**Waktu: 19 Februari 3010 | 12:32 WIB**
Sebagai seorang Kapolrestu, Deni tidak dibayar untuk diam mematung meratapi keajaiban yang merusak nalar. Begitu sosok misterius berhelm timbangan itu menginjakkan kaki di halaman museum, insting taktis Deni langsung mengambil alih. Ketakutan dari masa lalunya ditekan habis-habisan oleh tanggung jawab menjaga stabilitas kota.
"Elang Satu, posisikan bidikan. Target di tengah lapangan," perintah Deni dingin melalui *earpiece* komunikasinya. Suaranya stabil, tanpa keraguan. "Eksekusi mati di tempat. Tembak kepala."
Di atas atap gedung seberang museum, seorang penembak jitu terbaik dari satuan khusus mengunci targetnya. Senapan runduk kaliber tinggi bertenaga magnetik sudah terarah sempurna pada titik tengah helm berbentuk timbangan tersebut.
*Klik.*
*DUAR!(m3me3k) *
Suara tembakan berkecepatan supersonik membelah udara siang yang panas di luar barikade. Peluru penembus baja melesat, memotong tirai hujan anomali dengan akurasi mutlak. Target tidak menghindar.
*TING!*
Bunyi dentingan logam yang sangat nyaring bergema. Peluru kaliber besar itu menghantam tepat di pelipis helm timbangan tersebut. Namun, alih-alih meledakkan kepala target, peluru itu mendadak kehilangan momentum kinetiknya seketika—seolah-olah menabrak dinding dimensi yang tak kasatmata—lalu jatuh ke genangan air seperti kerikil tak berharga. Tidak ada goresan, tidak ada retakan, bahkan tubuh pria berjas hitam itu tidak bergeser satu milimeter pun.
**[ POV DENI ]**
Deni menatap layar ponselnya dengan mata melebar. Rahangnya yang terkatup rapat terasa ngilu. Sialan. Tembakan barusan seolah mengejek seluruh latihan taktis dan persenjataan mutakhir yang dimiliki institusinya. Hukum fisika dihancurkan total di dalam kubah itu.
Deni bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, bukan karena takut mati, tapi karena sadar bahwa dia sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa dibunuh dengan peluru. Otoritasnya sebagai aparat penegak hukum terasa lumpuh di hadapan kuasa anomali ini.
Di dalam halaman museum, pria berjas hitam itu terus melangkah tanpa memedulikan tembakan barusan.
*Plak. Plak. Plak.*
Tepat pada langkah ketiga, pria itu berhenti. Jaraknya kini hanya tersisa tiga langkah di depan Dokter Adrian.
**[ POV ADRIAN ]**
Begitu langkah ketiga itu berhenti, kabut halusinasi yang menyelimuti otak Adrian mendadak pecah berkeping-keping. Mayat-mayat imajiner yang mengelilinginya lenyap. Rasa pusing yang meretas keseimbangannya menguap, digantikan oleh kesadaran yang sangat jernih, tajam, dan mengerikan.
Kesadaran itu justru menjadi neraka baru baginya.
Adrian tersentak, napasnya memburu seketika saat hawa dingin dari air hujan benar-benar menusuk kulitnya. Matanya yang tadi sayu kini melebar penuh horor saat menatap sosok tegap berhelm timbangan yang berdiri tegak di hadapannya. Ingatan tentang horor berdarah pada tanggal 9 Februari yang lalu—saat Setan Berkata mengeksekusi korban pertamanya dengan cara yang tak manusiawi—langsung menghantam otaknya seperti godam.
*‘Aku... aku akan dijadikan karya seni berikutnya,’* batin Adrian menjerit histeris. Seluruh kesombongannya runtuh. Gelar dokternya, uangnya, koneksi pejabatnya—semuanya tidak berguna di sini.
*BRUK!*
Tanpa memedulikan harga dirinya lagi, Adrian menjatuhkan lututnya ke genangan air yang kotor. Tubuhnya gemetar hebat. Ia langsung bersujud, menempelkan dahinya ke aspal yang basah, lalu mendongak dengan wajah pucat pasi yang basah kuyup oleh air hujan dan air mata. Matanya bergerak liar, memandangi sekeliling halaman, mencari ke mana arah kamera tersembunyi yang sedang menyiarkan dirinya ke seluruh kota.
"Maaf... Saya minta maaf! Tolong ampuni saya!" jerit Adrian dengan suara serak dan pecah, persis seperti tangisan histeris yang penuh keputusasaan. Ia menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya, memohon-mohon dengan tubuh yang menggigil parah. "Saya mengaku salah! Saya akan kembalikan semua uangnya! Saya akan obati semua orang gratis! Demi Tuhan, jangan bunuh saya... Tolong, siapa pun yang menonton ini, jangan pilih Y! Tolong kasihanilah saya!"
Tangisan dan rintihan Adrian terdengar begitu menyedihkan, mengemis kehidupan egoisnya yang kini berada di ujung tanduk.
**[ POV S ]**
Pria bertanduk timbangan di depannya sama sekali tidak bergerak ataupun merasa iba. Ia perlahan mengangkat tangan kirinya yang bebas, mengabaikan raungan sang dokter. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia mengetuk sebuah perangkat kecil di samping helmnya, lalu menghadap langsung ke arah kamera yang menyiarkan *live feed* ke jutaan ponsel warga.
Ketika ia berbicara, suara yang keluar sangat tenang, berwibawa, dan luar biasa sopan. Suara itu menggema serentak dari *speaker* ponsel seluruh kota Suribayu, memotong suara tangisan Adrian.
> **"Halo, masyarakat Suribayu. Perkenalkan, nama saya S. Panggil saja saya S."**
>
Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan ketegangan merayap di hati setiap orang yang mendengarnya.
> **"Dan... kalau kalian mengira saya adalah 'E' yang dulu... kalian salah besar."**
>
Tepat setelah kalimat itu terucap, S menggerakkan tangan kanannya. Dengan gestur yang sangat elegan dan penuh wibawa, ia merogoh saku dalam jas hitamnya yang tetap kering sempurna di bawah badai. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah tablet digital tipis berwarna hitam pekat dengan tepian benderang.
S tidak mengarahkan tablet itu ke langit, melainkan memutarnya perlahan, menyorongkan layarnya tepat ke hadapan wajah Dokter Adrian yang masih bersujud di atas aspal basah, sekaligus menghadapkannya ke arah kamera siaran langsung.
Di layar tablet tersebut, terpampang jelas visual *live feed* Dokter Adrian yang sedang berlutut, menangis, dan bersujud seperti anjing yang kehilangan arah. Pemandangan yang sangat memuakkan sekaligus menyedihkan. Namun, bagian paling mengerikan terletak tepat di bawah gambar video tersebut. Sebuah angka metrik raksasa berwarna merah darah berkedip-kedip dengan kalkulasi yang terus terkunci mutlak:
**[ Y ]: 99.98%**
**[ N ]: 0.02%**
Hancur. Hancur total. Angka itu adalah bukti nyata bahwa dari jutaan manusia yang hidup di kota Suribayu, hampir tidak ada satu pun jiwa yang menginginkan Dokter Adrian tetap bernapas. Kota itu telah memvonisnya mati.
Suara S kembali terdengar melalui pengeras suara ganjil di langit dan tablet tersebut, terdengar begitu santun namun membawa keputusasaan yang absolut:
> **"Sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh delapan persen seluruh masyarakat Suribayu... mereka telah menetapkan pilihan secara sadar. Suara mereka adalah keputusan mutlak hari ini. Dan atas karya seni yang kalian minta... Saya akan memulai karya seni kedua saya."**
>
Adrian menatap angka 99,98% itu dengan mata melotot, seolah seluruh pasokan oksigen di parunya baru saja direnggut paksa. S perlahan menurunkan tablet digitalnya, memasukkannya kembali ke balik saku jas hitamnya dengan gerakan tenang.
Ia kemudian berjongkok perlahan dengan gestur yang tetap anggun, meletakkan koper besi berlogo aneh yang sejak tadi dijinjingnya tepat di atas genangan air halaman museum. Suara hantaman logam koper dengan aspal basah terdengar begitu solid di tengah kesunyian yang mencekam.
Pria bertanduk timbangan itu kembali berdiri tegak. Namun, alih-alih langsung menyentuh pengunci koper, ia kembali menghadap lurus ke arah kamera yang menyiarkan *live feed*. Suara baritonnya yang luar biasa sopan kembali menggema dari jutaan *speaker* ponsel warga Suribayu, kali ini dengan nada peringatan yang sangat datar dan dingin.
> "Sebelum pertunjukan ini resmi dimulai... saya ingin memberikan satu peringatan penting kepada seluruh masyarakat Suribayu yang sedang menyaksikan siaran langsung ini."**
> S memberikan jeda satu detik, membuat atmosfer di luar gerbang barikade terasa semakin mencekik. Deni di luar sana bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
> "Jauhkan anak-anak di bawah umur dari layar ponsel kalian. Bagi siapa pun dari kalian yang tidak kuat melihat darah, saya sarankan untuk tidak menonton siaran ini. Berbaliklah, dan menjauhlah dari perangkat elektronik apa pun yang saat ini menampilkan gambar *live* saya."**
> Mendengar peringatan itu, bulu kuduk Adrian langsung berdiri. Tubuhnya yang bersujud kini bergetar hebat sampai giginya gemeretak. Ia tahu, apa yang ada di dalam koper itu akan menjadi akhir hidupnya dengan cara yang paling mengerikan.
S tidak memberikan waktu lebih lama bagi warga untuk berpikir. Tangan kanannya bergerak mantap ke arah panel sensor di bagian atas koper besi tersebut.
*BZZZT—KLIK.*
Sistem pengunci mekanis koper itu mendesis pelan, melepaskan tekanan udara dari dalamnya. Tutup koper besi itu perlahan terangkat otomatis, memancarkan bias cahaya ganjil yang langsung menerangi topeng timbangan milik S, tepat sebelum layar siaran langsung di jutaan ponsel warga Suribayu mendadak berkedip merah darah.