**Waktu: 19 Februari 3010 | 13:00 WIB**
Dunia tidak kembali normal. Meski siaran langsung pencongkelan mata dan pembungkaman lidah Dokter Adrian telah usai, keheningan yang mencekam menyelimuti Kota Suribayu. Di markas kepolisian, di kantor-kantor pencakar langit Encomrese, hingga di dapur-dapur rumah warga, orang-orang masih terpaku pada layar gawai mereka yang kini tampak seperti perangkat terkutuk. Udara siang itu terasa dingin, bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena rasa takut yang mulai berakar di sumsum tulang setelah menyaksikan tubuh Adrian dipaksa hidup di bawah tiang infus emas.
Belum sempat rasa mual dan ngeri itu hilang sepenuhnya, tepat pukul 13:00 WIB, sebuah notifikasi *pop-up* muncul serentak di setiap perangkat digital yang tersambung ke jaringan di Suribayu. Tidak ada tanda peringatan. Tidak ada suara denting yang ramah. Hanya bunyi sirine darurat pendek yang memekakkan telinga.
Dua file terunduh secara otomatis ke dalam memori penyimpanan gawai seluruh warga. Tidak bisa dibatalkan, tidak bisa dihapus.
#### **File 1: [ REKAM MEDIS REKENING BERDARAH.pdf ]**
Reno, yang tadinya masih terguncang dan sempat muntah-muntah di toilet kantor Encom akibat visual brutal Adrian, kembali ke meja kerjanya dengan langkah gontai. Di sebelahnya, Bani menatap monitor dengan mata terbelalak. Reno mengklik file PDF pertama yang terunduh paksa tersebut. Matanya yang memerah langsung menatap ribuan lembar dokumen audit finansial rahasia dan rekam medis ilegal yang seharusnya tersimpan rapat di brankas tersembunyi RS Mata Indah.
Angka-angka dan nama-nama korban terpampang telanjang, berbaris dengan kejam di layar monitornya:
* **Rp 500 Miliar:** Dana hasil bisnis gelap perdagangan organ ilegal yang diambil paksa dari pasien-pasien kelas bawah yang dinyatakan "gagal operasi".
* **Rp 1,2 Triliun:** Dana subsidi obat kanker dan katarak untuk rakyat miskin Suribayu yang sengaja dimanipulasi dan dialihkan ke rekening pribadi Adrian di Kota Suka Mars.
* **412 Jiwa:** Catatan malpraktik massal yang rekam medisnya dipalsukan secara digital agar Adrian dan jajaran elit rumah sakit tetap terlihat suci di mata publik.
Setiap angka adalah nyawa yang menderita. Setiap nol di belakang angka tersebut adalah rintihan pasien miskin yang dibiarkan mati di selasar IGD karena tidak punya uang muka.
Reno yang tadinya merasa bersalah dan ketakutan karena telah ikut menekan tombol **[ Y ]** saat *voting*, mendadak berhenti gemetar. Ia menatap layar dengan tatapan kosong, lalu perlahan, sebuah seringai getir muncul di wajahnya. Rasa bersalahnya menguap seketika, digantikan oleh kebencian yang mendidih.
"Cih, kenapa tadi saya sempat menyesal dan kasihan?" gumam Reno pelan, suaranya parau namun penuh penekanan. "Akhirnya hama medis di kota ini tumbang juga. Ah, andai saya bisa nonton ulang bagian dia menelan stetoskopnya sendiri... mana link siaran ulangnya? Saya mau tonton lagi!"
Di sudut lain kota, di dapur yang masih berbau tumisan bawang, Bu Tari juga membuka file tersebut. Dia tidak mengerti istilah medis atau audit finansial yang rumit, tetapi dia paham satu hal yang tertulis di sana: harga obat katarak suaminya yang melonjak gila-gilaan hingga mencekik ekonomi mereka ternyata adalah hasil manipulasi dokter elit yang tadi ia lihat hancur di layar ponselnya.
Bu Tari menjatuhkan ponselnya ke atas meja makan. Rasa ngerinya hilang total, digantikan oleh perasaan puas yang mendalam. Ia merasa terwakili.
"Sukurin! Kenapa baru sekarang ada orang yang berani bertindak kayak Setan Berkata? Dokter iblis begitu memang pantas tidak mati cepat agar bisa merasakan siksaan!" desis Bu Tari dingin.
#### **File 2: [ TAMU ISTIMEWA.gallery ]**
Namun, file kedua ini adalah bom waktu psikologis yang jauh lebih mengerikan bagi masyarakat Suribayu.
File ini berbentuk galeri foto interaktif yang berisi wajah 999 orang yang selama ini dilaporkan hilang dalam berbagai kasus misterius yang menghebohkan Suribayu. Anehnya, foto-foto itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyekapan, penyiksaan, atau kekerasan. Sebaliknya, mereka semua terlihat sedang berada di dalam sebuah aula hotel bintang lima yang paling mewah, megah, dan berkilau di luar yurisdiksi kota.
Di dalam foto-foto tersebut, tampak anak-anak yatim, pengangguran, CEO perusahaan raksasa, istri pejabat, ibu rumah tangga, tukang becak, pengemis, hingga nenek dan kakek lansia. Semuanya duduk melingkari meja panjang yang dipenuhi makanan kelas atas. Mereka mengenakan pakaian sutra mahal, dilayani oleh barisan pelayan berbaju tuksedo layaknya raja dan ratu. Mereka tertawa, makan dengan lahap, dan tampak sangat bahagia—seolah-olah mereka adalah tamu kehormatan di sebuah jamuan surgawi yang terisolasi dari dunia luar.
Di bagian paling bawah galeri foto tersebut, terdapat sebuah pesan teks berwarna merah darah dari Setan Berkata yang menyayat hati sekaligus membawa teror baru:
> *Mereka semua saya layani seperti raja dan ratu hanya untuk hari ini saja. Mereka tidak menonton siaran langsung Dokter Adrian tadi karena saya menjauhkan jiwa mereka dari kegelapan dunia nyata. Mereka diculik bukan karena mereka bersalah, tetapi karena mereka pantas mendapatkan istirahat dari kejamnya sistem kota ini. Biarkan mereka menikmatinya untuk sehari saja.*
> *Malam ini, tepat pukul 21:00 WIB, mereka semua akan saya antar pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan utuh, tanpa ada satu pun luka di tubuh mereka.*
> *— TTD. SETAN BERKATA —*
> *Jangan iri, masyarakat Kota Suribayu. Besok atau hari-hari berikutnya, siapa tahu giliran kalian yang saya jemput untuk menjadi tamu istimewa di meja makan saya.*
> **P.S. Persiapkan mental kalian. Teror Ketiga akan saya laksanakan pada tanggal 29 Februari 3010.**
> **Link Siaran Ulang Eksekusi:** *setanberkata.com*
>
**[ POV ANAK RANTAU: SISI LAIN SURIBAYU ]**
Di sebuah kawasan industri pinggiran Suribayu, tepatnya di dalam kamar kos berukuran 2x3 meter yang pengap, **Feri** terduduk lemas di lantai semen. Feri adalah seorang pekerja migran domestik asal desa terpencil yang baru tiga bulan bekerja sebagai buruh kasar di pabrik tekstil Suribayu.
Tangan Feri yang kasar karena kerja paksa gemetar hebat saat menggenggam ponsel murahnya yang retak. Dia baru saja membuka file [ TAMU ISTIMEWA.gallery ]. Matanya terpaku pada foto nomor 742.
Di dalam foto itu, duduk seorang pria muda berkaos sutra yang sedang tertawa lebar sambil memegang paha ayam kalkun panggang. Itu **Doni**, teman satu kampungnya yang mendadak hilang tanpa jejak seminggu yang lalu saat pulang sif malam. Selama seminggu ini, Feri menangis, mendatangi kantor polisi, dan frustrasi karena laporannya diabaikan. Sekarang, Doni ada di sana. Hidup mewah, terlihat bahagia, jauh lebih makmur daripada kehidupan asli mereka di Suribayu.
"Kota macam apa ini..." bisik Feri dengan air mata menetes. "Orang hilang bukan dibunuh... tapi dikasih makan mewah? Dan besok... dia bisa menjemput siapa saja?"
Sebagai anak rantau tanpa perlindungan, Setan Berkata bukan sekadar pembunuh bagi Feri. Entitas itu adalah penguasa mutlak yang bisa menembus dinding kos-kosan kumuhnya kapan saja ia mau.
**Waktu: 19 Februari 3010 | 13:09 WIB**
Tepat pada pukul 13:09 WIB, hujan anomali yang mengguyur Kota Suribayu mendadak berhenti dengan cara yang sangat ganjil. Tidak ada rintik yang mereda perlahan; curah air dari langit terputus begitu saja seolah ada tangan raksasa yang mematikan tuasnya di atas awan. Awan hitam yang sejak pagi menggulung seketika pecah dan lenyap, membiarkan terik matahari siang langsung menyengat aspal basah di halaman Museum Suribayu.
**[ POV WARGA DI TKP MUSEUM ]**
Berhentinya hujan bagaikan tanda ditariknya tirai panggung teater. Puluhan warga sekitar yang awalnya bersembunyi ketakutan di dalam rumah dan ruko, kini perlahan mulai merayap keluar. Ratusan pasang mata dari balik pagar museum yang hancur ditabrak mobil polisi kini menatap horor ke tengah halaman.
Bau darah anyir, kotoran manusia, dan cairan antiseptik menguar tajam, menguap di udara aspal yang memanas. Di tengah sana, warga melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Dokter Adrian, pria elit yang wajahnya sering terpampang di baliho kampanye kesehatan, kini tak lebih dari gumpalan daging cacat. Mata dan telinganya berlubang mengucurkan darah pekat, pergelangan kaki dan lengannya patah ke arah yang salah, sementara stetoskop perak menyumbat mulutnya. Tubuh hancur itu masih kejang-kejang hebat di atas genangan darahnya sendiri, dipaksa bernapas dan hidup oleh aliran cairan emas dari tiang infus. Suara *gurgling*—gelembung udara yang tercekik darah di tenggorokannya—terdengar mengerikan hingga ke pinggir jalan.
"Ya Tuhan... dia beneran masih hidup..." bisik seorang bapak tukang ojek pangkalan, wajahnya memucat menahan muntah.
"Polisi ngapain aja dari tadi?!" seru seorang pemuda karang taruna dengan nada bergetar, setengah ngeri setengah marah melihat diamnya aparat.
Tatapan warga kini beralih menyorot tajam ke arah para polisi. Di tengah halaman itu, aparat penegak hukum tampak begitu menyedihkan.
Komandan Deni, orang nomor satu di Polrestu, hanya berdiri kaku seperti maneken kayu. Senjatanya dibiarkan terlaur ke bawah, wajahnya pucat pasi dipenuhi rasa frustrasi yang tak tertandingi karena buruannya lenyap di depan mata. Di dekatnya, Rita terduduk lemas di aspal dengan pandangan kosong, trauma berat karena yakin matanya baru saja melihat hantu di genangan air.
Sementara itu, pasukan taktis lapis baja dengan senjata laras panjang yang seharusnya menjadi pelindung terkuat Suribayu, kini tak ubahnya sekumpulan pengecut. Mereka tak berani maju selangkah pun untuk menolong Adrian atau bahkan menyentuh tiang infus emas tersebut.
Di bawah terik matahari pukul 13:09 WIB, otoritas negara benar-benar dipermalukan di hadapan rakyatnya. Polrestu Suribayu telah dilumpuhkan tanpa satu pun peluru yang ditembakkan. Hukum resmi kota itu telah mati, digantikan secara mutlak oleh tanggal baru yang tercetak di ingatan semua orang: **29 Februari 3010**.