**Waktu: 19 Februari 3010 | 12:35 WIB**
Di tengah halaman Museum Suribayu yang diguyur hujan anomali, koper besi berlogo ganjil itu terbuka sepenuhnya. Bias cahaya merah yang memancar dari kompartemen koper menyorot serangkaian benda yang membuat nalar Dokter Adrian jungkir balik.
Dengan gerakan yang sangat anggun dan ritmis, S mulai mengeluarkan isi koper tersebut satu per satu dan menatanya di atas aspal yang basah.
Pertama, sebuah pemutar piringan hitam (*gramofon*) kuno bergaya Inggris klasik dengan corong tembaga besar. Kedua, sederet perkakas kasar: gergaji bedah tulang berkarat, pisau bedah, dan palu besi. Ketiga, sebuah kantong cairan infus yang bergolak hangat, berisi cairan emas murni—persis seperti *signature* hukuman milik pendahulunya, E. Terakhir, sebagai sentuhan yang paling meremehkan, S mengeluarkan sebuah kursi lipat berwarna hitam.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, S melangkah mendekati Adrian yang bersujud gemetar. Dengan presisi klinis, S menancapkan jarum infus emas itu langsung ke pembuluh darah nadi utama di leher sang dokter, menggantungkan kantongnya pada penyangga besi portabel yang telah ditarik dari dalam koper.
Cairan emas mulia itu mulai mengalir masuk. Adrian merintih saat logam cair itu membakar pembuluh darahnya dari dalam, mengubah urat-urat nadi di lehernya menjadi jalur kuning keemasan yang pijarannya menyakitkan di bawah kulit.
Namun, S sama sekali tidak menyentuh peralatan bedah di atas aspal. Ia justru melangkah mundur, membuka kursi lipatnya tepat di depan Adrian, dan duduk bersilang kaki layaknya seorang penikmat teater VIP. Menggunakan **Skill 4 (Hipnoterapi Gelap & Audio Sugesti)**, S meletakkan jarum gramofon di atas piringan hitam yang mulai berputar pelan.
*Kresek... Kresek...*
Audio dari gramofon itu meretas seluruh sistem komunikasi di kota. Suara ganjil itu memaksa masuk ke sistem audio di seluruh layar ponsel warga secara serempak. Sebuah suara monoton, kelam, dan berulang-ulang seperti mantra cuci otak:
> **"Setan berkata: aku pembunuhnya."**
> **"Setan berkata: aku kaya."**
> **"Setan berkata: dasar miskin ngapain ke rumah sakit!"**
>
"Tidaaak!! Hentikan!!" jerit Adrian. Namun setiap kali ia menjerit, volume audio dari gramofon itu mengeras, mengamplifikasi isi kepalanya yang paling busuk menjadi konsumsi miliaran pasang telinga.
Di atas kursi lipatnya, S menatap lurus. Efek hipnoterapi S telah mengunci total pusat saraf Adrian. Jiwa sang dokter kini menjadi tawanan yang menjerit di dalam tubuhnya sendiri.
Di bawah kendali mutlak *The Puppeteer*, tubuh Adrian mendadak bergerak kaku. Sang dokter merangkak maju mendekati deretan perkakas. Dengan tangan yang bergetar hebat karena menolak perintah otaknya sendiri, Adrian mengambil gergaji bedah tulang.
> **"Setan berkata: aku pembunuhnya!"**
>
*Sreeek! Sreeek! Sreeek!*
Tanpa ampun, kedua tangan Adrian mengayunkan gergaji itu menembus pergelangan kaki kirinya sendiri. Darah segar menyembur keluar. Adrian melolong sejadi-jadinya, merasakan setiap serat daging, otot, dan tulangnya terputus oleh tarikan tangannya sendiri hingga kakinya buntung sepenuhnya.
S masih duduk diam, menopang dagu mendengarkan alunan gramofon yang beralih ke perintah berikutnya.
> **"Setan berkata: aku kaya!"**
>
Tangan kanan Adrian melepaskan gergaji dan beralih mencengkeram lengan kirinya sendiri. Dengan satu hentakan mekanis yang brutal—*KRETEK!*—Adrian mematahkan tulang tangannya sendiri hingga berbunyi nyaring. Sendi sikunya hancur, menyisakan daging yang terkulai lemas ke arah yang salah.
> **"Setan berkata: cabut telingamu! Setan berkata: congkel matamu!"**
>
Mantra terkutuk itu menghantam sisa kewarasan Adrian. Di bawah tatapan jutaan pasang mata yang mengunci layar ponsel, jari-jari kanan Adrian yang bersimbah darah bergerak liar ke kepalanya sendiri. Kuku-kukunya mencengkeram pangkal daun telinga, lalu dengan satu tarikan bertenaga penuh, ia merenggut paksa kedua telinganya hingga robek, menyisakan lubang menganga yang mengucurkan darah pekat.
Belum sempat rasa sakit itu membuatnya pingsan, jempol kanannya bergerak kaku, dipaksa mengarah tepat ke depan matanya sendiri.
*PLUK! CRASH!*
Suara mengerikan mencuat saat jempol Adrian menusuk masuk ke dalam rongga mata kirinya, menghancurkan kelopak dan memutus urat saraf optik dari dalam. Adrian melolong, busa darah keluar dari mulutnya saat jarinya mencongkel bola mata itu hingga menggelantung di pipi. Tanpa ampun, gerakan yang sama terulang pada mata kanannya. Cairan vitreus bening bercemain darah pekat menyemprot aspal, menyisakan dua lubang hitam kosong yang mengerikan pada wajah sang dokter.
Sebagai puncak penderitaan, tangan kanannya meraba aspal yang licin, mencari stetoskop peraknya. Dalam kondisi buta, tuli, dan buntung, Adrian dipaksa membuka rahangnya lebar-lebar hingga sendinya berbunyi retak. Ia memasukkan piringan *chestpiece* stetoskop itu ke dalam kerongkongannya, mendorong tube karet hitam panjang itu terus masuk layaknya menelan seekor ular, menyumbat total seluruh saluran pernapasannya.
*BRUK.*
Tubuh Adrian ambruk menghantam aspal. Ia seharusnya langsung mati karena kehabisan darah, syok pendarahan, dan gagal napas. Namun, di sinilah letak kejeniusan mutlak dari sang algojo.
Cairan infus emas yang mengalir deras ke leher Adrian bukanlah racun. Itu adalah anomali penyambung nyawa. Logam cair itu memaksa jantung Adrian untuk terus berdetak secara artifisial. Emas itu mengoksigenasi sel-sel otaknya secara paksa, membuat seluruh reseptor saraf rasa sakit Adrian bekerja pada kapasitas seratus persen.
Adrian tidak mati. Ia terkurung dalam kegelapan mutlak, tuli, kehabisan napas, dengan rasa sakit yang tak terlukiskan, namun otaknya dipaksa terus sadar dan memproses rasa sakit itu detik demi detik. Tubuhnya yang hancur terus kejang-kejang di atas genangan darah, hidup layaknya gumpalan daging yang dikutuk.
S perlahan berdiri dari kursi lipatnya. Ia melangkah anggun mendekati gramofon, lalu mengangkat jarum dari piringan hitam tersebut. Ia melipat kursi, menyimpan gramofon dan sisa perkakas ke dalam koper besinya, membiarkan tiang infus emas itu tetap berdiri tegak menancap di leher sang dokter yang masih meronta-ronta dalam kebisuan.
S kembali menghadap ke arah kamera siaran langsung.
"Kalau dia mati, ini hanyalah pembunuhan jalanan biasa," ucap S dengan nada bariton yang menggema pelan. "Tapi karena dia terus hidup untuk merasakan jeritan pasien yang pernah ia telantarkan... ini adalah mahakarya. Saya persembahkan... **Karya Seni Kedua: Sumpah Hipokrates yang Membusuk.**"
**[ POV DENI & RITA ]**
*KLAK! BUM!*
Belum sempat kata terakhir S berganti dengan layar mati di ponsel warga, kendaraan taktis lapis baja milik kepolisian sudah menghantam hancur gerbang besi Museum Suribayu. Efek kejut dari runtuhnya barikade itu seketika membebaskan pasukan dari kelumpuhan psikologis mereka.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" raung Komandan Deni.
Deni melompat turun dari mobil sebelum kendaraan itu berhenti sempurna. Dengan pistol teracung lurus ke depan, instingnya mengunci sosok tegap berjas hitam yang masih berdiri tenang di tengah halaman aspal. S ada di sana, tepat di hadapannya.
Deni memacu langkahnya dalam kecepatan penuh. Jantungnya berdentum liar. Jarak di antara mereka terkikis cepat.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Empat langkah.
Hanya tersisa lima langkah lagi bagi Deni untuk bisa menerjang dan mengunci tubuh entitas anomali tersebut. Namun tepat pada hitungan kelima, badai hujan anomali mendadak menggila.
Hantaman butiran air yang jatuh dari langit kubah seolah menimpa tubuh S dengan cara yang ganjil. Begitu air hujan menyentuh bagian atas helm timbangannya, material helm itu mendadak luntur, hancur, dan menghilang menurun ke bawah layaknya lukisan cat minyak yang dibilas paksa oleh air. Penghapusan visual itu merayap turun dengan sangat cepat memakan bahu, jas hitam, hingga sepatu botnya. S lenyap begitu saja, terhapus sepenuhnya oleh derasnya air hujan tepat di depan mata kepala Deni yang terbelalak tak percaya.
"S-sialan! Ke mana dia?!" Deni berteriak frustrasi, menyapu moncong senjatanya ke segala arah. Kosong. Pria itu menguap seolah-olah dia hanyalah ilusi yang diciptakan oleh badai.
Di belakangnya, Rita yang berlari menyusul mendadak kehilangan keseimbangan. Menyaksikan target yang terhapus air hujan ditambah pemandangan gumpalan daging di atas aspal membuat lututnya lemas. Rita jatuh berlutut, tangannya menumpu pada genangan air kotor yang bercampur darah.
Napas Rita memburu. Saat ia menundukkan kepala menahan pusing, matanya secara tidak sengaja menatap permukaan air di genangan tempat tangannya bertumpu.
Cairan merah pekat itu memantulkan visual yang membuat bulu kuduknya berdiri. Di dalam refleksi air yang bergelombang, sosok S berhelm timbangan masih berdiri tegak di tempatnya, menatap lurus ke arah Rita dengan aura yang dingin dan mencekam. Namun begitu Rita mengangkat wajahnya dengan sentakan panik untuk melihat dunia nyata, tempat itu kosong melongpong. Hanya ada Deni yang berdiri kebingungan.
*‘Dia... dia bukan manusia. Dia hantu...’* batin Rita menjerit dalam ketakutan mutlak. Otaknya menolak mempercayai bahwa entitas ganjil itu nyata.
Deni tidak sempat memedulikan Rita. Otoritas Kapolrestu-nya runtuh saat matanya beralih pada objek di bawah tiang infus emas.
Dokter Adrian ada di sana. Kakinya terpotong, tangannya patah, matanya berubah menjadi dua lubang hitam menganga yang terus mengucurkan darah pekat, dan sebuah stetoskop perak menyembul dari mulutnya yang terbuka kaku. Namun, d**a pria itu naik turun dengan sangat cepat. Suara *gurgling*—gelembung darah dan udara yang tercekik—terdengar mengerikan dari kerongkongannya. Tubuh hancur itu terus kejang-kejang di atas sisa cairan emas. Dia masih bernapas. Dia dipaksa hidup untuk merasakan nerakanya sendiri.
*TAP. TAP. TAP.*
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa di atas aspal basah mendadak memecah keheningan yang mencekik. Deni langsung berbalik sigap, mengacungkan senjatanya ke arah gerbang yang hancur.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh berlari menembus sisa kabut anomali, mengabaikan laras senapan yang mengarah pada kepalanya. Napasnya memburu, wajahnya basah kuyup, dan sepasang matanya menatap lurus ke arah gumpalan daging di bawah tiang infus emas.
Itu Dokter Aris.
Dokter idealis dari klinik kecil Suribayu itu mematung di samping Deni. Tangannya yang gemetar perlahan meraba saku jaketnya, meremas stetoskop tua miliknya sendiri. Matanya yang melebar tidak memancarkan ketakutan, melainkan sebuah kepuasan gelap yang bercampur dengan kengerian mutlak saat menyaksikan akhir tragis dari mantan rekan sejawat yang paling dibencinya.
"Dia... dia benar-benar melakukannya," bisik Dokter Aris lirih, suaranya bergetar di tengah deru hujan.