Waktu: 20:55 WIB
Suribayu menahan napas. Udara malam terasa padat dan mencekam. Di seluruh penjuru kota, dari perumahan elite yang dijaga ketat hingga kawasan kumuh di pinggiran rel kereta, lampu-lampu rumah dimatikan. Pintu-pintu dikunci rapat berlapis baja dan kayu, namun di balik setiap jendela, sepasang mata mengintip dari balik tirai yang terbuka sedikit.
Mereka menunggu. Janji itu terngiang di kepala setiap orang. Tadi pagi, mata mereka dipaksa menyaksikan eksekusi brutal seorang pejabat yang dikuliti hidup-hidup di atas kursi penyiksaan. Namun malam ini, paradoks paling gila dalam sejarah Suribayu akan terjadi.
Satu hal yang pasti: jarum jam tidak peduli pada ketakutan manusia. Ia terus berdetak.
Waktu: 21:00 WIB
Keheningan jalanan aspal Suribayu dipecahkan oleh suara halus mesin-mesin V8. Bukan mobil polisi, bukan pula truk tentara. Melainkan iring-iringan panjang mobil mewah berwarna hitam legam—Rolls-Royce, Bentley, dan Mercedes-Maybach—tanpa pelat nomor, membelah jalanan kota bagai hantu yang elegan.
Mobil-mobil itu memisahkan diri ke berbagai arah. Salah satu sedan Rolls-Royce berhenti tepat di depan mulut gang sempit di Kampung Melati.
Warga yang mengintip menahan napas saat pintu mobil terbuka. Seorang pria paruh baya melangkah turun. Itu Pak Bandi, kuli angkut pasar yang masuk dalam daftar 999 orang hilang. Namun, dia tidak kembali dalam kondisi compang-camping atau penuh luka siksaan.
Pak Bandi mengenakan setelan tuksedo sutra yang dijahit khusus, rambutnya tersisir rapi dengan pomade mahal, dan wajahnya memancarkan rona kebahagiaan yang belum pernah ada seumur hidupnya. Di tangannya, ia membawa kotak pendingin elegan dan sebuah tas kertas berlogo butik perhiasan ternama.
Istrinya berlari keluar rumah sambil menangis histeris, menabrak suaminya dan memeluknya erat, memeriksa apakah ada anggota tubuh yang hilang.
"Bapak! Ya Tuhan, Bapak nggak diapa-apain?!" jerit sang istri.
Pak Bandi tertawa, tawa yang sangat renyah dan lepas. "Bapak nggak diapa-apain, Bu. Bapak malah dilayani seperti raja. Mejanya panjang sekali, makanannya enak, pelayannya membungkuk hormat sama Bapak." Pak Bandi membuka kotak pendingin itu, memperlihatkan potongan daging wagyu kualitas tertinggi dan beberapa botol s**u impor. Lalu, ia mengeluarkan kalung emas murni dari tas kertasnya. "Mereka bilang, ini kompensasi karena dunia terlalu keras sama kita. Mereka memanusiakan Bapak, Bu. Tidak seperti mandor pasar yang tiap hari meludahi bapak."
Dari balik jendela-jendela tetangga, ketakutan mulai menguap, digantikan oleh emosi lain yang jauh lebih purba: Rasa Iri.
Marni, tetangga sebelah rumah yang suaminya pengangguran, menggigit bibir hingga berdarah. Matanya menatap daging wagyu dan kalung emas itu dengan lapar. Tadi pagi dia ketakutan setengah mati melihat siaran langsung penyiksaan Setan Berkata, namun malam ini, perutnya melilit karena cemburu. Kenapa bukan suamiku yang diculik? Kenapa nasib Bandi tiba-tiba jadi sebaik ini?
Di seluruh sudut kota, 999 adegan serupa terjadi secara serempak. Kepulangan yang terlalu sempurna. Kemewahan yang memabukkan. Setan Berkata menepati janji mereka tanpa syarat, tanpa cacat.
pukul: 21:15 WIB
Keajaiban tidak berhenti pada tamu VIP. Di titik-titik lain, ambulans-ambulans hitam milik RS Equilibrium Medika kembali memasuki pemukiman warga miskin.
Di depan rumah petak Ibu Mirna, pintu ambulans terbuka. Gadis kecil itu, Rara, melompat turun. Ia tidak lagi menatap kosong. Matanya berbinar cerah.
"Mama!"
Suara itu bening. Melengking dan jernih. Ibu Mirna yang sedang berlutut di teras membeku. Selama delapan tahun sejak Rara lahir, tidak pernah ada satu silabel pun yang keluar dari mulut putrinya. Namun kini, Rara berlari dan memeluknya.
Di rumah lain, Pak Darta yang buta total selama sepuluh tahun, kini berdiri di depan pintu rumahnya sambil menangis tersedu-sedu menatap wajah cucunya yang baru pertama kali ia lihat.
Bastian dan Sari, dua perawat dari Equilibrium, hanya membungkuk hormat dengan senyum hangat yang sama. Saat keluarga Rara dan Pak Darta berusaha memberikan uang saku sebagai rasa terima kasih, Bastian menolaknya dengan lembut.
"Ini murni hadiah dari donatur kami, Ibu, Bapak," ucap Bastian tulus. "Setan Berkata hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak kalian: kesehatan dan kebahagiaan. Selamat beristirahat."
Ambulans itu pergi, meninggalkan keajaiban yang mengubah lanskap kepercayaan. Ibu Mirna, yang siang tadi meneriaki perawat itu sebagai pembunuh, kini tersungkur di atas aspal kotor. Ia bersujud sambil menangis meraung-raung, bukan kepada Tuhan yang biasa ia panjatkan doa, melainkan sebagai bentuk penyerahan diri pada sosok yang memberinya keajaiban.
Tetangga-tetangga yang tadinya diam, perlahan keluar dari rumah mereka. Mereka melihat Pak Darta yang bisa melihat, mereka mendengar Rara yang bisa bernyanyi. Mereka ikut berlutut, mengusap air mata haru.
Bagi mereka, peduli setan apakah Setan Berkata itu pembunuh berdarah dingin atau psikopat. Negara, pemerintah, dan rumah sakit resmi tidak pernah menyembuhkan anak mereka. Setan Berkata melakukannya hanya dalam hitungan jam. Di jalanan aspal yang kumuh itu, sebuah pengkultusan lahir secara organik. Tuhan baru kota ini telah bangkit.
pukul: 21:30 WIB
Di markas besar Kepolisian Suribayu, udara terasa sangat pengap. Deni berdiri kaku di depan layar monitor raksasa yang menampilkan heat map pergerakan media sosial dan ratusan rekaman CCTV warga sipil.
Di layar, tagar #TerimaKasihSetanBerkata memuncaki trending topic hanya dalam waktu dua puluh menit, menghancurkan tagar #TerorisSuribayu hingga tak bersisa.
Video demi video warga yang menangis sujud syukur menyebar bak virus. Di kolom komentar, ribuan orang mengetikkan doa dan permohonan keputusasaan:
"Setan Berkata, tolong culik aku besok. Aku rela."
"Tolong kirimkan kotak [Y] ke rumahku, ibuku kena kanker p******a stadium akhir."
"Mereka bukan pembunuh! Mereka membunuh pejabat korup agar uangnya bisa dipakai mengobati kita! Hidup Setan Berkata!"
Reno, yang duduk di sudut ruangan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Mereka... mereka benar-benar memuja monster itu, Den. Masyarakat kita memihak pada si pembunuh."
Deni menekan pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya nanar menatap layar. Ia tidak melihat ada warga yang dicuci otaknya dengan alat medis. Ia tidak melihat ada ancaman senjata dari pihak musuh.
Yang ia lihat jauh lebih mengerikan dari itu semua. Setan Berkata baru saja menjatuhkan bom nuklir psikologis.
Mereka menghancurkan moralitas warga bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kebaikan ekstrem yang absolut. Dengan satu gerakan, Setan Berkata membelah Suribayu menjadi dua: Warga yang menuntut operasi dan kemewahan, melawan pemerintah dan kepolisian yang kini dianggap sebagai iblis sesungguhnya karena mencoba menghentikan keajaiban tersebut.
Deni menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Malam ini, Suribayu tidak dihancurkan oleh peluru. Suribayu runtuh oleh sepotong daging wagyu, sebuah pita suara yang sembuh, dan rasa iri yang bersarang di d**a jutaan manusianya.
Aparat penegak hukum telah kalah sebelum perang benar-benar dimulai. Mereka kini bukan lagi pelindung masyarakat, melainkan musuh dari kebahagiaan rakyatnya sendiri.