19 Februari 3010 | 13:10 – 15:00 WIB
Hujan anomali yang mengguyur Suribayu berhenti dengan paksa, seolah langit pun tunduk pada jadwal Setan Berkata. Di halaman Museum Suribayu, Kombes Deni berdiri kaku. Seragamnya basah, matanya memerah. Di depannya, sebuah ambulans dari RS Suara Rakyat tiba. Deni memberi isyarat kepada petugas medis untuk turun, namun yang melangkah maju justru Dokter Aris.
Sebagai seorang "Nabi Medis" yang kini menjadi validator ideologi Setan Berkata, Aris tidak bergerak dengan rasa iba. Matanya yang tajam dan analitis memindai tubuh hancur Dokter Adrian. Bersama Deni, Aris mengangkat sisa-sisa gumpalan daging itu ke atas tandu. Tangan Aris begitu mantap; ia memperlakukan mantan atasannya itu bukan sebagai manusia, melainkan sebagai limbah biologis yang harus segera disingkirkan.
Di balik kemudi ambulans, sang pengemudi duduk dalam diam. Ia adalah A – (The Watche), sang Mata-Mata Super jenius yang menyamar menggunakan teknologi distorsi wajah tingkat tinggi. R memantau setiap indikator kehidupan buatan Adrian melalui layar kecil di *dashboard*. Ia memastikan selang infus emas—karya modifikasi biologisnya yang menahan nyawa Adrian di ambang kematian—tetap stabil selama perjalanan. Proyek ini harus berakhir di titik yang telah ditentukan: lobi rumah sakit yang dibangun dari uang darah sang dokter sendiri.
Saat ambulans melesat membelah jalanan kota yang lengang, A – (The Watche) menatap spion tengah. "Kau sudah menjadi monumen yang indah, Dokter," bisiknya dingin.
Tepat saat ban ambulans berdecit tajam menginjak pelataran lobi RS Suara Rakyat, jari A – (The Watche) menekan sebuah tombol sakelar tersembunyi di bawah setir. Tombol itu memicu reaksi termal mikroskopis di dalam tabung infus. Cairan emas itu menguap dalam hitungan detik.
KLIK.
Suara shutdown mekanis yang kasar memecah kesunyian. Tubuh dr.Adrian yang sedari tadi kejang-kejang secara artifisial kini tersentak hebat ke atas, sebelum akhirnya terkulai kaku dan sepenuhnya mati. Di kursi belakang, Dokter Aris menatap mayat itu dengan seringai kepuasan yang mengerikan—sebuah validasi bahwa dosa medis di kota ini akhirnya terbayar. Sebaliknya, Deni merosot di kursinya. Insting polisinya meronta, tetapi ia sadar ia tidak sedang melawan kriminal biasa; ia melawan sebuah sistem yang bisa mematikan nyawa semudah mematikan mesin.
18:30 WIB | Simfoni Kebencian
Suribayu tidak berduka. Kota ini mendadak meledak dalam lautan sorak-sorai. Di seluruh penjuru kota, layar TCVO (Televisi Kota) menyala serentak, menampilkan wajah Bram, pembawa berita yang menjadi corong propaganda baru.
"Pukul 15:00 WIB tadi, Dokter Adrian resmi dinyatakan mati di RS Suara Rakyat," ucap Bram dengan artikulasi yang sempurna dan tatapan mata tanpa emosi. "Tidak ada doa. Tidak ada penghormatan kenegaraan."
Reaksi berantai menyapu seluruh stratifikasi sosial Suribayu:
Di balkon RS Suara Rakyat, Dokter Aris menengadahkan kepala, menghirup udara malam seolah mencium aroma keadilan.
Di sebuah kafe kumuh, Reno, sang eks-jurnalis yang kini menjadi konverstan fanatik, mengetik pesan berantai di jaringan Tuk Tek dengan jemari bergetar. "Si Iblis tumbang! Jangan berhenti di sini, kita butuh lebih banyak keadilan dari Setan Berkata!"
Di kamar kosnya yang pengap, Feri menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Doni. Ia bergumam penuh harap, "Kalau orang sekuat dokter iblis itu saja bisa mati... mungkinkah Doni akan dikembalikan besok?"
Sementara itu, di sebuah ruang jamuan VIP bawah tanah yang mewah, Doni mengunyah paha kalkun panggang sambil mengangkat gelas anggurnya ke arah layar raksasa. Bersama sandera elit lainnya, ia tertawa terbahak-bahak, merayakan kematian pria yang dulu selalu menginjak-injak mereka.
Namun, reaksi paling fundamental terjadi di gang-gang gelap. Jono, seorang pria tua dengan kaki lumpuh akibat malapraktik elit kota, menatap layar TV usang dengan mata berapi-api. "Uang berobat kita yang lo rampok nggak bisa beli nyawa, Dok! Mampus lo di neraka!" umpat Jono. Tangannya yang gemetar memeluk erat sebuah kotak kayu misterius yang baru saja ia temukan di depan pintunya.
18:00 – 21:00 WIB | Undangan Hitam
Kotak itu tidak datang dengan sendirinya. K - (The Global Cartographer)** telah menggunakan keahlian logistik dan pemetaan presisinya untuk mendistribusikan 999 kotak kayu secara serentak ke rumah kaum marjinal tanpa memicu satu pun alarm kota.
Tepat pukul 21:00,
Jono dan 998 orang lainnya membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat layar holografik dengan satu tombol merah. Mereka menekan tombol [Y]. Tidak ada sihir. Layar itu hanya berkedip hijau dengan tulisan: "Persetujuan diterima. Penjemputan dalam perjalanan."
Setengah jam kemudian, teror sesungguhnya dimulai. Iring-iringan ambulans hitam legam tanpa satu pun plat nomor—semuanya berlambang RS Equilibrium Medika—membelah kabut malam Suribayu. Suara sirene mereka tidak melolong untuk meminta jalan, melainkan mengintimidasi. Dengan sengaja dan penuh arogansi, iring-iringan maut itu melintas pelan tepat di depan kantor Polrestu. Deni, yang berdiri di balik jendela ruangannya, hanya bisa mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Hukum lumpuh malam itu. Kaum marjinal diangkut ke fasilitas rahasia untuk dioperasi secara massal.
20 Februari 3010 | 09:00 WIB | Ilusi Legalitas
Suribayu terbangun di bawah sinar matahari pagi yang terasa mengejek. Kaum marjinal yang telah dioperasi semalaman kini dipulangkan. Namun,K – (The Global Cartographer) telah memutar balik realitas. Ambulans yang semalam berwarna hitam legam bak kereta jenazah, kini telah berganti warna menjadi putih bersih yang menenangkan. Semuanya dilengkapi plat nomor resmi dari pemerintah kota Juarasatu.
Di sebuah pos pemeriksaan arteri kota, Kombes Deni yang belum tidur sedetik pun menghentikan salah satu ambulans putih tersebut. Insting investigasinya menyala. Pengemudi ambulans itu turun. Namanya tertera di d**a kirinya: Ardi.
Ardi tersenyum sangat santun, gerak-geriknya adalah personifikasi dari tenaga medis yang lelah namun berdedikasi tinggi. "Selamat pagi, Komandan. Ada yang bisa kami bantu?" sapa Ardi tenang.
"Dokumen operasional. Sekarang," geram Deni. Matanya memindai pasien di bagian belakang. Ia melihat Jono duduk di sana. Jono tidak lagi lumpuh; di balik celana kainnya, Deni bisa melihat kilau logam dari kaki bionik yang terpasang sempurna. Deni tahu ada pelanggaran bio-etik yang masif di sini.
Namun, Ardi menyerahkan sebuah map. Deni membukanya dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Semua dokumen itu—izin operasi subsidi silang, stempel basah Kementerian Kesehatan Juarasatu, hingga persetujuan hak pasien—semuanya asli dan legal secara hukum. K – The Global Cartographer telah membawa surat birokrasi yang di buat B – The Diplomat.
"Semua legal, Komandan. Kami hanya menjalankan program amal pasca-operasi," ucap Ardi dengan nada yang terlalu lembut.
Deni tertegun. Secara hukum negara yang ia bela, ambulans ini tidak melakukan kejahatan. Dengan rahang mengeras, Deni memberi isyarat. "Jalan."
Ardi mengangguk hormat, kembali ke balik kemudi, dan perlahan menjalankan mobilnya.
Namun, K – The Global Cartographer ingin meninggalkan pesan. Saat ambulans itu memacu gas dan menikung tajam di jalanan sepi, kaca jendela pengemudi terbuka setengah. Sesuatu terlempar keluar dan jatuh berdebam di atas aspal.
Deni, yang sedari tadi menatap tajam lewat spion mobil patroli, terlonjak dari kursinya. Ia mencabut pistol Glock-nya dan berlari ke arah benda yang tergeletak di jalanan itu. Napasnya tercekat. Benda itu adalah sebuah topeng kulit sintetis berteknologi nano. Wajah ramah 'Ardi' yang beberapa detik lalu berbicara dengannya kini robek, kosong, dan teronggok seperti sampah.
Amarah dan rasa frustrasi yang ditahan Deni sejak semalam meledak tanpa sisa. Ia mengarahkan pistolnya ke arah ambulans yang menjauh.
"Sialan, kau setan berkata!" teriak Deni memecah jalanan, suaranya parau hingga tenggorokannya terasa robek. "Kejar! Amankan pengemudinya!"
Sirene polisi meraung memekakkan telinga. Mobil-mobil patroli melesat. Namun di monitor pelacak taktis di pergelangan tangan Deni, titik GPS ambulans putih itu berkedip liar, lalu mati total tepat di koordinat di mana Deni menginterogasi mereka. Ambulans beserta seluruh penumpangnya menguap begitu saja di udara siang bolong, dihapus dari sistem pelacakan kota oleh T - (The Digital Tyrant).
Deni berdiri sendirian di tengah aspal, pistolnya masih teracung ke arah jalanan yang kosong. Dadanya naik turun menahan murka. Dia sangat yakin jagal licik itu adalah E (The Smiling Butcher). Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja berhadapan langsung dan dipermainkan oleh sang master logistik sesungguhnya: K – (The Global Cartographer) .
Di berbagai sudut kota, 999 pion bionik telah ditanam kembali ke rumah mereka masing-masing. Mereka hidup. Mereka sehat. Dan mereka hanya menunggu satu perintah pamungkas untuk hari penghakiman pada tanggal 29 Februari 3010.