**Waktu: 19 Februari 3010 | 12:33 WIB**
Peringatan dingin dari S yang menggema dari langit kubah anomali langsung memicu histeria massal di seluruh penjuru Kota Suribayu. Larangan keras untuk tidak membawa atau memperlihatkan siaran ini kepada anak kecil di bawah umur berubah menjadi kepanikan domestik yang mencekam di setiap rumah tangga. Hujan anomali yang mengguyur kota seolah membawa frekuensi ganjil yang meretas seluruh infrastruktur digital, mengubah sinyal komunikasi menjadi medium penyebar teror psikologis.
"Matikan TV-nya! Cepet matikan!" teriak seorang ayah di sebuah ruang tengah rumah susun yang sempit. Suaranya pecah, dipenuhi kepanikan yang teramat sangat saat melihat layar kaca di depannya mulai berkedip merah darah, memantulkan siluet koper besi milik S yang tampak begitu mengancam.
Ia menekan tombol *power* pada remot berulang kali hingga jarinya memutih, namun gambar S dan koper besinya tetap terpampang nyata di layar, menolak untuk hilang. Dalam kepanikan mutlak demi melindungi mental anaknya yang masih balita, pria itu melempar remotnya ke lantai. Ia merangkak ke belakang bufet kayu yang berdebu, mengabaikan sudut tajam yang menggores lengannya. Dengan napas memburu, ia merenggut paksa kabel daya TV dari stopkontak dinding hingga memercikkan api kecil dan bau hangus. Layar TV tabung itu akhirnya mati pekat.
Namun, neraka asli justru terjadi pada perangkat personal yang bertenaga baterai mandiri. Di kamar sebelah, anak perempuannya menjerit histeris karena ponsel dan laptopnya mendadak mengunci layarnya sendiri pada siaran *live* tersebut. Tombol *shutdown* fisik tidak berfungsi. Dipaksa mati total dengan menekan tombol kombinasi pun tidak bisa. Layar-layar gawai di seluruh kota seolah terinfeksi oleh parasit digital ganjil, memancarkan bias cahaya merah pekat yang meretas paksa pandangan setiap manusia, memaksa mereka menjadi saksi dari keadilan ganjil ini.
Di gang-gang sempit pemukiman padat, ibu-ibu menjerit histeris sambil memeluk anak-anak mereka. Mereka berlari keluar dari dalam rumah, mencoba menjauh dari perangkat elektronik apa pun yang terus menayangkan sosok S dengan koper besinya. Namun sia-sia, setiap sudut kota yang memiliki layar digital—mulai dari papan reklame jalanan hingga jam pintar di pergelangan tangan—semuanya menampilkan visual yang sama.
Masyarakat Suribayu sama sekali belum mengetahui dosa spesifik apa yang telah diperbuat oleh Dokter Adrian hari ini. S belum membocorkannya ke publik. Namun, trauma dan ingatan kolektif tentang teror berdarah tanggal 9 Februari yang lalu sudah cukup menjadi jaminan moral bagi mereka. Di dalam otak jutaan warga yang sedang dicekam ketakutan, hanya ada satu kesimpulan universal yang tertanam: siapa pun yang diseret dan dipaksa berlutut oleh entitas anomali ini, dia pasti adalah monster tak tersentuh yang pantas dihukum mati. Mereka tidak butuh pembuktian hukum formal yang bertele-tele. Mereka tidak butuh penjelasan pasal dari kepolisian. Mereka hanya menginginkan satu hal instan: menekan tombol, mengakhiri ketegangan yang mencekik ini, dan mempercepat karya seni kedua ini dimulai.
**[ POV INTERNAL RS MATA INDAH ]**
Di dalam gedung RS Mata Indah—sebuah monumen medis megah tempat di mana Adrian membangun karier menterengnya demi menjaga citra bersih rumah sakit pusat di suka mars—atmosfer terasa begitu dingin dan menusuk tulang. Bau tajam cairan antiseptik bercampur dengan hawa ketakutan yang pekat di sepanjang selasar bangunan. Di konter perawat lantai tiga, Suster Dita mencengkeram tepi meja resepsionis hingga kuku-kukunya memutih. Matanya menatap nanar ke arah logo megah RS Mata Indah yang terpampang di dinding utama.
Logo itu menampilkan moto kebanggaan mereka dalam guratan huruf emas yang berkilau: *“Siapa pun yang dirawat bakal sembuh.”* Sebuah untaian kalimat yang begitu suci dan menenangkan di mata masyarakat awam yang datang berobat dengan harapan besar. Namun, Suster Dita, Pak Malik selaku Kepala Administrasi Keuangan, dan Heru si petugas *office boy* (OB) tahu betul rahasia busuk dan berdarah di balik logo tersebut. Jika mereka melangkah lebih dekat ke arah emblem emas itu, tepat di bagian paling bawah frame, terdapat tulisan cetak mikroskopis yang ukurannya sangat kecil 🤏 hingga nyaris mustahil dibaca tanpa bantuan kaca pembesar: *“Selama Anda datang membawa uang.”*
Suster Dita ingat bagaimana Adrian sering kali membiarkan pasien miskin terlantar di selasar IGD hingga kondisi mereka kritis, hanya karena jaminan sosial mereka belum divalidasi oleh sistem. Pak Malik memegang semua dokumen digital berisi skandal finansial gelap sang dokter yang selalu ditutupi dengan rapi. Sementara Heru adalah orang yang setiap hari harus membersihkan sisa kemewahan di ruang kerja Adrian yang kontras dengan penderitaan pasien di bangsal kelas tiga. Walau saat ini mereka bertiga belum tahu dosa besar baru apa yang telah diperbuat Adrian hingga diseret ke halaman museum, mereka sangat sadar bahwa pria berjas putih yang sedang bersujud di layar ponsel mereka adalah iblis sejati. Tanpa ada keraguan sedikit pun, tangan ketiga orang dalam rumah sakit itu bergerak serempak menyentuh tombol merah di layar gawai mereka yang tak bisa dimatikan.
*Klik.* **[ Y ]**. Sebuah pilihan mutlak demi mempercepat pertunjukan eksekusi dimulai.
**[ POV KELAS PEKERJA & KORBAN MASA LALU ]**
Di kawasan pasar kumuh ujung Kota Suribayu, udara siang itu terasa pengap oleh bau sayuran membusuk dan tanah yang becek. Pak Bandi, si kuli angkut pasar yang punggungnya sudah membungkuk akibat beban hidup, menurunkan keranjang anyaman bambunya dengan kasar ke atas tanah yang berlumpur. Di sebelahnya, Marni—istri tetangganya yang pengangguran dan biasanya selalu menyimpan rasa iri serta hobi menyebarkan gosip miring tentang keberhasilan Pak Bandi—berdiri kaku dengan tubuh bergetar memandangi genggaman tangannya.
Mereka berdua tidak kenal secara pribadi siapa itu Dokter Adrian, juga tidak paham apa itu jurnal ilmiah atau konspirasi medis tingkat tinggi dengan instansi di Kota suka mars. Namun, sebagai manusia kelas bawah yang setiap hari diperas oleh keadaan, mereka selalu muak melihat orang-orang kaya yang baru bersujud mengemis nyawa setelah posisi nyamannya terusik. Keberadaan Setan Berkata bagi mereka adalah satu-satunya hakim yang tidak bisa disuap oleh uang emas orang-orang kaya.
"Biar cepat dimulai saja. Biar dia tahu rasanya jadi orang susah," desis Marni dengan tatapan dingin, melupakan ego dan rasa irinya pada Pak Bandi demi melihat runtuhnya kesombongan seorang dokter elit.
Di sudut lain Suribayu, Bu Tari, seorang ibu rumah tangga yang sedang berada di dapurnya, meletakkan pisau dapurnya dengan tangan gemetar. Ia menatap nanar ke arah meja makan. Sebagai seorang ibu, nuraninya yang tajam bisa merasakan bahwa pria yang sedang bersujud di layar itu telah menyembunyikan kebusukan besar yang belum terungkap ke dunia.
Dua pasang jempol dari manusia kelas pekerja itu, bersama dengan jari Bu Tari di tempat berbeda, menghantam layar kaca secara bersamaan.
*Klik. Klik. Klik.* **[ Y ]**.
Beberapa kilometer dari area pasar, di sebuah rumah petak beratap seng yang bising oleh hantaman butiran hujan, Pak Darta duduk bersila di atas tikar pandan bersama Ibu Mirna. Kondisi mata Pak Darta kini telah sembuh total dari penyakit katarak kronisnya akibat "hadiah" misterius dari teror pertama tanggal 9 Februari. Di antara mereka, Ibu Mirna sedang memeluk erat tubuh kecil Rara yang gemetar ketakutan. Tangan kecil Rara yang sebelah masih memegang boneka beruang kesayangannya dengan sangat erat, sementara matanya yang polos langsung ditutup paksa oleh telapak tangan kanan ibunya demi mematuhi larangan keras dari siaran langsung tersebut.
Sebagai makhluk hidup yang pernah merasakan langsung sentuhan keajaiban sekaligus kengerian mutlak dari entitas Setan Berkata, Pak Darta dan Ibu Mirna tidak sedikit pun mempertanyakan alasan di balik tindakan S. Bagi mereka, penghakiman anomali ini adalah takdir suci yang tidak boleh diganggu gugat oleh hukum manusia yang lambat dan penuh kompromi. Dengan keyakinan penuh untuk membersihkan Suribayu dari manusia-manusia culas, Ibu Mirna menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk menekan tombol merah menyala di ponselnya.
*Klik.* **[ Y ]**.
**[ POV URBAN & PROFESIONAL ]**
Sementara itu, di pusat bisnis kota, tepatnya di dalam kubikal kaca kantor Encomrese yang biasanya bising oleh suara ketikan kibor dan diskusi proyek, Reno mendadak melepaskan tangannya dari atas komputer. Di sebelah kubikalnya, Bani juga melakukan gerakan yang sama. Keheningan mendadak merayap di antara meja kerja mereka, digantikan oleh pendar cahaya merah pekat yang memantul di dinding kubikal.
Sebagai pekerja kantoran kelas menengah yang setiap hari jenuh dengan realita hukum formal yang selalu bisa dibeli oleh para pejabat kaya dari Kota suka mars, mereka tidak butuh alasan logis atau rincian dosa Dokter Adrian. Bagi mereka, narasi keadilan yang dibawa S adalah sebuah katarsis psikologis yang mereka butuhkan di tengah stresnya tekanan hidup dan ketidakadilan sistem sosial.
"Lama banget. Langsung hancurkan aja, S, gak usah pakai drama memohon," gumam Reno dengan nada rendah yang penuh kebencian. Jengkel karena proses hukum manusia selalu berjalan lamban dan tumpul ke atas, jempol Reno dan Bani bergerak serempak menekankan pilihan pada layar gawai mereka, memberikan suara untuk mempercepat eksekusi brutal tersebut.
*Klik.* **[ Y ]**.
Bahkan di sudut kota yang lain, di dalam sebuah klinik kecil yang sepi dan remang-remang, Dokter Aris meletakkan stetoskopnya di atas meja kayu dengan tangan yang gemetar hebat. Sebagai seorang dokter idealis yang selalu hidup pas-pasan karena menggratiskan biaya pengobatan bagi pasien miskin, ia tahu betul konspirasi kotor di balik mutasi Adrian. Ia tahu instansi medis luar kota sengaja membuang Adrian ke RS Mata Indah Suribayu hanya demi menjaga nama baik dan citra suci mereka sendiri di suka mars. Muak dengan jaringan mafia medis yang mengorbankan nyawa manusia demi lembaran uang, Dokter Aris menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan batinnya, lalu menyentuh layar ponselnya yang menyala konstan memantulkan gambar S.
Klik. [ Y ].
[ DI LUAR GERBANG MUSEUM ]
Grafik metrik digital yang terpampang di layar ponsel taktis milik Komandan Deni tidak lagi merangkak naik secara perlahan, melainkan melesat naik dengan kecepatan mengerikan layaknya monster kelaparan yang sedang melahap setiap sisa suara penolakan di kota itu. Angka biner merah itu berkedip-kedip brutal, menggilas angka persen yang tersisa hingga akhirnya sistem memancarkan bunyi klik mekanis ganjil yang menandakan hasil akhir telah mutlak.
[ Y ]: 99.98%
[ N ]: 0.02%
Angka sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh delapan persen itu kini terkunci mati, membeku di layar gawai seluruh penduduk kota dan tidak bisa diganggu gugat lagi oleh kekuatan apa pun. Jutaan rakyat Suribayu yang hidup di dunia nyata baru saja memberikan mandat mutlak kepada seorang algojo anomali, bukan karena mereka dilahirkan sebagai penjahat yang haus darah, melainkan karena mereka adalah kumpulan jiwa yang terlalu lama dibiarkan menderita oleh hukum yang cacat.
Di tengah halaman museum yang sunyi, S perlahan mengalihkan pandangannya dari layar tablet digital. Helm berbentuk timbangan miliknya perlahan bergerak, menatap lurus ke arah Dokter Adrian yang kini sudah lumpuh total oleh teror psikologis mutlak di atas aspal yang basah kuyup. Di dalam koper besi yang telah terbuka penuh di depan mereka, memancarkan bias cahaya ganjil yang memotong kegelapan, instrumen "seni kedua" telah mencuat ke permukaan, siap sepenuhnya untuk digunakan pada bab berikutnya.