waktu 09:05 wib
Pisau dapur beradu dengan permukaan talenan kayu, menciptakan ritme konstan yang mengisi kesunyian dapur Bu Tari. Aroma sedap dari tumisan bawang putih dan bawang merah mulai menguar, menari-nari di udara panas yang mengepul dari atas wajan.
Di sebelahnya, tersandar pada sebuah toples kaca berisi garam, layar ponsel Bu Tari menyala terang. Sebuah video dari saluran Gostube sedang berputar, menampilkan seorang koki selebritas yang tersenyum lebar.
"Nah, Bunda, setelah bawang putih dan bawang merahnya layu dan harum, rahasia utamanya ada di sini! Kita masukkan satu sendok teh mentega agar bumbu ayam madu istimewa ini semakin gurih—"
Bzzzt!
Suara ceria sang koki mendadak terpotong oleh distorsi statis yang memekakkan telinga. Layar ponsel Bu Tari berkedip hebat. Warna-warna cerah dari dapur studio Gostube lenyap, digantikan oleh visual yang suram dan kebiruan.
Bu Tari menghentikan ayunan pisaunya. Ia mengusap dahi yang berkeringat dengan punggung tangan, lalu mendengus kesal. "Duh, kenapa lagi sih ini? Beli ponsel mahal-mahal kok baru sebulan udah eror."
Ia mencondongkan wajahnya ke layar. Bukan video masak yang ia lihat, melainkan siaran langsung seorang pria paruh baya berbaju putih basah kuyup yang sedang bersujud di tengah genangan air. Pria itu tampak menangis memohon ampun, tapi anehnya, suara yang keluar dari speaker ponsel Bu Tari sama sekali bukan suara tangisan.
"Setan berkata...
Setan berkata...
Setan berkata..."
Suara mekanis itu menggema datar dari speaker bawah ponselnya, diulang-ulang tanpa jeda. Bu Tari bergidik sesaat, merasa bulu kuduknya berdiri. "Bicara apa sih dia? Mana ada setan ngomong siang bolong begini. Ini pasti gara-gara memori hapenya kepenuhan."
Ia mengulurkan jari telunjuknya yang masih berlumuran sedikit minyak, berniat menutup paksa aplikasi tersebut. Namun, layar itu membeku. Tepat di bawah lutut pria yang sedang bersujud itu, muncul sebuah kotak dialog berlatar hitam dengan dua tombol menyala: [ Y ] dan [ N ].
Di bawahnya, sederet kalimat dengan huruf elegan muncul perlahan:
Apa kalian ingin melihat karya seni termegah sepanjang sejarah umat manusia?
Silakan tekan [ Y ]. Jika hati nurani kalian menolak, tekan [ N ].
Pilihan ada di ujung jari kalian. Siaran penciptaan mahakarya ini akan berlangsung selama 12 jam.
Ingin kebosanan ini cepat berakhir? Setiap ketukan pada tombol [ Y ] akan mempercepat proses pembuatan karya seni saya.
PERINGATAN: Pukul 21:00 nanti, jauhkan anak-anak dari layar. Karena Setan tidak pernah bermain-main dengan karyanya.
Bu Tari membaca peringatan itu sekilas. Otaknya yang sedang sibuk memikirkan takaran mentega menolak untuk memproses makna dari kalimat berbau ancaman tersebut. Baginya, ini hanyalah iklan kampanye konyol atau pop-up spam dari situs bajakan yang sering salah ia klik.
"Ah, kelamaan! Nanti ayamku keburu gosong," gerutunya kesal.
Tanpa beban, tanpa rasa bersalah, dan tanpa tahu bahwa jarinya baru saja berpartisipasi dalam sebuah eksekusi maut, Bu Tari menekan tombol [ Y ] keras-keras agar video tutorial masaknya bisa segera kembali.
Di saat yang sama, sejauh lima belas kilometer dari dapur Bu Tari, udara dingin dari pendingin ruangan berembus stabil di lantai 10 Gedung Perkantoran SCBD Suribayu.
Reno memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Sebagai b***k korporat di sebuah perusahaan e-comerese raksasa, matanya sudah terlalu lelah menatap ribuan baris angka pengeluaran dan pemasukan di apk susah turun. Tenggat waktu rapat evaluasi tinggal tiga jam lagi, dan ia belum menyelesaikan setengah dari laporan akhirnya.
Suara ketikan keyboard dari puluhan kubikal di sekitarnya terdengar seperti hujan mekanis. Namun, tepat pukul 09:05, hujan mekanis itu berhenti serentak.
Satu per satu, layar monitor komputer di ruangan itu berkedip hitam. Termasuk milik Reno.
"Lah? Loh, kok mati?!" Reno membelalak panik. Ia memukul-mukul sisi CPU-nya. "Woi, IT! Ini jaringan kenapa woi?! Komputer gue nge-blank! Data gue belum di-backup, bangs@t! Kalau hilang beneran mati gue disuruh ngetik ulang!"
Seruan kemarahan dan kepanikan serupa mulai meledak dari meja-meja di sekitarnya. Namun, protes mereka langsung terbungkam ketika seluruh layar monitor yang mati tadi menyala kembali secara bersamaan. Kini, puluhan monitor beresolusi tinggi di lantai itu menampilkan wajah seorang anggota DPR yang sedang bersujud di tengah taman yang diguyur hujan aneh.
"Setan berkata...
Setan berkata...
Setan berkata..."
Paduan suara artifisial itu menggema dari setiap speaker komputer, memantul di dinding-dinding kaca kantor, menciptakan harmoni horor yang membuat perut mual.
Reno membeku di kursinya. Belum sempat ia mencerna pemandangan absurd itu, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Diikuti oleh getaran dan nada dering dari puluhan ponsel karyawan lainnya. Bunyi notifikasi darurat itu bersahut-sahutan seperti alarm hari kiamat.
Sebuah headline berita menyala di layar ponsel Reno:
[BREAKING NEWS: 999 ORANG HILANG SERENTAK DI SURIBAYU].
Tapi Reno tidak peduli pada orang hilang. Ia juga tidak peduli pada pejabat yang bersujud di layarnya. Yang ada di kepalanya hanyalah kemarahan karena pekerjaannya tertunda, bayangan bosnya yang akan melempar asbak saat rapat nanti, dan ancaman pemotongan gaji jika laporannya tidak selesai. Keputusasaan korporat telah membunuh empatinya.
Layar komputernya memunculkan dua pilihan yang sama: [ Y ] dan [ N ]. Teks ancaman bergaya elegan itu terpampang jelas, mengejek kewarasan mereka.
"karya apa pasti modelnya kayak coret-coretan bocil! Balikin aplikasi susah turun gue!" umpat Reno kasar.
Dengan gerakan cepat yang dipenuhi amarah, Reno meraih mouse-nya, mengarahkan kursor tepat ke kotak [ Y ], dan mengkliknya dengan keras. Klik!
Di sekelilingnya, suara klik mouse bersahutan. Teman-teman kerjanya melakukan hal yang sama. Mereka semua menekan tombol pengesahan itu dengan satu motif yang seragam: ingin siaran sialan ini cepat berakhir agar mereka bisa kembali bekerja.
Mereka tidak sadar bahwa ketidaksabaran mereka adalah bahan bakar utama bagi iblis yang sedang bermain di balik layar.
Pilihan egois dari Bu Tari, kemarahan Reno, dan kepanikan ratusan ribu warga Kota Suribayu lainnya menjadi aliran data masif yang ditransmisikan dalam hitungan milidetik.
Di layar ponsel Kapolrestu Deni yang sedang berdiri di ambang batas Taman Kota, persentase itu akhirnya menyentuh angka mutlak.
[ 99% YES ]
Siaran di seluruh perangkat—di dapur Bu Tari, di komputer Reno, dan di tangan Deni—langsung berganti. Teks voting itu melebur, luruh menjadi kode-kode merah yang menghilang dari layar.
Kini, layar menampilkan close-up sang DPR yang gemetar ketakutan, menatap ke arah depan. Dari sudut pandang kamera, seorang pria melangkah masuk ke dalam bingkai siaran.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang menyerap cahaya, dibalut kemeja putih dengan dasi merah darah yang kontras. Tangan kanannya dengan santai menenteng sebuah koper besi berlogo timbangan asimetris yang misterius. Tanpa memedulikan guyuran hujan lebat, pria berjas hitam itu berhenti tepat di hadapan sang pejabat.
Di dapur, Bu Tari menahan napas. Di kantor, Reno dan rekan-rekannya lupa untuk berkedip. Di Taman Kota, Deni mencengkeram gagang senjatanya. Seluruh mata di kota itu kini terkunci pada satu layar.
Pria berjas hitam itu berjongkok. Bunyi 'klik' pelan dari kunci koper yang terbuka terdengar menggema ke jutaan telinga, menandakan bahwa tirai panggung telah diangkat, dan mahakarya Setan Berkata akan segera dimulai.