**20 Februari 3010 | 10:15 WIB**
Langkah kaki Kombes Deni menghantam lantai koridor Polrestu dengan ritme yang memburu dan tak beraturan. Ujung sepatu botnya meninggalkan jejak air hujan bercampur lumpur, menggemakan sisa amarah setelah ia memuntahkan nama 'E' di tengah jalanan yang kosong. Di tangannya, topeng kulit sintetis berwajah Ardi—ilusi yang ditinggalkan oleh sang master logistik—ia remas hingga sirkuit nanonya berderit hancur.
Niat awal Deni saat menggebrak pintu ruangan ini adalah melemparkan topeng rusak itu ke atas meja dan menyalak tegas: *“Rita, lacak siapa Ardi asli pemilik wajah sialan ini!”* Namun, begitu daun pintu kayu itu terbuka lebar, semua kata-kata yang sudah membakar kerongkongannya mendadak lenyap. Amarah Deni menguap, digantikan oleh ketukan hati nurani yang mendadak ngilu melihat pemandangan di depannya.
Di sudut ruangan yang temaram, Rita—detektif lokal paling tangguh dan rasional yang pernah dimiliki Suribayu—sedang duduk mematung dengan postur yang ringkih. Kedua lututnya ditarik erat menempel ke d**a. Di atas pangkuannya, Rita sebenarnya sudah memegang tebalnya dokumen map merah: berkas laporan kasus pembantaian Dokter Adrian di pelataran Museum Suribayu kemarin.
Namun, Rita tidak bisa bekerja. Detektif itu baru berhasil membuka halaman pertama berkas tersebut, dan lembar kertas tipis itu kini berkerut parah karena dicengkeram oleh jemarinya yang bergetar hebat tanpa kendali. Ketakutan menjalar mutlak di seluruh tubuhnya hanya karena melihat foto dokumen TKP. Pupil matanya bergerak liar, menyusut dan membesar penuh histeria, menatap kosong ke lantai ruangan.
Deni menurunkan senjatanya. Rahangnya yang semula mengeras perlahan melonggar. Rasa iba dan kecemasan seorang komandan yang peduli pada anak buahnya mengambil alih ego. Ia melangkah pelan, lalu meletakkan remasan topeng bionik berwajah Ardi itu tanpa suara di sudut meja.
"Rita..." suara Deni melembut, kontras dengan gemuruh badai di luar. "Kau bahkan tidak sanggup membaca halaman pertama dari berkas kemarin. Tanganmu tidak bisa berbohong."
Rita tersentak hebat, seolah baru saja dibangunkan dari mimpi buruk yang mencekik. Map merah di pangkuannya nyaris merosot jatuh. Udara ditarik paksa melewati tenggorokannya yang kering.
"Air... Komandan... di bawah..." bisiknya parau, suaranya bergetar menahan tangis. "Dia tidak ada di sana... di atas langit kosong... tapi dia melihatku dari dalam genangan darah dan air itu... Dia menatapku, Komandan..."
Deni mengutuk dalam hati. Ia tahu Rita sedang mengalami syok pasca-trauma akut akibat sisa teror visual proyektif yang sengaja ditanam oleh entitas 'S' kemarin siang. Melihat aset intelijen terbaiknya hancur secara mental tepat sebelum tragedi besar tanggal 29 Februari dimulai, Deni mengambil keputusan tegas.
Ia merogoh saku kemeja taktisnya, mengeluarkan sebuah kartu nama perak bertekstur elegan, lalu menyodorkannya tepat di atas halaman pertama berkas yang sedang dipegang Rita.
"Cukup, Rita. Letakkan berkas itu," perintah Deni, kini suaranya kembali berat namun penuh perlindungan. "Ini perintah resmi dari atasanmu. Bukan tawaran. Datangi klinik psikologi baru di distrik pusat kota ini sekarang juga. Sembuhkan kepalamu, hancurkan halusinasi sialan itu, baru kau boleh kembali berdiri di sampingku untuk memburu b******n-b******n ini."
Di atas kartu perak itu, tertulis sebuah nama dengan tinta timbul:
**Dr. Samuel, M.Psi – Spesialis Traumatologi & Terapi Kognitif Akut.**
**14:00 WIB**
Klinik Dr. Samuel adalah oasis ketenangan di tengah Suribayu yang sedang dilanda histeria massa. Tempat itu dirancang dengan presisi psikologis yang sangat tinggi. Begitu Rita melangkah masuk dengan tubuh lemas, ia langsung disambut oleh pencahayaan temaram bernuansa *amber* yang hangat, aroma esensial kayu cendana murni yang menekan hormon stres, serta frekuensi suara gemercik air buatan yang mengalun konstan di latar belakang—sebuah manipulasi audio untuk menyamarkan detak jantung pasien yang panik.
Di balik meja kayu mahoni yang bersih, duduk seorang pria berusia awal 30-an. Mengenakan kacamata berbingkai titanium tipis, kemeja rajut abu-abu, dan postur tubuh yang rileks namun berwibawa, Dr. Samuel adalah personifikasi mutlak dari rasa aman.
Namun, realitas seringkali menjadi panggung teater yang paling biadab. Di balik topeng penyamaran prostetik kelas atas dan dokumen identitas biometrik kuantum yang lolos sensor kepolisian, pria itu adalah **S (*The Puppeteer*)**—Sang Pemimpin Tertinggi Setan Berkata.
Ketika Rita duduk dengan bahu yang merosot lemas, S langsung mengaktifkan **Skill 1 (Master Psikologi Klinis & Mikro-Ekspresi)**. Hanya dalam tiga detik tanpa alat bantu, mata gelap S membedah anatomi trauma Rita. Ia mencatat kedutan halus di kelopak mata kiri Rita, cara bahunya turun sebelah untuk melindungi d**a, dan sinkronisasi napasnya yang pendek.
*Diagnosis: Trauma visual proyektif. Kerusakan mental 78%. Boneka baru untuk T—The Digital Tyrant sudah siap dijadikan MC-nya di tanggal 29 Februari nanti.*
"Silakan duduk, Detektif Rita," sapa Samuel. Suaranya berat, bariton, dan memiliki frekuensi gelombang konstan yang menenangkan sistem saraf—aplikasi bawah sadar dari **Skill 4 (Hipnoterapi Gelap & Audio Sugesti)**. "Kombes Deni sudah menceritakan sedikit tentangmu. Katakan padaku, beban apa yang membuat mata tajam seorang detektif hebat kehilangan fokusnya pada realitas?"
Rita meremas jemarinya sendiri hingga buku-bukunya memutih. "Air... Kemarin saat hujan deras di Museum Suribayu. Saya melihat... sebuah wajah. Di dalam genangan air kotor bercampur darah. Dia tidak ada di dunia nyata, tapi bayangannya menatap saya dari dalam air."
Samuel tersenyum sangat lembut, menyandarkan punggungnya pada kursi mautnya. Secara taktis, ia mulai memainkan **Skill 3 (Manajemen Kontrol Trauma Gelap)**. Bukannya menyembuhkan atau membuang ketakutan Rita, Samuel justru menuntun detektif itu untuk melangkah lebih dalam ke dalam palung traumanya, mengunci memorinya di sana agar ia menjadi penurut.
"Sangat menarik, Rita," ucap Samuel pelan, jemari telunjuk kanannya mulai mengetuk meja dengan ritme konstan yang menyelaraskan detak jantung Rita yang panik. *Tap... Tap......* "Air adalah pemantul realitas paling jujur. Apakah kau yakin yang kau lihat itu adalah sosok musuh fisik? Ataukah... itu adalah representasi dari rasa bersalahmu karena hukum yang kau bela tidak bisa menyelamatkan Dokter Adrian kemarin?"
Pertanyaan presisi itu menghantam mental Rita tepat di titik terlemahnya. Air mata detektif itu akhirnya tumpah. Benteng pertahanan psikologis kepolisian Suribayu yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan menit di atas sofa terapi.
"Sekarang, tutup matamu, Rita," bisik Samuel. Suaranya kini terdengar seperti gema yang datang dari dasar sumur yang dalam. "Mari kita lakukan relaksasi. Ikuti ketukan jari saya... dan biarkan bayangan di genangan air itu masuk ke dalam ruangan ini, menemani kita."
Rita memejamkan mata. Bahunya merosot total. Napasnya perlahan melambat, sepenuhnya menyerahkan kesadaran dan akal sehatnya pada kendali sang dokter.
Begitu kelopak mata Rita tertutup rapat, atmosfer hangat di ruangan itu lenyap seketika. Suhu ruangan seakan anjlok drastis. Seringai ramah di wajah Dr. Samuel mati tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi predator sedingin es yang mengerikan.
Pria itu melepas kacamata titaniumnya, memperlihatkan sepasang mata gelap absolut yang menatap lurus ke arah korban di depannya—tatapan mata yang persis sama dengan Iblis berhelm timbangan yang dilihat Rita di genangan air kemarin.
S tidak perlu membuang energi untuk meretas komputer Polrestu yang dijaga ketat. Melalui sesi hipnosis gelap ini, ia akan menggunakan **Skill 5 (Big Data Criminal Profiling)** secara verbal. Ia akan menguras habis semua taktik, jadwal patroli, rute evakuasi, dan rencana pertahanan pamungkas Kombes Deni langsung dari mulut asisten nomor satunya.
Semuanya akan diserahkan langsung kepada **T (*The Digital Tyrant*)**, yang dari balik dinding beton markas rahasia Setan Berkata, sudah bersiap memegang kendali penuh atas tubuh Rita via jaringan siber kuantum. Di tanggal 29 Februari nanti, Rita tidak akan mengendalikan dirinya sendiri. Dia akan bergerak murni sebagai terminal hidup, sebuah boneka proksi jarak jauh yang tombol-tombolnya ditekan langsung oleh jemari sang Dewa Siber dari kegelapan markas mereka.
Di balik penyamarannya, **S** menatap tubuh Rita yang terhipnotis dengan tatapan bosan yang amat sangat.
*"Polisi-polisi malang,"* batin Sang Dalang, seringai kecil yang meremehkan akhirnya terbentuk di sudut bibirnya. *"Kalian terlalu naif. Kalian bahkan membungkus aset intelijen terbaik kalian dengan pita, lalu mengirimkannya langsung ke meja jagal psikologis milikku."*