Waktu: 19 Februari 3010 | 09:00 WIB
Langit Suribayu pada pagi itu tampak begitu sempurna. Matahari bersinar terik, membalut kota dengan cahaya keemasan yang hangat dan menipu. Di luar area Museum Kota, udara panas menyengat, membuat keringat menetes di pelipis siapa saja yang berdiri di bawah terik. Namun, begitu pandangan beralih ke halaman museum yang luas, atmosfer berubah total secara drastis. Sebuah kubah anomali seolah menutupi area itu. Hujan deras tumpah bagai tirai raksasa, menghantam aspal dan pepohonan dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Airnya terasa berbeda—dingin yang menusuk tulang, membawa aroma logam yang samar, seolah langit sedang memuntahkan limbah kimia dari dimensi lain. Suara itu seakan menyerap segala bentuk harapan di sekitar halaman.
Kapolrestu Deni dan pasukannya berdiri di balik barikade, senjata terhunus, namun tangan mereka gemetar. Mereka tidak tahu harus menembak ke mana. Musuh mereka bukanlah orang bersenjata, melainkan hukum alam yang sedang dirusak. Warga yang berkerumun di balik garis polisi tidak lagi berteriak panik atau histeris seperti saat insiden tanggal 9 Februari lalu. Mereka diam mematung, berdiri dengan ponsel di tangan, menatap layar dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara ketakutan murni, trauma yang terpendam, dan rasa penasaran yang gelap dan memuakkan. Cahaya biru dingin yang memancar dari layar ponsel justru membuat wajah-wajah pucat para warga terlihat semakin mengerikan di bawah sinar matahari pagi.
Tepat pukul 09:00 WIB,
semua ponsel di area itu bergetar serempak. Frekuensinya menggetarkan udara di sekitar mereka. Sebuah notifikasi darurat berwarna merah darah muncul di layar setiap warga Suribayu:
[BREAKING NEWS: 999 ORANG DILAPORKAN HILANG SERENTAK DI SEKITAR AREA MUSEUM DALAM 15 MENIT TERAKHIR]
Seorang mahasiswa di barisan depan hanya menghela napas panjang, matanya hampa. Ia bergumam pelan pada temannya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan, "Sudah dimulai. Polanya sama persis. Hitungan 999 orang, lalu eksekusi. Mereka tidak pernah berubah."
"Ya," sahut temannya, matanya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan live feed dari kamera tersembunyi di dalam halaman museum. "Sekarang kita lihat, siapa yang akan dijadikan 'karya seni' kali ini. Apakah itu akan menjadi pertunjukan yang layak ditonton?"
Tepat di saat itu, gerbang samping museum terbuka dengan suara engsel yang berderit nyaring.
Dokter Adrian melangkah masuk. Jas putihnya yang bersih tampak mencolok, kontras dengan latar belakang kabut hujan yang kelabu. Namun, tidak ada binar kesadaran sedikit pun di matanya. Adrian berjalan dengan langkah yang diseret, tatapannya kosong, seperti seseorang yang sedang mengalami trance mendalam atau berjalan dalam tidur. Kepalanya menunduk, bahunya merosot, dan mulutnya bergerak tanpa suara, sesekali bergumam kecil yang tidak terdengar. Ia tampak seperti seseorang yang sedang mendengarkan perintah gaib yang hanya bisa ia dengar sendiri, sebuah melodi yang menuntunnya menuju altar pengorbanan.
"Dokter Adrian! Berhenti! Jangan masuk ke sana!" teriak Kapolrestu Deni dari balik barikade, suaranya parau dan penuh frustrasi. Ia mencoba melangkah maju, namun rekan-rekannya menahan lengannya.
Adrian tidak bereaksi. Ia terus berjalan, melintasi garis batas yang memisahkan dunia terang dan hujan anomali di dalam. Begitu kakinya menyentuh tanah halaman museum, air hujan yang dingin dan deras membasahi tubuhnya seketika, tapi Adrian tidak menggigil. Ia bahkan tidak menyeka air yang mengalir di wajahnya, membiarkannya bercampur dengan keringat dingin. Ia terus melangkah menuju pusat halaman dengan gerak-gerik robotik yang tidak manusiawi.
"Dokter Adrian, balik kanan! Sekarang!" Deni kembali berteriak, namun suaranya seolah terpental oleh dinding hujan yang tebal.
Adrian berhenti tepat di tengah halaman. Ia mendongak perlahan, menatap langit kelabu yang hanya ada di atas area museum itu saja. Matanya yang sayu mengerjap perlahan, mencoba memproses realitas di hadapannya. Pikirannya masih mengambang di antara mimpi dan kenyataan. Ia tidak tahu mengapa ia berada di sana, ia tidak tahu siapa orang-orang di balik barikade itu, dan ia tidak tahu bahaya apa yang menantinya. Ia hanya merasa dipanggil oleh sesuatu yang tak terlihat. Di depan jutaan pasang mata yang menyaksikan lewat siaran live, sang dokter bedah itu tampak seperti boneka yang kehilangan benang kendalinya, menunggu tangan sang dalang untuk digerakkan.
Lalu, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di seluruh area museum, berasal dari pengeras suara yang entah terpasang di mana:
"Selamat datang di babak pertama, Dokter. Pasien Anda sedang menunggu."
Tiba-tiba, wajah Adrian yang linglung di layar ponsel seluruh warga mengecil, tergeser ke sudut kiri atas. Di bagian tengah layar, muncul sebuah antarmuka yang sangat bersih dan elegan. Pemandangan itu begitu indah sekaligus menjijikkan.
[ APAKAH KALIAN INGIN MELIHAT KARYA SENI KEDUA 'SETAN BERKATA'? ]
Di bawah pertanyaan itu, dua tombol besar terpampang dengan desain minimalis namun mematikan: [ Y ] dan [ N ].
Sebuah teks berjalan muncul di bawahnya, memberikan instruksi yang membuat siapa pun yang membacanya merasa seolah sedang memegang takdir seseorang di ujung jari mereka:
> Waktu tersisa: 12 jam.
> Jika dalam 12 jam tidak ada suara yang masuk, saya akan pergi dan pertunjukan ini berakhir di sini.
> Namun, jika kalian memilih [ Y ], maka karya seni akan segera dimulai.
> Ini bukan setingan. Ini bukan permainan komputer. Ini adalah kenyataan.
> Pilihan ada di ujung jari kalian. Apakah kalian penonton yang haus akan keindahan, atau pengecut yang membuang kesempatan?
> Keriuhan yang tadinya pecah di luar gerbang museum mendadak senyap. Ribuan pasang mata menatap layar ponsel mereka masing-masing dengan napas tertahan. Waktu mulai berjalan mundur: 11:59:59.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang menekan. Masyarakat Suribayu terdiam, terjebak dalam dilema moral yang dipaksakan. Mereka bukan lagi individu, melainkan gerombolan yang terikat oleh kutukan digital yang sama. Mereka sadar sepenuhnya, satu ketukan saja pada tombol [ Y ], dan mereka resmi menjadi kaki tangan dari "Setan Berkata". Mereka bukan lagi sekadar penonton; mereka adalah eksekutor.
Namun, kesunyian itu mulai retak. Ketakutan akan kehilangan hiburan, rasa penasaran yang memuakkan, dan sisi gelap manusia yang selama ini terkubur mulai bergejolak. Deni menatap layar ponselnya sendiri dengan tangan gemetar. Dia tahu, dalam hitungan jam atau bahkan detik, kesunyian ini akan pecah oleh ribuan jari yang gatal untuk menekan tombol [ Y ].
Pertunjukan telah dipasang. Panggung telah disiapkan. Dan sekarang, waktu 12 jam itu menjadi neraka bagi siapa pun yang memiliki hati nurani. Mereka diberikan kesempatan untuk memilih, tapi di dalam lubuk hati mereka, mereka tahu bahwa mereka akan memilih untuk melihat darah. Suribayu telah jatuh, dan polisi hanyalah figuran dalam drama yang tak mungkin mereka menangkan. Penantian dimulai, dan detak jam itu terasa seperti lonceng kematian yang berbunyi perlahan di telinga setiap warga kota, menandai dimulainya hitung mundur menuju tragedi yang tak terelakkan.