. Wajah Rita pucat, ujung laras senjatanya sedikit turun. "Apa perintah Anda, Pak Deni? Kita... kita harus evakuasi beliau sekarang?"
Deni hendak melangkah maju untuk menarik sang pejabat. Namun, baru satu tapak kakinya bergerak, seluruh bulu kuduk di tubuhnya berdiri tegak. Sesuatu di dalam otaknya—insting bertahan hidup terdalam yang dimiliki manusia ketika berhadapan dengan predator puncak—berteriak histeris:
JANGAN MENDEKAT.
Udara di sekitar taman mendadak terasa berat, seolah-olah tekanan atmosfer di tempat itu melonjak berkali-kali lipat. Aura kematian di sekitar tubuh sang pejabat begitu pekat.
"Siap siaga... Amati dulu keadaan. Jangan ada yang mengambil tindakan gegabah tanpa perintah saya!" bisik Deni dengan suara serak, menahan debaran jantungnya yang berpacu liar.
Tepat pada detik itu, ponsel di tangan Deni bergetar pendek. Angka statistik di layar telah menyentuh batas akhir mutlak.
[ VOTE: 99% YES ]
Masyarakat telah memilih. Mereka ingin melihat pertunjukan dimulai.
Dari arah kegelapan kabut hujan di seberang taman, terdengar suara langkah sepatu yang konstan. Plak. Plak. Plak. Langkah kaki itu terdengar begitu santai di atas genangan air.
Seorang pria bertubuh tegap melangkah keluar dari balik kabut. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, seolah-olah hujan lebat yang mengguyur taman sama sekali tidak bisa membasahi kain pakaiannya. kepalanya memakai helm berbentuk timbangan, dan tangan kanannya menjinjing sebuah koper besi berlogo aneh. Dia berjalan lurus menghampiri sang pejabat DPR yang masih bersujud menderu-deru. Pria berbaju hitam itu adalah eksekutor.
Namun, perhatian Deni langsung teralihkan ketika layar ponselnya mendadak berganti visual.
Gambar taman kota mengecil, digantikan oleh sorot kamera studio berset latar putih bersih yang steril. Di tengah studio itu, duduk seorang pria misterius yang mengenakan baju putih bersih berjas hitam dengan dasi merah darah—setelan yang menyerupai pakaian seorang Hakim Agung.
Hal yang paling mengerikan adalah bagian kepalanya.
Wajah pria itu sama sekali tidak terlihat. Kepalanya dibungkus oleh sebuah helm besi berbentuk timbangan kuno raksasa yang menutup rapat hingga ke leher. Dua piringan timbangan di kiri dan kanan helmnya bergerak naik turun secara seimbang, berderit pelan menimbulkan suara ngilu.
Tepat di bawah dagu sang "Hakim" berhelm timbangan itu, logo Setan Berkata menyala merah, berkedip selaras dengan angka 99% hasil vote yang baru saja diputuskan oleh jemari warga kota. Sang algojo siber telah siap mengetok palu sidangnya.