Waktu: 13:00 WIB
Suribayu tidak lagi memiliki rasa takut yang seragam. Ketakutan itu kini telah bermutasi menjadi ketergantungan yang obsesif. Di koridor rumah sakit yang sesak, di stasiun kereta yang ditinggalkan sepi oleh para pekerja, hingga di dapur-dapur rumah warga yang berbau debu, "hadiah" itu muncul secara serempak.
Bukan notifikasi digital, melainkan sebuah kotak kayu hitam berukuran telapak tangan yang muncul secara misterius. Tidak ada kurir, tidak ada suara denting. Kotak itu seolah tumbuh begitu saja dari lantai atau meja di rumah warga. Teksturnya terasa dingin dan aneh—memiliki pori-pori yang halus, seperti kulit manusia yang telah disamak dengan sangat teliti. Di atas tutup kotak itu, tertanam dua tombol fisik yang kontras: satu berwarna emas murni dengan ukiran [Y] yang halus, dan satu lagi berwarna perak berkarat yang tajam dengan ukiran [N].
Bagi warga yang tuna rungu, netra mereka yang kabur, atau mereka yang menderita bisu, kotak itu seolah hidup. Sebuah getaran frekuensi rendah muncul, merambat melalui ujung saraf. Begitu tersentuh, sebuah suara—bukan dari luar, melainkan bergaung langsung di dalam tempurung kepala—membisikkan kalimat yang mengiris kesunyian mereka: "Apakah kau ingin sembuh dari kutukan yang mengikat tubuhmu?"
Di sebuah rumah petak di pinggiran kota yang lembap, Pak Darta, pria tua penderita katarak total selama sepuluh tahun, gemetar hebat. Jari-jemarinya yang keriput meraba permukaan kotak itu. Selama satu dekade, dia hanya mengenal dunia lewat suara dan rabaan. Dia adalah beban yang selama ini ditanggung anak-anaknya dengan napas berat.
"Siapa di sana?" tanyanya dengan suara parau ke sudut ruangan yang kosong. Tidak ada jawaban, kecuali bisikan di dalam otaknya yang terus berulang: Tekan [Y] jika kau ingin melihat dunia untuk terakhir kalinya. Tekan [N] jika kau lebih memilih membusuk dalam kegelapan. Rasa putus asa bertahun-tahun yang terkubur akhirnya meledak. Dengan satu gerakan pasti, jarinya menekan [Y].
Di sudut lain kota, di sebuah apartemen yang sederhana, gadis kecil bernama Rara menatap tombol itu dengan air mata yang membanjiri pipinya. Dia terlahir bisu, dunia baginya adalah film bisu yang menyesakkan. Ibunya yang melihat itu hanya bisa mematung, ketakutan setengah mati. Bagi sang ibu, kotak itu adalah artefak iblis.
"Jangan, Rara! Itu jebakan!" teriak ibunya, suaranya pecah karena panik. Namun, Rara tidak peduli. Dia sudah terlalu lelah menjadi penonton di dunianya sendiri. Dia menekan [Y].
Lima menit kemudian, pintu rumah mereka diketuk dengan sangat sopan. Di depan pintu, berdiri dua perawat dengan seragam putih bersih yang tampak memancarkan aura steril, lengkap dengan logo RS Equilibrium Medika di d**a kiri—sebuah timbangan emas yang seimbang sempurna, dengan satu sisi berisi tetesan darah dan sisi lainnya berisi kelopak bunga lotus yang indah.
Perawat yang berdiri di depan, seorang pria dengan tag name Bastian, tersenyum hangat. Itu bukan senyum palsu yang dibuat-buat, melainkan senyum empati yang menenangkan.
"Selamat siang, Ibu. Apakah benar ini kediaman dari Ibu Mirna, orang tua dari ananda Rara? Jika benar, kami dari RS Equilibrium Medika. Sistem kami mendeteksi bahwa ananda Rara telah terdaftar melalui sistem dukungan kesehatan kami."
Ibu Rara memeluk putrinya erat, tubuhnya gemetar hebat. "Kalian siapa?! Polisi! Tolong! Ini penipuan, kan? Anak saya tidak butuh disembuhkan oleh orang-orang gila seperti kalian!"
Bastian sedikit membungkuk, menunjukkan gestur hormat yang tulus. "Kami mengerti kekhawatiran Ibu. Ini bukanlah penipuan. Ananda Rara telah mendapatkan perawatan medis gratis yang disponsori oleh donatur kami, Setan Berkata. Kami hanya menjalankan tugas untuk menjemput pasien."
Bastian menatap mata ibu itu dengan tatapan yang sangat tulus. "Jangan sedih atau malu, Bu. Ibu telah berjuang sangat keras selama ini. Ibu hebat sebagai seorang ibu. Kami hanya ingin membantu meringankan beban yang Ibu pikul sendirian."
Kalimat itu seperti mantra yang menghantam pertahanan sang ibu. Rasanya sangat manusiawi.
"Jika Ibu tidak percaya," Bastian melanjutkan, "Ibu sangat diperbolehkan untuk ikut menemani ananda Rara di RS Equilibrium. Kami menyediakan fasilitas ruang tunggu keluarga yang nyaman. Ibu bisa melihat sendiri bagaimana prosedur medis kami berlangsung. Kami menjamin keselamatan dan kenyamanan Ibu dan ananda."
Ibu Rara menatap ambulans hitam yang terparkir di depan. Itu bukan ambulans rongsokan. Itu adalah sebuah mahakarya teknologi medis, dengan cat yang berkilau di bawah terik matahari, tampak lebih canggih daripada unit gawat darurat manapun di negara ini.
"Ini... ini sungguhan?" tanya sang ibu lirih, harapannya mulai mengalahkan logika.
"Sungguh, Bu," jawab perawat bernama Sari dengan senyum yang tenang. "Kami di sini untuk menyembuhkan apa yang selama ini dianggap mustahil oleh rumah sakit lain. Mari, Bu. Kita tidak ingin membuang waktu emas ananda Rara."
Di pusat kendali bawah tanah yang megah, T - (The Digital Tyrant) ,dan menatap layar raksasa yang menampilkan ribuan titik koordinat. Kotak-kotak itu mulai ditekan tombol [Y]-nya secara beruntun.
"Target merespons dengan sempurna, S," lapor T - (The Digital Tyrant) melalui *mic*. "Mereka tidak lagi melihat kita sebagai monster. Mereka melihat kita sebagai Tuhan baru. Antrean di RS Equilibrium sudah melampaui kapasitas normal, namun tim perawat kita bekerja dengan efisiensi robotik."
S (The Puppeteer), yang berdiri di depan layar besar, menyeringai. "Manusia itu sederhana, T. Mereka tidak butuh kebenaran, mereka hanya butuh solusi untuk penderitaan mereka. Begitu mereka masuk ke dalam sistem kita, mereka bukan lagi manusia. Mereka adalah aset yang sudah tertanam kode-kode rahasia di dalam saraf mereka. Mereka akan menjadi saksi hidup bahwa Setan Berkata adalah satu-satunya penyelamat di kota yang sekarat ini."
Hari itu, matahari Suribayu perlahan mulai turun, namun ambulans-ambulans hitam terus bergerak tanpa henti. Membawa mereka yang putus asa ke ruang operasi paling canggih yang pernah ada.
Pukul 18:00 WIB.
Kota Suribayu kini benar-benar terbelah. Di satu sisi, warga kaya dan pejabat meringkuk di balik pintu baja karena ketakutan akan eksekusi, sementara di sisi lain, warga yang selama ini diabaikan oleh negara justru berdoa agar "Setan Berkata" datang menjemput mereka untuk sembuh.
Dan di balik tirai kegelapan, jarum jam terus berdetak. Detik demi detik terasa seperti ayunan pisau algojo. Menuju pukul 21:00. Saat 998 orang yang Hilang akan dikembalikan, bersamaan dengan "kelahiran kembali" orang-orang yang telah ditebus dosanya melalui meja operasi Equilibrium Medika.
Suribayu tidak lagi memiliki hukum. Suribayu tidak lagi milik manusia. Suribayu kini hanyalah panggung teater, dan pertunjukan utamanya baru saja dimulai. Sang Sutradara telah memastikan tidak ada yang boleh beranjak dari kursinya.