Waktu: 19 Februari 3010 | 12:00 WIB
Di tengah halaman Museum Kota Suribayu, hujan anomali itu terus menggila. Namun, Dokter Adrian tidak bisa pergi ke mana-mana. Efek dari rintik air yang ganjil itu seperti meretas keseimbangannya. Ia terjebak, bergerak memutar dan berjalan berputar-putar di tengah lapangan terbuka tanpa arah yang jelas. Setiap kali ia mencoba melangkah lurus untuk kabur, tubuhnya secara otomatis berbelok, memaksanya terus berputar di bawah siraman air es yang dingin.
Lebih mengerikan lagi, setiap kali sol sepatunya menginjak genangan air, suara mekanis "Setan Berkata" menggema dari langit-langit kubah anomali. Suara itu tidak hanya terdengar di telinga Adrian, tapi juga tersiar langsung ke ponsel seluruh warga, menghitung dosa sang dokter di setiap pijakannya.
Plak.
setan berkata "Satu langkah... untuk perut seorang ibu miskin yang kau sobek asal-asalan demi menatap putaran mesin slot onlinemu."
Adrian terkesiap. Napasnya memburu. Ia mencoba membalikkan badan, berbelok ke arah gerbang, namun kakinya melangkah kembali ke dalam putaran.
Plak.
setan berkata "Dua langkah... untuk anak-anak malang yang kau jadikan tikus laboratorium tak berharga demi jurnal medis bodohmu."
Tubuh sang dokter bergetar hebat. Air hujan menampar wajahnya, tapi keringat dingin lebih mendominasi. Ia melangkah lagi dengan panik.
Plak.
setan berkata "Tiga langkah... untuk para lansia yang kau cabut nyawanya dari ranjang ICU, sekadar demi uang pelicin VIP yang menggiurkan."
Gerakan memutar yang konstan dan rentetan suara yang menggema itu mulai memicu sesuatu di dalam kepalanya. Pusaran air di tanah dan kilatan cahaya matahari yang menembus hujan perlahan membuka paksa kotak pandora di otaknya. dokter Adrian sedang dipaksa "melihat". Di setiap sudut pandangnya yang berputar, halusinasi maut mulai bangkit.
Ia seperti melihat bayangan mayat-mayat yang diawetkan berdiri mengelilinginya di tengah lapangan. Ada instalasi mengerikan di hadapannya: seorang wanita hamil dengan perut terbelah, seorang anak kecil dengan bekas jahitan kasar di d**a, dan seorang lansia dengan tabung oksigen yang kosong.
Sembilan, sembilan, dan sembilan.
Kesadarannya runtuh. Pikirannya ditarik mundur secara paksa ke masa lalu.
[FLASHBACK: 3 TAHUN LALU – RUANG OPERASI RS MATA RUSAK]
Suara monitor detak jantung pasien terdengar ritmis di dalam ruang operasi yang steril. Namun di balik masker bedah mahal itu, fokus Adrian sama sekali tidak tertuju pada tubuh yang sedang dia bedah.
Di bawah meja operasi, tangan kirinya yang bebas memegang ponsel dengan posisi tersembunyi. Layar ponsel itu menampilkan animasi slot machine yang berputar penuh warna.
Ding!
"JANCOK, kalah lagi," gumam Adrian pelan dengan nada kesal. Tangan kanannya bergerak asal-asalan, menjahit dinding perut pasien dengan kasar tanpa memedulikan estetika atau prosedur standar. Pasien itu hanyalah seorang ibu dari kalangan ekonomi bawah yang bahkan tak mampu membayar biaya administrasi dasar secara tunai.
Di luar ruangan, keluarga pasien itu menangis, memohon keringanan harga operasi kepada pihak rumah sakit. Adrian tahu situasi itu, dia bahkan bisa mendengar samar-samar suara tangisan mereka dari balik pintu baja ruang operasi. Namun, dia hanya mencibir di balik maskernya. "Mau murah? Pergi ke kuskismis. Di sini nyawa ada harganya."
Keesokan harinya, kontras itu terlihat jelas. Seorang pejabat tinggi masuk ke kliniknya hanya dengan keluhan remeh: pusing akibat kelelahan kerja. Adrian, dengan senyum paling manis dan penuh kepalsuan, memberikan satu botol vitamin mahal secara gratis, ditambah pelayanan kelas satu. Dia bahkan tega mengabaikan antrean tiga pasien gawat darurat yang kritis di koridor hanya untuk memastikan si pejabat merasa mendapat perlakuan "eksklusif".
Sembilan ibu hamil dari warga biasa dia vonis harus dioperasi sesar secara ilegal demi memancing komplikasi medis artifisial, agar dia bisa menagih biaya tambahan yang selangit. Sembilan anak kecil dari keluarga miskin dia jadikan bahan percobaan prosedur bedah baru tanpa izin, demi mengejar publikasi jurnal ilmiah pribadinya. Sembilan lansia dia vonis mati secara sepihak hanya untuk mengosongkan tempat tidur ICU bagi pasien kaya yang sanggup membayar "uang pelicin" ratusan juta.
Dia membunuh mereka semua bukan dengan senjata, melainkan dengan ujung pena, diagnosa palsu, dan ketidakpedulian yang total demi keuntungan pribadi. Baginya, manusia-manusia itu hanyalah angka pelengkap kekayaannya.
Waktu: 12:30 WIB | DI LUAR GERBANG MUSEUM
Deni berdiri di barikade, rahangnya mengeras hingga terasa sakit. Matanya tak lepas menatap layar ponsel di tangannya. Di layar itu, Adrian terlihat masih berputar-putar linglung di tengah lapangan museum. Di sudut antarmuka siaran langsung tersebut, angka voting terus merangkak naik dengan kalkulasi yang dingin.
[ Y ]: 82%
[ N ]: 18%
"Matikan sinyalnya! Putus seluruh akses internet di radius satu kilometer dari museum sekarang!" teriak Deni pada tim IT-nya.
"Sudah dilakukan, Komandan! Tapi sistem voting milik Setan Berkata tidak menggunakan jaringan seluler atau tower biasa! Ini seperti menggunakan transmisi satelit langsung yang memotong semua protokol keamanan kita. Kita tidak bisa memblokirnya!" jawab teknisi siber dengan suara bergetar.
Deni kembali menatap layar ponselnya. Angka itu nyata. Ini bukan manipulasi komputer atau kerjaan akun-akun buzzer. Kolom komentar di siaran live itu dipenuhi oleh ribuan curhatan asli dari masyarakat bawah.
“Dokter Adrian membiarkan ibuku mati di selasar karena kami tidak punya uang deposit 50 juta!”
“Dia memvonis anakku tidak bisa selamat hanya karena kami warga miskin, lalu dia memakai jasadnya untuk eksperimen!”
"Dia... dia bukan korban," bisik Deni dengan suara parau. "Dia monster yang dilindungi sistem."
Seketika itu juga, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor anonim muncul di bagian atas layar ponsel Deni. Isinya membuat darah sang polisi mendidih:
Bagaimana rasanya menjadi anjing pelindung bagi seorang pembunuh, Komandan? Lencana emas di d**a Bapak menjerit menuntut Bapak untuk mendobrak masuk, bukan? Tapi jujurlah pada diri sendiri... hati nurani Bapak berteriak agar pria busuk ini dikuliti perlahan.
Jadi, apa pilihan Bapak? Menjadi pahlawan buta yang mematuhi seragam demi menyelamatkan sampah masyarakat? Atau menutup mata sedetik saja, dan membiarkan rakyat menikmati keadilan yang selalu gagal diberikan oleh hukum kalian yang cacat?
Deni mematung. Tangannya yang memegang senjata terasa berat, nyaris bergetar. Ejekan telak itu menelanjangi dilemanya hingga ke akar. Di belakangnya, kerumunan warga menatap barikade polisi dengan pandangan menuntut. Massa tidak ingin polisi bertindak sebagai pahlawan bagi seorang kriminal medis. Mereka menuntut eksekusi.
Di dalam halaman museum, waktu voting seolah tidak lagi relevan di hadapan keputusasaan. Mayoritas masyarakat di Suribayu telah menetapkan pilihan mereka.
Sebuah suara mekanis kembali menggema dari langit-langit anomali, tersiar jelas melalui speaker jutaan ponsel warga:
"Dokter, masyarakat telah memberikan keputusan mereka."
Tepat saat Adrian yang linglung menghentikan langkah berputarnya mendengar vonis itu, atmosfer di halaman museum mendadak berubah secara drastis.
Dari arah kegelapan kabut hujan di seberang halaman museum, terdengar suara langkah sepatu yang konstan.
Plak.
Plak.
Plak.
Langkah kaki itu terdengar begitu santai di atas genangan air.
Seorang pria bertubuh tegap melangkah keluar dari balik kabut. Pria itu mengenakan setelan jas hitam, celana hitam, kemeja hitam, dan berdasi putih yang sangat rapi, seolah-olah hujan lebat yang mengguyur museum sama sekali tidak bisa membasahi kain pakaiannya. Kepalanya memakai helm berbentuk timbangan, dan tangan kanannya menjinjing sebuah koper besi berlogo aneh. Dia berjalan lurus menghampiri sang dokter.
Deni, yang menyaksikan kemunculan sosok itu dari balik layar ponselnya, merasakan darahnya mendadak membeku. Detak jantungnya berpacu liar saat matanya terpaku pada helm berbentuk timbangan keadilan tersebut. Ingatan masa lalunya tentang teror pertama kota Suribayu langsung menghantam kepalanya.
"Tidak mungkin..." bisik Deni dengan wajah pucat pasi, cengkeramannya pada senjata menguat hingga kuku jarinya memutih. "E... dia kembali."