Waktu: 10 Februari – 18 Februari 3010
Suribayu tidak lagi memiliki ruang publik yang nyata. Kota yang dulunya bernapas dengan kebisingan pasar, klakson kendaraan, dan tawar-menawar harga, kini telah mati secara fisik namun meledak secara digital. Kota itu kini telah dipindahkan sepenuhnya ke dalam satu genggaman: Tuk Tek. Aplikasi berbagi video pendek itu bukan lagi sekadar platform hiburan atau pelarian waktu luang; ia telah berevolusi menjadi pusat saraf dari sebuah keruntuhan sosial yang sistematis. Selama sembilan hari, dari tanggal 10 hingga 18 Februari, Tuk Tek menjadi satu-satunya tempat di mana warga Suribayu "hidup" dan "bernapas". Jika kau tidak ada di Tuk Tek, kau tidak dianggap ada di kota ini.
Di tengah hiruk-pikuk algoritma yang dipenuhi video-video "mukjizat" dan "teror", Reno duduk terpuruk di depan layar komputer di kamar apartemennya yang pengap. Matanya merah padam, kantung mata menghitam layaknya orang yang dirasuki iblis. Dia adalah satu dari segelintir orang yang menolak untuk menelan pil manis "Setan Berkata". Dengan jari yang gemetar dan keringat dingin yang membasahi kening, Reno kembali mengunggah potongan video eksekusi pejabat yang di-crop sedemikian rupa, diberi narasi tajam tentang bahaya manipulasi, dan diunggah dengan hashtag yang kini mulai tenggelam dan dianggap sebagai sampah oleh mayoritas warga: #TerorSuribayu.
"Kalian semua gila? Apakah kalian sudah kehilangan kewarasan?!" gumam Reno lirih, hampir menangis saat membaca ribuan komentar pedas di videonya. Ponselnya tak henti-hentinya bergetar, seolah hidup. Notifikasi masuk setiap detik, menciptakan simfoni kehancuran mental. Akun anonim: 'Siapa lo ngatur-ngatur hidup orang? Iri bilang bos! Mereka pahlawan, lo pecundang!' atau komentar lain yang lebih mengerikan: 'Berhenti jadi provokator, Reno. Gue butuh operasi itu buat anak gue! Kalau lo menghalangi kesembuhan anak gue, gue cari lo sampai lubang semut!'
Reno menyadari satu kebenaran yang mengerikan: dia sedang melawan arus jutaan orang yang sudah terlanjur jatuh cinta pada "Setan Berkata". Dia bukan lagi dianggap sebagai pembela kebenaran atau jurnalis amatir yang kritis; dia dianggap sebagai penghalang bagi kebahagiaan orang banyak. Ketakutan mulai menyergapnya. Bukan lagi takut pada Setan Berkata, melainkan takut pada tetangganya sendiri, pada rekan kerjanya, pada semua orang yang kini memandangnya sebagai musuh publik.
Di sisi lain kota, bayu—pria yang delapan hari lalu hanya ingin berteduh di warung kopi bersama keluarganya dan masih menyimpan sisa ketakutan dari malam mencekam itu—kini merasa dunianya terbelah di dalam rumah sendiri. Bayu duduk di sofa tua yang mulai berdebu, menatap istrinya, Sari, yang terpaku pada layar ponsel tanpa berkedip. Sari tidak lagi memasak makanan bergizi, tidak lagi mengurus anak mereka dengan telaten, dia hanya duduk mematung, terus-menerus melakukan scrolling di Tuk Tek. Bau amis sisa makanan di meja makan seolah mencerminkan membusuknya akal sehat rumah tangganya.
"Bu, matikan ponselnya. Tolong," pinta Bayu pelan, suaranya parau karena putus asa.
Sari tidak menoleh. Matanya berkaca-kaca, menatap sebuah video yang sedang viral: video Ibu Rara yang bernyanyi jernih setelah "kesembuhan" ajaibnya dari bisu. "Mas, lihat ini. Rara bisa bernyanyi. Setan Berkata memberikannya suara. Kenapa kamu malah melarangku melihat harapan? Apa kamu cemburu pada kebaikan mereka?"
Bayu menelan ludah. Hatinya mencelos. Dia melihat ke luar jendela, ke arah lingkungan perumahannya. Seluruh kawasan itu perlahan berubah menjadi kuil pemujaan digital. Tetangganya, Pak RT, baru saja memasang spanduk besar di pagar rumahnya dengan cat merah yang mencolok: 'Kami Menunggu Perintah Setan Berkata'. Bayu gemetar. Mereka tidak lagi takut pada polisi; mereka tidak lagi percaya pada hukum. Mereka hanya takut jika "Setan Berkata" tidak menganggap mereka pantas untuk "dipilih" berikutnya.
Tuk Tek menjadi panggung utama di mana rasa iri dan syukur bertemu dalam satu titik nadir yang gelap.
Pada hari ketiga, perang itu mencapai titik didih. Sebuah video dari Ibu Rara yang menangis sesenggukan sambil memeluk kotak kayu hitam misterius milik Setan Berkata menjadi video dengan engagement tertinggi sepanjang sejarah aplikasi tersebut. Di kolom komentar, ribuan orang memohon hal yang sama dengan nada putus asa: "Culik aku. Sembuhkan aku. Aku milikmu, ambil saja aku." Itu bukan lagi doa kepada Tuhan, itu adalah penyerahan diri kepada entitas yang baru saja membunuh seorang pejabat di depan mata mereka.
Namun, puncak dari kehancuran logika kota itu terjadi pada tanggal 15 Februari.
Dr. Aris, seorang dokter yang sangat dihormati di Suribayu, mengunggah sebuah video berdurasi 60 detik di akun Tuk Tek miliknya. Dia tidak mengenakan jas laboratorium yang kaku seperti biasanya, melainkan pakaian santai di rumahnya. Wajahnya tampak lelah, namun matanya menatap kamera dengan otoritas yang tak terbantahkan.
"Saya telah memeriksa 999 pasien yang kembali dari RS Equilibrium Medika," ucap Dr. Aris tenang. "Secara medis, kesembuhan mereka adalah mukjizat yang tidak bisa dijelaskan oleh buku kedokteran mana pun. Saya bukan orang yang percaya takhayul, tapi saya percaya pada hasil. Jika Setan Berkata adalah teroris, maka teroris mana yang memberikan kesembuhan gratis bagi mereka yang dibuang oleh negara? Terima kasih, Setan Berkata. Anda telah melakukan tugas yang tidak sanggup dilakukan oleh hukum kita."
Video itu menjadi final nail in the coffin. Begitu seorang tenaga medis, sosok yang dianggap sebagai pilar kebenaran dan nalar, memberikan validasi, tembok keraguan warga Suribayu runtuh total.
Tuk Tek meledak.
Reno yang masih berusaha menyebarkan #TerorSuribayu kini bukan hanya dikucilkan, tapi mulai di-doxxing. Alamat apartemennya, nomor teleponnya, bahkan foto wajahnya disebarkan oleh massa yang marah. Mereka menuduh Reno sebagai "penghalang kedamaian". Reno mulai menerima ancaman kematian di kolom komentar, pesan pribadi, bahkan ada yang mengirimkan foto pintu apartemennya dengan tulisan ancaman. Tuk Tek tidak lagi menjadi tempat diskusi; itu adalah medan eksekusi sosial.
Ibu-ibu kompleks yang tadinya saling bertegur sapa di grup w******p, kini bertengkar hebat. Yang pro-"Setan Berkata" membuat grup khusus bernama 'Pasukan Penunggu 19 Februari'. Mereka mulai mencatat siapa saja tetangga yang "tidak setia" atau yang menyebarkan konten #TerorSuribayu. Suasana perumahan yang dulu harmonis kini penuh dengan tatapan curiga. Setiap gerak-gerik dianggap mencurigakan.
Bayu, yang mencoba tetap netral, akhirnya dipaksa memilih. Istrinya, Sari, telah masuk ke dalam kelompok yang menginginkan "jamuan" berikutnya. "Mas, kalau kita tidak ikut memuji mereka, mereka tidak akan memilih kita. Kamu mau anak kita terus begini? Kita butuh bantuan mereka!"
Suribayu kini telah menjadi kota yang secara sadar menunggu untuk "dijemput". Masyarakat tidak lagi menuntut keadilan hukum. Mereka menuntut untuk diculik. Mereka menuntut untuk disembuhkan. Mereka menuntut untuk menjadi bagian dari pertunjukan ini.
Pada malam tanggal 18 Februari 3010, tepat pukul 23:59, suasana kota berubah menjadi sunyi senyap yang tidak wajar. Tuk Tek tidak lagi dipenuhi oleh video-video keluhan atau perdebatan kusir. Tidak ada lagi komentar di kolom-kolom video. Semua orang terdiam, terpaku menatap layar ponsel mereka masing-masing, menunggu denting notifikasi yang akan menentukan nasib mereka.
Reno, yang kini bersembunyi di sudut gelap kamarnya, mematikan notifikasi ponselnya yang terus berbunyi karena ancaman. Dia menatap kalender di dinding. 19 Februari 3010.
Dia tahu, "Setan Berkata" tidak akan lagi datang dengan kebaikan semu. Tanggal 19 bukan lagi soal jamuan makan atau kesembuhan medis. Tanggal 19 adalah babak di mana Setan Berkata akan menagih janji atas pemujaan dan loyalitas yang telah mereka berikan selama sembilan hari terakhir. Kebaikan itu hanyalah umpan, dan sekarang, kailnya telah tertancap dalam.
Di ruang kendali bawah tanah yang dingin dan steril, S (The Puppeteer) tersenyum lebar menatap dasbor Tuk Tek yang menunjukkan jutaan orang sedang standby, menatap layar dengan mata berkaca-kaca menanti perintah pertama.
"Mereka sudah siap, T," ucap S dengan suara yang tenang namun dingin, penuh kepuasan. "Mereka sudah kehilangan akal sehat mereka. Mereka bukan lagi warga negara yang punya prinsip. Mereka bukan lagi individu. Mereka adalah b***k yang sedang menunggu tuannya memberikan perintah pertama. Suribayu adalah milik kita sepenuhnya."
Layar di seluruh penjuru Suribayu, dari ponsel murah di tangan kuli pasar hingga layar mahal di kantor CEO, berkedip serempak. Jam menunjukkan tepat tengah malam. Pertunjukan kedua akan segera dimulai, dan kali ini, tidak ada satu pun orang yang bisa bersembunyi. Suribayu telah menyerahkan kuncinya, dan Setan Berkata siap untuk menguncinya selamanya. Tidak ada jalan kembali bagi mereka yang telah memilih untuk sujud.