Waktu: 09:30 WIB
Dunia tidak kembali normal. Meski siaran langsung telah usai, keheningan yang mencekam menyelimuti Kota Suribayu. Di markas kepolisian, di kantor-kantor pencakar langit SCBU, hingga di dapur-dapur rumah warga, orang-orang masih terpaku pada layar gawai mereka yang kini tampak seperti perangkat terkutuk. Udara terasa dingin, bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena rasa takut yang mulai berakar di sumsum tulang.
Belum sempat rasa mual itu hilang sepenuhnya, tepat pukul 09:30 WIB, sebuah notifikasi pop-up muncul serentak di setiap perangkat digital yang tersambung ke jaringan di Suribayu. Tidak ada tanda peringatan. Tidak ada suara denting yang ramah. Hanya bunyi notifikasi darurat yang memekakkan telinga.
Dua file terunduh secara otomatis. Tidak bisa dihapus.
File 1: [ DOSA Duri Duduk di Atas Kursi.pdf ]
Reno, yang tadinya masih terguncang dan muntah-muntah di toilet kantor, kembali ke meja kerjanya dengan langkah gontai. Dia membuka file itu. Matanya yang merah menatap dokumen audit finansial rahasia yang seharusnya tersimpan di brankas negara.
Angka-angka itu terpampang telanjang, berbaris dengan kejam di layar monitornya. Rp 2 Triliun dana bansos yang raib; Rp 4 Miliar dana perbaikan jalan yang hanya menjadi lubang maut bagi pengendara; Rp 10 Triliun dana abadi yatim piatu yang disedot ke rekening luar negeri; dan Rp 6 Miliar dana jembatan kota yang hanya digunakan untuk membangun pondasi bobrok yang retak dalam sebulan.
Setiap angka adalah nyawa. Setiap nol di belakang angka tersebut adalah tangisan anak yatim yang kehilangan masa depan.
Reno yang tadinya merasa bersalah karena telah menekan tombol [Y] saat voting, mendadak berhenti gemetar. Dia menatap layar dengan tatapan kosong, lalu perlahan, sebuah seringai getir muncul di wajahnya. Rasa bersalahnya menguap, digantikan oleh kebencian yang mendidih. "cih kenapa tadi saya menyesal, akhirnya hama di kota saya hilang, ah andai saya bisa nonton ulang mana linknya saya mau tonton ulang." gumam Reno pelan, suaranya parau namun penuh penekanan.
Di sudut lain kota, di dapur yang masih berbau tumisan bawang, Bu Tari juga membuka file tersebut. Dia tidak mengerti istilah ekonomi yang rumit, tapi dia paham satu hal: uang sekolah anaknya yang mahal dan kenaikan harga beras yang mencekik ternyata adalah hasil dari orang yang tadi dia lihat disiksa di layar ponselnya. Bu Tari menjatuhkan ponselnya ke lantai. Dia tidak merasa ngeri lagi. Dia merasa... terwakili. "sukurin kenapa baru sekarang orang yang brani kayak dia"
File 2: [ TAMU ISTIMEWA.gallery ]
Namun, file kedua ini adalah bom waktu yang lebih mengerikan.
File ini berisi galeri foto 998 orang yang hilang dalam kasus misterius yang menghebohkan Suribayu. Foto-foto itu tidak menunjukkan tanda-tanda penculikan atau kekerasan. Sebaliknya, mereka terlihat seperti sedang berada di dalam sebuah hotel bintang lima yang paling mewah di luar kota.
Ada anak yatim, pengangguran, CEO perusahaan raksasa, istri pejabat, ibu rumah tangga, tukang becak, pengemis, hingga nenek dan kakek lansia. Semuanya duduk di meja panjang yang megah, mengenakan pakaian sutra, dilayani oleh pelayan berbaju tuksedo layaknya raja dan ratu. Mereka tertawa, makan dengan lahap, dan tampak sangat bahagia—seolah-olah mereka adalah tamu kehormatan di sebuah jamuan surgawi.
Di bagian paling bawah galeri, terdapat pesan dari Setan Berkata yang menyayat hati:
Mereka semua saya layani seperti raja dan ratu hanya untuk hari ini saja. Mereka tidak menonton siaran langsung tadi karena saya menjauhkan mereka dari kegelapan. Mereka diculik karena mereka pantas mendapatkannya. Biarkan mereka menikmatinya untuk sehari saja.
Nanti malam, pukul 21:00 WIB, mereka akan saya antar pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan utuh.
— TTD. SETAN BERKATA —
Jangan iri, masyarakat Kota Suribayu. Besok, tanggal 19 Februari 3010, siapa tahu giliran kalian yang saya jemput untuk menjadi tamu istimewa.
link siaran ulang : setan berkata.com
Pesan itu menyebar seperti wabah. Di Taman Kota, Deni yang terduduk di samping Rita, membaca pesan itu dengan napas tersengal. Dia menatap mayat pejabat DPR yang masih hidup namun dikuliti di kursi eksekusi, lalu menatap layar ponselnya.
"Rita," suara Deni serak, nyaris tak terdengar. "Mereka bukan sedang menculik orang. Mereka sedang melakukan pembersihan moral kota ini dengan cara yang paling gila yang pernah ada."
Kota Suribayu kini terbelah secara sosial. Setan Berkata telah berhasil menanamkan benih perpecahan yang sempurna.
Di media sosial, perdebatan meledak. Akun-akun anonim mulai memuja sosok E sebagai "Hakim Agung Baru" yang berani melakukan apa yang hukum tak mampu lakukan. Sementara di sisi lain, warga yang masih waras merasa ketakutan setengah mati. Bagaimana mungkin orang-orang yang hilang itu bisa makan dengan tenang di hotel mewah sementara keluarga mereka di Suribayu menangis mencari? Apakah mereka sebenarnya sedang dikuasai? Atau apakah mereka benar-benar menikmati "penculikan" itu?
Setan Berkata telah mengacak-acak psikologi warga. Mereka telah membuat masyarakat Suribayu merasa bahwa mereka adalah bagian dari pertunjukan ini. Masyarakat yang tadinya berteriak menuntut keadilan, kini terdiam karena sadar bahwa mereka telah "memberi izin" kepada E untuk melakukan eksekusi dengan menekan tombol [Y] tadi pagi.
Mereka semua adalah sponsor. Mereka semua adalah eksekutor.
Deni menutup matanya, merasakan pening yang luar biasa. Dia tahu, ini baru awal. Jika besok giliran warga biasa yang dijemput, kota ini tidak akan lagi menuntut keadilan, melainkan menuntut untuk tidak dipilih.
Suribayu tidak lagi memiliki hukum. Suribayu sekarang hanya memiliki "Setan Berkata."
Di tengah kerumunan warga yang mulai mendatangi taman untuk melihat sisa-sisa eksekusi, tak seorang pun yang berani mendekat ke kursi itu. Mereka semua hanya menatap, memotret dengan ponsel, dan berbisik ketakutan.
Hari itu, matahari Suribayu tetap bersinar terik, namun tak ada satu pun orang yang merasa hangat. Mereka semua kedinginan karena sadar, jam dinding di rumah mereka terus berdetak menuju pukul 21:00 WIB, saat 998 orang itu akan dikembalikan.
Atau mungkin, akan terjadi sesuatu yang jauh lebih buruk dari sekadar kepulangan.