Waktu: 09:35 WIB - 09:55 WIB
Sirene ambulans melengking, membelah kemacetan Kota Suribayu yang sedang kacau balau. Begitu ambulans merapat ke titik evakuasi di Taman Kota, Dokter Aris turun dengan langkah yang terasa berat, seolah kakinya terikat rantai besi. Di hadapannya, pemandangan itu melampaui kengerian film horor mana pun.
Kombes Deni berdiri di samping kursi besi itu. Bahunya merosot, wajahnya pucat pasi, dan matanya menatap nanar pada tumpukan daging yang masih berdenyut di depannya. Deni tidak lagi tampak seperti seorang penegak hukum; dia terlihat seperti pria yang baru saja menyaksikan kiamat kecil di depan matanya sendiri.
"Komandan," suara Aris memecah keheningan yang menyesakkan. "Berapa lama dia sudah seperti ini?"
Deni tidak menoleh. Suaranya terdengar hampa, getir, dan kosong. "Sejak si b******n itu pergi. Dia tidak mati, Aris. Dia dipaksa hidup. Bahkan setelah alat-alat mereka kucabut, dia tidak berhenti memohon tolong. Seolah-olah jiwanya tidak diizinkan meninggalkan tubuh busuk itu."
Aris menatap ke bawah. Anggota DPR itu kini tidak lebih dari gumpalan otot yang membusuk di atas kursi lipat. Batang besi itu menancap kaku, menyatukan daging sang pejabat dengan kerangka kursi besi. Aris merasakan perutnya mual, namun dia harus tetap profesional.
"Bisa selamat sampai rumah sakit?" tanya Deni dingin, tanpa secuil pun empati.
Aris terdiam sejenak, memikirkan sumpah yang ia ikrarkan di bawah kitab suci bertahun-tahun lalu. "Saya akan membawanya, Komandan. Tapi jangan berharap banyak. Secara medis, dia sudah bukan manusia lagi. Dia hanya sebuah mesin biologis yang disiksa oleh teknologi."
Setelah petugas medis memindahkan kursi dan tubuh korban ke dalam kabin ambulans yang sempit dan berbau anyir darah, Aris segera masuk. Pintu tertutup, menyisakan Deni yang tetap mematung di tengah hujan yang mulai reda, menatap kosong ke arah kepergian ambulans.
Di dalam kabin, Aris berhadapan langsung dengan "karya seni" tersebut. Kondisinya melampaui batas logika medis. Kulitnya hilang, digantikan oleh jalinan otot yang berdenyut, dan batang besi itu masih menembus dadanya. Cairan emas dari infus terus menetes, mempertahankan detak jantungnya yang justru membuatnya semakin menderita.
"Dok, tekanan darahnya... saya bahkan tidak bisa memasang manset," ujar perawat muda di sampingnya dengan suara bergetar hebat.
Aris menatap wajah korban. Tidak ada kulit, hanya daging merah yang terbuka. Namun, mata itu masih bergerak. Masih menatap.
"To... long... pang... gil... am... bu... lan..." bisik pria itu, suaranya parau, tidak sadar kalau dia sudah berada di dalam kendaraan medis.
Tiba-tiba, suara sirene di telinga Aris meredup. Ruang ambulans yang sempit mendadak meluas, berubah menjadi bayangan masa lalu yang kelam. Tahun itu, Aris masih seorang calon dokter muda. Dia dan istrinya sedang melintasi jembatan tua di atas motor tua mereka. Tiba-tiba, beton di bawah mereka mengerang—sebuah suara retakan yang akan menghantui hidup Aris selamanya. Jembatan itu roboh.
Dunia Aris terbalik. Beton berat menimpa tubuh mereka. Aris terjepit, tak mampu bergerak, namun istrinya—dengan sisa tenaga terakhirnya—mendorong tubuh Aris sekuat tenaga hingga dia terlempar keluar dari reruntuhan jembatan menuju ke sisi sungai yang aman. Istrinya tertimpa beton di bagian pinggang dan tubuh bawah. Dalam nafas yang tersengal di antara reruntuhan, istrinya memegang tangan Aris, senyum getir tersungging di bibirnya yang berlumuran darah.
"Maaf, ya Aris sayang...☺ aku tidak bisa menemanimu lagi. Semangat belajar dan jadilah dokter hebat, suamiku tercinta. Maaf aku tidak bisa menemanimu lagi...☺"
Pesan itu menjadi kalimat terakhir sebelum hening menyelimuti sungai itu. Dan takdir yang kejam memaksa Aris untuk bertemu istrinya kembali di ruang autopsi. Sebagai dokter muda, Aris dipaksa menjadi pemeriksa jenazah istrinya sendiri. Sambil meneteskan air mata, Aris membedah d**a wanita yang paling dicintainya, mengambil serpihan beton dari rongga dadanya, sementara pikirannya terus menjeritkan 'kenapa'. Kenapa jembatan yang seharusnya aman bisa membunuh satu-satunya alasan dia hidup?
"Dokter Aris! Fokus!" teriak perawat, menyadarkannya dari kenangan pahit itu.
Aris tersentak. Bayangan istrinya yang tewas tertimbun beton jembatan roboh mendadak muncul kembali di pelupuk matanya. Pria di depannya ini adalah orang yang menandatangani proyek jembatan itu. Orang yang menukar nyawa istrinya dengan uang dua triliun.
Dia adalah sampah yang seharusnya membusuk di neraka, bisik suara di lubuk hatinya. Jika kau menyelamatkannya, kau mengkhianati air mata yang kau jatuhkan di atas meja autopsi itu, Aris.
Tangan Aris gemetar saat memegang pisau bedah. Egonya sebagai dokter menuntut untuk melakukan tindakan penyelamatan, namun jiwanya sebagai pria yang kehilangan segalanya berteriak agar dia membiarkan pria ini lenyap. Pria di depannya adalah alasan mengapa setiap malam Aris pulang ke rumah yang dingin dan kosong.
"Dok, dia kejang lagi! Cairan emas ini... semakin banyak masuk ke sistem sarafnya!" teriak perawat.
Aris melihat monitor. Detak jantung pria itu 180 kali per menit. Dia sedang disiksa oleh hidupnya sendiri. "Dia ingin mati, Dok," bisik perawat itu, matanya menatap Aris dengan arti yang dalam. "Ini bukan lagi pasien. Ini adalah siksaan yang kita perpanjang."
Aris menatap pisau bedah di tangannya. Dia memejamkan mata, memanggil bayangan wajah istrinya sekali lagi untuk memohon maaf sebelum dia mengambil keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
"Jika saya menyelamatkannya," Aris berbisik pada dirinya sendiri, suaranya kini dingin dan penuh determinasi, "saya hanyalah b***k dari aturan. Tapi jika saya mengakhiri ini, saya akan menjadi manusia yang berani mencabut nyawa iblis."
Pukul 09:55 WIB.
Ambulans membelah gerbang rumah sakit dengan kecepatan yang membahayakan. Aris dan perawat segera berlari mendorong stretcher menembus koridor UGD menuju ruang operasi. Tepat saat mereka berada lima meter di depan pintu ruang operasi yang terbuka lebar, aliran cairan emas di selang infus itu tersendat. Gelembung udara terakhir meluncur masuk ke dalam vena sang pejabat.
Tiba-tiba, tubuh yang sudah tak berkulit itu menegang hebat. Organ dalamnya—jantung yang sedari tadi berdetak liar karena stimulan artifisial—mendadak berhenti bekerja. Tekanan yang selama ini ditahan oleh cairan emas itu lenyap.
BUUM!
Bukan ledakan besar seperti bom, melainkan ledakan tekanan biologis. Jantung dan organ dalam sang pejabat meledak dari dalam, menyemprotkan darah dan sisa cairan emas ke dinding koridor rumah sakit, ke baju putih Aris, dan ke lantai yang bersih. Tubuh itu lunglai, benar-benar mati, tepat di depan ambang pintu ruang operasi.
Perawat di samping Aris terjungkal, napasnya tersengal menahan syok. Aris sendiri tidak berkedip. Dia menatap tumpukan daging yang kini diam tak bernyawa di lantai. Di dalam dadanya, Aris merasakan beban yang selama setahun ini menghimpitnya mendadak longgar. Dia tidak menjadi pembunuh, dia tidak menjadi eksekutor, dia hanya saksi dari keadilan yang begitu kejam namun sangat tepat sasaran.
Aris memutar badannya, berjalan meninggalkan tumpukan daging itu di lantai tanpa menoleh sedikit pun. Dia berjalan keluar rumah sakit, membiarkan darah koruptor itu menempel di jas putihnya sebagai noda yang tidak akan dia cuci. Hari ini, dia bukan lagi dokter yang terikat aturan. Dia adalah pria yang akhirnya bisa bernapas lega.