Waktu: 11 Februari 3010 | 09:00 WIB
Suribayu pagi itu terasa berbeda. Udara yang menggantung di atas kota seolah lebih berat, membawa aroma sisa hujan dan kecemasan yang tertahan. Di Kantor Kepolisian Resor Kota Suribayu, rutinitas tetap berjalan, namun di bawah permukaan, ada rasa tidak nyaman yang menyelimuti setiap sudut ruangan. Para petugas administrasi tampak lebih pucat, dan suara mesin ketik yang biasanya ritmis kini terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur menuju kehancuran.
Tepat pukul 09:00 WIB,
pintu kaca depan kantor polisi berderit terbuka. Seorang pria paruh baya mengenakan seragam oranye yang kusam masuk dengan langkah gontai. Tidak ada yang menaruh curiga. Pria itu hanyalah seorang tukang pos tua yang tampak lelah dengan beban tas kulit di pundaknya. Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di meja piket, meminta tanda tangan penerimaan, lalu berlalu pergi. Ia tidak tahu bahwa benda yang ia antar adalah surat kematian bagi ketenangan kota ini.
Amplop itu mendarat di meja Kapolrestu Deni tak lama kemudian. Deni, yang sudah tidak tidur selama dua hari, membuka segelnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Kertas di dalamnya bertekstur kaku dengan kaligrafi yang elegan, mencerminkan ketenangan yang mengerikan dari si pengirim. Deni membacanya dengan napas tertahan:
Kepada Yth. Kapolrestu Suribayu,
Kami memohon maaf atas segala kekacauan yang terjadi belakangan ini. Untuk itu, izinkan kami memberikan sedikit keringanan beban kerja Bapak. Pada tanggal 19 Februari 3010, akan terjadi sebuah 'anomali' yang serupa dengan peristiwa tanggal 9 Februari yang lalu. Lokasinya sudah kami siapkan dengan matang: Halaman Museum Kota Suribayu.
Kami dengan hormat mengundang Bapak Kapolrestu beserta seluruh jajaran untuk hadir mengamankan tempat kejadian perkara. Kami sangat berharap Bapak bisa memperkuat pengamanan di sana agar 'karya seni' kedua kami tidak terganggu oleh pihak luar. Namun, jika Bapak berkenan, kami juga menyediakan kursi VIP di barisan depan bagi Bapak, agar Bapak bisa menonton langsung bagaimana kami bekerja dari jarak yang sangat dekat. Jangan khawatir, kami menjamin kenyamanan Bapak.
Kami menunggu kehadiran Bapak.
— Setan Berkata —
Pada saat yang bersamaan, ribuan meter dari kantor polisi, di ruang kontrol utama tiga stasiun televisi nasional yang menjadi tulang punggung informasi Suribayu, kekacauan terjadi. Semua monitor di ruang redaksi berkedip serempak, berubah menjadi layar biru yang dingin. Sebuah file bernama PEMBERITAHUAN.pdf muncul di setiap terminal kerja. Staf IT yang panik segera membukanya, berharap menemukan virus atau kode perusak. Namun, begitu file itu terbuka dan dibaca, layar monitor berkedip sekali lagi, lalu kembali normal—seolah sistem keamanan tingkat tinggi mereka tidak pernah disentuh sama sekali.
Isi pesan di dalam PDF itu dingin, terukur, dan merendahkan martabat mereka:
Kepada Tim Produksi & Departemen Keamanan Siber,
Kami memperhatikan bahwa sistem keamanan digital Anda belakangan ini sangat rapuh. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, kami memberikan pemberitahuan dini: pada tanggal 19 Februari 3010, tepat pukul 09:00 WIB, siaran Anda akan kembali kami ambil alih untuk keperluan penayangan karya seni terbaru kami.
Kami tidak akan mengambil data kalian. Surat ini cuma sekedar memberitahukan saja di saat nanti tanggal 19 Februari 3010 kalian tidak terkejut seperti tanggal 9 Februari 3010 yang lalu. Terimakasih.
— Setan Berkata —
Waktu: 09:30 WIB
Telepon di meja Deni menjerit nyaring. Direktur Stasiun TV menelepon, suaranya pecah oleh ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Komandan! Kami butuh bantuan kalian!" teriaknya.
Deni memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Apa yang terjadi? Sistem kalian mati lagi?"
"Justru itu masalahnya! Sistem kami sudah normal kembali! Mereka masuk, meninggalkan file, lalu pergi begitu saja seolah sistem enkripsi kami tidak ada artinya bagi mereka! Mereka tidak mencuri data, tidak mengunci server, mereka hanya... menyapa. Tolong, Komandan, perkuat keamanan siber kami. Kami merasa diawasi dari dalam!"
Deni mengertakkan gigi hingga rahangnya sakit. Dia menyadari ini bukan serangan sporadis. Ini adalah permainan catur di mana polisi hanya menjadi pion yang digerakkan. "Tenang. Saya akan lacak IP pengirimnya sekarang."
Deni menoleh ke arah kepala tim siber kepolisian, "Lacak IP-nya! Sekarang! Jangan beri mereka kesempatan menghapus jejak!"
Ruangan rapat yang tadinya hening kini meledak dalam kesibukan. Lima menit kemudian, operator berseru, "Ketemu! IP-nya aktif, Komandan! Lokasinya tiga blok dari sini. Sebuah warnet di jalan utama!"
Waktu: 10:00 WIB
Deni dan pasukan bersenjata lengkap melesat memecah kemacetan Suribayu. Sirine meraung, membelah keramaian warga yang tidak tahu bahwa di balik mobil polisi itu, seorang Kapolrestu sedang berjuang melawan kehancuran mentalnya sendiri. Mereka berhenti mendadak di depan sebuah warnet kusam yang diapit oleh toko kelontong dan bengkel motor.
Deni mendobrak pintu dengan kasar. Suara dentuman pintu yang menghantam dinding membuat para pelanggan warnet yang sedang asyik bermain game berteriak ketakutan dan menunduk di bawah meja.
"Siapa yang pakai komputer nomor 14?!" teriak Deni, senjata terhunus, matanya menyapu ruangan dengan keganasan seorang pemburu yang terluka.
Pemilik warnet, seorang pria gemuk yang berkeringat dingin, menunjuk ke sebuah bilik di pojok ruangan dengan jari gemetar. "B-bapak... tidak ada orang lain di sini. Cuma bocah itu, Pak. Dia sewa sejak buka jam 08:00 pagi sampai sekarang belum beranjak sama sekali."
Deni berlari, kakinya menghentak lantai kayu warnet yang berderit. Ia menarik tirai bilik tersebut dengan paksa. Di kursi itu, seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun duduk diam, menatap layar yang menampilkan game motor F2 yang sedang di-pause. Wajah anak itu datar, polos, seolah dia tidak menyadari bahwa ia baru saja menjadi pusat dari operasi kepolisian terbesar tahun ini.
Deni memeriksa komputer itu dengan napas yang memburu. Tangannya menari di atas keyboard, mencari jejak data, namun yang ia temukan hanyalah dinding batu—semua alamat IP adalah palsu, dialihkan berkali-kali ke berbagai server di luar negeri sebelum mendarat di sini. Deni merasa dipermalukan. Memorinya kembali ke masa lalu, ke sosok "E", pelaku teror pertama yang pernah menghancurkan kariernya sebelum ini.
Deni kehilangan kendali. Ia menepuk meja komputer itu dengan keras, wajahnya memerah padam. "Siapa sih kamu, E?! Keluar kau! Jangan main-main denganku!"
Suara Deni menggema di seluruh ruangan warnet yang sunyi. Namun, alih-alih jawaban dari E, kursor di layar bergerak sendiri. Jari-jari Deni membeku saat kalimat itu diketik perlahan di depan matanya:
"Itu bukan ulah saya, Pak Deni. Tapi Setan Berkata."
Hening. Kematian mendadak seolah mampir di ruangan itu.
Detik berikutnya, suasana warnet pecah. Orang-orang yang tadi ketakutan kini berdiri dari kursi mereka. Rasa takut berubah menjadi campuran antara kengerian dan kekaguman yang ganjil. Mereka bukan lagi warga yang terancam; mereka adalah penonton yang merasa sedang melihat legenda hidup. Sebagian mengeluarkan ponsel, merekam adegan tersebut. Sebagian berbisik dengan nada takjub, "Wah... itu dia... Setan Berkata..."
Deni jatuh terduduk di kursi operator. Kekuatannya seolah tersedot habis. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Setan Berkata tidak perlu meretas sistem secara fisik untuk menanamkan rasa takut; mereka hanya perlu memastikan bahwa mereka bisa masuk kapan pun mereka mau, membuat polisi tampak tidak berdaya di depan publik yang mulai memuja mereka.
Deni menatap layar komputer itu sekali lagi, yang kini menampilkan pesan terakhir sebelum sistem mati total:
"Jangan lelah, Pak Kapolrestu. Pertunjukan baru saja dimulai."
Deni sadar, kepolisian sudah tidak punya kendali. Mereka bukan lagi mengejar pelaku kriminal. Mereka sedang menari di atas panggung yang disusun oleh seorang jenius tanpa wajah, seorang dalang yang kini sedang disaksikan oleh ribuan pasang mata yang diam-diam menantikan "karya seni" berikutnya. Suribayu telah jatuh, dan polisi hanyalah figuran dalam drama yang tak mungkin mereka menangkan.