peringatan bab ini mengandung unsur gore mungkin kalau tidak suka jangan di baca
Waktu: 09:10 WIB - 09:25 WIB
Sentuhan itu terasa dingin di pundak sang anggota DPR.
Pria paruh baya yang sedang bersujud menderu-deru itu tersentak. Ia mendongak, menatap sosok tinggi berjas hitam yang kini berdiri di hadapannya. Air mata bercampur genangan air hujan membasahi wajah sang pejabat.
"T-tolong... beri saya kesempatan kedua," ratap sang pejabat, suaranya parau, tangannya bergetar mencoba menggapai ujung celana kain si pria berjas. "Saya akan menyerahkan diri ke polisi sekarang juga! Saya akan akui semua korupsi saya! Tolong jangan bunuh saya..."
Pria berjas hitam itu tidak berkedip. Dia sama sekali tidak mempedulikan ratapan tersebut. Dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, dia membalikkan badannya, menatap lurus ke arah lensa kamera tak terlihat yang sedang menyiarkan wajahnya ke jutaan layar di Kota Suribayu.
Ia meletakkan tangan kanannya di d**a, lalu sedikit membungkuk, memberi salam dengan sangat sopan.
"Halo, masyarakat Suribayu. Maaf atas ketidaknyamanan ini," suara pria itu terdengar lewat speaker ponsel, begitu bariton, ramah, dan tertata rapi. "Terima kasih sudah berpartisipasi di acara live perdana saya ini. Bila di antara kalian ada yang tidak kuat melihat darah atau adegan kekerasan, atau saat ini sedang menonton bersama anak kecil, saya mohon... tolong jauhkan mereka dari televisi. Ambil gawai mereka sekarang."
Pria itu menjeda kalimatnya, merapikan sedikit kerah jasnya yang secara tidak logis sama sekali tak tersentuh oleh air hujan.
"Saya beri kalian waktu tepat sepuluh menit untuk melakukan hal itu. Karena karya seni yang akan saya buat hari ini, akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah Kota Suribayu. Oh, dan satu lagi..." Pria itu terlihat tersenyum tipis di wajah helm hologramnya. "Untuk kalian yang sedang sibuk bekerja, saya tahu saya mengganggu waktu berharga kalian. Saya sudah memasang tombol [ X ] di pojok kanan layar komputer kalian agar kalian bisa melanjutkan pekerjaan. Terima kasih, dan selamat menonton."
Di ambang batas taman, Kombes Deni merasakan seluruh darah di tubuhnya mendidih. "b******k! Dia menantang kita!" teriak Deni. Ia mengangkat pistol pendeknya, mengarahkan moncong senjata tepat ke kepala pria berjas itu. "Semua personel, serbu! Tembak di tempat!"
Namun, tidak ada satu pun anggotanya yang bergerak.
Deni mencoba menarik pelatuknya, tapi persendian jarinya mendadak kaku. Udara di dalam area hujan itu mendadak berubah menjadi sangat padat, seolah-olah mereka sedang berdiri di dasar palung samudra. Tekanan atmosfer di taman itu melonjak gila-gilaan. Setiap kali Deni mencoba melangkah maju, dadanya terasa dihantam oleh beton tak kasat mata, memaksanya untuk membeku di tempat.
"P-Pak Deni... senjata kami... sistemnya terkunci total," bisik Rita dengan wajah membiru, napasnya terengah-engah menahan himpitan udara.
Mereka lumpuh. Otoritas hukum tertinggi di kota itu dipaksa menjadi penonton barisan depan dari sebuah pertunjukan jagal.
Di tengah taman, waktu sepuluh menit telah habis. Pria berjas hitam itu berlutut di dekat koper besinya. Dari dalam ruang penyimpanan yang secara logika terlalu sempit, dia mengeluarkan sebuah kursi lipat besi.
Dengan santai, dia memaksa sang pejabat DPR yang sudah lemas untuk duduk di kursi tersebut. Sebuah gulungan selotip tebal dikeluarkan. Tanpa memedulikan rontaan lemah sang korban, pria berjas itu melilitkan selotip berkali-kali, mengunci pergelangan tangan dan kaki pejabat itu pada rangka kursi besi.
Berikutnya, dia mengeluarkan sebuah tiang infus portabel, lengkap dengan kantung cairan kental berwarna emas pekat yang menyala redup. Pria itu menusukkan jarum infus secara kasar langsung ke vena besar di leher sang pejabat. Begitu cairan emas itu mengalir masuk ke aliran darahnya, mata sang pejabat mendadak terbelalak ngeri. Cairan itu adalah stimulan medis artifisial tingkat dewa: memaksa jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat, mengunci sistem saraf sadarnya di tingkat maksimal agar dia tidak bisa pingsan—atau mati—oleh rasa sakit sedahsyat apa pun.
Pria berjas hitam itu kembali merogoh kopernya. Satu per satu, peralatan konstruksi dan medis dikeluarkan: pisau bedah yang berkilau perak, gunting bedah, palu besar, paku-paku beton, dan sebuah batang besi ulir berkarat sepanjang tiga meter.
"Sudah siap," bisik pria itu pelan.
Menggunakan pisau bedah, dia merobek kemeja putih mahal sang pejabat hingga hancur, lalu menendang sepatunya hingga terlepas. Pertunjukan sesungguhnya dimulai.
Dengan tang lipat, pria itu mulai mencabut kuku tangan sang pejabat satu per satu. Pejabat itu membuka mulutnya lebar-lebar, urat lehernya menonjol hingga nyaris putus, menjeritkan rasa sakit yang mampu merobek langit. Namun, di seluruh speaker televisi dan ponsel warga Suribayu, tidak ada suara jeritan yang terdengar. Hanya ada suara artifisial yang terus berputar:
"Setan berkata... Setan berkata... Setan berkata..."
Setelah sepuluh kuku tangannya habis menyemburkan darah, pria berjas itu mengambil palu besi. Tanpa ragu, dia menghantam jari-jari tangan yang tak berkuku itu hingga gepeng dan hancur berantakan di atas sandaran kursi.
Penyiksaan berlanjut ke tahap yang mengoyak kewarasan. Menggunakan pisau bedah dengan presisi seorang monster, pria itu mulai menyayat kulit pergelangan kaki sang pejabat. Dia mengelupas kulit manusia itu hidup-hidup, menariknya perlahan ke atas layaknya menguliti hewan sembelihan. Daging merah terang yang bergetar hebat terpapar langsung ke udara malam, dikupas habis hingga ke batas paha. Tak berhenti di sana, kedua lengan sang pejabat dari bahu hingga ujung jari juga dikuliti hingga menyisakan untaian otot dan pembuluh darah yang berdenyut ngeri.
Potongan-potongan kulit manusia itu dilipat dengan rapi, lalu dimasukkan ke dalam koper besi.
Puncaknya, pria itu membuat sayatan menyilang yang dalam di d**a sang pejabat. Lapisan daging dadanya dibuka paksa ke kiri dan ke kanan. Di balik tulang rusuk yang kini terekspos, seluruh penonton siaran langsung itu bisa melihat dengan jelas organ dalam yang masih bekerja sempurna—jantung yang berdegup liar, memompa darah yang kini bercampur cairan emas dari infus.
Sebagai sentuhan akhir, pria itu mengambil batang besi tiga meter. Dengan satu hentakan presisi tinggi, dia menusukkan besi itu menembus telapak tangan, paha, dan menghujam rongga d**a—sengaja meleset beberapa sentimeter dari jantung—lalu memaku tubuh yang sudah hancur itu menembus kursi lipat.
Pria berjas hitam itu melangkah mundur. Dia mengambil kain saputangan, mengelap cipratan darah di wajah helm hologramnya dengan tenang, lalu kembali menghadap ke kamera.
"Akhirnya, selesai juga karya seni pertama saya," ucapnya, nadanya terdengar sangat bangga. "Karya ini saya beri nama: Setan Berkata: Duri Duduk di Atas Kursi. Terima kasih banyak sudah setia mengikuti acara pembuatan karya seni pertama saya. Dan... nama saya E-(The Smiling Butcher) . Panggil saja saya, E."
E membungkuk pelan.
Seketika itu juga, layar gawai di seluruh kota mendadak berkedip dan kembali normal. Di saat yang sama, tekanan udara berat di Taman Kota langsung lenyap. Deni dan pasukannya tersungkur jatuh, menghirup oksigen dengan rakus.
"Kejar dia!! Tangkap!!" raung Deni dengan sisa tenaganya, menunjuk ke arah E yang sedang berjalan santai. Deni langsung berlari menerobos paving taman, matanya terkunci pada target. Namun, baru beberapa langkah E menyentuh batas tanah rumput, tubuh pria berjas hitam itu mendadak terdistorsi seperti siaran televisi yang rusak, melebur bersama rintik hujan, dan lenyap ditelan udara kosong.
Di sisi lain, Rita tidak mengikuti komandannya. Insting detektifnya menarik langkahnya mendekati kursi eksekusi di tengah genangan darah. Matanya melebar, tubuhnya gemetar hebat melihat tumpukan daging tanpa kulit yang dipaku dengan besi panjang itu.
Rita melangkah maju, murni untuk memastikan bahwa korban telah tewas. Namun, saat jaraknya tersisa satu meter, Rita menjatuhkan senjatanya. Terdengar bunyi dentang besi beradu dengan aspal.
Rita menutup mulutnya menahan mual yang luar biasa.
Di kursi itu, rongga d**a yang terbuka lebar tersebut... masih bergerak naik turun. Paru-parunya masih mengembang. Jantung di balik tulang rusuk itu masih berdetak kuat, disuplai oleh cairan emas pekat yang terus menetes dari tabung infus.
Sebuah kartu nama putih bertuliskan [ SETAN BERKATA ] tertancap manis di atas daging d**a yang berkedut.
Kelopak mata sang pejabat yang sudah kehilangan kulit wajahnya, mendadak terbuka lambat. Bola matanya yang merah menatap nanar ke arah Rita. Rahangnya yang hanya menyisakan otot merah dan gigi bergemeretak, bergerak susah payah, mengeluarkan suara basah berdahak yang menyerupai gumpalan darah.
"To... long..." suara sang pejabat keluar seperti embusan angin dari tenggorokan yang sobek. "Pang... gil... am... bu... lans..."
Rita jatuh terduduk di atas genangan darah, menyadari kengerian sejati dari Setan Berkata: mereka tidak membiarkan korbannya mati. Mereka mengabadikan penderitaannya.